Ternyata..
Seperti ini rasanya
menjadi mahasiswa yang entah dengan sengaja ataupun tidak terlibat dalam
perespon kebijakan publik.
Aku tidak menyangka
bawa Rabb-ku menunjukan jalan ini bagiku, aku baru menyadarinya, seperti inikah
mahasiswa?
Menjadi bagian
mahasiswa yang sedikit-sedikit dinilai suka berdemo dengan dalih kepentingan
rakyat, yang selama ini ku lihat dari layar kaca, tanpa kusadari aku menjadi
bagian dari mereka kini, langsung terlibat dalam sebuah badan yang mengaturnya.
Aku baru menyadarinya,
mengambil sebuah keputusan besar demi keberlangsungan bangsa kedepan, aku
merasakan ada sesak dalam dada, mengingat apa yang kami lakukan kini akan
terasa langsung dampaknya bagi masyarakat. Masyarakat yang selama ini aku
bagian dari mereka, orang-orang yang dikelompokan sama rata dan biasa-biasa
saja, kini aku dalam posisi ini.
Sesak itu, memeikirkan
apa yang terbaik bagi negeri ini? Bagaimana negeri ini akan merespon? Bagaimana
jika keputusan yang kami ambil salah dan bukan berujung baik, tetapi sebaliknya
berujung merugikan banyak pihak dan menimbulkan masalah yang seharusnya tidak
terjadi?
Ketika aku mulai
terlibat, suara-suara pemekik semangat itu senantiasa bergemuruh
“Hidup Mahasiswa, Hidup
Rakyat Indonesia!”
Kalian tahu, awalnya
aku berpikir, efek dari tagline itu tidak akan terlalu besar, layaknya tagline
selama ini, tetapi…
Jika kita terlibat
sekali, kau akan berpikir beratus kali untuk berpaling, apa yang kau pikirkan? Lari
dari berjuang demi negeri?
Aku tak menyangka,
beban berat itu kini aku harus menanggungnya juga, aku bukan siapa-siapa, tapi
kekhawatiran akan apa selanjutnya yang akan terjadi di negeri ini, harus apa dan
bagaimana sikap kita untuk kesejahteraan negeri ini, apakah apa yang kita
lakukan itu benar dapat kurasakan jua.
Terkadang aku berpikir,
ketika kau harus berjuang bagi negerimu yang di dominasi oleh rakyat dan bukan
pemerintah, apa makna pejuang negeri sebenarnya?
Mahasiwa selama ini
selalu mengklaim dirinya pembela rakyat, sama seperti tagline tadi, selalu
memekikan jangan sampai masyarakat menderita, aku mulai berpikir, apakah segala
yang terbaik bagi negeri adalah semua keinginan rakyat? Atau yang terbaik
adalah hal yang sebenarnya meskipun itu bertentangan dengan keinginan rakyat?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar