Selasa, 30 September 2014

Surat Kaleng Untuk Teman (III)

buat temen-temen gue..
sebenarnya ini surat untuk kalian di akhir tahun edisi 2014 ini, tetapi aku tahu, pasti kalian akan bosan akan ceritaku yang satu ini, jadi sebelum akhir tahun, aku akan menceritakan kepada kalian di sini soal hal ini, supaya nantinya cerita di akhir tahun kita, aku tidak menceritakan ini lagi, tetapi cerita yang lain yang aku alami setahun ini.

karena yang aku ceritakan lagi (dan lagi) tentang satu orang yang (masih) berkeliaran di benakku sampai saat ini.

mungkin kalian bosan mendengar ini, tapi dia tetap "firework" aku sampai saat ini.

terhitung 7 semester aku masih terperangkap dengan orang yang sama, walau dalam kisah yang berbeda. Mungkin tahun ini adalah tahun yang paling "menyedihkan" bagi aku soal perjalanan hatiku ini. kisah yang seolah tanpa ujung ini, memasuki babak yang aku tidak pernah mau memasukinya, dimana aku sibuk dengan segala pikiran,spekulasi dan harapan-harapan tanpa isi yang aku mengarangnya sendiri.

dan setiap aku mengingatnya, aku tidak bisa menolerir air mata yang begitu saja jatuh.
aku tidak tahu apakah yang aku lakukan ini benar, karena meskipun aku berusaha mengingat aku yang "dulu" dalam artian anak kecil yang seolah innocent, aku yang cuek dan tahu bahwa seorang perempuan seharusnya menjaga dirinya (begitu dalam islamkan?), tapi air mata aku seolah selalu menolak, dan selalu turun tanpa diperintah tuannya, karena aku sebenarnya sangat ingin kenangan-kenangan yang (aku anggap) indah terulang lagi.

pada waktu aku belum dekat (dalam artian jarak), pernah terjadi satu kenangan yang sangat membuat aku serba salah dan menangis di tempat, bukan serba salah dalam artian "salting" dan lain-lain hanya saja aku merasa bersalah, karena senyum yang semula ada padanya seketika menghilang dalam hitungan detik setelah bertemu pandang denganku, apa salahku? kenapa dia berhenti tersenyum hanya karena bertemu pandang denganku yang bahkan aku tidak tahu apakah dia ingat padaku atau tidak?, dan setelah itu ketika hal tersebut teruang lagi aku tidak lagi terkejut dan menangis (kejadiannya bukan sekali), karena di tempat umum, lalu menangis itu..

setelah berada dalam jarak yang lumayan dekat, aku malah merasa bahwa ia adalah orang yang hangat, ketika itu, ada saja pengalaman menarik yang aku sangat terkenang, bahkan hanya dari bertemu pandang, kalau aku ceritakan di sini, pasti kalian akan bilang "lebay" hahahaha.
aku sangat menyukai pandangan itu, dewasa dan hangat, seperti seorang kawan yang melindungi, kakak yang menyayangi, dan seorang imam yang mengarahkan.

namun ketika kesadaran itu datang, aku akan kembali mempertanyakan diriku, benarkah langkah seperti ini? dan ketika akhirnya aku perlahan-lahan memutus link yang dapat meningkatkan intensitasku bertemu, aku juga mempertanyakan apakah benar langkah yang aku ambil?

karena sebenarnya, hatiku menolak
karena sebenarnya, aku menolak
karena sebenarnya, pemikiranku menolak

aku ingin mendapatkan kenangan itu lagi, meskipun itu adalah kenangan yang nantinya akan membuatku menangis. tapi aku bisa menjalin silaturahmi dengannya, aku bisa tahu bagaimana dia memandangku, aku bisa tahu bagaimana nantinya ujung dari apa yang kurasakan ini.
karena seperti sekarang, aku tidak bisa melakukan apapun, dan tidak bisa melakukan apapun lebih menyakitkan daripada aku melihat diriku yang menghilangkan senyuman dalam beberapa detik setelah melihatku.

dan aku merasa bersalah, karena usahaku itu seolah membohongi dan menutupi perasaan dan diriku sendiri, aku lelah melakukannya, tetapi jika aku mencoba jujur pada diriku, kini aku tidak bisa melakukan apapun.
aku selalu merasa bersalah karena aku kembali membicarakannya, kembali menaruh harapan padanya, kembali mencarinya, sedangkan dia, aku tidak pernah tahu memikirkanku atau tidak, aku hanya takut keberadaanku akan menganggu stabilitasnya selama ini.

aku menyesal karena menganggap bahwa perasaanku ini dalamnya dinilai oleh pengorbanan perasaan seperti yang aku lakukan, bukan pengorbanan untuk berusaha mendapatkan apa yang hatiku bilang.

dan aku takut akan kebodohan ini semakin menjadi hal buruk dalam persepsinya padaku.

jalan mana yang memang benar?
 aku tidak bisa berbohong lagi pada diriku sendiri
apakah sedalam ini?
apa yang harus aku lakukan?

Tidak ada komentar: