Minggu, 28 April 2013

Random Post 2

Sadar atau tidak, semakin tumbuh dan mulai berpikir, kita menciptakan batas-batas kita sendiri, pernahkah kalian berpikir bahwa mengapa ada hal yang kita anggap baik dan tidak baik, benar dan tidak benar, serta boleh dan tidak boleh?
mungkin hanya pemikiran saya, tetapi, seperti seorang bayi yang memasukkan jarinya kedalam mulutnya dan mengemutnya dengan asyik, apakah kita yang telah berusia lebih akan melakukan hal yang sama secara bebas selayaknya bayi tersebut? sepertinya kita akan berpikir berkali lipat, menghimpun berbagai alasan dan melihat dampaknya bagi diri kita jika melakukan hal tersebut bukan? kita yang mengetahui bahwa, dengan memasukkan tangan kedalam mulut, tidak menutup kemungkinan ada kuman yang tertinggal dan membuat kita terganggu kesehatannya, sedangkan bayi tersebut apakah berpikiran sampai kesana?
atau jika kamu berjalan-jalan ke pusat perbelanjaan, jarang sekali bahkan tidak pernah melihat seorang yang dewasa berlari-lari penuh kesenangan bukan? (kecuali di iklan kalau ada diskon hehehe), ingat kalau kita melakukan hal seperti kejar-kejaran apa yang kadang terucap oleh orang lain yang meilhatnya? "ngapain lagi ini kejar-kejaran kayak anak kecil aja?"
Padahal menurut anak kecil itu menyenangkan, dan mereka tidak membatasi diri mereka dengan anggapan orang lain di sekitarnya, mereka hanya mengejar apa yang mereka mau dan pikirikan.
Maksud penjabaran tadi adalah, seiring waktu kita hidup dan menuntut ilmu, kita mengetahui teori-teori yang berlaku dalam kehidupan ini, baik itu ilmu pasti, kebudayaan yang biasa diterapkan masyarakat, atau sekedar omongan selingan, kita akan mengikuti hal tersebut, yang kita anggap itu baik dan pantas dijalankan, dan secara otomatis membatasi diri kita akan segala hal yang kita anggap buruk dan tidak pantas dijalankan.
Batas-batas itu tentu baik jika kita menerapkan prinsip tadi, yang baik dijalankan dan yang buruk ditinggalkan. 
Permasalahannya adalah apakah semua dari kita akan nyaman dengan batas tersebut atau tidak, terlebih batas-batas yang berlaku di masyarakat seperti bagaimana budaya yang terbangun sangatlah heterogen satu dengan lainnya, kita yang melihat perbedaan itu pasti akan berpikir untuk membandingkan perbedaan tersebut, yang mana yang menurut kita benar.
benar sendiri bukanlah hal yang mutlak bagi setiap orang, terlebih sebuah budanya, terkadang aku berpikir benarkah kita memaksanakan seseorang yang berasal dari budaya lain dipaksakan mengikuti budaya yang berlaku pada suatu tempat yang bahkan hanya sebentar ia akan singgahi? atau memaksakan seseorang yang harus mengikuti budaya setempat saat mereka hanya ingin berkunjung dan sebenarnya terdapat dua kepentingan seimbang diantara keduanya?
Entah, terkadang aku sampai merasa tidak terlalu suka dengan mereka yang senantiasa berpikiran "saya adalah yang terbaik dan kalau kalian mau berurusan dengan saya, maka harus mengikuti cara saya terlebih dahulu",kata harus mengikuti caraku terlebih dahulu membuat secara psikis seorang yang lain akan berpikir dua kali jika ingin melibatkanmu, kenapa?
Jawaban saya akan ini adalah karena secara langsung anggapan tersebut telah membuat batas baik bagi yang merasa dia harus seperti saya dan yang merasa sebenarnya ingin melibatkan dirimu, bukan perkara mustahil, dia telah membuat batas dengan kita karena anggapan kita sendiri. Seperti kecenderungan kelas sosial. Dan batas-batas itu terkadang mengkotak-kotakkan kita pada suatu yang mutlak secara abstrak.
Terkadang aku berpikir, mengapa kita tidak saling merendahkan hati dan berjalan bersama menuju apa yang disebut kesejahteraan dan kemapanan, meskipun memang tak semua orang benar berhati berlian sehingga tidak akan ada satu dan lainnya yang tega melanggar kesepakatan bersama guna menghapus sebagian batas-batas tersebut, tidak seluruhnya tetapi hanya sebagaian yang membuat kita dapat menerima dan diterima satu dengan yang lain.
Jika terlalu memaksakan seseorang mengikuti orang lainnya, maka jangan salahkan jika akan terjadi pemberontakkan, karena hakikatnya manusia menginginkan kebebasan bagi dirinya, keinginan untuk berkembang kearah yang mereka mau, meskipun batas-batas itu selalu diperlukan dan selalu penting sebagai koridor berjalannya

Jumat, 19 April 2013

Cerita Untuk Kita #24


Aku, Pramuka dan Kenangan Pertama
Ini hari pertamaku sekolah SMA, sehari pasca peresmian sekaligus tanda Masa Orientasi Sekolah yang mendebarkan itu berakhir , aroma yang ku hirup mulai berbeda dan seluruh prediksi kehidupan anak SMA saat dahulu masih di SMP masih terus membayangi, namun hanya satu kalimat yang terlintas dalam benakku saat ini..’ayo kapan dispen?’
“permisi pak, mau memanggil Fitri Suryani, Tanti Setiani, Bona Revano sama Yohanes Christian buat dispensasi hari ini”
Yes!, aku tahu waktu ini akan datang!
Seragam putih-putih dengan topi dan dasi SMA yang bergaris kuning rapiku kenakan, nampaknya pak matahari sedang sangat bergembira hari ini karena dengan senang hati ia memancarkan sinarnya, begitu terik dan tak memperbolehkan bu awan untuk bertengger disinggasananya. Tetapi kami anak-anak baru dalam balutan seragam kaku ini seakan menantangnya, berkumpul di tengah lapangan basket yang tidak serata lapangan voli karena konsepnya yang seperti di asphalt kasar, lapangan yang satu-satunya merupakan lapangan dengan terali besi kawat dan hanya memiliki  dua pintu akses masuk setinggi pintu rumahmu dalam ukuran standar, ‘seperti dalam sangkar’.
“pimpinan saya ambil alih, seluruhnya SIAAAAPPP GERAK!”
Akhirnya dimulai juga, tiga mata pelajaran hari ini akan kugadaikan dengan latihan baris-berbaris, karena latihan kami tidak akan berakhir sebelum matahari tenggelam kecuali break shalat ashar dan istirahat dalam komando terpusat, sebenarnya mulai pukul 08.00 tadi pagi latihan sudah berjalan dan teman-temanku yang berada di kelas wawasan internasional juga telah mengorbankan seluruh jadwal mata pelajarannya hari ini, kami anak regular juga tidak mau kalah!
Lomba semakin dekat, dengan berbasis sumber daya manusia yang berbeda latar belakang, latihan intensif seperti ini seharusnya sudah dilakukan satu bulan lalu sejak baru perekrutan, sayang…kami harus menunggu sampai satu minggu sebelum lomba, aku harus merelakan jadwal sekolahku satu minggu ini, tapi tidak untuk tugas dan ulangan, lomba telah di depan mata membawa nama sekolah dan beban kehormatan sebagai langganan juara.
Aku ada pada barisan ke 8 banjar ke dua, ya lumayan sebagai anak dengan ketidakbakatan soal tinggi badan, barisan kami disusun berdasarkan tinggi, yang tertinggi akan menduduki singgasana sebagai penjuru yakni barisan pertama banjar pertama,pasukan dipisah antara pleton  putra dan putri, satu pleton ada 30 orang, 10 baris dan 3 banjar, itu berarti yang menjadi putri mungil akan berada pada barisan paling kanan dan banjar tiga.
“tiap-tiap banjar dua kali belok kanan….jalan!”
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
“kangen banget sama rekrutaaaannn!!!!”
“kangen dispen”
“kangen 23”
“kangen 22”
Sesaat mata kami saling bertemu, menahan kalimat selanjutnya, sepertinya ada pemikiran yang sama atas persepsi dua angka diatas, ‘22’
“masih inget ga kita utang sama ka ba’am?”, tak ada suara hanya ringisan dan anggukan yang menjadi respon kami semua
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
“kalian minta berapa menit?”
Krik..krik..krik…
“butuh berapa menit? Kelas 2!”
Mataku hanya lurus kedepan, memandang kaku ke bahu temanku di banjar pertama, tidak berani tersenyum, tidak berani bergerak apalagi tertawa, melirikpun rasanya ragu, beruntung yang ditanya kelas dua, beginilah asyiknya menjadi anak kelas satu, masih punya kemakluman berpangku tangan, ayo kakak-kakak kelas dua…yang penting kita sholat, kami mengandalkanmu, jadilah bijak, hwaiting!…
“berapa? 15 menit ya?!”
“siap tiga puluh menit ka!”
“lama banget!, cukup kali lima belas menit, biasanya juga lima menit…”
“siap ga  cukup ka, tiga puluh menit ka!”
Zzzz..dialog yang berkepanjangan..pasnya aja deeehhhh…
“belum dicoba juga, 20 menit!, telat satu menit 1 seri ya”
Sekitar 2 menit belum ada negosiasi lebih lanjut dari kelas dua, kalimat terakhir tadi menjadi monolog yang menggantung, kelas satu hanya bisa harap-harap cemas menghitung tawaran tadi dan kemungkinan push up yang akan dilakukan karena telat.
“gimana? 20 menit tuh, sudah dikasih lebih”, monolog masih menggantung, aku hanya berharap ‘jangan ka..lumayan nih kalau push up, lapangan GOR kan konblok semua’
“siap iya ka!”, bagus..
“ambil alih kelas dua!”
“Pimpinan saya ambil alih..siap gerak, hadap kiri gerak, dari banjar paling kanan, maju jalan!”
Apapun yang terjadi ibadah tetap prioritas utama, meskipun terjebak dilema, putra dan putinya tetap shalat berjamaah, beruntung para stakeholder 23 telah mewakili dua agama dan yang mewakili agama islam adalah anak Rohis SMA,rasanya seperti penerang dalam kehidupan yang seperti ‘ini’.
“ka…gimana waktunya?”, yang ditanya hanya tertawa miris,
“hahaha..siap-siap push up ya!”
Baiklah, aku sangat maklum..
Kami berlari sampai di samping Gelanggang Olahraga dan merapihkan barisan di sana sebelum menjumpai kakak-kakak kelas tiga, sebuah siasat agar tidak terlalu lama mengulur waktu, karena kalau kami berlari tak beraturan di depan mereka, bisa lebih gawat, baiklah sudah berapa menit kami telat? Aku harus mempersiapkan diri sebelum mendapatkan hadiahnya.
“berhenti gerak, hadap kiri..gerak, istirahat di tempat gerak..siap sudah ka!”
“sudah?”
“siap iya ka!”
Kakak didepan kami yang berperwakan tegap, kulit cukup hitam dan berhidung mancung bermata tajam itu mendekati barisan kami yang digabung pleton putra-putri tetapi masih ada pembatas sehingga tidak bercampur antara barisnya jadi jika dihitung lebih dari 70 orang ada di barisan ini, karena kelas satu lebih dari 60 orang dan kelas dua lebih dari 10 orang, satu lawan banyak, tetapi tampaknya tetap satu yang akan menguasai yang banyak.
Dia berjalan seraya melihat jam tangan yang melingkar di tangan kirinya, dengan serta merta bersuara :
“telat 18 menit”
Gleekkk
“konsekuensinya tadi satu menit 1 serikan?”
“siap iya ka!”
“ya..pimpinan saya ambil alih..hadap serong kiri gerak, silahkan turun! Satu!”
“satu!”
“dua!”
“dua!”
Kami seperti belajar berhitung kembali, dan dengan patuhnya mengikuti komando kakak tersebut, salah juga membuat kesepakatan, tapi konsekuensi memang sudah tersepakati jadi harus dijalankan, anehnya saat itu, meskipun sudah mencapai angka seratus, kami masih berbicara “siap tidak ka!” saat ditanya ‘’capek ga?’’ dan bagiku selama dikanan-kiriku masih ada teman-teman kami memikul konsekuensi ini bersama-sama.
“seratus tiga puluh!”
“seratus tiga puluh!”
“capek ga?”
“siap tidak ka!”
“bener? Masih sanggup ga? Sanggup-sanggup nanti pingsan lagi!”, kembali monolog
“mau diterusin atau nanti aja?”, masih monolog
“bilang aja kalau ga kuat!”
Pernyataan yang membuat dilema, kalau kita bilang ga kuat sepertinya akan dianggap ‘mengeluh’ kalau bilang kuat, kasihan putranya, dengan posisi push up yang seperti itu pasti sangat sangat kelelahan.
“siap ga kuat ka!”
“naik!”
“siap makasih ka!”, wah…hadiahnya selesai? Tidak sampai akhir? sepertinya kakak itu terserang wabah malaikat putih, jarang-jarang kalimat itu tidak menjadi senjata untuk menambah hukuman lagi, biasanya karena dianggap mengeluh hadiah lebih berat menanti di pelupuk mata.
“masih utang 5 seri ya sama saya!”, -_-“
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Sambil memakan nasi padang yang berharga Rp 5000,00 yang dibeli di dekat rumah Nita, laptop masih menyala memutar kenangan perjalanan kami lewat gambar yang menjadi saksi bisu.
“terus kita mau bayar utang kapan ya?”
“rasa-rasanya sekarang waktunya tepat banget kalau sampai ditagih soal utang…”
“ya lihat nanti aja, eh..kita waktu itu juara apa aja sih?”
“waktu apa?”
“itu..Cibarusah, parade deville…”
“oh…LKBB putra, parade, deville..”
“iya..yang sampai nangis bareng-bareng itu kan?”,
“eh..iya bener-bener-bener”
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Hari itu, lebih sibuk dari hari manapun semenjak kami latihan, hari paling tegang sepanjang satu bulan ini, kami pernah merasakan tegangnya waktu pertama kali dipimpin kakak kelas tiga, pernah merasakan tegangnya saat ditegur kakak kelas dua akibat pleton yang tidak lengkap, atau aku yang bahkan mati rasa saat ingat ada ulangan sosiologi dan ijin di tengah-tengah latihan menjadi seorang asing dikelas. Tapi, hari ini adalah hari terakhir kami dapat tertawa dan bercanda di sela keseriusan berlatih, karena besok hari lomba telah tiba.
H-Jam, begitu kami menyebutnya.
Kelihatan semua wajah menjadi sibuk sana-sini terutama kelas tiga dan dua, kelas tiga sibuk atur strategi terbaik menjelang lomba, barisan kami untuk kesekian kalinya direshuffle ,mencocokkan tinggi satu sama lain, memilih pasukan inti untuk LKBB dan menghimpun pasukan dengan format berbeda untuk parade devile, pasukan LKBB ini memang tidak direvisi banyak karena materi PBB –peraturan baris-berbaris- yang lebih kompleks sehingga telah lebih dipersiapkan, sedangkan parade dan devile hanya menjalankan 12 PBB dasar. Kakak kelas dua terbagi dua fokus, sebagian latihan sebagian lainnya menyiapkan atribut untuk keperluan besok, mendata atribut kami, apa yang kurang, menyiapkan baju kebangsaan saat akan lomba yakni baju ‘katrina’, mendata keperluan teknis lain, tenda, alat ransportasi, mengingatkan untuk membawa bahan makanan, kompor, dan alat pribadi lain pada semua yang akan menjadi peserta lomba tahun ini dari SMAku.
Aku terpilih di pasukan inti LKBB – Lomba Ketangkasan Baris-berbaris-, namun aku harus tetap bersiap pula jika harus masuk pada pasukan parade atau devile, mengantisipasi rekanku jika ada yang pingsan, ini tidak mustahil mengingat mengikuti upacara berdiri tanpa gerakan selain yang dikomandokan akan sangat menyebalkan dan membosankan, terik matahari menjadi lawan yang terkadang membuat mata sedikit menyipit dan membuat dahi berkerut sehingga lama-kelamaan akan menyebabkan pening, didukung dengan badan yang suhunya meningkat, sangat mungkin untuk membuat seseorang pingsan.
Maghrib, adalah yang memberhentikan kegiatan ini, berhenti bagi kami kelas satu, entahlah bagi kelas dua dan tiga, nampaknya masih ada yang harus dipersiapkan, yang jelas bagi kami anak kelas satu, pulang, istirahat setengah 6 pagi sudah ada di belakang GOR, nampaknya malam ini akan menjadi malam yang singkat saudara-saudara…
Baiklah aku berdebar, rasanya aku ingin meledak, besok adalah hari perlombaan di bumi asing bernama Bumi Perkemahan Cibarusah, Cibarusah, tempat asing yang selalu menjadi kata dalam lagu kami saat lari pemanasan latihan,sebenarnya itu lagu Halo-halo Bandung yang dibelokkan sedikit, tapi selalu membuat kami semangat menantang lomba itu, lagu yang juga diolah mengikuti situasi :
Halo cibarusah ibukota bojongmangu..halo cibarusah, kota kenang2an. Sudah lama bonlap tidak berjumpa dengan kau, dahulu bonlap juara satu devile sekarang juara lagi
Nampaknya matahari segera ingin muncul hari ini, setengah 6 pagi, belakang GOR ternyata sudah penuh hiruk pikuk, mempersiapkan segala sesuatunya, di hari-H ini kami akan melakukan gladi resik terlebih dahulu, setelah reshuffle kemarin aku berada pada baris tiga dari belakang dan menjadi banjar ketiga,  ada yang istimewa setiap akan melakukan gladi, yakni setiap atribut yang akan dipakai untuk lomba dikenakan secara lengkap, pasukan putri akan tampil dengan rok berbentuk payung, sepatu pantopel, setangan leher, talikur, rimba, sarung tangan, dan kerudung coklat yang rapi dimasukkan ke dalam baju pramuka istimewa, yakni Katrina, baju kebesaran kami, dipakai hanya saat lomba dan merupakan inventaris turun temurun, bajunya berbahan halus dan jika dipakai akan pas dibadan (tetapi tetap lebih jika putri), putra juga mereka akan tampil dengan semua atribut yang sama dengan pasukan putri, yang berbeda adalah mereka memakai baret pada kepalanya, percaya atau tidak, saat telah bersiap dengan seluruh peralatan, semangat kami menjadi terpompa berkali-kali lipat, ketika itu, pandangan, telinga, pikiran semua terkonsentrasi pada tiga hal yakni, komando yang diberikan dan situasi baris dan banjar agar selurus mungkin, yang ketiga adalah selalu berdoa semoga melakukan yang terbaik.
Pasukan kami berangkat sekitar pukul 7.30 pagi, menurut kakak-kakak yang telah melakukan perjalananan ini sebelumnya, letak Cibarusah ini memang jauh, diujung Bekasi, begitu mereka menyebutnya, bagi kami yang baru melakukan perjalanan tentu menduga-duga seperti apa tempat bumi perkemahan Cibarusah itu, namun daripada pusing berpikir megenai tempat yang akan menjadi tempat hisup kami sementara itu, lebih baik kami membantu putranya menaikkan barang ke dalam truk yang akan membawa kami, satu lagi yang menarik perhatianku adalah, disini putra di treatment lebih selain sebagai dirinya juga pelindung bagi putri hampir dalam semua hal, seperti pada saat kami naik kendaraan ini, putra yang akan menaikkan barang-barang, kami mebantu dari bawah menyerahkan tas-tas dan lain-lain, kemudian tempat nyaman untuk bertahan di truk semua didahulukan untuk putri, tanpa disadari, saat latihan juga seperti itu, mungkin itu bagian dari adat atau memang itulah tugas seorang putra sebenarnya?.
Dengan truk tertutup dan bersaing tempat nyaman dengan setumpuk barang-barang, seperti tenda, patok, toya (tongkat), tas, alat memasak dan kawan-kawannya (terbayang betapa padatnya di dalam satu truk), kami memulai perjalanan kami dengan berdoa, mengisinya dengan bercengkrama, dan bernyanyi, menanti berapa lama kami akan sampai pada tempat tujuan, aku berada di depan bak truk, sangat di depan di dekat bagian yang terbuka, duduk diatas tas-tas dan berpegangan erat ke besi yang ada di hadapanku, rasanya lama sekali, jika kau merasakan ada di sana, kamu akan merasa berada dalam mesin penghangat dengan suhu 40 derajat (baik ini berlebihan) tetapi memang seperti kekurangan oksigen akibat terlalu banyak yang saling berebut oksigen dalam truk tertutup seperti ini, hampir seratus orang, dapat dibayangkan, dapat dibayangkan.
Sekitar pukul 13.00 wib, kami sampai, baiklah ini sangat lama, dan saat aku turun, tempat yang disajikan adalah bukit, dengan pepohonan yang ranggas, rerumputan, matahari terik, dan jurang di kanan dan kiri sebelum mencapai bukit selanjutnya, baik..nampaknya aku tidak heran kakak-kakak menyebutnya ujung Bekasi, karena upacara pembukaan segera dimulai, setelah memindahkan barang-barang ke tempat lokasi tenda putri (karena belum sempat memindahkannya ke tempat tenda putra yang letaknya lebih jauh) semua pasukan -yang tidak tahu di range bagaimana karena yang paling banyak turun kelas 1 -_-“- bersiap mengikuti upacara dan yang lainnya mendirikan tenda, melakukan beberapa persiapan seperti memasak dsn lainnya, upacara ini belum penilaian tetapi mewajibkan peserta mengikuti, jadi suasanannya tidak terlalu tegang, bahkan dalam pasukan sebenarnya kami bisa sedikit melakukan pelemasan, namun namanya kelas satu, kami berlaga seperti ini sedang penilaian, menurut kami ini juga bagian dari latihan adapatasi menaklukan sinar terik matahari.
Usai upacara, shalat, membereskaan tenda, atau sekedar berkeliling memang menjadi kegiatan kami, lomba baru akan dimulai esok hari, namun sore ini aka nada upacara pengukuhan pasukan pengibar bendera dari gabungan pramuka se Bekasi, dan nampaknya aku akan ikut lagi upacara malam ini, maka dari itu refreshing perlu juga dilakukan, berkeliling menjadi hal yang menarik.
Ternyata bumi perkemahan ini sangat luas, lapangan tempat aku upacara tadi berada pada bagian depannya, dibuat dengan mendatarkan bukit tersebut, dan sangat rendah dengan tanah diatasnya yang digunakan sebagai tempat mendirikan bangunan bagi tamu kehormatan yang hadir, sekaligus tempat inspektur upacara dan nantinya akan digunakan sebagai pengukuhan pasukan pengibar bendera tersebut.  Dibelakang lapangan adalah lokasi tenda putri, mulai tidak rata dan agak kesamping terdapat jurang, tepatnya di sebelah kiri jika menghadap ke lapangan utama, sangat menguntungkan karena tenda putri kami sedikit ketengah, sehingga cukup aman, di belakang lokasi tenda putri, di bukit yang menurun itu lokasi tenda putra, luas sekali jika kamu memandang dari atas bukit lokasi tenda putri, sampai ke ujung batas bumi perkemahan, karena terdapat batas-batas tertentu pada lokasi perkemahan ini, batas yang tidak boleh dilalui oleh siapapun kecuali ada yang mendesak dan didampingi petugas karena setahun kemudian aku akan menyaksikan peristiwa irrasional dimana aku melihat seorang peserta kemah melewati batas bersama petugas, batas yang diberi termasuk batas kanan, belakang dan samping kiri.
Malam hari, udara berubah menjadi dingin, setidaknya cukup dingin hingga membuat temanku keram dan memerlukan perawatan karena kakinya seakan mati rasa, tapi bagiku menjadi malam yang panas, karena aku harus kembali memakai peralatan untuk bersiap upacara, kabarnya upacara ini dinilai, tentu suasana yang terbangun lebih tegang dari biasanya, upacara pengukuhan ini, aku juga tidak tahu berbentuk seperti apa, yang aku prediksi akan lebih singkat dan mudah karena tidak berhadapan langsung dengan terik matahari.
Seperti biasa, selalu ada pembimbing dan beberapa orang yang dipersiapkan sebagai pengganti jika salah satu dari pasukan roboh /pingsan, yang unik adalah kami tidak boleh menolong rekan kami yang jatuh pingsan tersebut, bukan karena kami tidak sayang dan menjaga rekan, namun itu akan menambah daftar gerakan yang dilakukan pasukan kami, nilai satu orang pingsan memiliki bobot yang cukup besar, dengan pengurangan-pengurangan lain akan menjadika kami gugur dalam perebutan pemenang, selain itu jika kami diperbolehkan menangani langsung, pasti akan terdapat kepanikan pada pasukan kami sehingga dapat merubah fokus dan akhirnya tidak terkendali.
Malam itu, upacara dilakukan dengan minim pencahayaan, aku tidak dapat melihat prosesi pengukuhan tersebut, akhirnya fokusanku hanya satu bagaimana caranya aku bertahan, dan membaca doaa-doa, surat-surat pendek yang ku hafal dan dzikir, manurut pembimbing kami, jangan biarkan pikiranmu kosong, jangan sekali-kali, sebenarnya sebelum menuju kelapangan aku sempat mendengar suara seorang perempuan berteriak-teriak, seperti ia merasakan sakit yang sangat, tetapi aku mencoba menghiraukannya, jangan berpikiran apapun kecuali untuk upacara malam ini.
Hal yang mengejutkan prediksiku akan upacara ini salah besar, tidak singkat sama sekali, tidak juga mudah, terhitung dua puluh empat kali lagu syukur diputar berulang-ulang sebagai tanda pengukuhan, ternyata itu inti upacara ini, kaki kaki kami seluruhnya telah pegal-pegal, ingin bergerak kami ragu karena takut akan masuk ke penilaian, karena terlalu lama rekanku pingsan satu orang,
“eh...itu temennya pingsan, kok ga dibantuin sih?”, aku mendengar suara pasukan sebelah kiri, mereka ternyata sebagian besar sedang duduk-duduk santai seraya bercengkrama riang, kenapa bisa?, kami tidak ada yang menggubris masih dalam posisi semula dan pandangan lurus kedepan,
“eh..parah banget nih bonlap, itu temen kalian pingsan malah diam saja?”, baiklah aku mulai kesal, kenapa dia harus sekedar berbicara bukan dia saja yang menolong?
“eh..parah nih”, kami tetap tidak menggubris satu-satunya tanggapan adalah bisikan menyuruh kami untuk membiarkannya, karena kemudian pembimbing kami yang menolong rekan kami itu untuk dibawa ke belakang, dan posisi kami masih sama berdiri angkuh menyingsing cahaya dikejauhan.
Setelah makan malama dengan formasi sepiring berlima, kami bersiap untuk tidur, karena besok adalah hari lomba pertama, parade dan devile, parade itu upacara (lagi), devile adalah penghormatan kepada bupati bekasi yang dimulai dengan berkeliling jauh tujuannya hanya untuk menghidari terjadinya antrian, padahal devile hanya dinilai saat sesi penghormatannya saja, kurang dari satu menit, namun perjalanannya bisa mencapai satu jam.
Aku, yang hanya terpilih untuk lomba LKBB berdiri dibelakang sekana pemain bola dalam kursi cadangan, panas sangat terik, kemungkinan ada yang pingsan lagi hari ini sangat besar, terlebih bukan hanya kami yang tegap, pasukan lain juga, atmosfir lomba benar-benar terasa, pasti semuanya tegang, dan membuat mudah lemas, dan ya…benar saja, seorang pingsan, aku harus bersiap menggantikan, dengan hanya bersiap dengan menggunakan sarung tangan aku telah berada di barisan yang kosong, jadi pada dasarnya adalah aku tetap mengikuti tiga perlombaan sekaligus.
Saat upacara yang harus diperhatikan adalah empat, berdirilah tegap dengan muka angkuh, tatap yang berwarna hijau di kejauhan, jangan kerutkan dahi, dan jika ingin bergerak cukup gerakkan ibu jari kaki perlahan, dan waktu dua jam upacara bukanlah waktu yang sebentar, tiga terakhir dari empat prinsip tadi agaknya sedikit membantu melemaskan otot-otot yang sedari tadi menopang tubuh berdiri. Usai prosesi upacara berakhir, kami bersiap devile, setelah minum kami mengambil langkah start, cukup santai karena berjalan dengan aba-aba maju jalan, bukan langkah tegap maju, tetapi prinsip pertama untuk selalu menaikkan dagu harus tetap dipegang, menurut kakak kami ‘bagaimana musuh ingin gentar kalau melihat ‘musuhnya’ yang tidak meyakinkan’.
“Fitri…Fitri…”
Aku menutup telingan tetap fokus pada rekan di depanku, sepertinya ada yang memanggil dari arah samping kiri, bisa gawat kalau aku menengok pasti aku akan menyapa dengan tersenyum dan heboh sendiri, permasalahannya adalah aku membawa nama Bonlap, maaf ya kawan siapapun itu, aku akan menyapamu diluar lomba ini.
Podium semakin dekat, ternyata traffic jam tetap terjadi, sempat berhenti di beberapa titik kemacetan, tetapi menjadi satu keuntungan, lumayan bukankah kita bisa melemaskan otot-otot sementara sebelum kembali dititah ‘Majuuuu Jalan!’, dan ketika hampir memasuki podium suara-suara menjadi sangat riuh, penuh deretan mereka yang berpakaian batik rapi, dan menghadap ke arah kami, bertepuk tangan dan menanti penghormatan dari kami, dengan segala kericuhan, aku mencoba konsentrasi,
“Langkah tegap majuuuuu…Jalan!”, langkah kami menjadi seirama, suara pantopel ini dapat kudengar memantul dari aspal yang kami pijak, bersela diantara riuh suara-suara lain,
“Hormat Kanaaaaaaaaaaan..gerak!”, hormat kanan yang kami lakukan seraya langkah tegap, baris depan akan menengokkan kepalanya 90 derajat dan dibelakangnya akan menengok 45 derajat menuju titik pusat yakni penjuru di paling depan dan paling kanan, sehingga banjar kanan tidak perlu menengok, cukup hormat dengan pandangan lurus ke depan, seiring berlalunya riuh dan batas podium, lomba devilepun berakhir.
Biasanya dalam acara Pramuka, pada malam hari akan ada acara yang sangat dinanti yakni api unggun, peserta akan duduk melingkari sebuah api yang menyala dari kayu, ban bekas dan lain-lain, api yang menghangatkan dinyalakan oleh sebuah pasukan berobor yang terdiri dari 10 orang,saling menyalakan obor dimulai dari orang pertama yang melaporkan pasukan kepada inspektur unggun dan diberi api, seraya mengucap dasa dharma pramuka pertama
“Dasa Dharma, Pramuka itu, satu, Takwa kepada Tuhan Yang Maha Esa”, dan akan mengestafetkan pada orang kedua,
“Dua, Cinta alam dan kasih sayang sesama manusia”, menyerahkan kembali api pada orang ketiga,
“Tiga, Patriot yang sopan dan kesatria”, berhadapan searah jarum jam dan memberikan apinya pada orang keempat,
“Empat, Patuh dan suka bermusyawarah”, walau angin kencang, tetap menjaga agar api tidak padam,
“Lima, Rela menolong dan tabah”, api terus menyala dari satu obor ke obor lain,
“Enam, Rajin terampil dan gembira”
“Tujuh, Hemat, cermat dan bersahaja”
“Delapan, Disiplin berani dan setia”
“Sembilan, Bertanggungjawab dan dapat dipercaya”
“Sepuluh, Suci dalam pikiran, perkataan dan perbuatan”
Obor yang melingkari bakal api unggun, telah menyala kemudian mereka akan berteriak ,
“Rawe-rawe rantas, malam-malam putuh, bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh”,
dan ketika obor dilemparkan ke bakal api unggun, perlahan, api akan memakan kayu dan apa saja yang dilewatinya, seiring dengan perginya pasukan api unggung, maka acara unggun akan dimulai dengan persembahan panampilan dari tiap perwakilan peserta, segala atmosfir lomba dan persaingan hilang di sini, hilang bersama partikel bara yang terbawa angin, atau mungkin tepatnya hanya tertunda, pada tawa kami diantara senda gurau malam ini.
 Aku telah bersiap, lomba terakhir ini akan mejadi penutup perjalanan kami selama tiga hari di sini, lebih dari itu perjalanan latihan sebulan penuh itu, suasana lebih tegang dari dua hari sebelumnya, bahkan kakak-kakak kelas tiga tidak kalah tegang, danton yang nantinya akan memberika komando –Kak Mutia- mengulang-ulang kembali urutan yang akan menjadi pedoman bergerak kami nanti di lapangan, aku dan kawan-kawan lain saling menepuk pipi agar bangun dari mimpi, hanya untuk menambah konsentrasi, pasukan putra yang akan tampil setelah kami membantu kami bersiap, memberi minum, menyemangati, mendokumentasikan dan lain-lain.
Lomba dimulai dengan ketidaknyamanan, juri lomba telah emosi terlebih dahulu saat kami ingin tampil, menyuruh kami pindah tempat lomba, dan entah kenapa kami kena getah kemarahannya, menyuruh kami cepat naik ke atas bukit dengan rok payung yang membuat kami sulit menjangkau titik terjauh, pantopel yang kami kenakan juga membuat sulit berpijak semudah menggunakan sepatu bertali, juri tersebut masih semerta merta mengeluh dan mengomel, aku tidak mengerti ada apa sebenarnya, yang aku tahu aku hanya kesal karena ia tidak merasakan menggunakan rok seperti ini saat menaiki arena lomba berbukit seperti ini, coba saja!
Yang aku khawatirkan adalah, hal tersebut mempengaruhi mental kami, mental yang telah dibangun runtuh begitu saja akibat cercaan tadi, padahal kami tidak menyalahai apapun, namun daripada mengurusi peristiwa tadi lebih baik mencoba fokus pada aba-aba, karena suara musik dangdut terdengar sangat nyaring ditelinga, padahal ini sedang ada lomba yang menantang pendengaran dan konsentrasi kami, tetapi kenapa ada pengganggu seperti itu?
Lomba tetap berjalan, bagaimanapun keadaaannya, kami harus bertempur, dengan segala hal yang mulai tidak mengenakkan semenjak peristiwa juri emosi tadi, setelah komando Bubar jalan, lomba berakhir, aku menyambutnya dengan senyuman, namun kalian tahu apa yang aku saksikan?
Putri kelas tiga menangis!, aduh..ada apa ya?, mereka meriungkan satu orang yang menangis dan menepuk-nepukan bahunya berbicara seolah memberi ketenangan, dan aku masih tidak tahu apa yang terjadi, dan tiba-tiba ada angkatanku yang menangis juga,
“ kayaknya tadi ancur banget, gara-gara aku salah”, katanya seraya sesegukkan, air matanya terus mengalir, apa karena itu? Apa benar separah itu?
“udah, gapapa kok namanya juga belajar, lagian ga kamu doang kok yang salah aku juga salah, udah ga usah dipikirin, ga akan kembali diputar juga waktunya”, baiklah aku mulai mengerti sekarang
“takut, kalau kita ga juara gimana?”
Nampaknya aku memang harus benar-benar mengasah sensitifitasku, yang aku pikirkan adalah lombanya telah berakhir, tak ada yang harus di sesali karena tak akan mungkin kembali, namun aku masih kurang memikirkan satu lagi, ‘akankah tradisi juara minimal membawa satu piala Pramuka Nonlap akan terputus begitu saja ketika aku baru menginjakkan kakiku di Pramuka yang telah dibangun mereka sejak lama?’
Setelah putra tampil, upacara penutupan dimulai, meskipun tidak dinilai, upacara kali ini banyak dihadiri bahkan oleh mereka yang bukan peserta upacara, alasannya hanya satu mendengar pengumuman pemenang, usai upacara formal, kami dipersilahkan duduk, dan meminum air yang telah disediakan, waktu itu hari sudah sangat sore, udara begitu sejuk dan bersahabat namun udara ini tidak akan bertahan lama karena pengumuman lomba akan segera dimulai.
Satu persatu juara disebutkan, hatiku terus-terusan menclos akibat belumada satupun cabang lomba yang kaim menangkan, aku terdiam, berharap-harap cemas, setelah pengumuman parade devile kami lolos dari juara, lomba tersisa hanya LKBB, aku teringat peristiwa tadi, dan rasanya akan mustahil bagi pasukan putri, tetapi tampaknya putra berpeluang.
“Lomba LKBB Putri juara tiga jatuh pada SMA…..”, bukan kami, telingaku masih setia mendengarkan
“juara dua, SMA…..”, baiklah ini mulai tidak mengenakkan, botol ditanganku bahkan tak aku oper ke teman yang lain, yang sebenarnya juga pasti ingin minum,
“Juara pertama jatuh pada SMA…..”, baik aku hanya tersenyum kecut, sudah aku duga, seraya memberikan botol minum ke tangan lain, aku hanya membuang napasku.
“Lomba LKBB Putra, “
“eh..eh..LKBB Putra-LKBB Putra!”
“juara tiga, SMA….”,
“juara dua SMA….”, aku hanya berdoa ya Allah seraya menutup mata semoga juara satu! Satu! Satu!
“Juara pertama, SMA…..”, aku membuka mata, dan terkejut, bukan? Bukan pasukan putra kami? Mana mungkin? Jelas-jelas kami melihat lombanya dari awal dan pasukan putra kami lebih baik dari pasukan putra bahkan yang diumumkan menjadi pemenang! Tidak tidak mungkin!, aku bisa mentolerir pasukan putri tapi tidak untuk putra!.
Dengan segala ketidakpercayaan itu kami dikumpulkan oleh kakak-kakak alumni, aku tidak dapat mendengarnya dengan jelas, tetapi pasti menyemangati kami, sesungguhnya aku hanya tidak percaya bukan sedih karena aku menyadari setiap kompetisi pasti berujung seperti ini, ada yang kalah dan menang, namun yang kalah bukan berarti sepenuhnya kalah bukan?, namun disela-sela berkumpul itu, salah seorang dari pasukan putra sesegukkan, aku terkejut, ‘ternyata aku memang tidak sensitif’, setelah sesegukkan pertama, mulai merambat ke yang lain, nah loh? Ini kenapa jadi menangis semua? Aku hanya mencoba mengerti mengapa mereka menangis, padahal aku menganggap ini wajar, ternyata aku baru kembali menyadari, bahwa untuk mencapai kesini, aku telah menghabiskan waktuku di tempat latihan, berpanas-panas, push up entah sudah berapa kali, latihan PBB dari hal yang paling dasar yakni berdiri, dispen kelas seharian, minum satu botol mineral untuk 30 orang, makan satu piring berlima, membeli peralatan lomba, dan waktu sebulan itu bukan waktu yang singkat menghabiskannya hanya dengan latihan PBB setiap hari, namun itu telah mengeratkan kami satu sama lain, pasti terlalu banyak yang dikorbankan untuk bisa mencapai kesini termasuk kurang istirahat dan lain-lain, aku sekarang mengerti kenapa mereka menangis, belum lagi tradisi itu akan terputus pada kami, pada diriku dan teman-teman kelas satu yang baru datang dan sudah mengalami kegagalan mendapat kenangan manis dengan pulang tanpa apapun. Kini aku bergabung dengan mereka.
Acara itu sangat menyiksa, ucapan motivasi kakak alumni malah menambah tangis kami, sampai dibacakannya doa kami masih sesegukkan, dalam hening doa itu kami semua dikejutkan dengan panggilan  bagi sekolah kami, akhirnya salah seorang putra memenuhi panggilan tersebut, sementara kami tetap sibuk menghapus sisa-sisa air mata dan menghibur satu sama lain untuk berhenti menangis, tiba-tiba, posisi kami sekarang menjadi sujud langsung menghadap tanah lapangan dihadapanku ini, tangis kami kembali pecah namun dengan senyum bahagia pada masing-masing diantara kami, sungguh sebuah rahmat Allah yang tak akan pernah ku lupakan, pengumuman itu mengubah suasana hati dan pikiran kami saat itu.
“Pasukan LKBB Putra Juara Satu!”
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
“ya Allah inget banget, kangen kalau inget itu, kangen banget, piala pertama kita”
“pasukan putra”
“sama ajalah..hehehe”
“perjuangan banget ya, tapi seperti kehilangan rasa lelah setelah denger kita juara”
“bener banget, eh..yang itu pasukan LKBB aja kan yang juara katanya parade devile juga?”
“itu kan yang lomba 17 Agustus, Cibarusahkan sampai tanggal 14”
“oh iya yang di Pemda ya?, eh..isal mana nih, udah mau jam 12”
“iya…mana isal? Ibuy beneran ga ikut?”
“ga mau mih, gimana dong, masa Bantara nanti putranya Cuma satu?”, aku berpikir aduh kasihan juga ketua angkatan yang satu itu,
“kayaknya maksa juga ga ada gunanya sekarang, udah jam segini, yang penting kita berjuang buat pelantikan satu lagi, Bantara!”

Bukan Hati Dinegosiasi

Dalam kedamaian diam pengelana
Janjinya hanya satu, fatamorgana
Tak seketika jatuh, pasrah
hanya tengadah dalam takdir

Hatinya mungkin sakit, sayang
Penawarnya hanya satu
Satu, yang secara abstraksi hilang..
Debu, dalam temaram

Dirinya mungkin bisa kuat
Membuka tabir kenangan biru
Yang mati termakan kutu buku
Penuh aksara kuno

Tapi, bukankah hati tidak bisa dinegosiasi?