Rabu, 15 Agustus 2012

Catatan 14 Agustus 2012


14 Agustus 2012
Saat salat qiyamul lail berjamaah aku memutuskan hanya menjalinnya 4 rakaat, aku membutuhkan waktu untuk mandi sebelum berangkat pagi –pagi ke Kemendikbud untuk melanjutkan aksi, ketika aku makan sahur dan jamaah masih salat, imam yang memimpin salat itu menangis dengan mengulang-ulang kalimat permohonan dijauhkan dari neraka dan di dekatkan dengan syurga, ia menangis, menangis dan menangis, aku hanya bisa mendengarkan, ternyata imanku begitu tipis, aku bahkan belum bisa seperti mereka, apa yang harus aku lakukan agar bisa seperti mereka yang turut merasakan ketakutan, kesedihan, mohon ampun pada Allah dengan berlinang air mata dan penuh kekhusyukan?, begitu burukkah diriku?.
Pagi itu, nampaknya aku terlambat, aksi telah dimulai dengan melilitkan kain hitam pada lambang makara UI di bundaran psikologi, betuliskan UI butuh perbaikan. Seperti biasa meski sangat sedikit kakak-kakak itu sangatlah bersemangat, sangat! Tiada raut wajah penyesalan karena masa aksi yang hadir sedikit, tidak ada guratan wajah malu karena masa aksi seolah kalah pamor dengan PSAF yang dilangsungkan dengan euforia baik oleh senior dan juniornya, meskipun mereka terus diteriaki skenario senior yang ditujukan untuk membangun mental mahasiswa baru, mungkin itulah tujuannya.
Pukul 08.00 wib, masa aksi siap berangkat, Uki belum datang juga, tidak ada satupun perempuan di sini selain diriku, setidaknya dengan Uki aku memiliki sandaran dan teman. Pukul 10.00 wib semakin dkat karena mengejar waktu, beberapa dari kami yang telah siap mengambil langkah taktis berangkat dengan motor untuk bisa mencapai Kemendikbud tepat waktu agar dapat melihat langsung serah terima jabatan dari mantan Rektor kami Gumilar Roesliwa Soemantri ke tangan PJs Djoko Soesanto, aku dan Uki memilih menggunakan transportasi umum yakni kereta, sedangkan Wakabidku memilih menunggu terlebih dahulu masa teknik yang belum datang karena mengurus PSAF terlebih dahulu, aku melakukan perjalanan dengan kereta Commuter Line sampai stasiun Manggarai diteruskan dengan menaiki mobil 66 sampai Kemendikbud.
Meski baru bertemu beberapa kali, aku merasa nyaman dengan Uki, kami banyak bertukar cerita, dan aku memandangnya sebagai seorang aktivis pergerakan sejati, jika dibandingkan denganku, aku adalah adik kecil baginya.
Ia bercerita bahwa pada saat Sumbangan untuk KPK, ia tengah berada di Purwakarta, temapat tinggalnya, ia menyadari bahwa banyak anggota Akprop yang telah mudik, akhirnya ia memutuskan untuk kembali ke UI, meskipun ia tidak diperbolehkan, namun ia terus berusaha membujuk orang tuanya, dengan uang hanya Rp40.000,- ia menuju Gd.KPK di Rosina Said, dengan pengetahuan seadanya akan kendaraan apa yang harus ia naiki, ia seolah berkeliling Jakarta untuk menemukannya, aku membandingkan dengan diriku, apakah aku sanggup seperti itu?.
Aku dapat melihat jiwa optimis dalam dirinya, bertanggung jawab dan mampu membaca situasi, sebuah jiwa kepemimpinan yang sangat baik, dan tentunya bersahabat, yang terpenting ia kini berjilbab, sebuah transformasi hidup yang turut mempercantik kepribadiannya.
Gd.Dikti, Kemendikbud
Aku dan Uki tidak bisa masuk, alasannya ruang sidang telah penuh dan 9 orang dari BEM telah menempati ruangan tersebut, akhirnya kami menunggu sidang yang dilaksanakan di lantai 3 itu selesai, setelah kami terdapat beberapa rekan dari BEM UI dan Fasilkom datang, namun masa Teknik belum juga datang.
Karena tidak ada tempat duduk aku dan Uki memilih ke toilet dan membaca buku di sana, kebetulan terdapat sebuah jendela yang menjorok ke luar sehingga menyisakan tempat duduk, menjelang dhuhur, masa Teknik datang, dan aku sedikit terkejut karena kakak dari BEM UI dan Fasilkom tidak ada, mereka ke lantai tiga karena sidang telah selesai, sedangkan kami memilih tetap di bawah karena tak lama kemudian rekan yang di lantai 3 turun ke tempat kami.
Kami diceritakan bahwa tuntutan telah di berikan pada Gumilar, tuntutan tersebut ada di kertas hitam dan tidak lupa dua buah karton yang bertuliskan menolak Gumilar, hal itu juga ditujukan pada media-media yang datang ke sidang tersebut, akhirnya pak Gumilar turun dari jabatannya, ada sedikit pernyataan yang menggelitik, ketika pak Gumilar berkata “Kaji, kaji lagi”, salah seorang BEM UI berkata “Kami sudah mengkaji pak, kapan kita forum”, lalu beliau hanya bisa terdiam.
Aku pulang bersama Uki, setelah salat dan mendengarkan ceramah di masjid Kemendikbud yang berisi tentang bagaimana seharusnya kita bersyukur atas segala nikmat yang diberikan Allah swt yang tidak akan bisa terbalas akan aapapun. Sebenarnya kami ditawarkan untuk ikut bersama masa FT yang saat itu membawa mobil milik kak Ryan (Ketua IME), akan tetapi tampaknya kakak-kakak sedang terburu-buru karena harus kembali mengurusi PSAF yang masih berlangsung, sehingga kami memutuskan kembali menggunakan transportasi umum.
Pada saat itu hal yang paling menggembirakan bagiku adalah tidak adanya sedikitpun rasa penyesalan dalam hati walau aku hanya dapat mendengar cerita mereka yang melihat langsung sidang tersebut, aku tidak sia-sia  memutuskan untuk pergi kembali ke UI dan merelakan untuk melihat adik-adiku berjuang di perlombaan Parade dalam rangka HUT Pramuka. Alhamdulillah ketika aku menerima kabar mereka meraih juara pertama, sungguh Allah sangatlah Maha Kuasa, selamat untuk adik-adiku di Pramuka Ambalan Jendral Soedirma-Nyi Ageng Serang SMAN 1 Tambuhn Selatan.
Sebelum pulang kami menuju Tanah Abang dengan tujuan membeli beberapa kerudung, akan tetapi hampir semua took telah tutup akhirnya kami memutuskan untuk pulang menggunakan kereta dari stasiun terdekat.
Di stasiun, ketika manusia tergesa-gesa sangat mengerikan, berdesak-desakan menunggu kereta yang ingin dinaiki, seperti simulasi aksi, aku dan Uki membentuk border sendiri, berusaha agar menghadang serbuan gelombang manusia yang saling berteriak dan berdesak-desakan, bahkan diantara mereka ada yang nekat menaiki atap kereta, dan memerlukan sebuah petugas kemanan dengan bamboo panjang untuk mengusirnya, Indonesia…
Meskipun begitu, masih ada diantara mereka yang lolos pengejaran petugas tersebut dan berhasil menaiki atap kereta, mereka tertawa dan melambaikan tangan seolah mendapatkan kemenangan penuh, yang sebenarnya bukankah maut mengincar kapan saja, terutama dengan mereka berbuat seperti itu?, Uki bertanya, “bagaimana fit kajian transportasinya nih?”, seraya tersenyum, “kemarin lebih fokus ke MRT ki..”,tampaknya setiap peristiwa jadi bahan langkah nyata apa yang harus dilakukan.
Tiga hari berlalu, rasa kantuk akibat kurang tidur, dan lelah akibat berjalan mungkin mewarnai hariku, tetapi banyak yang ku dapatkan dari tiga hari peristiwa tersebut, bukan hanya dari sisi pergerakan, dari sisi religious, sisi psikologi, kemanusiaan, belajar berpikir kritis dan belajar percaya pada apa yang diyakini diri sendiri.
Aku bukanlah seorang aktivis sejati, bukan seorang yang dapat dikatakan pergerakan tetapi masih seorang yang “digerakan”, terkadang aku sadar dan sedih Kastrat dan pergerakan dicampur tangani oleh orang seperti aku yang banyak kekurangan, sedangkan mereka yang berpotensi lebih dan sangat lebih menurutku, berpaling dari jalan ini dan mencoba acuh, atau bahkan tidak percaya akan adanya idealisme yang seharusnya dimiliki mahasiswa, mungkin dikehidupan real nanti akan sangat berat dan mengikis idealisme, atau anggapan adanya idealisme menjadi hanya sebuah kondisi ideal yang tidak pernah tercapai, akan tetapi kepemilikan idealisme hari ini tidak akan membuat sebuah kerugian bagi dirimu, bukan hanya lewat jalan aksi tetapi lewat berbagai advokasi, lewat tulisan, atau sekedar pemikiran.
Jika semakin sedikit yang percaya akan adanya sebuah tanggung jawab bagi mahasiswa sebagai kaum intelektual melakukan perubahan kearah yang lebih baik baik secara vertikal maupun horizontal secara seimbang, maka pergerakan akan semakin tenggelam, tetapi bukan mati karena disetiap manusia pada hakekatnya terdapat sebuah keinginan memberontak kala terjadi penindasan dan ketidakadilan, kala ada sekecil apapun yang seharusnya diperbaiki dan diarahkan pada kondisi seideal mungkin.
Dan harus selalu diingat bahwa tidak memerlukan banyak orang untuk membuat sebuah perubahan, mungkin jika kutambahkan perubahan hanya memerlukan mereka dengan jiwa berapi dan pantang mundur serta semangat optimistik dan keyakinan bahwa perubahan itu nyata!.
Hidup Mahasiswa!
Hidup Rakyat Indonesia!

Catatan 13 Agustus 2012


13 Agustus 2012
Detik-detik mendekati 13 Agustus 2012..
Hal yang tak kalah mengesankan dan tidak akan dilupakan adalah aksi yang diakhiri dengan kembang api yang dinyalakan simbolis kami telah terbebas dari rezim yang diciptakan Gumilar Roesliwa Soemantri, layaknya tahun baru, usai kami menyebutkan deklarasi yang menyerupai proklamasi, kemi menghitung mundur bersama sampai detik satu, kembang api dinyalakan dan dengan indahnya membuat ledakan-ledakan di langit, sebuah momentum yang sangat indah dan seolah melihat sebuag sejarah baru, karena memang tanggal 14 Agustus rektor akan turun jabatan, namun jika ia turun dan diturunkan adalah dua hal berbada yang kontras, seperti saat bangsa ini meraih kemerdekaan atau diberikan kemerdekaan.
Sebelum masa aksi FT pulang, karena besok terdapat agenda PSAF yang menunggu khususnya bagi mereka SC kegiatan tersebut (ketua IM), kami saling merangkul satu sama lain membentuk sebuah lingkaran kecil,  dan kembali dipimpin ketua BEM FTUI, satu persatu dari kami memberikan kesan hari ini, hal yang membuat saya tersenyum adalah ungkapan dari kakak-kakak yang menggunakan sastra sebagai perantaranya, terdengar sangat istimewa.
Meskipun salah seorang mengatakan hal yang paling menyenangkan hanyalah saat mendengar sharing dari para senior BEM UI dan selainnya tidak, tetapi bukankah dalam sebuah aksi yang terpenting bukankah itu seru atau kesengan atau semacamnya yang akan kau dapatkan dalam sebuah program kerja tertentu yang dipersiapkan dari jauh hari, tetapi bagaimana perjuangan sekecil apapun yang telah dilakukan hari ini, karena setiap langkah akan mencatatkan sejarah tersendiri bagi pergerakan mahasiswa ke depan.
Ketika masa FT kembali pada peraduannya, aku bergabung dengan pengurus BEM UI, yang kesemuanya berasal dari FKM, temanku Uki yang berasal dari Vokasi, tampaknya tak ikut dan memilih tinggal di depan rektorat, sedangkan aku pergi menuju MUI untuk beristirahat, namun karena kesulitan tidur aku memilih membaca Al-Qur’an dan salat qiyamul lail sampai pukul 02.00 wib dan tidur sejenak sampai pukul 2.30 wib, sebelum akhirnya bergabung kembali ke masa di rektorat, sebenarnya makan sahur ditanggung oleh masing-masing fakultas, akan tetapi aku tinggal sendiri dari masa aksi fakultasku, sebenarnya ada wakabid Kastrat BEM FTUI 2012, namun ia masih berada di MUI, meskipun sendiri tampaknya aku tak perlu khawatir karena BEM UI menawarkan makan sahur, kebetulan persediaan yang ada lebih, sebuah the kotak, nasi, dan air mineral, aku juga terlalu sulit bergabung karena Uki ada di sana.
Sepanjang pagi itu, aku bersama Uki menyusuri fakultas kesehatan masyarakat untuk pertama kalinya, sangat rapi, dan serasa rumah sendiri dengan bangunan dan koridor yang sangat apik, perpaduan kayu, kaca, tembok bata, bebatuan dan taman yang sangat indah, warna-warna yang di dominasi pada corak ungu, benar seperti rumahmu sendiri.
Usai salat shubuh, kami kembali berkumpul di depan balai sidang, masa aksi benar-benar sedikit, kau tahu, dengan misi hari ini untuk menyegel rektorat, aku sedikit pesimis, ketika kami di bagi tugas aku pergi bersama Uki, yang akan berjaga di lantai 2, berangkat dari FMIPA karena instruksi yang diberikan kami harus berangkat dari tiga titik berbeda, Perpustakaan Pusat, FMIPA dan FKM, ada satu kata yang selalu kuingat sampai kini, ketika aku bertanya akan permasalahan kuantitas yang selama ini terkadang membuatku ragu akan pergerakan, namun dengan pasti ia menjawab  “Kata bung Karno : Tidak perlu banyak orang untuk melakukan sebuah perubahan”.
Aksi dilanjutkan, pintu rektorat yang rencananya kami segel ternyata memang terkunci, masa aksipun ditahan tidak bisa masuk, sedang beberapa dari kami terus berusaha agar karyawan dapat bergabung dalam gerakan kami, orasi-orasi terus terdengar dari luar rektorat dan sempat sekali masuk hingga pelataran, sebelum akhirnya masa aksi menggunakan aksi tutup mulut.
Pukul 10.00 wib
Aku ingat masalah jaket kuning yang kini ku kenakan bukanlah milikku, jaket ini milik seniorku angkatan 2008 dan ia akan pulang hari ini ke Bangka tepat pukul 12.00 wib, selain itu ibuku mengajakku untuk ikut mudik hari ini, aku mulai bingung, ada tuntutan untuk pulang, walau sebenarnya satu sisi diriku tetap ingin di sini, aku seperti dilanda konflik batin dan konflik itu mengerucut hingga aku memutuskan mengakhiri aksi ini dan pulang ke Bekasi, anehnya rasa tidak ikhlas itu terus menerus berputar dalam pikiranku, saat aku pulang aku tertidur di bus dan tempat dimana seharusnya aku turun aku tidak melakukannya sampai ke tempat pemberhentian bus yang terakhir, dengan sedikit linglung aku turun dan kembali ke tempat seharusnya aku turun dengan menggunakan angkutan umum lain, aku dikejar waktu dhuhur, kekesalan akibat supir yang selalu memberhentikan angkutan umumnya di setiap persimpangan untuk mendapatkan penumpang dan kegelisahan akibat pergi di tengah-tengah aksi yang berlangsung, apakah aku lari dari perang?, apakah aku lari di tengah perang? Bukankah Allah membenci hal itu?.
Mobil angkutan yang kunaiki terus menerus berhenti dan berjalan perlahan, rasanya aku ingin berteriak “ mobil angkutan ini bukanlah angkutan langka di jalan ini pak, kalau ada penumpang yang ingin menaiki mobil ini pasti ia akan memberikan tanda, tidak usah membunyika klakson terus menerus untuk mencuri perhatian mereka, karena seribu kali anda membunyikan klakson dan bersikap sok manis pada mereka, mereka tak akan mau naik mobil ini karena mereka punya tujuan berbeda, lagi pula dengan melimpahnya jenis mobil yang sama dengan rute sama, taktik mencari penumpang dengan menunggu seperti ini dapat mengurangi kepercayaan pelanggan karena akan men-judge anda akan mencari penumpang dan sangat sering berhenti, mereka tidak akan percaya”, sudah itu terdapat tulisan di depan mobil yang menyebutkan bahwa :” Anda perlu waktu saya perlu uang”, bukankah waktu lebih berharga dibanding uanag, karena kau memerlukan waktu saat mencari uang, akan tetapi uang tidak bisa menebus waktu untuk menunggu ataupun berhenti, penting mana?.
Kegelisahan karena aku lari dari perang berubah menjadi ketakutan, akhirnya setelah satu jam aku sampai tepatnya pukul 15.00 wib aku memutuskan kembali berangkat ke UI, aku tidak jadi ikut ibu untuk mudik dan memilih mudik bersama ayah tanggal 17 Agustus nanti, aku tidak pernah melakukan hal nekat seperti itu sebelumnya, mungkin karena pikiranku terus dipenuhi rasa bersalah dan ketakutan karena aku lari dari perang di saat yang lain sedang berjuang.
Kak Fadlan Mesin’10 (Wakabid Kastrat) memberitahu bahwa aksi pagi itu berujung pada pertemuan dengan wakil rektor pak Anis yang memang tidak bergabung pada gerakan kami tetapi sepakat bahwa beliau menginginkan kepemimpinan UI yang lebih baik dan penyegelan rektorat dengan kertas-kertas putih berupa keluhan terhadap rektor selama kepemimpinannya, aku jadi berpikir ketika aku memutuskan pulang dan tidak berada di sana aksi justru dapat dilanjutkan ketahap yang sangat berarti, tampaknya aku menjadi ikon ketidak beruntungan, malangnya.
Keinginanku mengikuti aksi sore yang dimulai pukul 15.30 wib tampaknya selain tidak visible juga tidak realistis, macet sangat menghalangi jalanku, seharusnya pukul 17.00 wib aku dapat sampai di UI, sampai maghrib aku baru mencapai kosanku, dan aksipun telah selesai untuk hari itu, atas saran Wakabidku juga aku memutuskan untuk bermalam di MUI, setidaknya itu akan lebih berharga dibandingkan aku berada di kosan tanpa ada sesuatu yang dapat ku kerjakan.
 Saat berdiam di MUI, terdapat sebuah kajian mengenai Rohingnya, sebuah komunitas Islam terpencil di Myanmar yang sebenarnya telah hidup di Myanmar bahkan sebelum yang lain hidup di sana namun mereka terusir dan di usir baik oleh masyarakat maupun kebijakan pemerintah Myanmar, mereka terpecah belah dan hidup di berbagai Negara terdekat termasuk Indonesia, salah satu mereka datang dari Jepang untuk memberikan penjelasan mengenai Rohingnya, mereka mendapatkan perlakuan yang tidak beerprikemanusiaan dan kebijakan yang tidak adil dengan menekan angka populasi agar jumlah mereka semakin sedikit, tidak diakui oleh Negara dsb, aku membayangkan bagaimana caranya aku bertahan jika aku yang mengalami?.

Catatan 12 Agustus 2012


12 Agustus 2012
Pekikan suara-suara semangat orator menggema di penghujung sore depan gedung tinggi yang berdiri angkuh di samping balairung dan menghadap gedung balai sidang tempat kami memulai langkah ini. Sekitar 150 masa aksi dengan perbedaan warna dasar bentuk yang mengelilingi makara tertutup oleh warna makara dan jaket yang kami kenakan, satu warna, kuning, suara-suara terus bersahut
Hidup Mahasiswa!
Hidup Rakyat Indonesia!
Hidup Universitas Indonesia!
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Apa yang saya tuliskan mungkin bukanlah pandangan objektif akan aksi tiga hari berturut-turut tersebut, namun lebih menceritakan apa yang telah saya alami dan rasakan atas aksi menuntut Gumilar Roesliwa Soemantri untuk turun dari jabatannya sebagai Rektor UI.

Sore itu, sekitar pukul 15.00 wib masa aksi Fakultas Teknik berkumpul di depan ruang Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Teknik Universitas Indonesia, tidak kurang dari 80 orang hadir berpartisipasi dalam barisan siap aksi, awal saya melihatnya sedikit terkejut karena masa aksi sangatlah banyak bahkan melebihi perkiraan sebelumnya, setidaknya jumlah masa aksi yang banyak seakan mendongkrak semangat saya satu tingkat dari sebelumnya.
Satu yang saya sadari adalah, mungkin masing-masing kami memiliki niat awal yang berbeda, beberapa masa aksi memang di dasari keinginan mendukung gerakan untuk menurunkan kepemimpinan Gumilar sebagai Rektor UI, mungkin pula menjaga mahasiswa baru yang dikabarkan akan diturunkan sebagai masa aksi dengan prasyarat tertentu, memenuhi ajakan pemimpin diantara kami karena ia dekat atau barangkali sekedar menunaikan kewajiban sebagai seorang yang memiliki jabatan dan kedudukan sehingga merasa harus mengikuti aksi ini, entahlah jujur selain ingin menuntaskan misi kami agar menjadikan UI yang lebih baik, saya juga merasa memiliki kewajiban sebagai bagian dari Kastrat Teknik yang seharusnya ketika saya memutuskan untuk andil dalam kegiatan aksi ataupun pergerakan semua itu harus lepas dan yang tersisa adalah sebuah idealisme mahasiswa dan keyakinan bahwa hal itu adalah benar dan patut untuk diperjuangkan, namun apapun niat setiap orang hari itu hanyalah dirinya dan Tuhan yang tahu bukan?.
Masa aksi teknik mulai bergerak menuju jembatan Teksas, melewati perpustakaan megah yang pendiriannya sempat menimbulkan pro kontra dan indikasi penyelewengan namun sekarang telah menjadi salah satu pusat berkumpulnya mahasiswa baik bagi mereka yang ingin sekedar membaca, belajar, meminjam buku, membeli buku, menikmati secangkir kopi sampai menikmati makanan luar negeri dan memutuskan untuk menunaikan salat ashar terlebih dahulu di Masjid Ukhuwah Islamiyah (MUI).
Di balairung, masa aksi dipisahkan dengan mereka yang mengikuti barisan ini dengan tujuan menjaga mahasiswa baru (beberapa orang utusan khusus dipersiapkan sebagai operasional), karena menurut perjanjian mahasiswa baru diperbolehkan mengikuti aksi apabila mereka selesai OKK pukul 16.30 wib, karena sebenarnya jadwal OKK yang hanya sampai pukul 16.00 wib, tetapi sampai batas yang ditetapkan tidak ada tanda-tanda selesainya OKK hari itu. Sebenarnya sejak awal ada ketidaksetujuan akan turunnya mahasiswa baru, terutama bagi pembinaan yang dianggap terlalu dini dan seharusnya melewati tahap-tahap tertentu untuk bisa mengikuti aksi secara langsung, mungkin diantara semua hanya aku yang merasa setuju dan senang jika mahasiswa baru bisa mengikuti aksi sebenarnya hari ini, terlebih terdapat kabar orasi ketua BEM Fakultas ditiadakan dan secara halus OKK itu mempersempit ruang pergerakan yang seharusnya terus dijaga sebagai penanaman idealisme, mungkin karena aku Kastrat atau karena aku kurang merasakan pembinaan mengenai pergerakan itu sendiri?.
Balai Sidang, saat masa aksi datang, sambutan dengan “Ooo..ooo”, akan selalu berkumandang, seraya mengepalkan tangan yang terkepal ke udara, aku tidak mengerti maksud dan tujuannya mungkin agar membakar semangat dan ucapan selamat datang bagi kawan seperjuangan. Ketika itu aku melihat masa aksi yang masih sedikit, dan kontras sekali dengan jumlah masa aksi fakultas biru tua ini yang jumlahnya tak kurang dari 80 orang, jika bicara jujur, terkadang aku tergores malu karena masalah kuantitas ini, mungkin di fakultasku terlalu banyak penanaman nilai “tidak peduli acaramu bagaimana bentuknya asalkan banyak yang menghadiri karena itu adalah salah satu indikasi kesolidan”, sedangkan dua kali aksi yang saya hadiri selalu tidak seindah yang saya dengarkan di televisi, dimana mahasiswa bersatu padu membentuk kekuatan tangguh menuju sebuah perubahan kearah yang lebih baik, atau itu hanya ekspetasiku yang terlalu tinggi?, selain itu permasalahan waktu juga agaknya sulit dipecahkan, saya selalu berpikir kami yang berada di sini adalah orang-orang yang menginginkan perubahan dari hal yang dianggap salah menuju kebenaran, namun kami mengawalinya dengan kesalahan dan seolah menunjukkan ketidak komitmenan diri kami sendiri, tampaknya hal ini haruslah menjadi sebuah evaluasi dalam sebuah pergerakan, dan tentunya dimulai dari diri saya sendiri yang juga banyak melakukan kesalahan tersebut.
Aksi dimulai, masa  aksi di arahkan agar berkeliling di jalan depan balairung, saat itu bertepatan dengan mahasiswa baru selesai menuntaskan kewajibannya ber-OKK, mobil yang digunakan mungkin oleh para orang tua untuk mengantar putra-putrinya yang membanggakan karena bisa memasuki perguruan tinggi  ini seolah terganggu dengan masa aksi yang berjalan meneriaki agar kepemimpinan Rektor UI kami pak Gumilar berakhir, walaupun ada beberapa dari mereka yang mengabadikan momentum ini entah karena terkagum atau hanya sekedar mengabadikannya sebagai tontonan “gratisan” yang seolah berkata “kapan lagi melihat mahasiswa UI berdemo secara langsung?”.
Ketika itu saya sempat terganggu dengan dua kejadian, yakni pertama perkataan seorang masa aksi bahwa aksi ini terkesan gagal akibat pick up yang memutar sehingga barisan puteri dan barisan putera tercampur, tidak seperti kondisi sebelumnya yang tertata dimana barisan putera di depan barisan puteri, kira-kira ia mengatakan “gagal nih aksi pulang yuk, pulang”, saya hanya berpikir, secepat itukah mengindikasikan sebuah aksi telah gagal?, yang kedua adalah teriakan salah seorang yang memegang walkie talkie dengan slayer putih dikepalanya yang berteriak kepada anak UI lain yang juga memegang benda yang sama “Gue gak ngeganggu lo ya, lo gak usah ngeganggu gue” dan diikuti anggukan kasar oleh yang lainnya, sepertinya ada ketegangan diantara mereka, di sisi lain sedang kami berteriak-teriak, mahasiswa baru yang baru saja keluar OKK dengan seragam putih-putihnya melihat dari samping entah dengan tatapan yang mengartikan apa kejadian dihadapannya tersebut, anehnya kejadian-kejadian tersebut semakin mendongkrak semangatku dan acuh dengan anggapan yang mungkin mencibir aksi kami saat itu.
Di depan gedung rektorat, masa laki-laki diarahkan membentuk border untuk melindungi masa perempuan yang berada di tengah, satu persatu orator sebagai wakil dari semua masa aksi berteriak menyampaikan tuntutan agar rektor turun dari jabatannya sekarang juga dan ditetapkan paling lambat hari ini, 12 menjelang 13 Agustus 2012, entah ia akan turun ataupun tidak mahasiswa tidak lagi menganggap bahwa Gumilar Roesliwa Soemantri adalah rektor UI lagi. Aksi kali itu, mungkin sedikit berlebihan namun anggapan bahwa aksi kali itu adalah istimewa bagiku karena untuk pertama kalinya aku mencoba menerobos kedepan dan hanya terfokus pada apa yang dibicarakan oleh orator, orasi yang sangat menggebu dan tersampaikan apa yang menjadi tuntutan kami, kali ini tidak terpikirkan lagi apakah saya adalah seorang kastrat atau bukan, yang terpikirkan hanyalah tuntutan aksi kali ini, selain itu di aksi kali ini 10 orang laki-laki yang dengan suka rela mengajukan dirinya sebagai banker yang langsung menghadap bapak-bapak satpam yang menjaga pertahanan gedung rektorat.
Aksi kami terhenti kala adzan maghrib berkumandang “bagaimanapun juga kita tidak boleh mendzalimi diri kita sendiri”, maka ta’jil berbukapun dibagikan baik dari pihak BEM UI, maupun pihak Fakultas. Masa aksi terpisah, kembali ke masing-masing fakultas untuk berbuka, mungkin saat itu aku berpikir, semua masa aksi benar-benar melupakan warna yang mengelilingi makara yang terjahit di jaket kuningnya dan hanya berpikir bahwa sesungguhnya warna makara hanyalah satu, kuning.
Setelah salat magrib berjamaah, acara di perkumpulan masa aksi fakultas teknik adalah perkenalan, masing-masing orang menyebutkan nama, jurusan dan angkatan yang dipandu oleh ketua BEM FTUI 2012 (Agus Taufiq Kapal’09), acara perkenalan ini tidak akan pernah dilewatkan pada setiap acara yang ada di fakultas teknik, karena setiap orang tentu akan merasa saling memiliki jika saling mengenal bukan?, apakah itu artinya jika kita tidak saling mengenal kita tidak saling memiliki?.
Arahan selanjutnya dari kak Agus adalah masa aksi dapat melanjutkan atau menyudahi aksinya sampai di sini, karena besok PSAF telah menunggu, kegiatan pembinaan mahasiswa baru di lingkup fakultas yang berlangsung dari pagi, dan aksi yang dijadwalkan menginap ini tentu akan menguras tenaga untuk keesokan harinya, yang masih bertahan setidaknya hingga acara mala mini selesai adalah ketua BEM, ketua IM, dan MPM, aku juga memutuskan untuk tinggal, sepertinya Allah juga menyuruh demikian karena aku lupa membawa kunci kosanku saat itu.
Salat isya dan tarawih dilakukan di MUI, sebenarnya disediakan sebuah spanduk besar yang sempat menimbulkan beberapa polemik hangat, di dalamnya terdapat kalimat yang bermakna “ Terdapat masalah yang lebih besar daripada spanduk ini”, kira-kira begitulah makna tulisan di spanduk yang memang sangatlah besar tersebut, dan memang masalah di UI lebih besar, dan lagi-lagi saya berpikir, kanapa kami masih terpisah?, mungkin pertimbangannya adalah masalah kekhusyukan beribadah.
Usai salat tarawih, kepastian bahwa aku bukanlah orang yang mampu beradaptasi dengan baik dan memiliki permasalahan sosialisasi nampaknya benar-benar terbukti, di sebuah kantin dekat stasiun pondok cina, nampaknya squad FT sedang berkumpul, tertawa lepas sambil menikmati santap malam yang tersedia, melihatnya aku memilih pergi dibandingkan bergabung, memperhitungkan kemungkinan aku diterima dengan hangat atau sebaliknya, sepertinya aku lebih memilih menghindari keramaian, tampaknya jika untuk survive diperlukan banyak kenalan, apakah aku bisa survive nantinya?. Permasalahan yang sempat hilang ketika aku sendiri muncul kembali saat melihat masa aksi FT yang masih ada untuk menghadiri kembali rangkaian aksi selanjutnya, beruntung ternyata aku diterima dengan hangat, aku sadar mereka yang bertahan adalah petinggi-petinggi FT bukanlah orang biasa, mereka sangat pandai baik dalam bersosialisasi, rencana strategis dan taktis.
Di aksi kali ini, aku bertemu lagi dengan temanku saat aku menghadiri salah satu acara BEM Wanna Be, Uki, ternyata ia bergabung dengan Akprop, seorang perempuan yang sejak pertama aku mengenalnya ia adalah seorang yang berjiwa kepemimpinan, tahu apa yang ia lakukan dan memiliki komitmen tinggi, ia memberitahukan padaku bahwa masa aksi FT belum kembali, padahal acara telah dimulai setengah jam yang lalu, belum lagi penampilan tiap fakultas yang baru ku ketahui, namun dengan kemampuan kakak-kakak yang bertahan saat itu sangatlah teruji dengan baik, dalam beberapa menit menghadapi kegalauan akibat penampilan yang belum terstruktur, beberapa menit pula penampilan itu telah siap.
Api unggun dikelilingi masa aksi yang lebih banyak oleh fakultas lain dibandingkan senja tadi, temanku sejak SMA-pun datang -ia juga adalah Kastrat salah satu fakultas di UI-, senang rasanya bertemu teman lama yang ternyata satu perjuangan, menurut penuturannya fakultasnya telah tampil pertama,tentu kami –masa FT-belum datang, kakak-kakak masih terfokus pada penampilan yang akan dipersembahkan nantinya, untuk itu mereka tidak berpartisipasi dalam penampilan BEM Psikologi yang menyajikan sebuah permainan yang cukup mencairkan suasana, tawa lepas di sana dan dapat tahu salah satu bagian rahasia dari teman sekelompok, termasuk jumlah mantan pacar ketua BEM UI, hahaha.
Seusai permainan, ketua IM Mesin (Septian Mesin’10) dan IMTI (Tito TI’10) berkolaborasi menunjukan lagu yang telah diaransemen dan dirubah beberapa liriknya agar menyindir peristiwa ini, menyindir Bapak Rektor UI, dengan iringan gitar, seperti ini lagunya :
Malu aku malu
Pada semut merah
Yang berbaris di dinding, menatapku curiga
Seakan penuh tanya, sedang apa di sini?
Menanti Rektor baru
Sungguh aneh tapi nyata
Takkan terlupa
Kisah bapak rektor kita
Nggak sayang kita
Tiada kisah paling parah, kisah bapak rektor kita
Tiada kisah paling parah, kisah bapak rektor kita

Meski ada beberapa miss communication, Fakultas Teknik tampil dengan gombal ala kak Tyo (PI’09) dan kak Gusti (PI’10) yang menjadikan ketua IM Ars (Wulan Ars’10) sebagai korban gombal yang juga dibuat menyindir keadaan UI seperti jalur masuk yang begitu banyak, dan dilanjutkan dengan menyanyikan lagu di atas.
Usai persembahan fakultas, aktivis BEM UI tahun-tahun sebelumnya datang 4 orang tepatnya, mungkin yang saya tahu hanyalah dua diantara mereka yakni kak Maman (ketua BEM UI 2011) dan wakilnya yang biasa dipanggil kak Ijonk, mereka memberikan wejangan-wejangan yang membangkitkan semangat dan meyakinkan bahwa apa yang kami lakukan tidaklah sia-sia, terlebih diantara mereka salah seorangnya adalah seorang yang bisa dibilang aktivis sastra, dimana ia sering adanya menggunakan sastra dalam orasi dan menyuarakan pergerakan mahasiswa, salah satu dari bahasa yang sangat ku kagumi.