kuletakan sebuah kacamata pada dinding surga
yang mendekatkan jarak dua insan dilingkarannya
yang kecil tercermin segala gerakmu
yang kulihat dari sebuah kornea kecil cerminan diriku
kuletakan sebuah kacamata pada dinding surga
cahaya yang dengan riang merasuk ke dalamnya
membuka dalamnya samudera luas
menyentuh kakimu dengan jangkauan tanganku
kacamata pada dinding surga
cerminan dirimu yang terpantul padaku
gambaran dirimu tanpa kau dapat melihatku
setiap cahaya yang merasuki berlomba mengurai pada kornea, berlomba menangkap setiap dirimu
merajut asa menunggu izinmu
dinding surga, pemisah jarak kita
penyatu jiwa yang berharap saling disambut karena cahaya,
meneruskan cahayanya dalam kacamata
aku tak bisa melihatku
tak bisa menatapku, yang seharusnya melihat sejak awal,
sebelumku meneruskan cahaya
menjangkau, dan tersambut sebuah kacmata
tapi,
bukan maksudku meredupkan cahaya,
meninggalkan setiap kilau cahaya yang memantulkan
hanya,
kapan cahaya itu terpantul kembali padaku ?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar