Rabu, 28 Desember 2011

Rumahku, rumah keluargaku


Aku menginjakkan kakiku lagi disini, di rumah yang tidak bisa dibilang dalam kondisi rumah degan tata dekorasi yang baik, tata letak yang baik, atap dapur yang plafonnya rusak, lantai dapur yang tidak dikeramik dan, berantakannya barang-barang elektronik, ya..ini adalah rumahku, rumah keluargaku..
Keluargaku adalah keluarga sederhana, terdiri dari ayah, ibu, aku dan adikku, benar-benar kkeluarga berencana, semua di kehidupan kami serba sederhana, tidak mewah juga tidak terlalu tertinggal, kalau kalian melihat dari jauh, keluargaku layaknya the ordinary family..tapi, kalau dipandang lebih dekat, bagiku keluargaku adalah keluarga istimewa.
Adikku adalah seorang anak laki-laki berusia 10 tahun yang memiliki mindset anak-anak, muka anak-anak yang bahkan ekspresinya sangat anak-anak dibandingkan anak-nak lain tetapi terkadang berkata layaknya orang dewasa, berkata dengan kata-kata baku yang tertata, mungkin peringkat di sekolahnya masih jauh lebih baik aku saat di sekolah dasar dulu, tetapi dilihat bagaimanapun ia lebih pintar dibandingkan diriku, hobinya bermain game, terkadang bisa sangat baik, manja dan bersikap manis, terkadang menjadi orang yang amat menjengkelkan, menyebalkan, teriak-teriak tidak jelas seperti di hutan dan menginginkan semua harus terwujud seperti yang ia katakan, how’s annoying!
Ayahku, seorang laki-laki berusia 43 tahun yang di akta kelahirannya di mudakan setahun karena telat masuk sekolah dasar, tamatan Sekolah Menengah Atas Negeri 1 Sidareja, jurusan IPA, bekerja di salah satu pabrik swasta yang mengolah kertas, sangat bangga dengan pekerjaan dan tempat kerjanya, bahkan hampir kesetiap acara, ia akan memakai baju seragam kerjanya, kalau ditanya ibu mengapa bangga sekali dengan tempat kerjanya itu ayahku menjawab, “yah..selama ini kita makan darimana kalau bukan uang dari sana”. Ia adalah orang yang sangat ramah, protektif tetapi tidak berlebihan, sangat penyayang tetapi terkadang tempramen, ia juga merupakan seorang yang berbakat dalam mereparasi benda elektronik, meskipun bukan lulusan STM atau bahkan sarjana teknik, ia bias mereparasi hampr semua barang-barang tersebut, televisi, radio, tape,kipas, mesin cuci, dvd, vcd, bahkan jet pump, jika air dirumah  dikeluhkan ibuku sangat kecil dan menghambat ia memasak, maka ayahku yang bertugas membereskannya, sangat ekonomis, tidak perlu memanggil tukang reparasi lagi kan?
Ibuku adalah sosok perempuan yang sangat menginspirasiku, ia sangat percaya diri, supel dan awet muda meskipun umurnya sudah 37 tahun, engkau tak akan pernah mengira, ia sangat penyayang, tegas tetapi sangat mengerti bagaimana perihal anak-anaknya, kalau ayahku jika bicara langsung ke inti dana tak jarang membuat kami menangis karena kritikannya yang cukup pedas, ibuku akan berkatas dengan bahasa yang diperhalus dalam menasehati, ia sangat pandai memasak, aku sangat menyukai masakan ibuku, sederhana tetapi sangat enak dan khas, ia juga sangat ramah, dan selalu dapat menjadi tumpahan curhat anak-anaknya, sabar tetapi tetap gaul.
Orang tuaku memiliki cita-cita besar pada pendidikan anak-anaknya, karena dulu mereka tidak mendapatkan pendidikan tinggi yang sangat mereka dambakan, terutama ibuku yang sangat tidak mendapat dukungan dalam bersekolah, jika membaca Koran, ia akan diolok-olok “kamu kaya orang kaya saja, cuci piring tuh..dibelakang numpuk”, atau “belajar mulu sih,ngapain sekolah tinggi-tinggi perempuan nanti juga ujung-ujungnya ke dapur”, itu diucapkan oleh ibu dari ibuku, aku tidak dapat membayangkan bagaimana jika aku yang mengalami hal itu, terjebak dalam pikiran-pikiran orang tua kolot yang membatasi pendidikan, bahkan ia sering kali mendapat suruhan secara tidak langsung untuk menikah cepat, kalau sudah begitu aku akan merasa menjadi anak yang sangat beruntung karena lahir di tengah kelauarga yang mengerti dan sangat ingin melihat anak-anaknya meraih cita-cita.
Ayahku juga seorang yang selalu bekerja keras demi pendidikan anak-anaknya, ia bekerja banting tulang setiap hari, bekerja di pabrik swasta, menjadi pereparasi di rumah dan mulai berbisnis laptop, sebelum aku lulus SMA aku telah dia arahkan untuk meneruskan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi, aku sempat bimbang karena melihat teman-teman di sekitar rumahku yang kebanyakan bekerja apalagi melihat mereka sudah bisa menghasilkan uang dengan keringat sendiri bahkan membeli sepeda motor, sedangkan aku? Apa yang dapat aku berikan pada orang tuaku? Dengan meneruskan jenjang pendidikan aku akan menguras habis keuangan keluargaku, dan mereka akan mengikat pinggangnya lebih kencang dari biasanya, aku iri..
“Papah sama mamah ga mau kamu kerja..lebih baik kamu kuliah terusin pendidikan biar jadi ‘orang’, biar mereka kerja dan sekarang bias beli motor atau apa segala macem, kamu mungkin belum bisa ngasih materi, tapi nanti kalau kamu lulus kuliah dan kerja, pasti kamu akan kerja lebih layak dan bisa ngasih banyak ke orang tua, lagian mamah sama papah mungkin ga bisa ngasih banyak harta, tapi..mamah sama papah bisa ngebekalin kamu ilmu buat kehidupan kamu nanti”.
Atau
“papah kamu ga mau kamu kerja, katanya biar dia aja yang banting tulang cari uang buat kamu sama ade sekolah, kalian biar fokus belajar, kan kalau kalian sukses orang tua juga seneng lihatnya”
Ibuku selalu bicara seperti itu, hal yang selalu menjadi nasihat rutinnya setiap hari, ia bangga saat anaknya mendapatkan sekecil apapun prestasi, dan ia tetap bangga saat kami jatuh, dan memberikan pikiran-pikiran positif untuk membuat kami naik kembali..
Kalian tahu?
Mungkin rumah kami bukan rumah bertingkat, terdapat bocor dimana-mana jika hujan tiba, surga bagi tikus yang terkadang berseliweran lewat melintsi rumah kami, barang-barang sisa service yang menumpuk, air keran yang kecil dan tata letak yang tidak baik, tapi, bagiku…di dalam rumah ini aku akan merasa seperti seorang putri yang mana ayahkku adalah seorang raja bijak, ibuku adalah seorang ratu yang penyayang dan adikku pangeran kecil yang menyebalkan :D, dan bagaimanapun aku merasa beruntung Allah swt melahirkan aku kedunia dalam keluarga ini…