-Di sebuah pagi, dalam belaian sunyi-
Raga dan jiwaku bersatu kembali
Kala genggaman mentari merasuki
dan aku berpikir,ah...tatkala setiap helaan
penuh amarah, ketidakpercayaan dan kebencian
Aku, dan seluruh rasa itu
Percayakah, apa itu salahku?
Dunia sekitarku penuh topeng dimensi lima
Membuat perangainya semanis kembang gula
dan ketika, tiba dalam satu sisi gelap, mereka berubah
sepahit limpa
Aku berpikir,
kemudian, apa maksud aku ada di tanah air ini?
mengapa aku diciptakan ditengah keluarga ini?
apa yang aku harapkan dari kepuasan pribadi?
Untuk apa segala bentuk NKRI?
Untuk apa segala doktrin kesatuan?
Untuk apa Bhinneka Tunggal Ika?
Aku,
bukankah aku INDONESIA?
meski aku belum sepenuhnya INDONESIA,
Tapi...aku adalah INDONESIA
Untuk apa memikirkan diri sendiri?
jika kita dapat saling membahu?
Untuk apa semua ideologi yang angkat senjata?
jika kita masih berdiri di bawah kibaran sang saka.
Untuk apa segala pemikiran itu?
jika kita adalah satu
Negeri ini, ada karena cita
satu...dalam madani
kesatuan dan persatuan
dan keniscayaan itu adalah nyata
bahwa kita tetap satu, INDONESIA...
-untuk pemikiranku yang liberalis, dan akan kukalahkan dengan pancasila-
dan kebencian itu adalah kepingan
kutaburi bubuk damai
ego itu, bukanlah jiwaku
di saat pribadi adalah segala
aku memiliki impian
setiap kita akan merendahkan hati demi kesatuan persatuan
Tidak ada komentar:
Posting Komentar