Aku
menginjakkan kakiku lagi disini, di rumah yang tidak bisa dibilang dalam
kondisi rumah degan tata dekorasi yang baik, tata letak yang baik, atap dapur
yang plafonnya rusak, lantai dapur yang tidak dikeramik dan, berantakannya
barang-barang elektronik, ya..ini adalah rumahku, rumah keluargaku..
Keluargaku
adalah keluarga sederhana, terdiri dari ayah, ibu, aku dan adikku, benar-benar
kkeluarga berencana, semua di kehidupan kami serba sederhana, tidak mewah juga
tidak terlalu tertinggal, kalau kalian melihat dari jauh, keluargaku layaknya
the ordinary family..tapi, kalau dipandang lebih dekat, bagiku keluargaku
adalah keluarga istimewa.
Adikku
adalah seorang anak laki-laki berusia 10 tahun yang memiliki mindset anak-anak,
muka anak-anak yang bahkan ekspresinya sangat anak-anak dibandingkan anak-nak
lain tetapi terkadang berkata layaknya orang dewasa, berkata dengan kata-kata baku
yang tertata, mungkin peringkat di sekolahnya masih jauh lebih baik aku saat di
sekolah dasar dulu, tetapi dilihat bagaimanapun ia lebih pintar dibandingkan
diriku, hobinya bermain game, terkadang bisa sangat baik, manja dan bersikap
manis, terkadang menjadi orang yang amat menjengkelkan, menyebalkan,
teriak-teriak tidak jelas seperti di hutan dan menginginkan semua harus
terwujud seperti yang ia katakan, how’s annoying!
Ayahku,
seorang laki-laki berusia 43 tahun yang di akta kelahirannya di mudakan setahun
karena telat masuk sekolah dasar, tamatan Sekolah Menengah Atas Negeri 1
Sidareja, jurusan IPA, bekerja di salah satu pabrik swasta yang mengolah
kertas, sangat bangga dengan pekerjaan dan tempat kerjanya, bahkan hampir kesetiap
acara, ia akan memakai baju seragam kerjanya, kalau ditanya ibu mengapa bangga
sekali dengan tempat kerjanya itu ayahku menjawab, “yah..selama ini kita makan
darimana kalau bukan uang dari sana”. Ia adalah orang yang sangat ramah,
protektif tetapi tidak berlebihan, sangat penyayang tetapi terkadang tempramen,
ia juga merupakan seorang yang berbakat dalam mereparasi benda elektronik,
meskipun bukan lulusan STM atau bahkan sarjana teknik, ia bias mereparasi hampr
semua barang-barang tersebut, televisi, radio, tape,kipas, mesin cuci, dvd,
vcd, bahkan jet pump, jika air dirumah
dikeluhkan ibuku sangat kecil dan menghambat ia memasak, maka ayahku
yang bertugas membereskannya, sangat ekonomis, tidak perlu memanggil tukang
reparasi lagi kan?
Ibuku
adalah sosok perempuan yang sangat menginspirasiku, ia sangat percaya diri,
supel dan awet muda meskipun umurnya sudah 37 tahun, engkau tak akan pernah
mengira, ia sangat penyayang, tegas tetapi sangat mengerti bagaimana perihal
anak-anaknya, kalau ayahku jika bicara langsung ke inti dana tak jarang membuat
kami menangis karena kritikannya yang cukup pedas, ibuku akan berkatas dengan
bahasa yang diperhalus dalam menasehati, ia sangat pandai memasak, aku sangat
menyukai masakan ibuku, sederhana tetapi sangat enak dan khas, ia juga sangat
ramah, dan selalu dapat menjadi tumpahan curhat anak-anaknya, sabar tetapi
tetap gaul.
Orang
tuaku memiliki cita-cita besar pada pendidikan anak-anaknya, karena dulu mereka
tidak mendapatkan pendidikan tinggi yang sangat mereka dambakan, terutama ibuku
yang sangat tidak mendapat dukungan dalam bersekolah, jika membaca Koran, ia
akan diolok-olok “kamu kaya orang kaya saja, cuci piring tuh..dibelakang numpuk”,
atau “belajar mulu sih,ngapain sekolah tinggi-tinggi perempuan nanti juga
ujung-ujungnya ke dapur”, itu diucapkan oleh ibu dari ibuku, aku tidak dapat
membayangkan bagaimana jika aku yang mengalami hal itu, terjebak dalam
pikiran-pikiran orang tua kolot yang membatasi pendidikan, bahkan ia sering
kali mendapat suruhan secara tidak langsung untuk menikah cepat, kalau sudah
begitu aku akan merasa menjadi anak yang sangat beruntung karena lahir di
tengah kelauarga yang mengerti dan sangat ingin melihat anak-anaknya meraih
cita-cita.
Ayahku
juga seorang yang selalu bekerja keras demi pendidikan anak-anaknya, ia bekerja
banting tulang setiap hari, bekerja di pabrik swasta, menjadi pereparasi di
rumah dan mulai berbisnis laptop, sebelum aku lulus SMA aku telah dia arahkan
untuk meneruskan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi, aku sempat bimbang
karena melihat teman-teman di sekitar rumahku yang kebanyakan bekerja apalagi
melihat mereka sudah bisa menghasilkan uang dengan keringat sendiri bahkan
membeli sepeda motor, sedangkan aku? Apa yang dapat aku berikan pada orang
tuaku? Dengan meneruskan jenjang pendidikan aku akan menguras habis keuangan
keluargaku, dan mereka akan mengikat pinggangnya lebih kencang dari biasanya,
aku iri..
“Papah
sama mamah ga mau kamu kerja..lebih baik kamu kuliah terusin pendidikan biar
jadi ‘orang’, biar mereka kerja dan sekarang bias beli motor atau apa segala
macem, kamu mungkin belum bisa ngasih materi, tapi nanti kalau kamu lulus
kuliah dan kerja, pasti kamu akan kerja lebih layak dan bisa ngasih banyak ke
orang tua, lagian mamah sama papah mungkin ga bisa ngasih banyak harta,
tapi..mamah sama papah bisa ngebekalin kamu ilmu buat kehidupan kamu nanti”.
Atau
“papah
kamu ga mau kamu kerja, katanya biar dia aja yang banting tulang cari uang buat
kamu sama ade sekolah, kalian biar fokus belajar, kan kalau kalian sukses orang
tua juga seneng lihatnya”
Ibuku
selalu bicara seperti itu, hal yang selalu menjadi nasihat rutinnya setiap
hari, ia bangga saat anaknya mendapatkan sekecil apapun prestasi, dan ia tetap
bangga saat kami jatuh, dan memberikan pikiran-pikiran positif untuk membuat
kami naik kembali..
Kalian
tahu?
Mungkin
rumah kami bukan rumah bertingkat, terdapat bocor dimana-mana jika hujan tiba, surga bagi tikus yang terkadang berseliweran lewat melintsi rumah kami, barang-barang
sisa service yang menumpuk, air keran yang kecil dan tata letak yang tidak
baik, tapi, bagiku…di dalam rumah ini aku akan merasa seperti seorang putri
yang mana ayahkku adalah seorang raja bijak, ibuku adalah seorang ratu yang
penyayang dan adikku pangeran kecil yang menyebalkan :D, dan bagaimanapun aku
merasa beruntung Allah swt melahirkan aku kedunia dalam keluarga ini…
Tidak ada komentar:
Posting Komentar