Kini, aku mengerti, pasrah dan menyerah adalah tak sama, sepertinya aku harus memperbaiki bahasa Indonesiaku lagi..
Ketika kau menyerah, kau merelakan sesuatu tanpa ada usaha karena banyak ketakutan-ketakutan yang melandamu dan membayang-bayangimu tentang resiko jika kau mengambil langkah kedepan, dan itu aku rasakan dulu, tapi itu sudah berlalu, namun berbeda dengan berpikir cerdas untuk strategi, karena mengambil langkah atau mengurungkan langkah karena strategi bukan takut akan resiko melainkan mengambil resiko terkecil dan setelah itu berusaha mewujudkannya..tapi,, seperti sama saja?
Yang jelas, menyerah lebih berkonotasi negatif, mungkin dalam kata lain strategi itu ya..mengalihkan resiko yang ada ke resiiko yang lebih kecil kurasa dan tentunya ada usaha setelah menyusun startegi tersebut..
Namun kalau pasrah adalah menyerahkan segala sesuaatunya kembali pada kehendak yang Kuasa, setelah kau berusaha mewujudkannya..ada usaha di sana dengan segenap hati dan semaksimal kemampuan yang dimiliki..
Namun, tentu saja pasrah itu bukan berarti tidak melakukan apa-apa untuk menunjang keberhasilan dari usaha..tetap harus berdoa bukan?
terkadang,,aku merasa seorang naif yang terus berdoa hal yang sama dalam setiap waktu, dan aku bertanya pantaskah aku meminta sedemikian hingga kepada Allah sedangkan aku bukanlah hamba yang baik?
Tapi..kemana aku harus meminta selain pada-Mu ya Allah.semoga Engkau selalu memaafkanku atas segala kekhilafanku dan keegoisanku selalu meminta pada-Mu, sedangkan aku tiada kuasa membalasnya, hanya dengan berusaha membuat diriku lebih baik,,
Semoga doaku dikabulkan oleh-Mu ya Allah..
Aku selalu percaya Engkau selalu menunjukan padaku jalan terbaik
gue cuma seorang manusia, ga lebih dan ga kurang,,ga kaya dan alhamdulillah ga miskin, ga cantik tapi juga ga jelek, ga pinter tapi juga ga bodoh, meski hidup gue gitu-gitu aja ga istimewa.. Tapi gue yang akan jadiin hidup gue istimewa
Selasa, 24 Juli 2012
Sabtu, 21 Juli 2012
Aku Punya Mimpi, Mama
Aku punya impian, Mama..
Ini yang pertama, bukan..tapi yang kuat kurasa
Naifku sudah diambang batas..
Impianku, apakah kau sudi mampir?
Kalau Tuhan menginginkan ini 'jodohku'..maka aku senang..
Kalau ini bukan untukku?, Mama..apa ku harus kata?
Jatuh itu sakit..aku tak mau lagi,
Jatuh itu seperti..aku tak mau kembali,
Kalau buku takdirku kini aku pegang, bagaimana jadinya Mama?
Lambat laun semua ku putar balikan..
Aku mau itu nyata,
Bukan ilusi yang mampir dan buat susah hirup udara,
Mama, ketika buku itu bukan aku yang punya, tetapi Tuhan yang punyai aku..
Sudikah Tuhanku mengabulkannya?
Ini lebih kuat dari cinta..mungkin....cinta itu apa?
Tapi ini aku, masa depanku, aku tak ingin lagi jatuh..dua kali, itu cukup, satu kali..
Kalau aku diijinkan, Mama..
Untuk saat ini saja, aku menyusun hidupku..
Akan ku tulis sesuai apa yang aku mau, tapi tidak, Mama,
Tuhan tak mau,
Bukan karena itu mauku, tapi yang terbaik..
Aku,
Hanya bisa menulis nasib, selanjutnya hanya harap..
Jalanku yang ku mau, itu yang terbaik
Sudikah Tuhanku mengabulkannya?
Ini yang pertama, bukan..tapi yang kuat kurasa
Naifku sudah diambang batas..
Impianku, apakah kau sudi mampir?
Kalau Tuhan menginginkan ini 'jodohku'..maka aku senang..
Kalau ini bukan untukku?, Mama..apa ku harus kata?
Jatuh itu sakit..aku tak mau lagi,
Jatuh itu seperti..aku tak mau kembali,
Kalau buku takdirku kini aku pegang, bagaimana jadinya Mama?
Lambat laun semua ku putar balikan..
Aku mau itu nyata,
Bukan ilusi yang mampir dan buat susah hirup udara,
Mama, ketika buku itu bukan aku yang punya, tetapi Tuhan yang punyai aku..
Sudikah Tuhanku mengabulkannya?
Ini lebih kuat dari cinta..mungkin....cinta itu apa?
Tapi ini aku, masa depanku, aku tak ingin lagi jatuh..dua kali, itu cukup, satu kali..
Kalau aku diijinkan, Mama..
Untuk saat ini saja, aku menyusun hidupku..
Akan ku tulis sesuai apa yang aku mau, tapi tidak, Mama,
Tuhan tak mau,
Bukan karena itu mauku, tapi yang terbaik..
Aku,
Hanya bisa menulis nasib, selanjutnya hanya harap..
Jalanku yang ku mau, itu yang terbaik
Sudikah Tuhanku mengabulkannya?
Langganan:
Komentar (Atom)