Minggu, 05 Oktober 2014

Ucapan Tersembunyi (III)

sebenarnya tulisan ini sudah pernah ku publish di salah satu akun jejaring sosial pribadiku (kalau waktu itu ada yang iseng-iseng buka, pasti familiar), tapi aku tidak pernah membuka untuk siapa sebenarnya potongan puisi tersebut.

ku tulis kembali, karena...
Hari ini aku bertemu kembali, aku bertemu kala sholat ied adha tadi pagi, ia disampingku, menggendong seorang anak kecil dengan botol susu ditangannya, ia bercanda gurau, saling gendong-menggendong anak kecil tersebut dengan adiknya yang ada disekelilingnya saat itu.
Senyumnya selalu terkembang, tawanya terdengar, seolah ia adalah seorang wanita dengan anak pada umumnya, tapi bukan sekedar itu.

dia kakak kelasku di SD dan SMP, satu tahun di atasku, pernikahannya diumumkan ditengah kesibukannya sebagai pekerja dan pelajar dengan seorang laki-laki yang dicintainya (tentu saja), meskipun tidak selalu, aku mengetahui perkembangan perjalanan mereka, saat menikah dan mendapatkan seorang buah hati, perempuan.Belum terlalu lama sejak itu,sampai suatu saat berita duka sampai di telingaku, dan dengan statusnya di salah satu akun jejaring sosial, maka kejadian itu benar adanya.

Ketika aku melihat kakak kelasku itu, entah apa yang merasukiku, kagum, sedih bercampur. Seorang wanita muda yang kini harus hidup tanpa orang yang telah menjadi bagian hidupnya, berjuang membesarkan seorang perempuan cilik yang telah kehilangan ayahandanya.Aku, benar-benar tidak bisa berpikir,
Karena seketika kesedihan itu menyergapku, membayangkan sakit dan sedihnya ia kala itu, dan mungkin masih sampai kini, meskipun keluarga selalu menemani.
dan ia adalah wanita kuat yang masih bisa berdiri tegak hingga kini.

Dan saat aku mendengar kebenaran kabar tersebut, puisi ini terbentuk. Sebuah peristiwa yang sangat membuat jiwa tergerak untuk memberikan sebuah hal yang terbaik untuk bisa menghibur atau paling tidak mengalihkan sejenak meski hanya 1-5 detik dari kesedihan yang ia alami.


Benang Seorang Pemimpi

Takdirku terikat pada kesucian alam
terikat pada irama angin, air yang menyambutkan ombaknya pada tanah dan menyampaikan riaknya pada udara

Melodi seorang pemimpi
Sudah takdirnya ia terikat pada janji suci,
mengikrarkan kesetiaan pada melodi abadi
menari, membuka serpihan kisah yang membaur dalam satu ritme cinta
menali, bertaut hanya dalam alunan syahdu alam

Dan, setiap nada akan menaiki tangganya,
meninggi seiring keinginan cinta,
merendah seiring kehendak cinta,
bersatu karena kesucian cinta,
terpisah karena kemuliaan cinta

Melodi seorang pemimpi,
sudah takdirya ia berserah pada alam
tersadar karena kemurnian cinta,
terlelap karena merindukan cinta

Dan, benang seorang pemimpi
terajut alam sampai ia terkuci
terbuka hanya menunggu satu kisah,
tertutup hanya untuk satu akhir kisah.



itu puisiku untuknya, semua peristiwa akan menguatkan dirimu, menguatkan cintamu dan terbaik bagi dirimu.
Allah selalu melindungi dan memberikan kekuatan :")

Tidak ada komentar: