12
Agustus 2012
Pekikan
suara-suara semangat orator menggema di penghujung sore depan gedung tinggi
yang berdiri angkuh di samping balairung dan menghadap gedung balai sidang
tempat kami memulai langkah ini. Sekitar 150 masa aksi dengan perbedaan warna dasar
bentuk yang mengelilingi makara tertutup oleh warna makara dan jaket yang kami
kenakan, satu warna, kuning, suara-suara terus bersahut
Hidup
Mahasiswa!
Hidup
Rakyat Indonesia!
Hidup
Universitas Indonesia!
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Apa
yang saya tuliskan mungkin bukanlah pandangan objektif akan aksi tiga hari
berturut-turut tersebut, namun lebih menceritakan apa yang telah saya alami dan
rasakan atas aksi menuntut Gumilar Roesliwa Soemantri untuk turun dari
jabatannya sebagai Rektor UI.
Sore
itu, sekitar pukul 15.00 wib masa aksi Fakultas Teknik berkumpul di depan ruang
Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Teknik Universitas Indonesia, tidak kurang
dari 80 orang hadir berpartisipasi dalam barisan siap aksi, awal saya
melihatnya sedikit terkejut karena masa aksi sangatlah banyak bahkan melebihi
perkiraan sebelumnya, setidaknya jumlah masa aksi yang banyak seakan
mendongkrak semangat saya satu tingkat dari sebelumnya.
Satu
yang saya sadari adalah, mungkin masing-masing kami memiliki niat awal yang
berbeda, beberapa masa aksi memang di dasari keinginan mendukung gerakan untuk
menurunkan kepemimpinan Gumilar sebagai Rektor UI, mungkin pula menjaga
mahasiswa baru yang dikabarkan akan diturunkan sebagai masa aksi dengan
prasyarat tertentu, memenuhi ajakan pemimpin diantara kami karena ia dekat atau
barangkali sekedar menunaikan kewajiban sebagai seorang yang memiliki jabatan
dan kedudukan sehingga merasa harus mengikuti aksi ini, entahlah jujur selain
ingin menuntaskan misi kami agar menjadikan UI yang lebih baik, saya juga
merasa memiliki kewajiban sebagai bagian dari Kastrat Teknik yang seharusnya
ketika saya memutuskan untuk andil dalam kegiatan aksi ataupun pergerakan semua
itu harus lepas dan yang tersisa adalah sebuah idealisme mahasiswa dan
keyakinan bahwa hal itu adalah benar dan patut untuk diperjuangkan, namun
apapun niat setiap orang hari itu hanyalah dirinya dan Tuhan yang tahu bukan?.
Masa
aksi teknik mulai bergerak menuju jembatan Teksas, melewati perpustakaan megah
yang pendiriannya sempat menimbulkan pro kontra dan indikasi penyelewengan
namun sekarang telah menjadi salah satu pusat berkumpulnya mahasiswa baik bagi
mereka yang ingin sekedar membaca, belajar, meminjam buku, membeli buku,
menikmati secangkir kopi sampai menikmati makanan luar negeri dan memutuskan
untuk menunaikan salat ashar terlebih dahulu di Masjid Ukhuwah Islamiyah (MUI).
Di
balairung, masa aksi dipisahkan dengan mereka yang mengikuti barisan ini dengan
tujuan menjaga mahasiswa baru (beberapa orang utusan khusus dipersiapkan
sebagai operasional), karena menurut perjanjian mahasiswa baru diperbolehkan
mengikuti aksi apabila mereka selesai OKK pukul 16.30 wib, karena sebenarnya jadwal
OKK yang hanya sampai pukul 16.00 wib, tetapi sampai batas yang ditetapkan
tidak ada tanda-tanda selesainya OKK hari itu. Sebenarnya sejak awal ada
ketidaksetujuan akan turunnya mahasiswa baru, terutama bagi pembinaan yang
dianggap terlalu dini dan seharusnya melewati tahap-tahap tertentu untuk bisa
mengikuti aksi secara langsung, mungkin diantara semua hanya aku yang merasa
setuju dan senang jika mahasiswa baru bisa mengikuti aksi sebenarnya hari ini,
terlebih terdapat kabar orasi ketua BEM Fakultas ditiadakan dan secara halus
OKK itu mempersempit ruang pergerakan yang seharusnya terus dijaga sebagai
penanaman idealisme, mungkin karena aku Kastrat atau karena aku kurang
merasakan pembinaan mengenai pergerakan itu sendiri?.
Balai
Sidang, saat masa aksi datang, sambutan dengan “Ooo..ooo”, akan selalu
berkumandang, seraya mengepalkan tangan yang terkepal ke udara, aku tidak
mengerti maksud dan tujuannya mungkin agar membakar semangat dan ucapan selamat
datang bagi kawan seperjuangan. Ketika itu aku melihat masa aksi yang masih
sedikit, dan kontras sekali dengan jumlah masa aksi fakultas biru tua ini yang
jumlahnya tak kurang dari 80 orang, jika bicara jujur, terkadang aku tergores
malu karena masalah kuantitas ini, mungkin di fakultasku terlalu banyak
penanaman nilai “tidak peduli acaramu bagaimana bentuknya asalkan banyak yang
menghadiri karena itu adalah salah satu indikasi kesolidan”, sedangkan dua kali
aksi yang saya hadiri selalu tidak seindah yang saya dengarkan di televisi,
dimana mahasiswa bersatu padu membentuk kekuatan tangguh menuju sebuah
perubahan kearah yang lebih baik, atau itu hanya ekspetasiku yang terlalu
tinggi?, selain itu permasalahan waktu juga agaknya sulit dipecahkan, saya
selalu berpikir kami yang berada di sini adalah orang-orang yang menginginkan
perubahan dari hal yang dianggap salah menuju kebenaran, namun kami mengawalinya
dengan kesalahan dan seolah menunjukkan ketidak komitmenan diri kami sendiri,
tampaknya hal ini haruslah menjadi sebuah evaluasi dalam sebuah pergerakan, dan
tentunya dimulai dari diri saya sendiri yang juga banyak melakukan kesalahan
tersebut.
Aksi
dimulai, masa aksi di arahkan agar
berkeliling di jalan depan balairung, saat itu bertepatan dengan mahasiswa baru
selesai menuntaskan kewajibannya ber-OKK, mobil yang digunakan mungkin oleh
para orang tua untuk mengantar putra-putrinya yang membanggakan karena bisa
memasuki perguruan tinggi ini seolah
terganggu dengan masa aksi yang berjalan meneriaki agar kepemimpinan Rektor UI
kami pak Gumilar berakhir, walaupun ada beberapa dari mereka yang mengabadikan
momentum ini entah karena terkagum atau hanya sekedar mengabadikannya sebagai
tontonan “gratisan” yang seolah berkata “kapan lagi melihat mahasiswa UI
berdemo secara langsung?”.
Ketika
itu saya sempat terganggu dengan dua kejadian, yakni pertama perkataan seorang
masa aksi bahwa aksi ini terkesan gagal akibat pick up yang memutar sehingga
barisan puteri dan barisan putera tercampur, tidak seperti kondisi sebelumnya
yang tertata dimana barisan putera di depan barisan puteri, kira-kira ia
mengatakan “gagal nih aksi pulang yuk, pulang”, saya hanya berpikir, secepat
itukah mengindikasikan sebuah aksi telah gagal?, yang kedua adalah teriakan salah
seorang yang memegang walkie talkie dengan slayer putih dikepalanya yang berteriak
kepada anak UI lain yang juga memegang benda yang sama “Gue gak ngeganggu lo
ya, lo gak usah ngeganggu gue” dan diikuti anggukan kasar oleh yang lainnya,
sepertinya ada ketegangan diantara mereka, di sisi lain sedang kami berteriak-teriak,
mahasiswa baru yang baru saja keluar OKK dengan seragam putih-putihnya melihat
dari samping entah dengan tatapan yang mengartikan apa kejadian dihadapannya
tersebut, anehnya kejadian-kejadian tersebut semakin mendongkrak semangatku dan
acuh dengan anggapan yang mungkin mencibir aksi kami saat itu.
Di
depan gedung rektorat, masa laki-laki diarahkan membentuk border untuk
melindungi masa perempuan yang berada di tengah, satu persatu orator sebagai
wakil dari semua masa aksi berteriak menyampaikan tuntutan agar rektor turun
dari jabatannya sekarang juga dan ditetapkan paling lambat hari ini, 12
menjelang 13 Agustus 2012, entah ia akan turun ataupun tidak mahasiswa tidak
lagi menganggap bahwa Gumilar Roesliwa Soemantri adalah rektor UI lagi. Aksi
kali itu, mungkin sedikit berlebihan namun anggapan bahwa aksi kali itu adalah
istimewa bagiku karena untuk pertama kalinya aku mencoba menerobos kedepan dan
hanya terfokus pada apa yang dibicarakan oleh orator, orasi yang sangat
menggebu dan tersampaikan apa yang menjadi tuntutan kami, kali ini tidak
terpikirkan lagi apakah saya adalah seorang kastrat atau bukan, yang
terpikirkan hanyalah tuntutan aksi kali ini, selain itu di aksi kali ini 10
orang laki-laki yang dengan suka rela mengajukan dirinya sebagai banker yang
langsung menghadap bapak-bapak satpam yang menjaga pertahanan gedung rektorat.
Aksi
kami terhenti kala adzan maghrib berkumandang “bagaimanapun juga kita tidak
boleh mendzalimi diri kita sendiri”, maka ta’jil berbukapun dibagikan baik dari
pihak BEM UI, maupun pihak Fakultas. Masa aksi terpisah, kembali ke
masing-masing fakultas untuk berbuka, mungkin saat itu aku berpikir, semua masa
aksi benar-benar melupakan warna yang mengelilingi makara yang terjahit di
jaket kuningnya dan hanya berpikir bahwa sesungguhnya warna makara hanyalah satu,
kuning.
Setelah
salat magrib berjamaah, acara di perkumpulan masa aksi fakultas teknik adalah
perkenalan, masing-masing orang menyebutkan nama, jurusan dan angkatan yang
dipandu oleh ketua BEM FTUI 2012 (Agus Taufiq Kapal’09), acara perkenalan ini
tidak akan pernah dilewatkan pada setiap acara yang ada di fakultas teknik,
karena setiap orang tentu akan merasa saling memiliki jika saling mengenal
bukan?, apakah itu artinya jika kita tidak saling mengenal kita tidak saling
memiliki?.
Arahan
selanjutnya dari kak Agus adalah masa aksi dapat melanjutkan atau menyudahi
aksinya sampai di sini, karena besok PSAF telah menunggu, kegiatan pembinaan
mahasiswa baru di lingkup fakultas yang berlangsung dari pagi, dan aksi yang
dijadwalkan menginap ini tentu akan menguras tenaga untuk keesokan harinya,
yang masih bertahan setidaknya hingga acara mala mini selesai adalah ketua BEM,
ketua IM, dan MPM, aku juga memutuskan untuk tinggal, sepertinya Allah juga
menyuruh demikian karena aku lupa membawa kunci kosanku saat itu.
Salat
isya dan tarawih dilakukan di MUI, sebenarnya disediakan sebuah spanduk besar
yang sempat menimbulkan beberapa polemik hangat, di dalamnya terdapat kalimat yang
bermakna “ Terdapat masalah yang lebih besar daripada spanduk ini”, kira-kira
begitulah makna tulisan di spanduk yang memang sangatlah besar tersebut, dan
memang masalah di UI lebih besar, dan lagi-lagi saya berpikir, kanapa kami
masih terpisah?, mungkin pertimbangannya adalah masalah kekhusyukan beribadah.
Usai
salat tarawih, kepastian bahwa aku bukanlah orang yang mampu beradaptasi dengan
baik dan memiliki permasalahan sosialisasi nampaknya benar-benar terbukti, di
sebuah kantin dekat stasiun pondok cina, nampaknya squad FT sedang berkumpul,
tertawa lepas sambil menikmati santap malam yang tersedia, melihatnya aku
memilih pergi dibandingkan bergabung, memperhitungkan kemungkinan aku diterima
dengan hangat atau sebaliknya, sepertinya aku lebih memilih menghindari
keramaian, tampaknya jika untuk survive diperlukan banyak kenalan, apakah aku
bisa survive nantinya?. Permasalahan yang sempat hilang ketika aku sendiri
muncul kembali saat melihat masa aksi FT yang masih ada untuk menghadiri
kembali rangkaian aksi selanjutnya, beruntung ternyata aku diterima dengan
hangat, aku sadar mereka yang bertahan adalah petinggi-petinggi FT bukanlah
orang biasa, mereka sangat pandai baik dalam bersosialisasi, rencana strategis
dan taktis.
Di
aksi kali ini, aku bertemu lagi dengan temanku saat aku menghadiri salah satu acara
BEM Wanna Be, Uki, ternyata ia bergabung dengan Akprop, seorang perempuan yang
sejak pertama aku mengenalnya ia adalah seorang yang berjiwa kepemimpinan, tahu
apa yang ia lakukan dan memiliki komitmen tinggi, ia memberitahukan padaku
bahwa masa aksi FT belum kembali, padahal acara telah dimulai setengah jam yang
lalu, belum lagi penampilan tiap fakultas yang baru ku ketahui, namun dengan
kemampuan kakak-kakak yang bertahan saat itu sangatlah teruji dengan baik,
dalam beberapa menit menghadapi kegalauan akibat penampilan yang belum terstruktur,
beberapa menit pula penampilan itu telah siap.
Api
unggun dikelilingi masa aksi yang lebih banyak oleh fakultas lain dibandingkan
senja tadi, temanku sejak SMA-pun datang -ia juga adalah Kastrat salah satu
fakultas di UI-, senang rasanya bertemu teman lama yang ternyata satu
perjuangan, menurut penuturannya fakultasnya telah tampil pertama,tentu kami –masa
FT-belum datang, kakak-kakak masih terfokus pada penampilan yang akan
dipersembahkan nantinya, untuk itu mereka tidak berpartisipasi dalam penampilan
BEM Psikologi yang menyajikan sebuah permainan yang cukup mencairkan suasana,
tawa lepas di sana dan dapat tahu salah satu bagian rahasia dari teman
sekelompok, termasuk jumlah mantan pacar ketua BEM UI, hahaha.
Seusai
permainan, ketua IM Mesin (Septian Mesin’10) dan IMTI (Tito TI’10) berkolaborasi
menunjukan lagu yang telah diaransemen dan dirubah beberapa liriknya agar
menyindir peristiwa ini, menyindir Bapak Rektor UI, dengan iringan gitar,
seperti ini lagunya :
Malu aku malu
Pada semut merah
Yang berbaris di dinding, menatapku
curiga
Seakan penuh tanya, sedang apa di
sini?
Menanti Rektor baru
Sungguh aneh tapi nyata
Takkan terlupa
Kisah bapak rektor kita
Nggak sayang kita
Tiada kisah paling parah, kisah
bapak rektor kita
Tiada kisah paling parah, kisah
bapak rektor kita
Meski
ada beberapa miss communication, Fakultas Teknik tampil dengan gombal ala kak
Tyo (PI’09) dan kak Gusti (PI’10) yang menjadikan ketua IM Ars (Wulan Ars’10)
sebagai korban gombal yang juga dibuat menyindir keadaan UI seperti jalur masuk
yang begitu banyak, dan dilanjutkan dengan menyanyikan lagu di atas.
Usai
persembahan fakultas, aktivis BEM UI tahun-tahun sebelumnya datang 4 orang
tepatnya, mungkin yang saya tahu hanyalah dua diantara mereka yakni kak Maman
(ketua BEM UI 2011) dan wakilnya yang biasa dipanggil kak Ijonk, mereka
memberikan wejangan-wejangan yang membangkitkan semangat dan meyakinkan bahwa
apa yang kami lakukan tidaklah sia-sia, terlebih diantara mereka salah
seorangnya adalah seorang yang bisa dibilang aktivis sastra, dimana ia sering
adanya menggunakan sastra dalam orasi dan menyuarakan pergerakan mahasiswa,
salah satu dari bahasa yang sangat ku kagumi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar