Senin, 19 Agustus 2013

Catatan 17 Agustus 2013

Pagi itu,
kunikmati segala peluhku, kunikmati semua memori yang berputar di kepalaku. Mentari menyambut baik niat kami, ia bersinar seolah tengah tertawa, ikut bahagia dalam peringatan kemerdekaan.
Hari itu upacara bendera, meski hari itu peserta hadir berwarna warni, ini akan terlewati lebih berguna bagiku, dibanding aku hanya diam membiarkan hari itu terlewat tanpa ada sebuah ceremonial, seperti tahun-tahun sebelumnya, yang membuatku iri dengan mereka yang masih berlebelkan seragam memperingati berbagai hari bersejarah dengan acaranya masing-masing. Dan meski tanpa dibunyikannya sirine tanda proklamasi, dan barang tentu suasana berbeda, aku tetap mensyukurinya, setidaknya aku kembali melihat merah putih dikibarkan, puncak cintaku pada tanah air yang berkibar bebas, gagah, seperti darah muda yang membuncah.
Meski tak ada yang tahu, siapa diantara kami yang benar-benar merasakan cinta, cinta pada setiap jengkal tanahnya dan setiap tetes airnya, cinta pada setiap anginnya yang membelai, udara yang menghidupkan, dan bangga ketika sang saka berkibar, seperti rasa bangga ketika merah putih dikibarkan setelah merobek bendera biru dibawahnya.
Dua hari lalu, aku terhenyak akan kenyataan, salahkan aku menjadi seorang yang iri dan berpikiran tertutup, salahkan aku menjadi seorang yang berbagai prasangka, salahkan aku menjadi bagian bangsa ini, padahal bung Karno adalah seorang yang benar-benar memikirkan dan peduli tidak hanya bagi bangsanya tapi juga pada hubungan internasional, lalu kenapa aku iri pada setiap kata-kata di social media yang beramai-ramai meneriaki kedamaian di negara lain? kenapa aku iri pada mereka yang berbondong-bondong membuat hastag dan menjadikannya trending topic? katanya untuk membuat dunia tahu bahwa negara tersebut sedang terjadi kejahatan besar, dan seharusnya tidak begitu, bukankah itu baik dan memang seharusnya aku juga begitu? tapi kenapa aku iri?
Aku melihat kalender, hari itu tanggal 15 Agustus dan hampir menjelang 16, aku menyadari dua hari lagi, puncak dari proklamasi, aku hanya iri, tidak merasakan euforia kemerdekaan, aku hanya iri, selanjutnya yang terjadi lebih aneh, setelah ada yang mengulas tetang kemerdekaan, dan diakhir kalimat terdapat kata-kata mutiara dan pembangkit semangat, malah menghidar dan berpikir, aku tidak suka, membayangkan apa yang ia rasakan saat menulisnya, salah satu lembaga resmi yang memiliki admin menulis setiap hari dan akhirnya menulis di saat ini, rasa cintakah yang ia tuangkan dalam tulisannya? atau sekedar memenuhi kewajibankah ia saat menulisnya?
Cinta memang aneh, karena disaat aku berpikir tentang cinta itu, yang kulakukan tidak lebih dari mengeluh dan menyalahkan, kalau aku iri, kenapa aku tidak berbuat sesuatu?
Apakah cinta itu juga bisa dibuktikan dengan cekcok dengan ayah soal membeli bendera?
kembali aku hanya iri, melihat merah putih berkibar disetiap depan rumah dan jalan-jalan dihiasi bendera plastik merah putih yang disusun zig zag, budaya yang hampir punah di sekitar rumahku, akhir-akhir ini, semangat kemerdekaan itu tenggelam dengan perayaan lain, apa aku salah menginginkan bendera berkibar dirumahku?
kalaupun kita sulit, bukan berarti nilai cinta tanah air itu yang dikorbankan ayah, aku tidak mau adikku nanti tidak merasakan cinta dan bangga pada tanah airnya, tidak menganggap bahwa seperti orang tua yang melahirkan, jodoh , bentuk fisik, kita juga ditakdirkan di tanah air ini, sebuah ikatan yang pasti tetap ada walau kita tidak menginginkannya, cinta yang mutlak ada, aku tidak menginginkan nantinya orang-orang menganggap tanah air ini sekedar tempat lahir dan kita tidak memiliki rasa terima kasih apapun sehingga tiada tanggung jawab lagi meneruskan perjuangannya.

Cinta memang aneh, apakah segala ceremonial di 17 Agustus itu menandakan bentuk cinta? atau yang penting hanya memaknainya dengan berpikir sendiri? lalu apakah kita akan membiarkan 17 Agustus berlalu seperti hari biasanya?
dan bagaimana menunjukkan kita cinta? dalamnya hati tak ada yang tahu, apakah setiap yang melakukan sesuatu berlandaskan cinta? atau apakah mereka yang diam dapat dipastikan tidak memiliki cinta?
Aku tidak menemukan jawabannya, yang aku tahu hari itu aku kembali diajarkan tentang kehidupan, seperti engkau dilahirkan siapa, dengan agama apa (semasa lahir), tanggal, bulan dan tahun berapa, bentuk fisik seperti apa, jodoh kelak, kita dan tanah air adalah garisan takdir, yang setiap hari tanahnya kita pijak dan airnya kita minum, terus mengalir dalam aliran darah dan pundi-pundi napas ini, apa kamu rela melihat takdirmu berantakan dan jadi yang terburuk? kalau aku jelas tidak mau.

Tidak ada komentar: