Rabu, 27 Maret 2013

Pulang, Haribaan Tanah Air


Resensi
Pulang, Haribaan Tanah Air

Judul Buku                  : Pulang
Pengarang                   : Leila S. Chudori
Penerbit                       : PT Gramedia
Tahun Terbit                : 1. Cetakan Pertama   : Desember 2012
                                      2. Cetakan Kedua     : Januari 2013
                                      3. Cetakan Ketiga     : Februari 2013
Jumlah Halaman          : 461 halaman
Tebal Buku                  : 13,5 x 20 cm

“Mungkin karena saya eks-tapol maka saya bisa menghayati isi novel Pulang. Mata saya berkaca-kaca membaca acara makan malam di rumah Priasmoro, dimana tokoh Lintang membeberkan soal Restoran Tanah Air dan peran ayahnya. Novel ini memang fiktif, tapi saya hanyut, dan dalam benak saya seperti bukan fiksi.”
-Djoko Sri Moeljono, bekas tahanan Pulau Buru-
Begitu dinamis, visualisasi kata-kata yang sangat nyata dan menilik sejarah dari kaca mata berbeda, mungkin itu adalah kata yang dapat menggambarkan jika membaca buku ini, sebuah buku karya Leila S. Chudori seorang wartawan dari salah satu majalah berita yang sebelumnya telah aktif dan berlalu lalang di dunia sastra termasuk karyanya yang telah dipublikasikan sejak ia berusia 12 tahun.
Pulang, merupakan novel yang menceritakan sebuah drama keluarga, persahabatan, cinta dan pengkhianatan berlatar belakang tiga peristiwa sejarah penting, Indonesia 30 September 1965, Perancis Mei 1968 dan Indonesia Mei 1998 yang dikemas dalam sudut pandang personal yang sentimental.
Cerita dimulai ketika seorang Dimas Suryo yang bekerja di bagian redaksi kantor berita karena alasan tertentu di desak untuk berangkat menghadiri konferensi pemimpin media tahunan di Santiago bersama Nugroho dan Konferensi Asia-Afrika di Peking bersama Rijsyaf oleh Hananto Prawiro, senior redaksi Kantor Berita Nusantara bersama Dimas, yang tidak diduga dan terfikirkan sama sekali merupakan terakhir kali ia menginjakkan Tanah Airnya, Indonesia.
Isu bahwa adanya organisasi sayap kiri yang melakukan pengkhianatan kepada Negara rupanya merubah banyak hidup seorang Dimas Suryo yang meskipun ia seorang ‘pengelana’ tanpa memilih satu dari perang ideologi antara golongan sosialis, Islam atau  liberalis yang berkecambuk, ia tetap dianggap seorang eksil politik karena dekat dengan Hananto dan Nugroho. Bertahan di Peking tanpa identitas pengenal sebagai seorang warga Negara dan akhirnya terdampar di sebuah daratan Eropa bernama Perancis, bukanlah hal yang penuh suka cita karena dapat menetap di negeri yang terkenal dengan Fashion tersebut, rindu akan tanah air, cemas akan keluarga yang ditinggalkan ditengah tanah air yang bergejolak, kemampuan bertahan hidup yang minim sebagai sarjana sastra, -yang tentu saja tidak bisa menerbitkan surat kabar karena jika tercantum namanya akan segera diburu oleh pemerintah Indonesia karena dianggap pengkhianat Negara- dan tidak dianggap keberadaannya oleh Kedutaan Besar akibat cap ‘eks-tapol’ di  Negara asing, membuat hidupnya selalu dibayangi rasa khawatir dan kesiapsiagaan. Rindu akan Indonesia, hanya bisa dihirup lewat aroma cengkih dan kunyit yang ditopleskan.
Kenangan yang berputar bersama kisah cinta rumit antara Dimas Suryo, Hananto Prawiro dan Surti Anandari menyeret turut seorang dengan mata biru Vevienne Deveraux yang jatuh hati pada pandangan pertama kepada Dimas, menguak satu persatu tabir sejarah kelam yang dialami Indonesia dari seorang Dimas Suryo, gejolak politik sayap kiri tersebut berujung pada kenyataan mengerikan dimana perburuan terhadap ormas PKI dan seluruh yang dianggap berhubungan dengan siapapun mereka yang tergabung atau teridentifikasi bagian dari komunis secara membabi buta, sungai Bengawan Solo yang jernih menjadi warna merah darah, saksi bisu perburuan masa orde baru.
Waktu dan sejarah berpindah pada seorang perempuan berdarah Indonesia-Perancis, Lintang Utara, mahasiswa Universitas Sorbonne yang dituntut tugas akhir Sinematografi. Putri dari Dimas-Vevienne ini perlahan membuka bagian yang selama ini ia tutupi, bagian yang selama ini hilang dari tubuh dan darahnya yag mengalir deras, sesuatu yang disebut I.N.D.O.N.E.S.I.A.
Ditengah peristiwa Mei 1998, dengan siasat, strategi, daftar nama orang yang dianggap mampu membantu dan tuntutan tugas akhirnya dari Mister Duppon, Lintang memberanikan diri ke Jakarta, ibu kota Indonesia yang kala itu sedang bergejolak Reformasi, karena terlalu ‘gerah’ dengan rezim orde baru selama 32 tahun berkuasa. Alam, Bimo, Mita, Gilang, selanjutnya adalah bagian dari cerita dan semangat pemuda menjatuhkan kekuasaan Orde Baru, Kantor Berita Satu Nusa, menjadi saksi mereka dalam menyusun strategi, penyimpanan dokumen penting dan pertemuan Lintang dengan Alam, yang kembali menyeret kisah cinta rumit bersama Narayana, kekasih Lintang di Perancis.
Buku ini dikemas dengan bahasa yang baik dan visualisasi disetiap awal bagian (chapter) nya, bahasa yang digunakan membawa kita pada sederetan peristiwa seolah sedang menyaksikan sebuah film dengan alur maju yang diselingi perputaran masa lalu tokohnya, melibatkan cerita penokohan pewayangan, potongan-potongan puisi Indonesia dan Perancis , analogi peristiwa berdasarkan surat yang saling dikirimkan oleh tokoh, sangat menarik, penuh makna dan tergambar sekali berdasarkan literatur yang lengkap, namun tampaknya  buku ini hanya dapat dikonsumsi dari tingkat remaja hingga dewasa, selain karena terdapat penjelasan mengenai kekerasan yang dialami para tahanan eksil politik, rupanya Leila juga menyisipkan adegan dewasa sebagai penghubung dan penggambaran sebuah kedekatan hubungan antara tokoh laki-laki dan perempuan, terutama pada tokoh utama. Membaca buku ini, akan seperti ‘disentil’ sejauh mana kita mencintai tanah air kita, seberapa mengenalkah kita akan sejarah, pewayangan, kuliner dan pernak-pernik lain menjadi sebuah mozaik yang tersusun hingga membentuk kata Indonesia,penggambaran pergolakan politik yang terjadi akan membuat kita berpikir dimana kita meletakkan diri dan ideologi sebagai bagian dari Indonesia dan dunia, sebuah buku yang akan sangat disayangkan jika dillewatkan..
So..selamat membaca J

Tidak ada komentar: