Resensi
Pulang, Haribaan Tanah Air
Judul Buku :
Pulang
Pengarang :
Leila S. Chudori
Penerbit :
PT Gramedia
Tahun Terbit :
1. Cetakan Pertama : Desember 2012
2. Cetakan Kedua : Januari 2013
3. Cetakan Ketiga : Februari 2013
Jumlah Halaman : 461 halaman
Tebal Buku : 13,5 x 20 cm
“Mungkin karena saya
eks-tapol maka saya bisa menghayati isi novel Pulang. Mata saya berkaca-kaca
membaca acara makan malam di rumah Priasmoro, dimana tokoh Lintang membeberkan
soal Restoran Tanah Air dan peran ayahnya. Novel ini memang fiktif, tapi saya
hanyut, dan dalam benak saya seperti bukan fiksi.”
-Djoko Sri Moeljono,
bekas tahanan Pulau Buru-
Begitu dinamis,
visualisasi kata-kata yang sangat nyata dan menilik sejarah dari kaca mata
berbeda, mungkin itu adalah kata yang dapat menggambarkan jika membaca buku
ini, sebuah buku karya Leila S. Chudori seorang wartawan dari salah satu
majalah berita yang sebelumnya telah aktif dan berlalu lalang di dunia sastra
termasuk karyanya yang telah dipublikasikan sejak ia berusia 12 tahun.
Pulang, merupakan novel
yang menceritakan sebuah drama keluarga, persahabatan, cinta dan pengkhianatan
berlatar belakang tiga peristiwa sejarah penting, Indonesia 30 September 1965,
Perancis Mei 1968 dan Indonesia Mei 1998 yang dikemas dalam sudut pandang
personal yang sentimental.
Cerita dimulai ketika
seorang Dimas Suryo yang bekerja di bagian redaksi kantor berita karena alasan
tertentu di desak untuk berangkat menghadiri konferensi pemimpin media
tahunan di Santiago bersama Nugroho dan Konferensi Asia-Afrika di Peking bersama
Rijsyaf oleh Hananto Prawiro, senior redaksi Kantor Berita Nusantara bersama
Dimas, yang tidak diduga dan terfikirkan sama sekali merupakan terakhir kali ia
menginjakkan Tanah Airnya, Indonesia.
Isu bahwa adanya organisasi
sayap kiri yang melakukan pengkhianatan kepada Negara rupanya merubah banyak
hidup seorang Dimas Suryo yang meskipun ia seorang ‘pengelana’ tanpa memilih
satu dari perang ideologi antara golongan sosialis, Islam atau liberalis yang berkecambuk, ia tetap dianggap
seorang eksil politik karena dekat dengan Hananto dan Nugroho. Bertahan di
Peking tanpa identitas pengenal sebagai seorang warga Negara dan akhirnya
terdampar di sebuah daratan Eropa bernama Perancis, bukanlah hal yang penuh
suka cita karena dapat menetap di negeri yang terkenal dengan Fashion tersebut,
rindu akan tanah air, cemas akan keluarga yang ditinggalkan ditengah tanah air
yang bergejolak, kemampuan bertahan hidup yang minim sebagai sarjana
sastra, -yang tentu saja tidak bisa menerbitkan surat kabar karena jika
tercantum namanya akan segera diburu oleh pemerintah Indonesia karena dianggap
pengkhianat Negara- dan tidak dianggap keberadaannya oleh Kedutaan Besar akibat
cap ‘eks-tapol’ di Negara asing, membuat
hidupnya selalu dibayangi rasa khawatir dan kesiapsiagaan. Rindu akan
Indonesia, hanya bisa dihirup lewat aroma cengkih dan kunyit yang ditopleskan.
Kenangan yang berputar
bersama kisah cinta rumit antara Dimas Suryo, Hananto Prawiro dan Surti
Anandari menyeret turut seorang dengan mata biru Vevienne Deveraux yang jatuh
hati pada pandangan pertama kepada Dimas, menguak satu persatu tabir sejarah
kelam yang dialami Indonesia dari seorang Dimas Suryo, gejolak politik sayap
kiri tersebut berujung pada kenyataan mengerikan dimana perburuan terhadap
ormas PKI dan seluruh yang dianggap berhubungan dengan siapapun mereka yang
tergabung atau teridentifikasi bagian dari komunis secara membabi buta, sungai
Bengawan Solo yang jernih menjadi warna merah darah, saksi bisu perburuan masa
orde baru.
Waktu dan sejarah
berpindah pada seorang perempuan berdarah Indonesia-Perancis, Lintang Utara,
mahasiswa Universitas Sorbonne yang dituntut tugas akhir Sinematografi. Putri
dari Dimas-Vevienne ini perlahan membuka bagian yang selama ini ia tutupi,
bagian yang selama ini hilang dari tubuh dan darahnya yag mengalir deras,
sesuatu yang disebut I.N.D.O.N.E.S.I.A.
Ditengah peristiwa Mei
1998, dengan siasat, strategi, daftar nama orang yang dianggap mampu membantu
dan tuntutan tugas akhirnya dari Mister Duppon, Lintang memberanikan diri ke
Jakarta, ibu kota Indonesia yang kala itu sedang bergejolak Reformasi, karena
terlalu ‘gerah’ dengan rezim orde baru selama 32 tahun berkuasa. Alam, Bimo,
Mita, Gilang, selanjutnya adalah bagian dari cerita dan semangat pemuda menjatuhkan
kekuasaan Orde Baru, Kantor Berita Satu Nusa, menjadi saksi mereka dalam
menyusun strategi, penyimpanan dokumen penting dan pertemuan Lintang dengan
Alam, yang kembali menyeret kisah cinta rumit bersama Narayana, kekasih Lintang
di Perancis.
Buku ini dikemas dengan
bahasa yang baik dan visualisasi disetiap awal bagian (chapter) nya, bahasa
yang digunakan membawa kita pada sederetan peristiwa seolah sedang menyaksikan
sebuah film dengan alur maju yang diselingi perputaran masa lalu tokohnya, melibatkan
cerita penokohan pewayangan, potongan-potongan puisi Indonesia dan Perancis , analogi
peristiwa berdasarkan surat yang saling dikirimkan oleh tokoh, sangat menarik,
penuh makna dan tergambar sekali berdasarkan literatur yang lengkap, namun
tampaknya buku ini hanya dapat dikonsumsi
dari tingkat remaja hingga dewasa, selain karena terdapat penjelasan mengenai
kekerasan yang dialami para tahanan eksil politik, rupanya Leila juga
menyisipkan adegan dewasa sebagai penghubung dan penggambaran sebuah kedekatan
hubungan antara tokoh laki-laki dan perempuan, terutama pada tokoh utama. Membaca
buku ini, akan seperti ‘disentil’ sejauh mana kita mencintai tanah air kita,
seberapa mengenalkah kita akan sejarah, pewayangan, kuliner dan pernak-pernik
lain menjadi sebuah mozaik yang tersusun hingga membentuk kata Indonesia,penggambaran
pergolakan politik yang terjadi akan membuat kita berpikir dimana kita
meletakkan diri dan ideologi sebagai bagian dari Indonesia dan dunia, sebuah
buku yang akan sangat disayangkan jika dillewatkan..
So..selamat membaca J
Tidak ada komentar:
Posting Komentar