Rabu, 15 Agustus 2012

Catatan 12 Agustus 2012


12 Agustus 2012
Pekikan suara-suara semangat orator menggema di penghujung sore depan gedung tinggi yang berdiri angkuh di samping balairung dan menghadap gedung balai sidang tempat kami memulai langkah ini. Sekitar 150 masa aksi dengan perbedaan warna dasar bentuk yang mengelilingi makara tertutup oleh warna makara dan jaket yang kami kenakan, satu warna, kuning, suara-suara terus bersahut
Hidup Mahasiswa!
Hidup Rakyat Indonesia!
Hidup Universitas Indonesia!
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Apa yang saya tuliskan mungkin bukanlah pandangan objektif akan aksi tiga hari berturut-turut tersebut, namun lebih menceritakan apa yang telah saya alami dan rasakan atas aksi menuntut Gumilar Roesliwa Soemantri untuk turun dari jabatannya sebagai Rektor UI.

Sore itu, sekitar pukul 15.00 wib masa aksi Fakultas Teknik berkumpul di depan ruang Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Teknik Universitas Indonesia, tidak kurang dari 80 orang hadir berpartisipasi dalam barisan siap aksi, awal saya melihatnya sedikit terkejut karena masa aksi sangatlah banyak bahkan melebihi perkiraan sebelumnya, setidaknya jumlah masa aksi yang banyak seakan mendongkrak semangat saya satu tingkat dari sebelumnya.
Satu yang saya sadari adalah, mungkin masing-masing kami memiliki niat awal yang berbeda, beberapa masa aksi memang di dasari keinginan mendukung gerakan untuk menurunkan kepemimpinan Gumilar sebagai Rektor UI, mungkin pula menjaga mahasiswa baru yang dikabarkan akan diturunkan sebagai masa aksi dengan prasyarat tertentu, memenuhi ajakan pemimpin diantara kami karena ia dekat atau barangkali sekedar menunaikan kewajiban sebagai seorang yang memiliki jabatan dan kedudukan sehingga merasa harus mengikuti aksi ini, entahlah jujur selain ingin menuntaskan misi kami agar menjadikan UI yang lebih baik, saya juga merasa memiliki kewajiban sebagai bagian dari Kastrat Teknik yang seharusnya ketika saya memutuskan untuk andil dalam kegiatan aksi ataupun pergerakan semua itu harus lepas dan yang tersisa adalah sebuah idealisme mahasiswa dan keyakinan bahwa hal itu adalah benar dan patut untuk diperjuangkan, namun apapun niat setiap orang hari itu hanyalah dirinya dan Tuhan yang tahu bukan?.
Masa aksi teknik mulai bergerak menuju jembatan Teksas, melewati perpustakaan megah yang pendiriannya sempat menimbulkan pro kontra dan indikasi penyelewengan namun sekarang telah menjadi salah satu pusat berkumpulnya mahasiswa baik bagi mereka yang ingin sekedar membaca, belajar, meminjam buku, membeli buku, menikmati secangkir kopi sampai menikmati makanan luar negeri dan memutuskan untuk menunaikan salat ashar terlebih dahulu di Masjid Ukhuwah Islamiyah (MUI).
Di balairung, masa aksi dipisahkan dengan mereka yang mengikuti barisan ini dengan tujuan menjaga mahasiswa baru (beberapa orang utusan khusus dipersiapkan sebagai operasional), karena menurut perjanjian mahasiswa baru diperbolehkan mengikuti aksi apabila mereka selesai OKK pukul 16.30 wib, karena sebenarnya jadwal OKK yang hanya sampai pukul 16.00 wib, tetapi sampai batas yang ditetapkan tidak ada tanda-tanda selesainya OKK hari itu. Sebenarnya sejak awal ada ketidaksetujuan akan turunnya mahasiswa baru, terutama bagi pembinaan yang dianggap terlalu dini dan seharusnya melewati tahap-tahap tertentu untuk bisa mengikuti aksi secara langsung, mungkin diantara semua hanya aku yang merasa setuju dan senang jika mahasiswa baru bisa mengikuti aksi sebenarnya hari ini, terlebih terdapat kabar orasi ketua BEM Fakultas ditiadakan dan secara halus OKK itu mempersempit ruang pergerakan yang seharusnya terus dijaga sebagai penanaman idealisme, mungkin karena aku Kastrat atau karena aku kurang merasakan pembinaan mengenai pergerakan itu sendiri?.
Balai Sidang, saat masa aksi datang, sambutan dengan “Ooo..ooo”, akan selalu berkumandang, seraya mengepalkan tangan yang terkepal ke udara, aku tidak mengerti maksud dan tujuannya mungkin agar membakar semangat dan ucapan selamat datang bagi kawan seperjuangan. Ketika itu aku melihat masa aksi yang masih sedikit, dan kontras sekali dengan jumlah masa aksi fakultas biru tua ini yang jumlahnya tak kurang dari 80 orang, jika bicara jujur, terkadang aku tergores malu karena masalah kuantitas ini, mungkin di fakultasku terlalu banyak penanaman nilai “tidak peduli acaramu bagaimana bentuknya asalkan banyak yang menghadiri karena itu adalah salah satu indikasi kesolidan”, sedangkan dua kali aksi yang saya hadiri selalu tidak seindah yang saya dengarkan di televisi, dimana mahasiswa bersatu padu membentuk kekuatan tangguh menuju sebuah perubahan kearah yang lebih baik, atau itu hanya ekspetasiku yang terlalu tinggi?, selain itu permasalahan waktu juga agaknya sulit dipecahkan, saya selalu berpikir kami yang berada di sini adalah orang-orang yang menginginkan perubahan dari hal yang dianggap salah menuju kebenaran, namun kami mengawalinya dengan kesalahan dan seolah menunjukkan ketidak komitmenan diri kami sendiri, tampaknya hal ini haruslah menjadi sebuah evaluasi dalam sebuah pergerakan, dan tentunya dimulai dari diri saya sendiri yang juga banyak melakukan kesalahan tersebut.
Aksi dimulai, masa  aksi di arahkan agar berkeliling di jalan depan balairung, saat itu bertepatan dengan mahasiswa baru selesai menuntaskan kewajibannya ber-OKK, mobil yang digunakan mungkin oleh para orang tua untuk mengantar putra-putrinya yang membanggakan karena bisa memasuki perguruan tinggi  ini seolah terganggu dengan masa aksi yang berjalan meneriaki agar kepemimpinan Rektor UI kami pak Gumilar berakhir, walaupun ada beberapa dari mereka yang mengabadikan momentum ini entah karena terkagum atau hanya sekedar mengabadikannya sebagai tontonan “gratisan” yang seolah berkata “kapan lagi melihat mahasiswa UI berdemo secara langsung?”.
Ketika itu saya sempat terganggu dengan dua kejadian, yakni pertama perkataan seorang masa aksi bahwa aksi ini terkesan gagal akibat pick up yang memutar sehingga barisan puteri dan barisan putera tercampur, tidak seperti kondisi sebelumnya yang tertata dimana barisan putera di depan barisan puteri, kira-kira ia mengatakan “gagal nih aksi pulang yuk, pulang”, saya hanya berpikir, secepat itukah mengindikasikan sebuah aksi telah gagal?, yang kedua adalah teriakan salah seorang yang memegang walkie talkie dengan slayer putih dikepalanya yang berteriak kepada anak UI lain yang juga memegang benda yang sama “Gue gak ngeganggu lo ya, lo gak usah ngeganggu gue” dan diikuti anggukan kasar oleh yang lainnya, sepertinya ada ketegangan diantara mereka, di sisi lain sedang kami berteriak-teriak, mahasiswa baru yang baru saja keluar OKK dengan seragam putih-putihnya melihat dari samping entah dengan tatapan yang mengartikan apa kejadian dihadapannya tersebut, anehnya kejadian-kejadian tersebut semakin mendongkrak semangatku dan acuh dengan anggapan yang mungkin mencibir aksi kami saat itu.
Di depan gedung rektorat, masa laki-laki diarahkan membentuk border untuk melindungi masa perempuan yang berada di tengah, satu persatu orator sebagai wakil dari semua masa aksi berteriak menyampaikan tuntutan agar rektor turun dari jabatannya sekarang juga dan ditetapkan paling lambat hari ini, 12 menjelang 13 Agustus 2012, entah ia akan turun ataupun tidak mahasiswa tidak lagi menganggap bahwa Gumilar Roesliwa Soemantri adalah rektor UI lagi. Aksi kali itu, mungkin sedikit berlebihan namun anggapan bahwa aksi kali itu adalah istimewa bagiku karena untuk pertama kalinya aku mencoba menerobos kedepan dan hanya terfokus pada apa yang dibicarakan oleh orator, orasi yang sangat menggebu dan tersampaikan apa yang menjadi tuntutan kami, kali ini tidak terpikirkan lagi apakah saya adalah seorang kastrat atau bukan, yang terpikirkan hanyalah tuntutan aksi kali ini, selain itu di aksi kali ini 10 orang laki-laki yang dengan suka rela mengajukan dirinya sebagai banker yang langsung menghadap bapak-bapak satpam yang menjaga pertahanan gedung rektorat.
Aksi kami terhenti kala adzan maghrib berkumandang “bagaimanapun juga kita tidak boleh mendzalimi diri kita sendiri”, maka ta’jil berbukapun dibagikan baik dari pihak BEM UI, maupun pihak Fakultas. Masa aksi terpisah, kembali ke masing-masing fakultas untuk berbuka, mungkin saat itu aku berpikir, semua masa aksi benar-benar melupakan warna yang mengelilingi makara yang terjahit di jaket kuningnya dan hanya berpikir bahwa sesungguhnya warna makara hanyalah satu, kuning.
Setelah salat magrib berjamaah, acara di perkumpulan masa aksi fakultas teknik adalah perkenalan, masing-masing orang menyebutkan nama, jurusan dan angkatan yang dipandu oleh ketua BEM FTUI 2012 (Agus Taufiq Kapal’09), acara perkenalan ini tidak akan pernah dilewatkan pada setiap acara yang ada di fakultas teknik, karena setiap orang tentu akan merasa saling memiliki jika saling mengenal bukan?, apakah itu artinya jika kita tidak saling mengenal kita tidak saling memiliki?.
Arahan selanjutnya dari kak Agus adalah masa aksi dapat melanjutkan atau menyudahi aksinya sampai di sini, karena besok PSAF telah menunggu, kegiatan pembinaan mahasiswa baru di lingkup fakultas yang berlangsung dari pagi, dan aksi yang dijadwalkan menginap ini tentu akan menguras tenaga untuk keesokan harinya, yang masih bertahan setidaknya hingga acara mala mini selesai adalah ketua BEM, ketua IM, dan MPM, aku juga memutuskan untuk tinggal, sepertinya Allah juga menyuruh demikian karena aku lupa membawa kunci kosanku saat itu.
Salat isya dan tarawih dilakukan di MUI, sebenarnya disediakan sebuah spanduk besar yang sempat menimbulkan beberapa polemik hangat, di dalamnya terdapat kalimat yang bermakna “ Terdapat masalah yang lebih besar daripada spanduk ini”, kira-kira begitulah makna tulisan di spanduk yang memang sangatlah besar tersebut, dan memang masalah di UI lebih besar, dan lagi-lagi saya berpikir, kanapa kami masih terpisah?, mungkin pertimbangannya adalah masalah kekhusyukan beribadah.
Usai salat tarawih, kepastian bahwa aku bukanlah orang yang mampu beradaptasi dengan baik dan memiliki permasalahan sosialisasi nampaknya benar-benar terbukti, di sebuah kantin dekat stasiun pondok cina, nampaknya squad FT sedang berkumpul, tertawa lepas sambil menikmati santap malam yang tersedia, melihatnya aku memilih pergi dibandingkan bergabung, memperhitungkan kemungkinan aku diterima dengan hangat atau sebaliknya, sepertinya aku lebih memilih menghindari keramaian, tampaknya jika untuk survive diperlukan banyak kenalan, apakah aku bisa survive nantinya?. Permasalahan yang sempat hilang ketika aku sendiri muncul kembali saat melihat masa aksi FT yang masih ada untuk menghadiri kembali rangkaian aksi selanjutnya, beruntung ternyata aku diterima dengan hangat, aku sadar mereka yang bertahan adalah petinggi-petinggi FT bukanlah orang biasa, mereka sangat pandai baik dalam bersosialisasi, rencana strategis dan taktis.
Di aksi kali ini, aku bertemu lagi dengan temanku saat aku menghadiri salah satu acara BEM Wanna Be, Uki, ternyata ia bergabung dengan Akprop, seorang perempuan yang sejak pertama aku mengenalnya ia adalah seorang yang berjiwa kepemimpinan, tahu apa yang ia lakukan dan memiliki komitmen tinggi, ia memberitahukan padaku bahwa masa aksi FT belum kembali, padahal acara telah dimulai setengah jam yang lalu, belum lagi penampilan tiap fakultas yang baru ku ketahui, namun dengan kemampuan kakak-kakak yang bertahan saat itu sangatlah teruji dengan baik, dalam beberapa menit menghadapi kegalauan akibat penampilan yang belum terstruktur, beberapa menit pula penampilan itu telah siap.
Api unggun dikelilingi masa aksi yang lebih banyak oleh fakultas lain dibandingkan senja tadi, temanku sejak SMA-pun datang -ia juga adalah Kastrat salah satu fakultas di UI-, senang rasanya bertemu teman lama yang ternyata satu perjuangan, menurut penuturannya fakultasnya telah tampil pertama,tentu kami –masa FT-belum datang, kakak-kakak masih terfokus pada penampilan yang akan dipersembahkan nantinya, untuk itu mereka tidak berpartisipasi dalam penampilan BEM Psikologi yang menyajikan sebuah permainan yang cukup mencairkan suasana, tawa lepas di sana dan dapat tahu salah satu bagian rahasia dari teman sekelompok, termasuk jumlah mantan pacar ketua BEM UI, hahaha.
Seusai permainan, ketua IM Mesin (Septian Mesin’10) dan IMTI (Tito TI’10) berkolaborasi menunjukan lagu yang telah diaransemen dan dirubah beberapa liriknya agar menyindir peristiwa ini, menyindir Bapak Rektor UI, dengan iringan gitar, seperti ini lagunya :
Malu aku malu
Pada semut merah
Yang berbaris di dinding, menatapku curiga
Seakan penuh tanya, sedang apa di sini?
Menanti Rektor baru
Sungguh aneh tapi nyata
Takkan terlupa
Kisah bapak rektor kita
Nggak sayang kita
Tiada kisah paling parah, kisah bapak rektor kita
Tiada kisah paling parah, kisah bapak rektor kita

Meski ada beberapa miss communication, Fakultas Teknik tampil dengan gombal ala kak Tyo (PI’09) dan kak Gusti (PI’10) yang menjadikan ketua IM Ars (Wulan Ars’10) sebagai korban gombal yang juga dibuat menyindir keadaan UI seperti jalur masuk yang begitu banyak, dan dilanjutkan dengan menyanyikan lagu di atas.
Usai persembahan fakultas, aktivis BEM UI tahun-tahun sebelumnya datang 4 orang tepatnya, mungkin yang saya tahu hanyalah dua diantara mereka yakni kak Maman (ketua BEM UI 2011) dan wakilnya yang biasa dipanggil kak Ijonk, mereka memberikan wejangan-wejangan yang membangkitkan semangat dan meyakinkan bahwa apa yang kami lakukan tidaklah sia-sia, terlebih diantara mereka salah seorangnya adalah seorang yang bisa dibilang aktivis sastra, dimana ia sering adanya menggunakan sastra dalam orasi dan menyuarakan pergerakan mahasiswa, salah satu dari bahasa yang sangat ku kagumi.

Tidak ada komentar: