saaat gue menulis ini, gue tahu, saat inilah gue sadar ini kenapa gue ga terlalu suka paksaan untuk menghidupkan transfer wawasan, karena bagaimanapun ujungnya, pada akhirnya keputusan ada di diri sendiri.
sesat pikir sih, tapi selama ini ya gue tahu teori dan lalalala..tetap aja ujungnya ada di diri gue sendiri.
saat gue berpikir mungkin gue butuh tempat cerita, saat itu sebenarnya gue ga membutuhkan itu mungkin, karena saat itulah gue mencoba meneorikan segala macam orientasi ego aku pada diriku sendiri yang akhirnya semakin menguatkan keragu-raguan, dan saat pada waktunya menjabarkan, setelah itulah kekesalan induk permasalahan itu akan hilang dan tidak jadi cambuk dendam berkepanjangan. dendam putih itu akhirnya hilang dan menjadi debu.
mungkin lebih baik tidak ada orang yang tahu dan menanyakan sebenarnya apa motivasiku untuk maju pada tahun berikutnya, yang baru aku sadari bagaimana beratnya akan running setahun kedepan. bahkan hingga saat ini, karena banyak yang bertanya ia luntur begitu saja dan membuatku kembali bertanya, apa yang membuatku akan cape-cape menghabiskan segala bentuk waktu yang seharusnya dapatku gubnakan untuk belajar sebagai bekal dengan kegiatan yang seperti ini.
apa sebenarnya?
seberapa layak?
ya Allah, beri aku petunjuk..
aku sudah tidak dapat lagi mempercayai setiap orang yag berbicara manis, yang mendorong-dorong dan akhirnya nanti akan menjebloskanku ke suatu lubang kesendirian. aku saudah tidak percaya lagi orang-orang yang mengangkatku tinggi-tinggi karena aku bahkan tidak pernah melewati ekspetasi apapun.
jadi sebenarnya apa?
aku sudah muak dengan segala teori psikologi yang menenangkan, meneorikan segala macam bentuk yang seharusnya memang sudah ada.
sebenarnya saat seseorang bilang, aku ngerasa ketinggalan yang lain sudah menghasilkan sesuatu sementara aku masih berusaha menstabilkan diri...aku...sepertinya aku lebih parah dibandingkan itu.
aku butuh penawar toksin dalam hati dan pikiran..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar