Minggu, 28 April 2013

Random Post 2

Sadar atau tidak, semakin tumbuh dan mulai berpikir, kita menciptakan batas-batas kita sendiri, pernahkah kalian berpikir bahwa mengapa ada hal yang kita anggap baik dan tidak baik, benar dan tidak benar, serta boleh dan tidak boleh?
mungkin hanya pemikiran saya, tetapi, seperti seorang bayi yang memasukkan jarinya kedalam mulutnya dan mengemutnya dengan asyik, apakah kita yang telah berusia lebih akan melakukan hal yang sama secara bebas selayaknya bayi tersebut? sepertinya kita akan berpikir berkali lipat, menghimpun berbagai alasan dan melihat dampaknya bagi diri kita jika melakukan hal tersebut bukan? kita yang mengetahui bahwa, dengan memasukkan tangan kedalam mulut, tidak menutup kemungkinan ada kuman yang tertinggal dan membuat kita terganggu kesehatannya, sedangkan bayi tersebut apakah berpikiran sampai kesana?
atau jika kamu berjalan-jalan ke pusat perbelanjaan, jarang sekali bahkan tidak pernah melihat seorang yang dewasa berlari-lari penuh kesenangan bukan? (kecuali di iklan kalau ada diskon hehehe), ingat kalau kita melakukan hal seperti kejar-kejaran apa yang kadang terucap oleh orang lain yang meilhatnya? "ngapain lagi ini kejar-kejaran kayak anak kecil aja?"
Padahal menurut anak kecil itu menyenangkan, dan mereka tidak membatasi diri mereka dengan anggapan orang lain di sekitarnya, mereka hanya mengejar apa yang mereka mau dan pikirikan.
Maksud penjabaran tadi adalah, seiring waktu kita hidup dan menuntut ilmu, kita mengetahui teori-teori yang berlaku dalam kehidupan ini, baik itu ilmu pasti, kebudayaan yang biasa diterapkan masyarakat, atau sekedar omongan selingan, kita akan mengikuti hal tersebut, yang kita anggap itu baik dan pantas dijalankan, dan secara otomatis membatasi diri kita akan segala hal yang kita anggap buruk dan tidak pantas dijalankan.
Batas-batas itu tentu baik jika kita menerapkan prinsip tadi, yang baik dijalankan dan yang buruk ditinggalkan. 
Permasalahannya adalah apakah semua dari kita akan nyaman dengan batas tersebut atau tidak, terlebih batas-batas yang berlaku di masyarakat seperti bagaimana budaya yang terbangun sangatlah heterogen satu dengan lainnya, kita yang melihat perbedaan itu pasti akan berpikir untuk membandingkan perbedaan tersebut, yang mana yang menurut kita benar.
benar sendiri bukanlah hal yang mutlak bagi setiap orang, terlebih sebuah budanya, terkadang aku berpikir benarkah kita memaksanakan seseorang yang berasal dari budaya lain dipaksakan mengikuti budaya yang berlaku pada suatu tempat yang bahkan hanya sebentar ia akan singgahi? atau memaksakan seseorang yang harus mengikuti budaya setempat saat mereka hanya ingin berkunjung dan sebenarnya terdapat dua kepentingan seimbang diantara keduanya?
Entah, terkadang aku sampai merasa tidak terlalu suka dengan mereka yang senantiasa berpikiran "saya adalah yang terbaik dan kalau kalian mau berurusan dengan saya, maka harus mengikuti cara saya terlebih dahulu",kata harus mengikuti caraku terlebih dahulu membuat secara psikis seorang yang lain akan berpikir dua kali jika ingin melibatkanmu, kenapa?
Jawaban saya akan ini adalah karena secara langsung anggapan tersebut telah membuat batas baik bagi yang merasa dia harus seperti saya dan yang merasa sebenarnya ingin melibatkan dirimu, bukan perkara mustahil, dia telah membuat batas dengan kita karena anggapan kita sendiri. Seperti kecenderungan kelas sosial. Dan batas-batas itu terkadang mengkotak-kotakkan kita pada suatu yang mutlak secara abstrak.
Terkadang aku berpikir, mengapa kita tidak saling merendahkan hati dan berjalan bersama menuju apa yang disebut kesejahteraan dan kemapanan, meskipun memang tak semua orang benar berhati berlian sehingga tidak akan ada satu dan lainnya yang tega melanggar kesepakatan bersama guna menghapus sebagian batas-batas tersebut, tidak seluruhnya tetapi hanya sebagaian yang membuat kita dapat menerima dan diterima satu dengan yang lain.
Jika terlalu memaksakan seseorang mengikuti orang lainnya, maka jangan salahkan jika akan terjadi pemberontakkan, karena hakikatnya manusia menginginkan kebebasan bagi dirinya, keinginan untuk berkembang kearah yang mereka mau, meskipun batas-batas itu selalu diperlukan dan selalu penting sebagai koridor berjalannya

Tidak ada komentar: