Rabu, 15 Agustus 2012

Catatan 14 Agustus 2012


14 Agustus 2012
Saat salat qiyamul lail berjamaah aku memutuskan hanya menjalinnya 4 rakaat, aku membutuhkan waktu untuk mandi sebelum berangkat pagi –pagi ke Kemendikbud untuk melanjutkan aksi, ketika aku makan sahur dan jamaah masih salat, imam yang memimpin salat itu menangis dengan mengulang-ulang kalimat permohonan dijauhkan dari neraka dan di dekatkan dengan syurga, ia menangis, menangis dan menangis, aku hanya bisa mendengarkan, ternyata imanku begitu tipis, aku bahkan belum bisa seperti mereka, apa yang harus aku lakukan agar bisa seperti mereka yang turut merasakan ketakutan, kesedihan, mohon ampun pada Allah dengan berlinang air mata dan penuh kekhusyukan?, begitu burukkah diriku?.
Pagi itu, nampaknya aku terlambat, aksi telah dimulai dengan melilitkan kain hitam pada lambang makara UI di bundaran psikologi, betuliskan UI butuh perbaikan. Seperti biasa meski sangat sedikit kakak-kakak itu sangatlah bersemangat, sangat! Tiada raut wajah penyesalan karena masa aksi yang hadir sedikit, tidak ada guratan wajah malu karena masa aksi seolah kalah pamor dengan PSAF yang dilangsungkan dengan euforia baik oleh senior dan juniornya, meskipun mereka terus diteriaki skenario senior yang ditujukan untuk membangun mental mahasiswa baru, mungkin itulah tujuannya.
Pukul 08.00 wib, masa aksi siap berangkat, Uki belum datang juga, tidak ada satupun perempuan di sini selain diriku, setidaknya dengan Uki aku memiliki sandaran dan teman. Pukul 10.00 wib semakin dkat karena mengejar waktu, beberapa dari kami yang telah siap mengambil langkah taktis berangkat dengan motor untuk bisa mencapai Kemendikbud tepat waktu agar dapat melihat langsung serah terima jabatan dari mantan Rektor kami Gumilar Roesliwa Soemantri ke tangan PJs Djoko Soesanto, aku dan Uki memilih menggunakan transportasi umum yakni kereta, sedangkan Wakabidku memilih menunggu terlebih dahulu masa teknik yang belum datang karena mengurus PSAF terlebih dahulu, aku melakukan perjalanan dengan kereta Commuter Line sampai stasiun Manggarai diteruskan dengan menaiki mobil 66 sampai Kemendikbud.
Meski baru bertemu beberapa kali, aku merasa nyaman dengan Uki, kami banyak bertukar cerita, dan aku memandangnya sebagai seorang aktivis pergerakan sejati, jika dibandingkan denganku, aku adalah adik kecil baginya.
Ia bercerita bahwa pada saat Sumbangan untuk KPK, ia tengah berada di Purwakarta, temapat tinggalnya, ia menyadari bahwa banyak anggota Akprop yang telah mudik, akhirnya ia memutuskan untuk kembali ke UI, meskipun ia tidak diperbolehkan, namun ia terus berusaha membujuk orang tuanya, dengan uang hanya Rp40.000,- ia menuju Gd.KPK di Rosina Said, dengan pengetahuan seadanya akan kendaraan apa yang harus ia naiki, ia seolah berkeliling Jakarta untuk menemukannya, aku membandingkan dengan diriku, apakah aku sanggup seperti itu?.
Aku dapat melihat jiwa optimis dalam dirinya, bertanggung jawab dan mampu membaca situasi, sebuah jiwa kepemimpinan yang sangat baik, dan tentunya bersahabat, yang terpenting ia kini berjilbab, sebuah transformasi hidup yang turut mempercantik kepribadiannya.
Gd.Dikti, Kemendikbud
Aku dan Uki tidak bisa masuk, alasannya ruang sidang telah penuh dan 9 orang dari BEM telah menempati ruangan tersebut, akhirnya kami menunggu sidang yang dilaksanakan di lantai 3 itu selesai, setelah kami terdapat beberapa rekan dari BEM UI dan Fasilkom datang, namun masa Teknik belum juga datang.
Karena tidak ada tempat duduk aku dan Uki memilih ke toilet dan membaca buku di sana, kebetulan terdapat sebuah jendela yang menjorok ke luar sehingga menyisakan tempat duduk, menjelang dhuhur, masa Teknik datang, dan aku sedikit terkejut karena kakak dari BEM UI dan Fasilkom tidak ada, mereka ke lantai tiga karena sidang telah selesai, sedangkan kami memilih tetap di bawah karena tak lama kemudian rekan yang di lantai 3 turun ke tempat kami.
Kami diceritakan bahwa tuntutan telah di berikan pada Gumilar, tuntutan tersebut ada di kertas hitam dan tidak lupa dua buah karton yang bertuliskan menolak Gumilar, hal itu juga ditujukan pada media-media yang datang ke sidang tersebut, akhirnya pak Gumilar turun dari jabatannya, ada sedikit pernyataan yang menggelitik, ketika pak Gumilar berkata “Kaji, kaji lagi”, salah seorang BEM UI berkata “Kami sudah mengkaji pak, kapan kita forum”, lalu beliau hanya bisa terdiam.
Aku pulang bersama Uki, setelah salat dan mendengarkan ceramah di masjid Kemendikbud yang berisi tentang bagaimana seharusnya kita bersyukur atas segala nikmat yang diberikan Allah swt yang tidak akan bisa terbalas akan aapapun. Sebenarnya kami ditawarkan untuk ikut bersama masa FT yang saat itu membawa mobil milik kak Ryan (Ketua IME), akan tetapi tampaknya kakak-kakak sedang terburu-buru karena harus kembali mengurusi PSAF yang masih berlangsung, sehingga kami memutuskan kembali menggunakan transportasi umum.
Pada saat itu hal yang paling menggembirakan bagiku adalah tidak adanya sedikitpun rasa penyesalan dalam hati walau aku hanya dapat mendengar cerita mereka yang melihat langsung sidang tersebut, aku tidak sia-sia  memutuskan untuk pergi kembali ke UI dan merelakan untuk melihat adik-adiku berjuang di perlombaan Parade dalam rangka HUT Pramuka. Alhamdulillah ketika aku menerima kabar mereka meraih juara pertama, sungguh Allah sangatlah Maha Kuasa, selamat untuk adik-adiku di Pramuka Ambalan Jendral Soedirma-Nyi Ageng Serang SMAN 1 Tambuhn Selatan.
Sebelum pulang kami menuju Tanah Abang dengan tujuan membeli beberapa kerudung, akan tetapi hampir semua took telah tutup akhirnya kami memutuskan untuk pulang menggunakan kereta dari stasiun terdekat.
Di stasiun, ketika manusia tergesa-gesa sangat mengerikan, berdesak-desakan menunggu kereta yang ingin dinaiki, seperti simulasi aksi, aku dan Uki membentuk border sendiri, berusaha agar menghadang serbuan gelombang manusia yang saling berteriak dan berdesak-desakan, bahkan diantara mereka ada yang nekat menaiki atap kereta, dan memerlukan sebuah petugas kemanan dengan bamboo panjang untuk mengusirnya, Indonesia…
Meskipun begitu, masih ada diantara mereka yang lolos pengejaran petugas tersebut dan berhasil menaiki atap kereta, mereka tertawa dan melambaikan tangan seolah mendapatkan kemenangan penuh, yang sebenarnya bukankah maut mengincar kapan saja, terutama dengan mereka berbuat seperti itu?, Uki bertanya, “bagaimana fit kajian transportasinya nih?”, seraya tersenyum, “kemarin lebih fokus ke MRT ki..”,tampaknya setiap peristiwa jadi bahan langkah nyata apa yang harus dilakukan.
Tiga hari berlalu, rasa kantuk akibat kurang tidur, dan lelah akibat berjalan mungkin mewarnai hariku, tetapi banyak yang ku dapatkan dari tiga hari peristiwa tersebut, bukan hanya dari sisi pergerakan, dari sisi religious, sisi psikologi, kemanusiaan, belajar berpikir kritis dan belajar percaya pada apa yang diyakini diri sendiri.
Aku bukanlah seorang aktivis sejati, bukan seorang yang dapat dikatakan pergerakan tetapi masih seorang yang “digerakan”, terkadang aku sadar dan sedih Kastrat dan pergerakan dicampur tangani oleh orang seperti aku yang banyak kekurangan, sedangkan mereka yang berpotensi lebih dan sangat lebih menurutku, berpaling dari jalan ini dan mencoba acuh, atau bahkan tidak percaya akan adanya idealisme yang seharusnya dimiliki mahasiswa, mungkin dikehidupan real nanti akan sangat berat dan mengikis idealisme, atau anggapan adanya idealisme menjadi hanya sebuah kondisi ideal yang tidak pernah tercapai, akan tetapi kepemilikan idealisme hari ini tidak akan membuat sebuah kerugian bagi dirimu, bukan hanya lewat jalan aksi tetapi lewat berbagai advokasi, lewat tulisan, atau sekedar pemikiran.
Jika semakin sedikit yang percaya akan adanya sebuah tanggung jawab bagi mahasiswa sebagai kaum intelektual melakukan perubahan kearah yang lebih baik baik secara vertikal maupun horizontal secara seimbang, maka pergerakan akan semakin tenggelam, tetapi bukan mati karena disetiap manusia pada hakekatnya terdapat sebuah keinginan memberontak kala terjadi penindasan dan ketidakadilan, kala ada sekecil apapun yang seharusnya diperbaiki dan diarahkan pada kondisi seideal mungkin.
Dan harus selalu diingat bahwa tidak memerlukan banyak orang untuk membuat sebuah perubahan, mungkin jika kutambahkan perubahan hanya memerlukan mereka dengan jiwa berapi dan pantang mundur serta semangat optimistik dan keyakinan bahwa perubahan itu nyata!.
Hidup Mahasiswa!
Hidup Rakyat Indonesia!

2 komentar:

Sarah mengatakan...

seru bgt ikut aksiii ceman9ad qaqa fitriiii (^^)9

Fiya mengatakan...

saraaaaahhhh...semangat juga!!!! ^o^
ayo ikut sesekali :p