ketika membacanya diriku menjdi tersadar, kondisi ideal dimana diriku nyaman dan mengetahui bagaimana diri ini saja aku belum mampu secara baik mengidentfikasinya.
dan membacanya membuat diriku kembali merenungkan, bahwa setiap manusia akan merasa butuh karena dia mengklaim butuh, manusia menganggap itu benar karena ia mempercayainya benar dan manusia menganggap itu dirinya karena ia mempercayainya.
apakah aku percaya dengan semua buatan manusia? yang mana manusia dengan kejujuran dan ketulusan hati dari dalamnya untuk memberitahukan sesuatu kepadaku dimana kebenaran itu yang jika aku mempercayainya aku tak akan pernah kecewa karenanya.
aku berjalan menyusuri sebuah jalan, tanpa cabang dan tanpa elevasi dan semua markanya, aku akan berjalan dengan segala kedataran yang ada jika aku mempercayainya, aku akan berjalan dengan segla liku yang tajam jika aku mempercayainya.
ibu, sesungguhnya au lelah dengan perjalanan ini, perjalanan yang penuh tawa, canda dan keceriaan namun aku tidak pernah mengathui apakah aku telah dikelabui atau memang itu adanya.
aku lelah menajadi tegar dengan senyum dan tanpa memikirkan hal yang menyusahkan namun aku tak tahu apakah itu yang sebenarnya.
karena jika kembali terungkap maka kesakitan itu muncul kembali
karena jika terugkap aku merasa bodoh kembali
karena mempercayai yang seharusnya tidak aku percaya
yang kupercayai yang nantinya mengkhianatiku
yang selalu ku anggap benar dan nantinya akan memojokanku
aku dan pikiranku ini
tak ubahnya kereta cepat yang meninggalkan segala kehidupan ragaku senidiri
karena ia berjalan tanpa henti dan meninggalkanku sendiri dalam dunia yang sebenarya, berjalan dengan cangkang siput yang berat tanpa bisa menoleh ke belakang dan mereset masa lalu untuk kebaikan masa depanku.