Rabu, 15 Agustus 2012

Catatan 13 Agustus 2012


13 Agustus 2012
Detik-detik mendekati 13 Agustus 2012..
Hal yang tak kalah mengesankan dan tidak akan dilupakan adalah aksi yang diakhiri dengan kembang api yang dinyalakan simbolis kami telah terbebas dari rezim yang diciptakan Gumilar Roesliwa Soemantri, layaknya tahun baru, usai kami menyebutkan deklarasi yang menyerupai proklamasi, kemi menghitung mundur bersama sampai detik satu, kembang api dinyalakan dan dengan indahnya membuat ledakan-ledakan di langit, sebuah momentum yang sangat indah dan seolah melihat sebuag sejarah baru, karena memang tanggal 14 Agustus rektor akan turun jabatan, namun jika ia turun dan diturunkan adalah dua hal berbada yang kontras, seperti saat bangsa ini meraih kemerdekaan atau diberikan kemerdekaan.
Sebelum masa aksi FT pulang, karena besok terdapat agenda PSAF yang menunggu khususnya bagi mereka SC kegiatan tersebut (ketua IM), kami saling merangkul satu sama lain membentuk sebuah lingkaran kecil,  dan kembali dipimpin ketua BEM FTUI, satu persatu dari kami memberikan kesan hari ini, hal yang membuat saya tersenyum adalah ungkapan dari kakak-kakak yang menggunakan sastra sebagai perantaranya, terdengar sangat istimewa.
Meskipun salah seorang mengatakan hal yang paling menyenangkan hanyalah saat mendengar sharing dari para senior BEM UI dan selainnya tidak, tetapi bukankah dalam sebuah aksi yang terpenting bukankah itu seru atau kesengan atau semacamnya yang akan kau dapatkan dalam sebuah program kerja tertentu yang dipersiapkan dari jauh hari, tetapi bagaimana perjuangan sekecil apapun yang telah dilakukan hari ini, karena setiap langkah akan mencatatkan sejarah tersendiri bagi pergerakan mahasiswa ke depan.
Ketika masa FT kembali pada peraduannya, aku bergabung dengan pengurus BEM UI, yang kesemuanya berasal dari FKM, temanku Uki yang berasal dari Vokasi, tampaknya tak ikut dan memilih tinggal di depan rektorat, sedangkan aku pergi menuju MUI untuk beristirahat, namun karena kesulitan tidur aku memilih membaca Al-Qur’an dan salat qiyamul lail sampai pukul 02.00 wib dan tidur sejenak sampai pukul 2.30 wib, sebelum akhirnya bergabung kembali ke masa di rektorat, sebenarnya makan sahur ditanggung oleh masing-masing fakultas, akan tetapi aku tinggal sendiri dari masa aksi fakultasku, sebenarnya ada wakabid Kastrat BEM FTUI 2012, namun ia masih berada di MUI, meskipun sendiri tampaknya aku tak perlu khawatir karena BEM UI menawarkan makan sahur, kebetulan persediaan yang ada lebih, sebuah the kotak, nasi, dan air mineral, aku juga terlalu sulit bergabung karena Uki ada di sana.
Sepanjang pagi itu, aku bersama Uki menyusuri fakultas kesehatan masyarakat untuk pertama kalinya, sangat rapi, dan serasa rumah sendiri dengan bangunan dan koridor yang sangat apik, perpaduan kayu, kaca, tembok bata, bebatuan dan taman yang sangat indah, warna-warna yang di dominasi pada corak ungu, benar seperti rumahmu sendiri.
Usai salat shubuh, kami kembali berkumpul di depan balai sidang, masa aksi benar-benar sedikit, kau tahu, dengan misi hari ini untuk menyegel rektorat, aku sedikit pesimis, ketika kami di bagi tugas aku pergi bersama Uki, yang akan berjaga di lantai 2, berangkat dari FMIPA karena instruksi yang diberikan kami harus berangkat dari tiga titik berbeda, Perpustakaan Pusat, FMIPA dan FKM, ada satu kata yang selalu kuingat sampai kini, ketika aku bertanya akan permasalahan kuantitas yang selama ini terkadang membuatku ragu akan pergerakan, namun dengan pasti ia menjawab  “Kata bung Karno : Tidak perlu banyak orang untuk melakukan sebuah perubahan”.
Aksi dilanjutkan, pintu rektorat yang rencananya kami segel ternyata memang terkunci, masa aksipun ditahan tidak bisa masuk, sedang beberapa dari kami terus berusaha agar karyawan dapat bergabung dalam gerakan kami, orasi-orasi terus terdengar dari luar rektorat dan sempat sekali masuk hingga pelataran, sebelum akhirnya masa aksi menggunakan aksi tutup mulut.
Pukul 10.00 wib
Aku ingat masalah jaket kuning yang kini ku kenakan bukanlah milikku, jaket ini milik seniorku angkatan 2008 dan ia akan pulang hari ini ke Bangka tepat pukul 12.00 wib, selain itu ibuku mengajakku untuk ikut mudik hari ini, aku mulai bingung, ada tuntutan untuk pulang, walau sebenarnya satu sisi diriku tetap ingin di sini, aku seperti dilanda konflik batin dan konflik itu mengerucut hingga aku memutuskan mengakhiri aksi ini dan pulang ke Bekasi, anehnya rasa tidak ikhlas itu terus menerus berputar dalam pikiranku, saat aku pulang aku tertidur di bus dan tempat dimana seharusnya aku turun aku tidak melakukannya sampai ke tempat pemberhentian bus yang terakhir, dengan sedikit linglung aku turun dan kembali ke tempat seharusnya aku turun dengan menggunakan angkutan umum lain, aku dikejar waktu dhuhur, kekesalan akibat supir yang selalu memberhentikan angkutan umumnya di setiap persimpangan untuk mendapatkan penumpang dan kegelisahan akibat pergi di tengah-tengah aksi yang berlangsung, apakah aku lari dari perang?, apakah aku lari di tengah perang? Bukankah Allah membenci hal itu?.
Mobil angkutan yang kunaiki terus menerus berhenti dan berjalan perlahan, rasanya aku ingin berteriak “ mobil angkutan ini bukanlah angkutan langka di jalan ini pak, kalau ada penumpang yang ingin menaiki mobil ini pasti ia akan memberikan tanda, tidak usah membunyika klakson terus menerus untuk mencuri perhatian mereka, karena seribu kali anda membunyikan klakson dan bersikap sok manis pada mereka, mereka tak akan mau naik mobil ini karena mereka punya tujuan berbeda, lagi pula dengan melimpahnya jenis mobil yang sama dengan rute sama, taktik mencari penumpang dengan menunggu seperti ini dapat mengurangi kepercayaan pelanggan karena akan men-judge anda akan mencari penumpang dan sangat sering berhenti, mereka tidak akan percaya”, sudah itu terdapat tulisan di depan mobil yang menyebutkan bahwa :” Anda perlu waktu saya perlu uang”, bukankah waktu lebih berharga dibanding uanag, karena kau memerlukan waktu saat mencari uang, akan tetapi uang tidak bisa menebus waktu untuk menunggu ataupun berhenti, penting mana?.
Kegelisahan karena aku lari dari perang berubah menjadi ketakutan, akhirnya setelah satu jam aku sampai tepatnya pukul 15.00 wib aku memutuskan kembali berangkat ke UI, aku tidak jadi ikut ibu untuk mudik dan memilih mudik bersama ayah tanggal 17 Agustus nanti, aku tidak pernah melakukan hal nekat seperti itu sebelumnya, mungkin karena pikiranku terus dipenuhi rasa bersalah dan ketakutan karena aku lari dari perang di saat yang lain sedang berjuang.
Kak Fadlan Mesin’10 (Wakabid Kastrat) memberitahu bahwa aksi pagi itu berujung pada pertemuan dengan wakil rektor pak Anis yang memang tidak bergabung pada gerakan kami tetapi sepakat bahwa beliau menginginkan kepemimpinan UI yang lebih baik dan penyegelan rektorat dengan kertas-kertas putih berupa keluhan terhadap rektor selama kepemimpinannya, aku jadi berpikir ketika aku memutuskan pulang dan tidak berada di sana aksi justru dapat dilanjutkan ketahap yang sangat berarti, tampaknya aku menjadi ikon ketidak beruntungan, malangnya.
Keinginanku mengikuti aksi sore yang dimulai pukul 15.30 wib tampaknya selain tidak visible juga tidak realistis, macet sangat menghalangi jalanku, seharusnya pukul 17.00 wib aku dapat sampai di UI, sampai maghrib aku baru mencapai kosanku, dan aksipun telah selesai untuk hari itu, atas saran Wakabidku juga aku memutuskan untuk bermalam di MUI, setidaknya itu akan lebih berharga dibandingkan aku berada di kosan tanpa ada sesuatu yang dapat ku kerjakan.
 Saat berdiam di MUI, terdapat sebuah kajian mengenai Rohingnya, sebuah komunitas Islam terpencil di Myanmar yang sebenarnya telah hidup di Myanmar bahkan sebelum yang lain hidup di sana namun mereka terusir dan di usir baik oleh masyarakat maupun kebijakan pemerintah Myanmar, mereka terpecah belah dan hidup di berbagai Negara terdekat termasuk Indonesia, salah satu mereka datang dari Jepang untuk memberikan penjelasan mengenai Rohingnya, mereka mendapatkan perlakuan yang tidak beerprikemanusiaan dan kebijakan yang tidak adil dengan menekan angka populasi agar jumlah mereka semakin sedikit, tidak diakui oleh Negara dsb, aku membayangkan bagaimana caranya aku bertahan jika aku yang mengalami?.

Tidak ada komentar: