14
Agustus 2012
Saat
salat qiyamul lail berjamaah aku memutuskan hanya menjalinnya 4 rakaat, aku
membutuhkan waktu untuk mandi sebelum berangkat pagi –pagi ke Kemendikbud untuk
melanjutkan aksi, ketika aku makan sahur dan jamaah masih salat, imam yang
memimpin salat itu menangis dengan mengulang-ulang kalimat permohonan dijauhkan
dari neraka dan di dekatkan dengan syurga, ia menangis, menangis dan menangis,
aku hanya bisa mendengarkan, ternyata imanku begitu tipis, aku bahkan belum
bisa seperti mereka, apa yang harus aku lakukan agar bisa seperti mereka yang
turut merasakan ketakutan, kesedihan, mohon ampun pada Allah dengan berlinang
air mata dan penuh kekhusyukan?, begitu burukkah diriku?.
Pagi
itu, nampaknya aku terlambat, aksi telah dimulai dengan melilitkan kain hitam
pada lambang makara UI di bundaran psikologi, betuliskan UI butuh perbaikan.
Seperti biasa meski sangat sedikit kakak-kakak itu sangatlah bersemangat,
sangat! Tiada raut wajah penyesalan karena masa aksi yang hadir sedikit, tidak
ada guratan wajah malu karena masa aksi seolah kalah pamor dengan PSAF yang
dilangsungkan dengan euforia baik oleh senior dan juniornya, meskipun mereka
terus diteriaki skenario senior yang ditujukan untuk membangun mental mahasiswa
baru, mungkin itulah tujuannya.
Pukul
08.00 wib, masa aksi siap berangkat, Uki belum datang juga, tidak ada satupun
perempuan di sini selain diriku, setidaknya dengan Uki aku memiliki sandaran
dan teman. Pukul 10.00 wib semakin dkat karena mengejar waktu, beberapa dari
kami yang telah siap mengambil langkah taktis berangkat dengan motor untuk bisa
mencapai Kemendikbud tepat waktu agar dapat melihat langsung serah terima
jabatan dari mantan Rektor kami Gumilar Roesliwa Soemantri ke tangan PJs Djoko
Soesanto, aku dan Uki memilih menggunakan transportasi umum yakni kereta, sedangkan
Wakabidku memilih menunggu terlebih dahulu masa teknik yang belum datang karena
mengurus PSAF terlebih dahulu, aku melakukan perjalanan dengan kereta Commuter
Line sampai stasiun Manggarai diteruskan dengan menaiki mobil 66 sampai
Kemendikbud.
Meski
baru bertemu beberapa kali, aku merasa nyaman dengan Uki, kami banyak bertukar
cerita, dan aku memandangnya sebagai seorang aktivis pergerakan sejati, jika
dibandingkan denganku, aku adalah adik kecil baginya.
Ia
bercerita bahwa pada saat Sumbangan untuk KPK, ia tengah berada di Purwakarta,
temapat tinggalnya, ia menyadari bahwa banyak anggota Akprop yang telah mudik,
akhirnya ia memutuskan untuk kembali ke UI, meskipun ia tidak diperbolehkan,
namun ia terus berusaha membujuk orang tuanya, dengan uang hanya Rp40.000,- ia
menuju Gd.KPK di Rosina Said, dengan pengetahuan seadanya akan kendaraan apa
yang harus ia naiki, ia seolah berkeliling Jakarta untuk menemukannya, aku
membandingkan dengan diriku, apakah aku sanggup seperti itu?.
Aku
dapat melihat jiwa optimis dalam dirinya, bertanggung jawab dan mampu membaca
situasi, sebuah jiwa kepemimpinan yang sangat baik, dan tentunya bersahabat,
yang terpenting ia kini berjilbab, sebuah transformasi hidup yang turut
mempercantik kepribadiannya.
Gd.Dikti,
Kemendikbud
Aku
dan Uki tidak bisa masuk, alasannya ruang sidang telah penuh dan 9 orang dari
BEM telah menempati ruangan tersebut, akhirnya kami menunggu sidang yang
dilaksanakan di lantai 3 itu selesai, setelah kami terdapat beberapa rekan dari
BEM UI dan Fasilkom datang, namun masa Teknik belum juga datang.
Karena
tidak ada tempat duduk aku dan Uki memilih ke toilet dan membaca buku di sana,
kebetulan terdapat sebuah jendela yang menjorok ke luar sehingga menyisakan
tempat duduk, menjelang dhuhur, masa Teknik datang, dan aku sedikit terkejut
karena kakak dari BEM UI dan Fasilkom tidak ada, mereka ke lantai tiga karena
sidang telah selesai, sedangkan kami memilih tetap di bawah karena tak lama
kemudian rekan yang di lantai 3 turun ke tempat kami.
Kami
diceritakan bahwa tuntutan telah di berikan pada Gumilar, tuntutan tersebut ada
di kertas hitam dan tidak lupa dua buah karton yang bertuliskan menolak Gumilar,
hal itu juga ditujukan pada media-media yang datang ke sidang tersebut,
akhirnya pak Gumilar turun dari jabatannya, ada sedikit pernyataan yang
menggelitik, ketika pak Gumilar berkata “Kaji, kaji lagi”, salah seorang BEM UI
berkata “Kami sudah mengkaji pak, kapan kita forum”, lalu beliau hanya bisa
terdiam.
Aku
pulang bersama Uki, setelah salat dan mendengarkan ceramah di masjid
Kemendikbud yang berisi tentang bagaimana seharusnya kita bersyukur atas segala
nikmat yang diberikan Allah swt yang tidak akan bisa terbalas akan aapapun.
Sebenarnya kami ditawarkan untuk ikut bersama masa FT yang saat itu membawa
mobil milik kak Ryan (Ketua IME), akan tetapi tampaknya kakak-kakak sedang
terburu-buru karena harus kembali mengurusi PSAF yang masih berlangsung,
sehingga kami memutuskan kembali menggunakan transportasi umum.
Pada saat itu hal yang paling menggembirakan bagiku adalah tidak adanya sedikitpun rasa penyesalan dalam hati walau aku hanya dapat mendengar cerita mereka yang melihat langsung sidang tersebut, aku tidak sia-sia memutuskan untuk pergi kembali ke UI dan merelakan untuk melihat adik-adiku berjuang di perlombaan Parade dalam rangka HUT Pramuka. Alhamdulillah ketika aku menerima kabar mereka meraih juara pertama, sungguh Allah sangatlah Maha Kuasa, selamat untuk adik-adiku di Pramuka Ambalan Jendral Soedirma-Nyi Ageng Serang SMAN 1 Tambuhn Selatan.
Sebelum
pulang kami menuju Tanah Abang dengan tujuan membeli beberapa kerudung, akan
tetapi hampir semua took telah tutup akhirnya kami memutuskan untuk pulang
menggunakan kereta dari stasiun terdekat.
Di
stasiun, ketika manusia tergesa-gesa sangat mengerikan, berdesak-desakan
menunggu kereta yang ingin dinaiki, seperti simulasi aksi, aku dan Uki
membentuk border sendiri, berusaha agar menghadang serbuan gelombang manusia
yang saling berteriak dan berdesak-desakan, bahkan diantara mereka ada yang
nekat menaiki atap kereta, dan memerlukan sebuah petugas kemanan dengan bamboo panjang
untuk mengusirnya, Indonesia…
Meskipun
begitu, masih ada diantara mereka yang lolos pengejaran petugas tersebut dan
berhasil menaiki atap kereta, mereka tertawa dan melambaikan tangan seolah
mendapatkan kemenangan penuh, yang sebenarnya bukankah maut mengincar kapan
saja, terutama dengan mereka berbuat seperti itu?, Uki bertanya, “bagaimana fit
kajian transportasinya nih?”, seraya tersenyum, “kemarin lebih fokus ke MRT
ki..”,tampaknya setiap peristiwa jadi bahan langkah nyata apa yang harus
dilakukan.
Tiga
hari berlalu, rasa kantuk akibat kurang tidur, dan lelah akibat berjalan
mungkin mewarnai hariku, tetapi banyak yang ku dapatkan dari tiga hari
peristiwa tersebut, bukan hanya dari sisi pergerakan, dari sisi religious, sisi
psikologi, kemanusiaan, belajar berpikir kritis dan belajar percaya pada apa
yang diyakini diri sendiri.
Aku
bukanlah seorang aktivis sejati, bukan seorang yang dapat dikatakan pergerakan
tetapi masih seorang yang “digerakan”, terkadang aku sadar dan sedih Kastrat
dan pergerakan dicampur tangani oleh orang seperti aku yang banyak kekurangan,
sedangkan mereka yang berpotensi lebih dan sangat lebih menurutku, berpaling
dari jalan ini dan mencoba acuh, atau bahkan tidak percaya akan adanya
idealisme yang seharusnya dimiliki mahasiswa, mungkin dikehidupan real nanti
akan sangat berat dan mengikis idealisme, atau anggapan adanya idealisme
menjadi hanya sebuah kondisi ideal yang tidak pernah tercapai, akan tetapi
kepemilikan idealisme hari ini tidak akan membuat sebuah kerugian bagi dirimu,
bukan hanya lewat jalan aksi tetapi lewat berbagai advokasi, lewat tulisan,
atau sekedar pemikiran.
Jika
semakin sedikit yang percaya akan adanya sebuah tanggung jawab bagi mahasiswa
sebagai kaum intelektual melakukan perubahan kearah yang lebih baik baik secara
vertikal maupun horizontal secara seimbang, maka pergerakan akan semakin
tenggelam, tetapi bukan mati karena disetiap manusia pada hakekatnya terdapat
sebuah keinginan memberontak kala terjadi penindasan dan ketidakadilan, kala
ada sekecil apapun yang seharusnya diperbaiki dan diarahkan pada kondisi
seideal mungkin.
Dan
harus selalu diingat bahwa tidak memerlukan banyak orang untuk membuat sebuah
perubahan, mungkin jika kutambahkan perubahan hanya memerlukan mereka dengan
jiwa berapi dan pantang mundur serta semangat optimistik dan keyakinan bahwa
perubahan itu nyata!.
Hidup
Mahasiswa!
Hidup
Rakyat Indonesia!