buat temen-temenku tersayang
maaf ya, gue ga pernah bisa bales kebaikan kalian..
sejujurnya bilang kalian sahabat adalah hal yang berat bagi gue, bukan karena gue ga mau punya sahabat kaya kalian..
kalian itu baik-baik-baik,...-baik banget
tapi, gue menyandang sebagai sahabat kalian, gue ga pernah merasa bisa sebaik kalian ke gue..
gue bingung harus apa, gue bingung kenpa ga bisa jadi diri sendiri, seolah gue terkejar untuk selalu menjadi orang yang harus melakukan hal terbaik buat menyenangkan kalian...dan hasilnya bukan menjadi lebih baik, malah lebih buruk..
gue ga tau gue jadi siapa saat itu.
gue ga pernah bisa balas kebaikan kalian, dan itu sangat menyiksa rasanya..
sangat..
buat temen-temen terbaik gue..maaf karena gue emang ga bisa jadi temen yang baik..
maaf banget, karena percaya atau ga, kalian terlalu baik..
dan gue, ga cukup baik buat itu.
kata temen gue, jangan sendirian..
tapi gue ngerasa lebih baik kalau lagi sendiri..
bukan karena gue ga mau jadi bagian kalian, tapi hanya karena gue merasa ga cukup baik untuk itu..
maaf
gue cuma seorang manusia, ga lebih dan ga kurang,,ga kaya dan alhamdulillah ga miskin, ga cantik tapi juga ga jelek, ga pinter tapi juga ga bodoh, meski hidup gue gitu-gitu aja ga istimewa.. Tapi gue yang akan jadiin hidup gue istimewa
Selasa, 26 Agustus 2014
Senin, 18 Agustus 2014
Pertanyaan di 17 Agustus
17 Agustus 2014
aku sudah meniatkan menulis ini, meskipun harus tertulis diwaktu yang berbeda.
WARNING! Ini hanya pemikiran tanpa kesimpulan, belum didukung bukti fakta jangan jadi referensi karya lmiah!
ada peristiwa menarik di 17 Agustus tahun ini, mungkin aku akan memaparkannya dalam sebuah identifikasi masalah sederhana, ini bukan menyangkut siapa yang lebih pintar dan bijak sehingga mampu memutuskan mana yang benar, tetapi persoalan arti dari sebuah rasa perjuangan dan cinta tanah air.
masalahnya sederhana, berikut pemaparannya :
Latar Belakang
17 Agustus, hari kemerdekaan RI yang kini berusia 69 tahun, dirayakan oleh warga RT 004/09 Villa Mutiara Jaya dengan mengadakan perayaan baik perlombaan anak-anak, dan panggung gembira yang sekaligus halal bihalal karena masih dalam suasana lebaran (masih bulan Syawal dalam Hijriah).
Perayaan berupa panggung gembira yang sekaligus halal bihalal tersebut, diisi dengan pembacaan Al-Qur'an, menyanyikan lagu Indonesia Raya,sambutan-sambutan, penampilan anak-anak, pembacaan hadiah, siraman rohani dan ramah tamah (katakan saja makan makan :p).Tujuan adanya panggung gembira ini adalah untuk mengingat kembali bahwa Indonesia memiliki hari 17 Agustus hari spesial, kemerdekaan Indonesia sekaligus menumbuhkan dan meningkatkan rasa menghargai jasa pahlawan Indonesia yang dengan susah payah mengibarkan sang merah putih dan memerdekakan Indonesia serta semangat juang mengisi kemerdekaan, terutama bagi anak-anak.
Anak-anak RT 004 sangat menyambut baik adanya panggung gembira ini, terdapat 2 grup yang menampilkan kebolehannya dengan menari, grup pertama adalah grup tari Aceh, yang jika didengar lagunya "Bungong Jempa", grup kedua menari lagu dangdut yang sedang tenar dengan suara anak-anak "Kereta Malam". Penampilan anak-anak di panggung gembira RT akan ditampilkan di panggung RW pada tanggal 24 Agustus sebagai partisipasi setiap RT dalam perayaan 17 Agustus. Setiap RT hanya diperbolehkan menampilkan 1 penampilan yang mewakili RTnya.
Dengan terdapat dua grup penari anak-anak, yakni Tari Aceh dan Kereta Malam dan hanya satu yang dapat di tampilkan di RW, diadakanlah penjurian untuk menentukan siapa yang dapat melaju kebabak RW (berasa Mamamia :p). Penjurian ini dilakukan oleh 2 orang,keluarga dari pihak ketua panitia dan pengurus yang selama ini membimbing pemuda RT. Kriteria penilaiannya adalah dari sisi kekompakkan, ekspresi wajah, dan gerakan (kalau tidak salah, saya lupa :p, tapi tidak jauh dari pengertian itu).
Rumusan Masalah
1.Seberapa besar dampak bagi anak-anak dalam mengenal bangsa dan pahlawannya dengan adanya perayaan 17 Agustus baik dari perlombaan maupun panggung gembira yang hampir selalu menjadi alternatif perayaan momentum kemerdekaan?
2. Momentum yang dirayakan baik pangung RT maupun RW adalah momentum kemerdekaan RI, apakah kriteria penilaian yang diterapkan tersebut cukup menggambarkan tujuan dari adanya panggung gembira tersebut, mengingat yang terpilih nantinya (meskipun kompetisi menari anak-anak) menjadi perwakilan RT yang menjadi representasi RT 004 dalam memaknai kemerdekaan?
3. Grup Tari Aceh adalah grup penyaing, dalam artian pada awalnya merupakan gagasan dari salah seorang warga setelah terdapat wacana pembentukan grup tarian Kereta Malam yang telah di dukung sebelumnya oleh sebagian besar ibu-ibu PKK yang sebagian besar bertindak sebagai panitia dan pengurus RT, bagaimana legitimasi grup kedua tersebut dalam kompetisi ini?
Tujuan
Adapun tujuan pembahasan ini adalah :
1. Sebagai selingan pemikiran hidup yang terlalu diburu kecanggihan sistem teknologi dan pesaingan tanpa akhir (:p)
2. Penjabaran pemikiran random dan tiba-tiba yang berawal dari sebuah pertanyaan sederhana yang timbul dari nilai nasionalisme (berasa RIP)
3. Bahan bacaan ringan mengenang Indonesia 69 Tahun dihari-hari selanjutnya
Pembahasan
1. Hakikat Perayaan Hari Kemerdekaan
Jika kita mendengar 17 Agustus, pasti akan terhubung dengan satu momentum yang menjadi tonggak sejarah bangsa Indonesia, merdeka Negara Kesatuan Repubulik Indonesia. Kemerdekaan yang didapat dengan segala drama kehidupan yang selama ini kita pelajari di bangku sekolah ( tidak akan saya ceritakan di sini, silahkan buka kembali buku sejarahnya ya :D), membuat kita diperkenalkan dengan yang diberi nama pahlawan, kisah perjuangan yang nyata terjadi tanpa kita pernah lihat dan rasakan (jadi seperti dongeng ya :p), dan mengetahui bagaimana akhirnya kita memiliki Indonesia dan segala atribut yang kini melekat padanya ( baca : identitas bendera, lagu kebangsaan, wilayah, dasar negara, sistem pemerintahan dll).
Kemerdekaan, adalah keadaan (hal)berdiri sendiri, bebas, lepas tidak terjajah lagi (KBBI Online), maka hari kemerdekaan dapat diartikan sebagai hari dimana negara kita terlepas dari semua penjajahan bangsa lain dan memiliki kekuatannya sendiri untuk menjalankan roda kehidupan bangsanya, sehingga menjadi bagian dari dunia (ini definisi sendiri :p). Meskipun sejarah memiliki definisi peristiwa yang benar-benar terjadi di masa lampau (KBBI online) dalam artian setiap peristiwa sekecil apapun adalah sejarah, namun sejarah selama ini yang kita pelajari adalah sejarah yang terfilter dari semua peristiwa menjadi peristiwa yang sangat penting untuk dipelajari, selalu memiliki kisah yang dramatis, penuh perjuangan dan melewati proses panjang. Kemerdekaan juga identik dengan sosok pahlawan, setiap peristiwa pasti ada lakon yang berperan dan orang-orang tertentu yang penting berperan dalam sejarah, orang yang menonjol karena keberanaian dan pengorbananya dalam membela kebenaran adalah pahlawan (KBBI Online).
Saat kita merayakan hari kemerdekaan, sebenarnya kita sangat terikat pada lakon sejarah ini, jika dicermati disetiap perayaan 17 Agustus pasti ada kata-kata "kita harus menghargai jasa para pahlawan kita, semangat juang mereka yang memerdekakan dengan pengorbanan jiwa dan raga harus kita teladani sebagai generasi penerus pengisi kemerdekaan", walaupun tidak identik, tetapi pasti ada maksud yang mengarah kesana.
Kecenderungan manusia yang mengagumi kelebihan, prestasi, hal yang tidak biasa yang dianggap baik dari sesama kaum manusia dan kebutuhan untuk mencari sosok pengarah (dalam artian pemimpin) sehingga dapat dijadikan teladan, membuat pencerminan sulitnya menempuh sebuah kemerdekaan melalui kisah dari pahlawan merupakan sisi paling mudah dipahami dalam usaha penanaman rasa kemerdekaan.
Semangat keberanian dan pengorbanan jiwa dan raga pahlawan ini menjadi acuan utama (sepengamatan penulis cmiiw :3) masyarakat Indonesia melakukan berbagai bentuk perayaan 17 Agustus, mulai dari yang bersifat ceremonial, perlombaan, pemutaran film-film sejarah hingga panggung gembira yang sepertinya kini telah menjadi budaya tersendiri.
Adapun sejarah diadakannya bentuk perayaan ini, sampai kini menjadi pertanyaan besar penulis, kapan sebenarnya perayaan 17 Agustus ini pertama kali dilakukan, mengapa dengan bentuk yang sedemikian dan siapa yang mencetuskannya. Karena selain ceremonial penaikan bendera yang di dalamnya biasa terdapat pembunyian sirine pukul 10.00 wib sebagai penanda proklamasi, bentuk-bentuk perayaan yang lain masih menjadi misteri (ingat ini hanya bagi penulis, mungkin pembaca bisa membantu mencarikan :p).
2. Perayaan Hari Kemerdekaan RT 004/09
Perayaan yang mengikuti perayaan hari kemerdekaan pada umumnya yakni perlombaan anak-anak yang terdiri dari lomba makan kerupuk, lomba membawa kelereng dengan sendok, lomba memasukan pensil kedalam botol, lomba pecah kendi, lomba mewarnai dan satu tambahan lomba bagi bapak-bapak yakni lomba futsal dengan sarung dilaksanakan sejak 16-17 Agustus 2014 dilingkungan RT 004. Perlombaan ini dibagi menjadi 2 kategori kecuali untuk mewarnai dan lomba bapak-bapak yakni 5-8 tahun (wah sebenarnya saya tidak tahu :p, yang jelas anak-anak kecil sekitar kelas 1-3 SD) dan yang lebih besar sampai batas 12 tahun atau kelas 6 SD. Hadiah dibagikan kepada 3 terbaik dimasing-masing cabang lomba kecuali futsal yang hanya mengambl 2 peserta terbaik dari seluruh tim. (dan sekali lagi jumlah partisipan saya tidak tahu :p, mungkin kalau dapat data bisa saya lengkapi).
Puncak acara adalah sebuah perayaan dengan panggung sederhana yang dipusatkan di sekretariat RT 004/09, perayaan ini sekaligus momentum halal bihalal warga RT 004 karena dianggap masih dalam suasana Idul Fitri yang jatuh pada bulan Syawal berdasarkan kalender Hijriah, adapun acaranya diisi dengan pembacaan Al-Qur'an, menyanyikan lagu Indonesia Raya,sambutan-sambutan, penampilan anak-anak, pembacaan hadiah dan siraman rohani dan ramah tamah.
Tujuan adanya panggung gembira ini adalah untuk mengingat kembali bahwa Indonesia memiliki hari 17 Agustus hari spesial, kemerdekaan Indonesia sekaligus menumbuhkan dan meningkatkan rasa menghargai jasa pahlawan Indonesia yang dengan susah payah mengibarkan sang merah putih dan memerdekakan Indonesia dan semangat juang mengisi kemerdekaan, terutama bagi anak-anak.
Persiapan untuk menyukseskan panggung gembira ini jika diamati dibagi menjadi 3 peran yakni bapak-bapak berperan dalam menyiapkan infrastruktur, mulai dari instalasi listrik sederhana, sound system, terpal sampai pada kerja bakti dilingkungan sekretariat RT. Ibu-ibu menjadi juru masak an koki-koki terampil secara alami yang menjadi pemegang peranan dalam acara inti ramah tamah, anak-anak sebagai partisipan pengisi acara yang dilatih berhari-hari untuk memberikan penampilan mereka baik menjadi seorang Qori dan penari diatas panggung. Hal yang sangat disayangkan adalah sangat minimnya peran pemuda RT yang dilibatkan dalam perayaan ini, hanya 2 orang pelatih yang mengajari anak-anak menari selanjutnya di serahkan kembali pada panitia yang seluruhnya adalah para orang tua.
3. Persaingan 'Dadakan' Pentas Menari
Ada yang unik dari acara panggung gembira RT 004/09, dua grup yang mendaftarkan dirinya menjadi pengisi acara hiburan mendadak bersaing, hal ini dipicu adanya rencana panggung gembira tingkat RW yang akan memberikan kesempatan bagi warganya untuk berpartisipasi unjuk kebolehan RT yang diwakilkan oleh satu penampilan, hanya satu, dan kemunculan dua grup yakni Tari Aceh dan Kereta Malam anak-anak yang hanya dibekali semangat ingin tampil ini sontak menjadi sebuah ajang dadakan lomba pentas menari mempertaruhkan kualitas penari sekaligus kualitas pengajar.Mungkin tidak ditanggapi seserius itu, tetapi apabila sudah dibawa sampai tingkat kompetisi,bukankah hal tersebut yang ikut dipertaruhkan? (pemikiran).
Pengumuman pentas menari menjadi ajang lomba ini diumumkan kepada audiens hanya sepersekian detik ketika grup pertama yakni Tari Aceh ingin memulai gerakan pertamanya,hal yang sangat mengejutkan bagi saya pribadi bahkan yang seorang penonton garis akhir dalam artian tidak mengambil peran apapun bagi penampilan kedua grup anak-anak tersebut.
Sejujurnya penulis kurang mengetahui apakah telah diberitahukan sebelumnya atau tidak kepada peserta tari, namun dari pengamatan penulis terutama dalam penunjukan juri kedua oleh juri pertama menunjukkan adanya identifikasi dadakan, jikalau sudah dipersiapkan baik juri pertama dan juri kedua telah siap berdua di depan panggung tanpa ada kata 'mmm' dari juri pertama sebelum penunjukkan dan kalimat meminta kesediaan juri kedua menilai tarian tersebut. Identifikasi ini memang masih sekedar pengamatan, namun memang tidak pernah ada wacana yang terdengar jikalau akan diperlombakan (karena ibu penulis adalah salah satu yang terlibat biasanya penulis akan diberitahukan perkembangan acara ini).
Kriteria yang diminta juri adalah kekompakkan,ekspresi wajah dan gerakan (kriteria ketiga sedikit lupa, maaf :p namun tetap kearah teknis menari), ketiga kriteria ini akan menjadi acuan juri dalam penentuan juara, tidak disebutkan apakah masing-masing memiliki bobot yang sama atau berbeda termasuk range nilai yang dapat diperoleh peserta.
Pertanyaan terbesar adalah apakah ketiga kriteria tersebut telah mewakili seluruh maksud berpartisipasinya anak-anak dalam panggung gembira dalam rangka merayakan kemerdekaan ini?
Penulis mencoba menafsirkan secara pribadi tujuan diadakannya perayaan kemerdekaan Indonesia ini. Penanaman semangat juang pahlawan, dapat dikonversi secara sederhana menjadi sebuah usaha yang terbaik dalam melakukan suatu hal, dan tergambarnya sebuah usaha yang gigih dapat dilihat dari bagaimana hasil yang didapat, secara ideal hasil akan berbading lurus dengan usaha maka dari itu ketiga kriteria tersebut menggambarkan semangat juang anak-anak dalam mencoba menguasai tanggung jawab yang harus dilaksanakannya sebagai pengisi acara.
Namun ada satu hal yang menjadi salah satu pemikiran penulis yakni mengapa semangat juang itu ada, apa yang dimiliki seorang pahlawan sehingga rela mengorbankan jiwa dan raganya hanya untuk mencoba menjadikan daratan ini bebas dikibarkan bendera merah putih, berjuang untuk dikuasi pribumi sendiri, meskipun bukan menjadi satu-satunya faktor akan tetapi rasa cinta akan tanah airnya pasti ada di dalam diri mereka, perasaan cinta sehingga mereka siap dan rela berjuang demi nusa dan bangsanya.
Ketika itu, satu hal yang ditunggu penulis adalah penilaian dari sisi hubungan antara semangat kemerdekaan, Indonesia dan tarian itu sendiri, yang terlintas saat itu adalah nilai kelestarian budaya Indonesia. Jika dicermati 2 tarian ini sangatlah berbeda, tarian pertama adalah tarian yang mengusung tarian daerah, tarian kedua adalah tarian berbasis kontemporer. Saat itu yang terpikir adalah pertanyaan semangat kemerdekaan dengan rasa cinta tanah air yang coba di definisikan penulis sebelumnya,sehingga pemilihan jenis tarian seharusnya menajadi salah satu bahan pertimbangan juri, meskipun misal agar tidak terkesan mengintmidasi salah satu pihak bobotnya tidak terlalu menonjol, namun tetap ada pengaruhnya.
Di satu sisi, penari grup pertama ini kemunculannya dipertanyakan karena merupakan gagasan pribadi seorang pencetus ide yang dibentuk ketika ibu-ibu PKK yang juga merupakan panitia telah memutuskan untuk membuat sebuah grup tari dengan lagu yang diputuskan grup 2 tersebut, kalau digambarkan seperti sebuah RT yang pecah kongsi. Grup kedua ini karena terkesan legal (meski tidak ada pelegalan) ditunjang oleh fasilitas RT termasuk sound system yang digunakan untuk keperluan panggung gembira di hari-H nanti (itu punya papahku :3), dicarikan kaset, diberikan tempat latihan bahkan berupa terpal, dan setiap latihan ibu-ibu akan melihat prosesi latihan mereka (baik keluarga anaknya maupun ibu-ibu panitia lain), sedangkan grup pertama yang terkesan ilegal, penulis tidak pernah mendengar gaungnya, sepanjang penulis berada di lingkungan RT tidak pernah melihat bagaimana grup pertama ini berlatih, grup 1 ini menjadi terkesan eksklusif dan tidak menjadi pementasan utama. Hal itu dapat terlihat ketika grup 1 dan 2 tampil, siapa mendukung siapa dapat diketahui hanya dari antusiasme dan ekspresi audiens malam itu.
Kemudian muncul pertanyaan dibenak penulis, jikalau grup 1 menang apakah mendapatkan legitimasi dari elemen pendukung di RTnya pada pentas di RW nanti? mengingat semua latar belakang pembentukan grup menari tersebut.
Selain itu, diluar pemikiran itu penampilan grup kedua memang lebih baik dibandingkan grup pertama, yang menurut penulis ditunjang beberapa faktor diantaranya faktor umur yang menjadi salah satu indikasi penalaran penari, faktor lagu yang mendukung kelincahan penari dalam bergerak dan mengikuti hentakan irama, dan tentunya dukungan moril dari RT itu sendiri.
Grup 1 mendapatkan poin 490 dan grup 2 mendapatkan poin 520, poin yang sampai saat ini masih belum penulis tahu dari mana pembagian bobotnya dan detail nilainya karena tidak pernah disebutkan.
4. Dampak Perayaan Pada Nasionalisme Anak
Ini adalah pembahasan yang sangat berat dan penulis belum melakukan sampel data sama sekali kepada objek perayaan ini, apakah dengan semua perayaan itu menambahkan rasa cinta dan pedulinya terhadap bangsanya.
Kesimpulan
Pertanyaan yang masih menggerayangi penulis adalah sebenarnya jika teman-teman menjadi juri, penampilan mana yang kalian pilih jika dilihat dari faktor-faktor di atas, mulai dari semangat juang, kecintaan bangsa,legalitas yang juga diperlukan untuk tidak secara tiba-tiba memecah kongsi seperti kejadian di atas.
Terima kasih
Langganan:
Komentar (Atom)