13
Agustus 2012
Detik-detik
mendekati 13 Agustus 2012..
Hal
yang tak kalah mengesankan dan tidak akan dilupakan adalah aksi yang diakhiri
dengan kembang api yang dinyalakan simbolis kami telah terbebas dari rezim yang
diciptakan Gumilar Roesliwa Soemantri, layaknya tahun baru, usai kami
menyebutkan deklarasi yang menyerupai proklamasi, kemi menghitung mundur
bersama sampai detik satu, kembang api dinyalakan dan dengan indahnya membuat
ledakan-ledakan di langit, sebuah momentum yang sangat indah dan seolah melihat
sebuag sejarah baru, karena memang tanggal 14 Agustus rektor akan turun
jabatan, namun jika ia turun dan diturunkan adalah dua hal berbada yang
kontras, seperti saat bangsa ini meraih kemerdekaan atau diberikan kemerdekaan.
Sebelum
masa aksi FT pulang, karena besok terdapat agenda PSAF yang menunggu khususnya
bagi mereka SC kegiatan tersebut (ketua IM), kami saling merangkul satu sama
lain membentuk sebuah lingkaran kecil,
dan kembali dipimpin ketua BEM FTUI, satu persatu dari kami memberikan
kesan hari ini, hal yang membuat saya tersenyum adalah ungkapan dari
kakak-kakak yang menggunakan sastra sebagai perantaranya, terdengar sangat
istimewa.
Meskipun
salah seorang mengatakan hal yang paling menyenangkan hanyalah saat mendengar
sharing dari para senior BEM UI dan selainnya tidak, tetapi bukankah dalam
sebuah aksi yang terpenting bukankah itu seru atau kesengan atau semacamnya
yang akan kau dapatkan dalam sebuah program kerja tertentu yang dipersiapkan
dari jauh hari, tetapi bagaimana perjuangan sekecil apapun yang telah dilakukan
hari ini, karena setiap langkah akan mencatatkan sejarah tersendiri bagi
pergerakan mahasiswa ke depan.
Ketika
masa FT kembali pada peraduannya, aku bergabung dengan pengurus BEM UI, yang
kesemuanya berasal dari FKM, temanku Uki yang berasal dari Vokasi, tampaknya
tak ikut dan memilih tinggal di depan rektorat, sedangkan aku pergi menuju MUI
untuk beristirahat, namun karena kesulitan tidur aku memilih membaca Al-Qur’an
dan salat qiyamul lail sampai pukul 02.00 wib dan tidur sejenak sampai pukul
2.30 wib, sebelum akhirnya bergabung kembali ke masa di rektorat, sebenarnya
makan sahur ditanggung oleh masing-masing fakultas, akan tetapi aku tinggal
sendiri dari masa aksi fakultasku, sebenarnya ada wakabid Kastrat BEM FTUI
2012, namun ia masih berada di MUI, meskipun sendiri tampaknya aku tak perlu
khawatir karena BEM UI menawarkan makan sahur, kebetulan persediaan yang ada
lebih, sebuah the kotak, nasi, dan air mineral, aku juga terlalu sulit
bergabung karena Uki ada di sana.
Sepanjang
pagi itu, aku bersama Uki menyusuri fakultas kesehatan masyarakat untuk pertama
kalinya, sangat rapi, dan serasa rumah sendiri dengan bangunan dan koridor yang
sangat apik, perpaduan kayu, kaca, tembok bata, bebatuan dan taman yang sangat
indah, warna-warna yang di dominasi pada corak ungu, benar seperti rumahmu
sendiri.
Usai
salat shubuh, kami kembali berkumpul di depan balai sidang, masa aksi
benar-benar sedikit, kau tahu, dengan misi hari ini untuk menyegel rektorat,
aku sedikit pesimis, ketika kami di bagi tugas aku pergi bersama Uki, yang akan
berjaga di lantai 2, berangkat dari FMIPA karena instruksi yang diberikan kami
harus berangkat dari tiga titik berbeda, Perpustakaan Pusat, FMIPA dan FKM, ada
satu kata yang selalu kuingat sampai kini, ketika aku bertanya akan permasalahan
kuantitas yang selama ini terkadang membuatku ragu akan pergerakan, namun
dengan pasti ia menjawab “Kata bung Karno
: Tidak perlu banyak orang untuk melakukan sebuah perubahan”.
Aksi
dilanjutkan, pintu rektorat yang rencananya kami segel ternyata memang
terkunci, masa aksipun ditahan tidak bisa masuk, sedang beberapa dari kami
terus berusaha agar karyawan dapat bergabung dalam gerakan kami, orasi-orasi
terus terdengar dari luar rektorat dan sempat sekali masuk hingga pelataran,
sebelum akhirnya masa aksi menggunakan aksi tutup mulut.
Pukul
10.00 wib
Aku
ingat masalah jaket kuning yang kini ku kenakan bukanlah milikku, jaket ini
milik seniorku angkatan 2008 dan ia akan pulang hari ini ke Bangka tepat pukul
12.00 wib, selain itu ibuku mengajakku untuk ikut mudik hari ini, aku mulai
bingung, ada tuntutan untuk pulang, walau sebenarnya satu sisi diriku tetap
ingin di sini, aku seperti dilanda konflik batin dan konflik itu mengerucut
hingga aku memutuskan mengakhiri aksi ini dan pulang ke Bekasi, anehnya rasa
tidak ikhlas itu terus menerus berputar dalam pikiranku, saat aku pulang aku
tertidur di bus dan tempat dimana seharusnya aku turun aku tidak melakukannya
sampai ke tempat pemberhentian bus yang terakhir, dengan sedikit linglung aku turun
dan kembali ke tempat seharusnya aku turun dengan menggunakan angkutan umum
lain, aku dikejar waktu dhuhur, kekesalan akibat supir yang selalu
memberhentikan angkutan umumnya di setiap persimpangan untuk mendapatkan
penumpang dan kegelisahan akibat pergi di tengah-tengah aksi yang berlangsung,
apakah aku lari dari perang?, apakah aku lari di tengah perang? Bukankah Allah
membenci hal itu?.
Mobil
angkutan yang kunaiki terus menerus berhenti dan berjalan perlahan, rasanya aku
ingin berteriak “ mobil angkutan ini bukanlah angkutan langka di jalan ini pak,
kalau ada penumpang yang ingin menaiki mobil ini pasti ia akan memberikan
tanda, tidak usah membunyika klakson terus menerus untuk mencuri perhatian
mereka, karena seribu kali anda membunyikan klakson dan bersikap sok manis pada
mereka, mereka tak akan mau naik mobil ini karena mereka punya tujuan berbeda,
lagi pula dengan melimpahnya jenis mobil yang sama dengan rute sama, taktik
mencari penumpang dengan menunggu seperti ini dapat mengurangi kepercayaan
pelanggan karena akan men-judge anda akan mencari penumpang dan sangat sering
berhenti, mereka tidak akan percaya”, sudah itu terdapat tulisan di depan mobil
yang menyebutkan bahwa :” Anda perlu waktu saya perlu uang”, bukankah waktu
lebih berharga dibanding uanag, karena kau memerlukan waktu saat mencari uang,
akan tetapi uang tidak bisa menebus waktu untuk menunggu ataupun berhenti,
penting mana?.
Kegelisahan
karena aku lari dari perang berubah menjadi ketakutan, akhirnya setelah satu
jam aku sampai tepatnya pukul 15.00 wib aku memutuskan kembali berangkat ke UI,
aku tidak jadi ikut ibu untuk mudik dan memilih mudik bersama ayah tanggal 17
Agustus nanti, aku tidak pernah melakukan hal nekat seperti itu sebelumnya, mungkin
karena pikiranku terus dipenuhi rasa bersalah dan ketakutan karena aku lari
dari perang di saat yang lain sedang berjuang.
Kak
Fadlan Mesin’10 (Wakabid Kastrat) memberitahu bahwa aksi pagi itu berujung pada
pertemuan dengan wakil rektor pak Anis yang memang tidak bergabung pada gerakan
kami tetapi sepakat bahwa beliau menginginkan kepemimpinan UI yang lebih baik
dan penyegelan rektorat dengan kertas-kertas putih berupa keluhan terhadap
rektor selama kepemimpinannya, aku jadi berpikir ketika aku memutuskan pulang
dan tidak berada di sana aksi justru dapat dilanjutkan ketahap yang sangat
berarti, tampaknya aku menjadi ikon ketidak beruntungan, malangnya.
Keinginanku
mengikuti aksi sore yang dimulai pukul 15.30 wib tampaknya selain tidak visible
juga tidak realistis, macet sangat menghalangi jalanku, seharusnya pukul 17.00
wib aku dapat sampai di UI, sampai maghrib aku baru mencapai kosanku, dan
aksipun telah selesai untuk hari itu, atas saran Wakabidku juga aku memutuskan
untuk bermalam di MUI, setidaknya itu akan lebih berharga dibandingkan aku
berada di kosan tanpa ada sesuatu yang dapat ku kerjakan.
Saat berdiam di MUI, terdapat sebuah kajian
mengenai Rohingnya, sebuah komunitas Islam terpencil di Myanmar yang sebenarnya
telah hidup di Myanmar bahkan sebelum yang lain hidup di sana namun mereka
terusir dan di usir baik oleh masyarakat maupun kebijakan pemerintah Myanmar,
mereka terpecah belah dan hidup di berbagai Negara terdekat termasuk Indonesia,
salah satu mereka datang dari Jepang untuk memberikan penjelasan mengenai
Rohingnya, mereka mendapatkan perlakuan yang tidak beerprikemanusiaan dan
kebijakan yang tidak adil dengan menekan angka populasi agar jumlah mereka
semakin sedikit, tidak diakui oleh Negara dsb, aku membayangkan bagaimana
caranya aku bertahan jika aku yang mengalami?.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar