gue cuma seorang manusia, ga lebih dan ga kurang,,ga kaya dan alhamdulillah ga miskin, ga cantik tapi juga ga jelek, ga pinter tapi juga ga bodoh, meski hidup gue gitu-gitu aja ga istimewa.. Tapi gue yang akan jadiin hidup gue istimewa
Sabtu, 03 Maret 2012
Habis Nonton Fim...(cuma di laptop hhe)
Ada yang sudah menonton Film “Alangkah Lucunya Negeri Ini” ???
Atau mungkin hanya saya yang ketinggalan?? Hhe
Film ini sangat menggugah, konsepnya mungkin membandingkan antara pencuri kelas teri dan pencuriu kelas kakap, sekelompok anak pencopet dan koruptor, selain itu dimasukkan juga unsur pentingnya pendidikan, dan agama khususnya islam.
Cerita awalnya adalah seorang sarjana manajemen yang kesulitan mencari pekerjaan, Muluk namanya anak dari H. Makbul yang merupakan calon menantu dari H.Sarbini, sebagai seorang yang berpendidikan, ia mendapat sebuah tuntutan mendapatkan pekerjaan, terlebih hubungannya dengan Rahma (Anak H.Sarbini) akan berlanjut ke jenjang pernikahan, sehingga ia harus memiliki penghasilan tetap.
H. Makbul adalah seorang ayah yang menilai pendidikan itu penting, bangsa lain bisa maju karena pendidikannya yang maju pula dan dengan pendidikan dan menunjang pekerjaan nantinya, sedangkan H.Sarbini adalah seorang yang menilai pendidikan itu tidak penting asalakan seseorang tersebut dapat memperoleh pekerjaan dan pemnghasilan tetap. Untuk menjadi seorang menantu H.Sarbini, Muluk memiliki saingan, seorang Jupri yang ingin mengajukan diri sebagai calon wakil rakyat bukan tandingan selain kalah tampang juga kalah pintar, namun dengan jaminan ia akan menjadi seorang wakil rakyat yang diprediksi memiliki penghasilan tetap tentu menjadi tantangan bagi Muluk.
Diantara H.Makbul dan H.Sarbini ada seorang lagi bernama H.Rahmat seorang haji terpandang yang sering dijadikan tempat bertanya mengenai ilmu agama, bijak, sabar dan sangat islami, ia memiliki seorang anak yang bernama Laila Fitriyani, biasa dipanggil Pipit, seorang yang memiliki pekerjaan menonton televisi, menunggu adanya kuis berhadiah dan mengirimkan pesan singkat atau telepon ke operator tersebut berharap mendapatkan hadiahnya.
Selain itu ada juga seorang Symsul yang merupakan sarjana pendidikan namun pengangguran, depresi dengan semua cemoohan warga mengenai dirinya yang tidak juga mendapat pekerjaan, akhirnya berujung apa sebuag pos ronda dengan kartu yang menjadi pegangannya sehari-hari “gaple”.
Sinopsis
Bagaimana jika kamu terlibat dalam sekelompok pencopet dan ikut mengelola uang mereka? itulah Muluk sebagai sarjana manajemen yang kesulitan mencari pekerjaan, memulai sebuah proyek pengentasan kemiskinan dengan objek sekelompok pencopet yang terdiri dari anak-anak dan satu orang dewasa sebagai atasan mereka. Pertemuannya dengan Komet (salah satu pencopet)mengantarkan Muluk pada proyek itu, berusaha menjadikan anak-anak tersebut beralih profesi.
Dengan ilmu manajemen yang ia miliki ia mengolah uang hasil copetan kelompok copet yang terbagi menjadi tiga kelompok kecil yaitu Copet Mall, Copet Pasar dan Copet Angkot untuk sebagai titik modal usaha agar pencopet tersebut memiliki pekerjaan yang halal.
Awalnya ia sendiri yang mengerjakan proyek ini, namun ia menyadari pentingnya pendidikan bagi para pencopet, akhirnya ia meminta bantuan pada seorang Syamsul, sarjana pendidikan untuk mengajarkan ilmu dengan basis sekolah dasar pada anak-anak tersebut, mulai dari baca, tulils sampai pada butir Pancasila, kemudian ia juga mengajak seorang Pipit untuk mengajarkan ilmu agama pada anak-anak tersebut.
Proyek yang dikembangkan secara sembunyi-sembunyi ini berjalan dengan lancar hingga anak-anak tersebut menjadi seorang yang bisa membaca, menulis, mengerti butir pancasila, shalat dan pengetahuan islam lainnya, sehingga pada puncaknya 6 dari mereka akan beralih profesi sebagai pedagang asongan. Namun, ketiga orang Haji itu mengetahui apa yang selama ini anak-anaknya lakukan, mereka mengajarkan para pencopet dan di gaji dengan uang hasil mencopet, sehingga terjadi konflik antara Muluk, Pipit, Syamsul dimana apakah mereka akan melanjutkan proyek tersebut atau tidak terkait dengan kekecewaan para Haji mengenai rizki yang haram yang telah mereka terima dan menjadi bagian dari aktivitas sehari-hari mereka.
Cerita ini berakhir saat ketua mereka yang walaupun menakutkan tapi sebenarnya sangat menyayangi anak-anak pencopet itu, menyadarkan kalau menjadi seorang pencopet selamanya tidak akan memiliki masa depan, tidak seperti koruptor yang meskipun ia ditangkap ia akan tetap kaya karena mereka berpendidikan, pada awalnya mereka tetap tidak memiliki keinginan untuk beralih profesi, tetapi setelah itu 6 orang diantara mereka berubah pikiran dan menjadi pedagang asongan.
Di film ini diungkapkan hal yang memancing berbagai pertanyaan, seburuk itukah citra seorang pencopet di masyarakat yang notabenenya merupakan pencuri kelas teri daripada mereka yang mengaku para wakil rakyat dan menjadi koruptor yang mencuri uang rakyat? Apakah hukum di negeri ini akan selalu memperlakukan pencuri kecil dengan semena-mena dan memperlakukan pencuri besar dengan penuh kasih sayang? Apa yang harus dilakukan untuk para rakyat kecil mencari nafkah jika pekerjaan yang kecil seperti berjualan asongan tidak diperbolehkan karena alasan menggagu ketertiban sedangkan lapangan kerja tidak bisa menampung rakyat yang ingin bekerja dengan layak? Apa usaha yang berwenang untuk mengentaskan permasalahan sosial seperti contoh film diatas? Rakyat sekarang, bukan rakyat yang dapat dikadali lagi oleh pemerintah yang mengaku wakil rakyat namun berkhianat pada rakyat, bagaimana cara pemerintah mengembalikan kepercayaan rakyat?
Film diatas juga membandingkan bagaimana seorang dengan pendidikan tinggi sulit dapat pekerjaan hingga menimbulkan pertanyaan apakah pendidikan itu penting dan akhirnya berkelumit dengan para pencopet dengan seorang yang dibawah rata-rata mencalonkan diri sebagai wakil rakyat tanpa memiliki kepercayaan dari rakyat?
dan masih banyak lagi yang dapat dibahas..
Hanya singkat dan sangat ringkas, belum ada hal tentang keterkaitan pencopet dan korupsi yang saya masukan dalam sinopsis tersebut, untuk lebih jelasnya semua bisa menonton filmnya dan memikirkan kenyataan bangsa ini yang sangat menimbulkan ironi, sebuah tontonan menarik yang dapat memancing daya kritisi kita terhadap keadaan bangsa saat ini.
Nanti untuk lengkapnya mungkin bisa saya re-post :D
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar