Aku, Pramuka dan Kenangan Pertama
Ini
hari pertamaku sekolah SMA, sehari pasca peresmian sekaligus tanda Masa
Orientasi Sekolah yang mendebarkan itu berakhir , aroma yang ku hirup mulai
berbeda dan seluruh prediksi kehidupan anak SMA saat dahulu masih di SMP masih
terus membayangi, namun hanya satu kalimat yang terlintas dalam benakku saat
ini..’ayo kapan dispen?’
“permisi
pak, mau memanggil Fitri Suryani, Tanti Setiani, Bona Revano sama Yohanes
Christian buat dispensasi hari ini”
Yes!,
aku tahu waktu ini akan datang!
Seragam
putih-putih dengan topi dan dasi SMA yang bergaris kuning rapiku kenakan,
nampaknya pak matahari sedang sangat bergembira hari ini karena dengan senang
hati ia memancarkan sinarnya, begitu terik dan tak memperbolehkan bu awan untuk
bertengger disinggasananya. Tetapi kami anak-anak baru dalam balutan seragam
kaku ini seakan menantangnya, berkumpul di tengah lapangan basket yang tidak
serata lapangan voli karena konsepnya yang seperti di asphalt kasar, lapangan
yang satu-satunya merupakan lapangan dengan terali besi kawat dan hanya
memiliki dua pintu akses masuk setinggi
pintu rumahmu dalam ukuran standar, ‘seperti dalam sangkar’.
“pimpinan
saya ambil alih, seluruhnya SIAAAAPPP GERAK!”
Akhirnya
dimulai juga, tiga mata pelajaran hari ini akan kugadaikan dengan latihan
baris-berbaris, karena latihan kami tidak akan berakhir sebelum matahari
tenggelam kecuali break shalat ashar dan istirahat dalam komando terpusat,
sebenarnya mulai pukul 08.00 tadi pagi latihan sudah berjalan dan teman-temanku
yang berada di kelas wawasan internasional juga telah mengorbankan seluruh
jadwal mata pelajarannya hari ini, kami anak regular juga tidak mau kalah!
Lomba
semakin dekat, dengan berbasis sumber daya manusia yang berbeda latar belakang,
latihan intensif seperti ini seharusnya sudah dilakukan satu bulan lalu sejak
baru perekrutan, sayang…kami harus menunggu sampai satu minggu sebelum lomba,
aku harus merelakan jadwal sekolahku satu minggu ini, tapi tidak untuk tugas
dan ulangan, lomba telah di depan mata membawa nama sekolah dan beban
kehormatan sebagai langganan juara.
Aku
ada pada barisan ke 8 banjar ke dua, ya lumayan sebagai anak dengan
ketidakbakatan soal tinggi badan, barisan kami disusun berdasarkan tinggi, yang
tertinggi akan menduduki singgasana sebagai penjuru yakni barisan pertama
banjar pertama,pasukan dipisah antara pleton
putra dan putri, satu pleton ada 30 orang, 10 baris dan 3 banjar, itu
berarti yang menjadi putri mungil akan berada pada barisan paling kanan dan
banjar tiga.
“tiap-tiap
banjar dua kali belok kanan….jalan!”
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
“kangen
banget sama rekrutaaaannn!!!!”
“kangen
dispen”
“kangen
23”
“kangen
22”
Sesaat
mata kami saling bertemu, menahan kalimat selanjutnya, sepertinya ada pemikiran
yang sama atas persepsi dua angka diatas, ‘22’
“masih
inget ga kita utang sama ka ba’am?”, tak ada suara hanya ringisan dan anggukan
yang menjadi respon kami semua
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
“kalian
minta berapa menit?”
Krik..krik..krik…
“butuh
berapa menit? Kelas 2!”
Mataku
hanya lurus kedepan, memandang kaku ke bahu temanku di banjar pertama, tidak
berani tersenyum, tidak berani bergerak apalagi tertawa, melirikpun rasanya
ragu, beruntung yang ditanya kelas dua, beginilah asyiknya menjadi anak kelas
satu, masih punya kemakluman berpangku tangan, ayo kakak-kakak kelas dua…yang penting
kita sholat, kami mengandalkanmu, jadilah bijak, hwaiting!…
“berapa?
15 menit ya?!”
“siap
tiga puluh menit ka!”
“lama
banget!, cukup kali lima belas menit, biasanya juga lima menit…”
“siap
ga cukup ka, tiga puluh menit ka!”
Zzzz..dialog
yang berkepanjangan..pasnya aja deeehhhh…
“belum
dicoba juga, 20 menit!, telat satu menit 1 seri ya”
Sekitar
2 menit belum ada negosiasi lebih lanjut dari kelas dua, kalimat terakhir tadi
menjadi monolog yang menggantung, kelas satu hanya bisa harap-harap cemas
menghitung tawaran tadi dan kemungkinan push up yang akan dilakukan karena
telat.
“gimana?
20 menit tuh, sudah dikasih lebih”, monolog masih menggantung, aku hanya
berharap ‘jangan ka..lumayan nih kalau push up, lapangan GOR kan konblok semua’
“siap
iya ka!”, bagus..
“ambil
alih kelas dua!”
“Pimpinan
saya ambil alih..siap gerak, hadap kiri gerak, dari banjar paling kanan, maju
jalan!”
Apapun
yang terjadi ibadah tetap prioritas utama, meskipun terjebak dilema, putra dan
putinya tetap shalat berjamaah, beruntung para stakeholder 23 telah mewakili
dua agama dan yang mewakili agama islam adalah anak Rohis SMA,rasanya seperti
penerang dalam kehidupan yang seperti ‘ini’.
“ka…gimana
waktunya?”, yang ditanya hanya tertawa miris,
“hahaha..siap-siap
push up ya!”
Baiklah,
aku sangat maklum..
Kami
berlari sampai di samping Gelanggang Olahraga dan merapihkan barisan di sana
sebelum menjumpai kakak-kakak kelas tiga, sebuah siasat agar tidak terlalu lama
mengulur waktu, karena kalau kami berlari tak beraturan di depan mereka, bisa
lebih gawat, baiklah sudah berapa menit kami telat? Aku harus mempersiapkan
diri sebelum mendapatkan hadiahnya.
“berhenti
gerak, hadap kiri..gerak, istirahat di tempat gerak..siap sudah ka!”
“sudah?”
“siap
iya ka!”
Kakak
didepan kami yang berperwakan tegap, kulit cukup hitam dan berhidung mancung
bermata tajam itu mendekati barisan kami yang digabung pleton putra-putri
tetapi masih ada pembatas sehingga tidak bercampur antara barisnya jadi jika
dihitung lebih dari 70 orang ada di barisan ini, karena kelas satu lebih dari
60 orang dan kelas dua lebih dari 10 orang, satu lawan banyak, tetapi tampaknya
tetap satu yang akan menguasai yang banyak.
Dia
berjalan seraya melihat jam tangan yang melingkar di tangan kirinya, dengan
serta merta bersuara :
“telat
18 menit”
Gleekkk
“konsekuensinya
tadi satu menit 1 serikan?”
“siap
iya ka!”
“ya..pimpinan
saya ambil alih..hadap serong kiri gerak, silahkan turun! Satu!”
“satu!”
“dua!”
“dua!”
Kami
seperti belajar berhitung kembali, dan dengan patuhnya mengikuti komando kakak
tersebut, salah juga membuat kesepakatan, tapi konsekuensi memang sudah
tersepakati jadi harus dijalankan, anehnya saat itu, meskipun sudah mencapai
angka seratus, kami masih berbicara “siap tidak ka!” saat ditanya ‘’capek ga?’’
dan bagiku selama dikanan-kiriku masih ada teman-teman kami memikul konsekuensi
ini bersama-sama.
“seratus
tiga puluh!”
“seratus
tiga puluh!”
“capek
ga?”
“siap
tidak ka!”
“bener?
Masih sanggup ga? Sanggup-sanggup nanti pingsan lagi!”, kembali monolog
“mau
diterusin atau nanti aja?”, masih monolog
“bilang
aja kalau ga kuat!”
Pernyataan
yang membuat dilema, kalau kita bilang ga kuat sepertinya akan dianggap
‘mengeluh’ kalau bilang kuat, kasihan putranya, dengan posisi push up yang
seperti itu pasti sangat sangat kelelahan.
“siap
ga kuat ka!”
“naik!”
“siap
makasih ka!”, wah…hadiahnya selesai? Tidak sampai akhir? sepertinya kakak itu terserang
wabah malaikat putih, jarang-jarang kalimat itu tidak menjadi senjata untuk
menambah hukuman lagi, biasanya karena dianggap mengeluh hadiah lebih berat
menanti di pelupuk mata.
“masih
utang 5 seri ya sama saya!”, -_-“
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Sambil
memakan nasi padang yang berharga Rp 5000,00 yang dibeli di dekat rumah Nita,
laptop masih menyala memutar kenangan perjalanan kami lewat gambar yang menjadi
saksi bisu.
“terus
kita mau bayar utang kapan ya?”
“rasa-rasanya
sekarang waktunya tepat banget kalau sampai ditagih soal utang…”
“ya
lihat nanti aja, eh..kita waktu itu juara apa aja sih?”
“waktu
apa?”
“itu..Cibarusah,
parade deville…”
“oh…LKBB
putra, parade, deville..”
“iya..yang
sampai nangis bareng-bareng itu kan?”,
“eh..iya
bener-bener-bener”
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Hari
itu, lebih sibuk dari hari manapun semenjak kami latihan, hari paling tegang
sepanjang satu bulan ini, kami pernah merasakan tegangnya waktu pertama kali
dipimpin kakak kelas tiga, pernah merasakan tegangnya saat ditegur kakak kelas
dua akibat pleton yang tidak lengkap, atau aku yang bahkan mati rasa saat ingat
ada ulangan sosiologi dan ijin di tengah-tengah latihan menjadi seorang asing
dikelas. Tapi, hari ini adalah hari terakhir kami dapat tertawa dan bercanda di
sela keseriusan berlatih, karena besok hari lomba telah tiba.
H-Jam,
begitu kami menyebutnya.
Kelihatan
semua wajah menjadi sibuk sana-sini terutama kelas tiga dan dua, kelas tiga
sibuk atur strategi terbaik menjelang lomba, barisan kami untuk kesekian
kalinya direshuffle ,mencocokkan tinggi satu sama lain, memilih pasukan inti
untuk LKBB dan menghimpun pasukan dengan format berbeda untuk parade devile, pasukan
LKBB ini memang tidak direvisi banyak karena materi PBB –peraturan
baris-berbaris- yang lebih kompleks sehingga telah lebih dipersiapkan,
sedangkan parade dan devile hanya menjalankan 12 PBB dasar. Kakak kelas dua
terbagi dua fokus, sebagian latihan sebagian lainnya menyiapkan atribut untuk
keperluan besok, mendata atribut kami, apa yang kurang, menyiapkan baju
kebangsaan saat akan lomba yakni baju ‘katrina’, mendata keperluan teknis lain,
tenda, alat ransportasi, mengingatkan untuk membawa bahan makanan, kompor, dan
alat pribadi lain pada semua yang akan menjadi peserta lomba tahun ini dari
SMAku.
Aku
terpilih di pasukan inti LKBB – Lomba Ketangkasan Baris-berbaris-, namun aku
harus tetap bersiap pula jika harus masuk pada pasukan parade atau devile,
mengantisipasi rekanku jika ada yang pingsan, ini tidak mustahil mengingat
mengikuti upacara berdiri tanpa gerakan selain yang dikomandokan akan sangat
menyebalkan dan membosankan, terik matahari menjadi lawan yang terkadang
membuat mata sedikit menyipit dan membuat dahi berkerut sehingga lama-kelamaan
akan menyebabkan pening, didukung dengan badan yang suhunya meningkat, sangat
mungkin untuk membuat seseorang pingsan.
Maghrib,
adalah yang memberhentikan kegiatan ini, berhenti bagi kami kelas satu,
entahlah bagi kelas dua dan tiga, nampaknya masih ada yang harus dipersiapkan,
yang jelas bagi kami anak kelas satu, pulang, istirahat setengah 6 pagi sudah
ada di belakang GOR, nampaknya malam ini akan menjadi malam yang singkat
saudara-saudara…
Baiklah
aku berdebar, rasanya aku ingin meledak, besok adalah hari perlombaan di bumi
asing bernama Bumi Perkemahan Cibarusah, Cibarusah, tempat asing yang selalu
menjadi kata dalam lagu kami saat lari pemanasan latihan,sebenarnya itu lagu
Halo-halo Bandung yang dibelokkan sedikit, tapi selalu membuat kami semangat
menantang lomba itu, lagu yang juga diolah mengikuti situasi :
Halo cibarusah ibukota bojongmangu..halo
cibarusah, kota kenang2an. Sudah lama bonlap tidak berjumpa dengan kau, dahulu
bonlap juara satu devile sekarang juara lagi
Nampaknya
matahari segera ingin muncul hari ini, setengah 6 pagi, belakang GOR ternyata
sudah penuh hiruk pikuk, mempersiapkan segala sesuatunya, di hari-H ini kami
akan melakukan gladi resik terlebih dahulu, setelah reshuffle kemarin aku
berada pada baris tiga dari belakang dan menjadi banjar ketiga, ada yang istimewa setiap akan melakukan gladi,
yakni setiap atribut yang akan dipakai untuk lomba dikenakan secara lengkap,
pasukan putri akan tampil dengan rok berbentuk payung, sepatu pantopel,
setangan leher, talikur, rimba, sarung tangan, dan kerudung coklat yang rapi
dimasukkan ke dalam baju pramuka istimewa, yakni Katrina, baju kebesaran kami,
dipakai hanya saat lomba dan merupakan inventaris turun temurun, bajunya
berbahan halus dan jika dipakai akan pas dibadan (tetapi tetap lebih jika
putri), putra juga mereka akan tampil dengan semua atribut yang sama dengan
pasukan putri, yang berbeda adalah mereka memakai baret pada kepalanya, percaya
atau tidak, saat telah bersiap dengan seluruh peralatan, semangat kami menjadi
terpompa berkali-kali lipat, ketika itu, pandangan, telinga, pikiran semua
terkonsentrasi pada tiga hal yakni, komando yang diberikan dan situasi baris
dan banjar agar selurus mungkin, yang ketiga adalah selalu berdoa semoga
melakukan yang terbaik.
Pasukan
kami berangkat sekitar pukul 7.30 pagi, menurut kakak-kakak yang telah
melakukan perjalananan ini sebelumnya, letak Cibarusah ini memang jauh, diujung
Bekasi, begitu mereka menyebutnya, bagi kami yang baru melakukan perjalanan
tentu menduga-duga seperti apa tempat bumi perkemahan Cibarusah itu, namun
daripada pusing berpikir megenai tempat yang akan menjadi tempat hisup kami sementara
itu, lebih baik kami membantu putranya menaikkan barang ke dalam truk yang akan
membawa kami, satu lagi yang menarik perhatianku adalah, disini putra di
treatment lebih selain sebagai dirinya juga pelindung bagi putri hampir dalam
semua hal, seperti pada saat kami naik kendaraan ini, putra yang akan menaikkan
barang-barang, kami mebantu dari bawah menyerahkan tas-tas dan lain-lain,
kemudian tempat nyaman untuk bertahan di truk semua didahulukan untuk putri,
tanpa disadari, saat latihan juga seperti itu, mungkin itu bagian dari adat
atau memang itulah tugas seorang putra sebenarnya?.
Dengan
truk tertutup dan bersaing tempat nyaman dengan setumpuk barang-barang, seperti
tenda, patok, toya (tongkat), tas, alat memasak dan kawan-kawannya (terbayang
betapa padatnya di dalam satu truk), kami memulai perjalanan kami dengan
berdoa, mengisinya dengan bercengkrama, dan bernyanyi, menanti berapa lama kami
akan sampai pada tempat tujuan, aku berada di depan bak truk, sangat di depan
di dekat bagian yang terbuka, duduk diatas tas-tas dan berpegangan erat ke besi
yang ada di hadapanku, rasanya lama sekali, jika kau merasakan ada di sana,
kamu akan merasa berada dalam mesin penghangat dengan suhu 40 derajat (baik ini
berlebihan) tetapi memang seperti kekurangan oksigen akibat terlalu banyak yang
saling berebut oksigen dalam truk tertutup seperti ini, hampir seratus orang,
dapat dibayangkan, dapat dibayangkan.
Sekitar
pukul 13.00 wib, kami sampai, baiklah ini sangat lama, dan saat aku turun,
tempat yang disajikan adalah bukit, dengan pepohonan yang ranggas, rerumputan,
matahari terik, dan jurang di kanan dan kiri sebelum mencapai bukit
selanjutnya, baik..nampaknya aku tidak heran kakak-kakak menyebutnya ujung
Bekasi, karena upacara pembukaan segera dimulai, setelah memindahkan
barang-barang ke tempat lokasi tenda putri (karena belum sempat memindahkannya
ke tempat tenda putra yang letaknya lebih jauh) semua pasukan -yang tidak tahu
di range bagaimana karena yang paling banyak turun kelas 1 -_-“- bersiap
mengikuti upacara dan yang lainnya mendirikan tenda, melakukan beberapa
persiapan seperti memasak dsn lainnya, upacara ini belum penilaian tetapi
mewajibkan peserta mengikuti, jadi suasanannya tidak terlalu tegang, bahkan
dalam pasukan sebenarnya kami bisa sedikit melakukan pelemasan, namun namanya
kelas satu, kami berlaga seperti ini sedang penilaian, menurut kami ini juga
bagian dari latihan adapatasi menaklukan sinar terik matahari.
Usai
upacara, shalat, membereskaan tenda, atau sekedar berkeliling memang menjadi
kegiatan kami, lomba baru akan dimulai esok hari, namun sore ini aka nada
upacara pengukuhan pasukan pengibar bendera dari gabungan pramuka se Bekasi,
dan nampaknya aku akan ikut lagi upacara malam ini, maka dari itu refreshing
perlu juga dilakukan, berkeliling menjadi hal yang menarik.
Ternyata
bumi perkemahan ini sangat luas, lapangan tempat aku upacara tadi berada pada
bagian depannya, dibuat dengan mendatarkan bukit tersebut, dan sangat rendah
dengan tanah diatasnya yang digunakan sebagai tempat mendirikan bangunan bagi
tamu kehormatan yang hadir, sekaligus tempat inspektur upacara dan nantinya
akan digunakan sebagai pengukuhan pasukan pengibar bendera tersebut. Dibelakang lapangan adalah lokasi tenda
putri, mulai tidak rata dan agak kesamping terdapat jurang, tepatnya di sebelah
kiri jika menghadap ke lapangan utama, sangat menguntungkan karena tenda putri
kami sedikit ketengah, sehingga cukup aman, di belakang lokasi tenda putri, di
bukit yang menurun itu lokasi tenda putra, luas sekali jika kamu memandang dari
atas bukit lokasi tenda putri, sampai ke ujung batas bumi perkemahan, karena
terdapat batas-batas tertentu pada lokasi perkemahan ini, batas yang tidak
boleh dilalui oleh siapapun kecuali ada yang mendesak dan didampingi petugas
karena setahun kemudian aku akan menyaksikan peristiwa irrasional dimana aku
melihat seorang peserta kemah melewati batas bersama petugas, batas yang diberi
termasuk batas kanan, belakang dan samping kiri.
Malam
hari, udara berubah menjadi dingin, setidaknya cukup dingin hingga membuat
temanku keram dan memerlukan perawatan karena kakinya seakan mati rasa, tapi
bagiku menjadi malam yang panas, karena aku harus kembali memakai peralatan
untuk bersiap upacara, kabarnya upacara ini dinilai, tentu suasana yang
terbangun lebih tegang dari biasanya, upacara pengukuhan ini, aku juga tidak
tahu berbentuk seperti apa, yang aku prediksi akan lebih singkat dan mudah
karena tidak berhadapan langsung dengan terik matahari.
Seperti
biasa, selalu ada pembimbing dan beberapa orang yang dipersiapkan sebagai
pengganti jika salah satu dari pasukan roboh /pingsan, yang unik adalah kami
tidak boleh menolong rekan kami yang jatuh pingsan tersebut, bukan karena kami
tidak sayang dan menjaga rekan, namun itu akan menambah daftar gerakan yang
dilakukan pasukan kami, nilai satu orang pingsan memiliki bobot yang cukup
besar, dengan pengurangan-pengurangan lain akan menjadika kami gugur dalam
perebutan pemenang, selain itu jika kami diperbolehkan menangani langsung,
pasti akan terdapat kepanikan pada pasukan kami sehingga dapat merubah fokus
dan akhirnya tidak terkendali.
Malam
itu, upacara dilakukan dengan minim pencahayaan, aku tidak dapat melihat
prosesi pengukuhan tersebut, akhirnya fokusanku hanya satu bagaimana caranya
aku bertahan, dan membaca doaa-doa, surat-surat pendek yang ku hafal dan
dzikir, manurut pembimbing kami, jangan biarkan pikiranmu kosong, jangan
sekali-kali, sebenarnya sebelum menuju kelapangan aku sempat mendengar suara
seorang perempuan berteriak-teriak, seperti ia merasakan sakit yang sangat,
tetapi aku mencoba menghiraukannya, jangan berpikiran apapun kecuali untuk
upacara malam ini.
Hal
yang mengejutkan prediksiku akan upacara ini salah besar, tidak singkat sama
sekali, tidak juga mudah, terhitung dua puluh empat kali lagu syukur diputar
berulang-ulang sebagai tanda pengukuhan, ternyata itu inti upacara ini, kaki
kaki kami seluruhnya telah pegal-pegal, ingin bergerak kami ragu karena takut
akan masuk ke penilaian, karena terlalu lama rekanku pingsan satu orang,
“eh...itu
temennya pingsan, kok ga dibantuin sih?”, aku mendengar suara pasukan sebelah
kiri, mereka ternyata sebagian besar sedang duduk-duduk santai seraya
bercengkrama riang, kenapa bisa?, kami tidak ada yang menggubris masih dalam
posisi semula dan pandangan lurus kedepan,
“eh..parah
banget nih bonlap, itu temen kalian pingsan malah diam saja?”, baiklah aku
mulai kesal, kenapa dia harus sekedar berbicara bukan dia saja yang menolong?
“eh..parah
nih”, kami tetap tidak menggubris satu-satunya tanggapan adalah bisikan
menyuruh kami untuk membiarkannya, karena kemudian pembimbing kami yang
menolong rekan kami itu untuk dibawa ke belakang, dan posisi kami masih sama
berdiri angkuh menyingsing cahaya dikejauhan.
Setelah
makan malama dengan formasi sepiring berlima, kami bersiap untuk tidur, karena
besok adalah hari lomba pertama, parade dan devile, parade itu upacara (lagi),
devile adalah penghormatan kepada bupati bekasi yang dimulai dengan berkeliling
jauh tujuannya hanya untuk menghidari terjadinya antrian, padahal devile hanya
dinilai saat sesi penghormatannya saja, kurang dari satu menit, namun
perjalanannya bisa mencapai satu jam.
Aku,
yang hanya terpilih untuk lomba LKBB berdiri dibelakang sekana pemain bola
dalam kursi cadangan, panas sangat terik, kemungkinan ada yang pingsan lagi
hari ini sangat besar, terlebih bukan hanya kami yang tegap, pasukan lain juga,
atmosfir lomba benar-benar terasa, pasti semuanya tegang, dan membuat mudah
lemas, dan ya…benar saja, seorang pingsan, aku harus bersiap menggantikan,
dengan hanya bersiap dengan menggunakan sarung tangan aku telah berada di
barisan yang kosong, jadi pada dasarnya adalah aku tetap mengikuti tiga
perlombaan sekaligus.
Saat
upacara yang harus diperhatikan adalah empat, berdirilah tegap dengan muka
angkuh, tatap yang berwarna hijau di kejauhan, jangan kerutkan dahi, dan jika
ingin bergerak cukup gerakkan ibu jari kaki perlahan, dan waktu dua jam upacara
bukanlah waktu yang sebentar, tiga terakhir dari empat prinsip tadi agaknya
sedikit membantu melemaskan otot-otot yang sedari tadi menopang tubuh berdiri.
Usai prosesi upacara berakhir, kami bersiap devile, setelah minum kami
mengambil langkah start, cukup santai karena berjalan dengan aba-aba maju
jalan, bukan langkah tegap maju, tetapi prinsip pertama untuk selalu menaikkan
dagu harus tetap dipegang, menurut kakak kami ‘bagaimana musuh ingin gentar
kalau melihat ‘musuhnya’ yang tidak meyakinkan’.
“Fitri…Fitri…”
Aku
menutup telingan tetap fokus pada rekan di depanku, sepertinya ada yang
memanggil dari arah samping kiri, bisa gawat kalau aku menengok pasti aku akan
menyapa dengan tersenyum dan heboh sendiri, permasalahannya adalah aku membawa
nama Bonlap, maaf ya kawan siapapun itu, aku akan menyapamu diluar lomba ini.
Podium
semakin dekat, ternyata traffic jam tetap terjadi, sempat berhenti di beberapa
titik kemacetan, tetapi menjadi satu keuntungan, lumayan bukankah kita bisa melemaskan
otot-otot sementara sebelum kembali dititah ‘Majuuuu Jalan!’, dan ketika hampir
memasuki podium suara-suara menjadi sangat riuh, penuh deretan mereka yang
berpakaian batik rapi, dan menghadap ke arah kami, bertepuk tangan dan menanti
penghormatan dari kami, dengan segala kericuhan, aku mencoba konsentrasi,
“Langkah
tegap majuuuuu…Jalan!”, langkah kami menjadi seirama, suara pantopel ini dapat
kudengar memantul dari aspal yang kami pijak, bersela diantara riuh suara-suara
lain,
“Hormat
Kanaaaaaaaaaaan..gerak!”, hormat kanan yang kami lakukan seraya langkah tegap,
baris depan akan menengokkan kepalanya 90 derajat dan dibelakangnya akan
menengok 45 derajat menuju titik pusat yakni penjuru di paling depan dan paling
kanan, sehingga banjar kanan tidak perlu menengok, cukup hormat dengan
pandangan lurus ke depan, seiring berlalunya riuh dan batas podium, lomba
devilepun berakhir.
Biasanya
dalam acara Pramuka, pada malam hari akan ada acara yang sangat dinanti yakni
api unggun, peserta akan duduk melingkari sebuah api yang menyala dari kayu,
ban bekas dan lain-lain, api yang menghangatkan dinyalakan oleh sebuah pasukan
berobor yang terdiri dari 10 orang,saling menyalakan obor dimulai dari orang
pertama yang melaporkan pasukan kepada inspektur unggun dan diberi api, seraya
mengucap dasa dharma pramuka pertama
“Dasa
Dharma, Pramuka itu, satu, Takwa kepada Tuhan Yang Maha Esa”, dan akan
mengestafetkan pada orang kedua,
“Dua,
Cinta alam dan kasih sayang sesama manusia”, menyerahkan kembali api pada orang
ketiga,
“Tiga,
Patriot yang sopan dan kesatria”, berhadapan searah jarum jam dan memberikan
apinya pada orang keempat,
“Empat,
Patuh dan suka bermusyawarah”, walau angin kencang, tetap menjaga agar api
tidak padam,
“Lima,
Rela menolong dan tabah”, api terus menyala dari satu obor ke obor lain,
“Enam,
Rajin terampil dan gembira”
“Tujuh,
Hemat, cermat dan bersahaja”
“Delapan,
Disiplin berani dan setia”
“Sembilan,
Bertanggungjawab dan dapat dipercaya”
“Sepuluh,
Suci dalam pikiran, perkataan dan perbuatan”
Obor
yang melingkari bakal api unggun, telah menyala kemudian mereka akan berteriak
,
“Rawe-rawe
rantas, malam-malam putuh, bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh”,
dan
ketika obor dilemparkan ke bakal api unggun, perlahan, api akan memakan kayu
dan apa saja yang dilewatinya, seiring dengan perginya pasukan api unggung,
maka acara unggun akan dimulai dengan persembahan panampilan dari tiap
perwakilan peserta, segala atmosfir lomba dan persaingan hilang di sini, hilang
bersama partikel bara yang terbawa angin, atau mungkin tepatnya hanya tertunda,
pada tawa kami diantara senda gurau malam ini.
Aku telah bersiap, lomba terakhir ini akan
mejadi penutup perjalanan kami selama tiga hari di sini, lebih dari itu
perjalanan latihan sebulan penuh itu, suasana lebih tegang dari dua hari
sebelumnya, bahkan kakak-kakak kelas tiga tidak kalah tegang, danton yang
nantinya akan memberika komando –Kak Mutia- mengulang-ulang kembali urutan yang
akan menjadi pedoman bergerak kami nanti di lapangan, aku dan kawan-kawan lain
saling menepuk pipi agar bangun dari mimpi, hanya untuk menambah konsentrasi,
pasukan putra yang akan tampil setelah kami membantu kami bersiap, memberi
minum, menyemangati, mendokumentasikan dan lain-lain.
Lomba
dimulai dengan ketidaknyamanan, juri lomba telah emosi terlebih dahulu saat
kami ingin tampil, menyuruh kami pindah tempat lomba, dan entah kenapa kami
kena getah kemarahannya, menyuruh kami cepat naik ke atas bukit dengan rok
payung yang membuat kami sulit menjangkau titik terjauh, pantopel yang kami
kenakan juga membuat sulit berpijak semudah menggunakan sepatu bertali, juri
tersebut masih semerta merta mengeluh dan mengomel, aku tidak mengerti ada apa
sebenarnya, yang aku tahu aku hanya kesal karena ia tidak merasakan menggunakan
rok seperti ini saat menaiki arena lomba berbukit seperti ini, coba saja!
Yang
aku khawatirkan adalah, hal tersebut mempengaruhi mental kami, mental yang
telah dibangun runtuh begitu saja akibat cercaan tadi, padahal kami tidak
menyalahai apapun, namun daripada mengurusi peristiwa tadi lebih baik mencoba
fokus pada aba-aba, karena suara musik dangdut terdengar sangat nyaring
ditelinga, padahal ini sedang ada lomba yang menantang pendengaran dan
konsentrasi kami, tetapi kenapa ada pengganggu seperti itu?
Lomba
tetap berjalan, bagaimanapun keadaaannya, kami harus bertempur, dengan segala
hal yang mulai tidak mengenakkan semenjak peristiwa juri emosi tadi, setelah
komando Bubar jalan, lomba berakhir, aku menyambutnya dengan senyuman, namun
kalian tahu apa yang aku saksikan?
Putri
kelas tiga menangis!, aduh..ada apa ya?, mereka meriungkan satu orang yang
menangis dan menepuk-nepukan bahunya berbicara seolah memberi ketenangan, dan
aku masih tidak tahu apa yang terjadi, dan tiba-tiba ada angkatanku yang
menangis juga,
“
kayaknya tadi ancur banget, gara-gara aku salah”, katanya seraya sesegukkan,
air matanya terus mengalir, apa karena itu? Apa benar separah itu?
“udah,
gapapa kok namanya juga belajar, lagian ga kamu doang kok yang salah aku juga
salah, udah ga usah dipikirin, ga akan kembali diputar juga waktunya”, baiklah
aku mulai mengerti sekarang
“takut,
kalau kita ga juara gimana?”
Nampaknya
aku memang harus benar-benar mengasah sensitifitasku, yang aku pikirkan adalah
lombanya telah berakhir, tak ada yang harus di sesali karena tak akan mungkin
kembali, namun aku masih kurang memikirkan satu lagi, ‘akankah tradisi juara
minimal membawa satu piala Pramuka Nonlap akan terputus begitu saja ketika aku
baru menginjakkan kakiku di Pramuka yang telah dibangun mereka sejak lama?’
Setelah
putra tampil, upacara penutupan dimulai, meskipun tidak dinilai, upacara kali
ini banyak dihadiri bahkan oleh mereka yang bukan peserta upacara, alasannya
hanya satu mendengar pengumuman pemenang, usai upacara formal, kami
dipersilahkan duduk, dan meminum air yang telah disediakan, waktu itu hari
sudah sangat sore, udara begitu sejuk dan bersahabat namun udara ini tidak akan
bertahan lama karena pengumuman lomba akan segera dimulai.
Satu
persatu juara disebutkan, hatiku terus-terusan menclos akibat belumada satupun
cabang lomba yang kaim menangkan, aku terdiam, berharap-harap cemas, setelah
pengumuman parade devile kami lolos dari juara, lomba tersisa hanya LKBB, aku
teringat peristiwa tadi, dan rasanya akan mustahil bagi pasukan putri, tetapi
tampaknya putra berpeluang.
“Lomba
LKBB Putri juara tiga jatuh pada SMA…..”, bukan kami, telingaku masih setia
mendengarkan
“juara
dua, SMA…..”, baiklah ini mulai tidak mengenakkan, botol ditanganku bahkan tak
aku oper ke teman yang lain, yang sebenarnya juga pasti ingin minum,
“Juara
pertama jatuh pada SMA…..”, baik aku hanya tersenyum kecut, sudah aku duga,
seraya memberikan botol minum ke tangan lain, aku hanya membuang napasku.
“Lomba
LKBB Putra, “
“eh..eh..LKBB
Putra-LKBB Putra!”
“juara
tiga, SMA….”,
“juara
dua SMA….”, aku hanya berdoa ya Allah seraya menutup mata semoga juara satu!
Satu! Satu!
“Juara
pertama, SMA…..”, aku membuka mata, dan terkejut, bukan? Bukan pasukan putra
kami? Mana mungkin? Jelas-jelas kami melihat lombanya dari awal dan pasukan
putra kami lebih baik dari pasukan putra bahkan yang diumumkan menjadi
pemenang! Tidak tidak mungkin!, aku bisa mentolerir pasukan putri tapi tidak
untuk putra!.
Dengan
segala ketidakpercayaan itu kami dikumpulkan oleh kakak-kakak alumni, aku tidak
dapat mendengarnya dengan jelas, tetapi pasti menyemangati kami, sesungguhnya
aku hanya tidak percaya bukan sedih karena aku menyadari setiap kompetisi pasti
berujung seperti ini, ada yang kalah dan menang, namun yang kalah bukan berarti
sepenuhnya kalah bukan?, namun disela-sela berkumpul itu, salah seorang dari
pasukan putra sesegukkan, aku terkejut, ‘ternyata aku memang tidak sensitif’,
setelah sesegukkan pertama, mulai merambat ke yang lain, nah loh? Ini kenapa
jadi menangis semua? Aku hanya mencoba mengerti mengapa mereka menangis,
padahal aku menganggap ini wajar, ternyata aku baru kembali menyadari, bahwa
untuk mencapai kesini, aku telah menghabiskan waktuku di tempat latihan,
berpanas-panas, push up entah sudah berapa kali, latihan PBB dari hal yang
paling dasar yakni berdiri, dispen kelas seharian, minum satu botol mineral
untuk 30 orang, makan satu piring berlima, membeli peralatan lomba, dan waktu
sebulan itu bukan waktu yang singkat menghabiskannya hanya dengan latihan PBB
setiap hari, namun itu telah mengeratkan kami satu sama lain, pasti terlalu
banyak yang dikorbankan untuk bisa mencapai kesini termasuk kurang istirahat
dan lain-lain, aku sekarang mengerti kenapa mereka menangis, belum lagi tradisi
itu akan terputus pada kami, pada diriku dan teman-teman kelas satu yang baru
datang dan sudah mengalami kegagalan mendapat kenangan manis dengan pulang
tanpa apapun. Kini aku bergabung dengan mereka.
Acara
itu sangat menyiksa, ucapan motivasi kakak alumni malah menambah tangis kami,
sampai dibacakannya doa kami masih sesegukkan, dalam hening doa itu kami semua
dikejutkan dengan panggilan bagi sekolah
kami, akhirnya salah seorang putra memenuhi panggilan tersebut, sementara kami
tetap sibuk menghapus sisa-sisa air mata dan menghibur satu sama lain untuk
berhenti menangis, tiba-tiba, posisi kami sekarang menjadi sujud langsung
menghadap tanah lapangan dihadapanku ini, tangis kami kembali pecah namun
dengan senyum bahagia pada masing-masing diantara kami, sungguh sebuah rahmat
Allah yang tak akan pernah ku lupakan, pengumuman itu mengubah suasana hati dan
pikiran kami saat itu.
“Pasukan
LKBB Putra Juara Satu!”
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
“ya
Allah inget banget, kangen kalau inget itu, kangen banget, piala pertama kita”
“pasukan
putra”
“sama
ajalah..hehehe”
“perjuangan
banget ya, tapi seperti kehilangan rasa lelah setelah denger kita juara”
“bener
banget, eh..yang itu pasukan LKBB aja kan yang juara katanya parade devile
juga?”
“itu
kan yang lomba 17 Agustus, Cibarusahkan sampai tanggal 14”
“oh
iya yang di Pemda ya?, eh..isal mana nih, udah mau jam 12”
“iya…mana
isal? Ibuy beneran ga ikut?”
“ga
mau mih, gimana dong, masa Bantara nanti putranya Cuma satu?”, aku berpikir
aduh kasihan juga ketua angkatan yang satu itu,
“kayaknya
maksa juga ga ada gunanya sekarang, udah jam segini, yang penting kita berjuang
buat pelantikan satu lagi, Bantara!”