Selasa, 24 Januari 2012

Aku...2


“Teteh pokoknya bangun gedung tinggi, misalnya masjid yang ngalahin taj mahal, kalau enggak..gedung garuda yang besar yang bisa masuk Guinness book record”
Begitu jawabannya, seorang anak kelas V SD, berumur 10 tahun mengungkapkan pikiran jujur dengan gaya bahasa dan mata yang bersinar penuh harap.
Aku terdiam, mendengarkan kata-kata yang sangat lancar dari seorang adik yang berwajah sangat anak-anak, adikku, yang dahulu aku tidak mengharapkannya karena berpikir ia akan merebut semua kasih sayang orang tuaku, merebut kebanggan mereka dari diriku, merebut perhatian mereka dari aku.
“Pokoknya teteh bangun yang ada Indonesianya, yang tinggi, besar dan megah nantinya masuk ke media, masuk ke berita ‘seorang mahasiswi Universitas Indonesia merencanakan pembangunan gedung megah berbentuk garuda’ terus di bawahnya ada tulisan ‘Bhinneka Tunggal Ika’.
Aku hanya memandangnya, menunggu ia mengungkapkan semua yang ia pikirkan tentang diriku, tentang seorang kakak yang merasa dirinya tidak istimewa, seorang kakak yang merasa dirinya tak bisa melakukan apapun, seorang kakak yang bahkan bimbang dengan keberadaannya di spesialisasi jurusan yang telah ia pilih sendiri.
‘Bisa teh…kan kaya ayu ting-ting tuh yang tadinya orang biasa, nyanyi dangdut aja, terus naik, naik, naik, jadi artis deh..nanti teteh diundang ke acara ini, acara itu, abis itu terkenal”
Aku tetap terdiam dan memandang matanya yang sama sekali tidak memancarkan kebohongan, betapa besarnya harapan yang ia miliki dan ia gantungkan pada seorang kakak yang bahkan tak tahu mengapa ia memilih jurusan kuliahnya kini dan apa impiannya.
“Kalau Ade, nanti maungambil  apa?”. Aku sekedar bertanya, ia tersenyum.
“Aku mau… robot, nanti aku buat robot yang kaya di game zombie, terus aku kontrol”
Aku iri,
Saat itu aku sangat iri, aku 17 tahun kalah dengan seorang anak berusia 10 tahun, yang mampu bercita-cita, berharap besar, jujur akan impiannya dan memikirkan impian untuk oang lain,
‘Apa ini seorang adik yang dulu aku tak harapkan kehadirannya?’

Aku...1

Aku mulai ragu dengan diriku sendiri, berkaca dengan segala perasaan yang jujur dan tidak.
Aku bahagia saat aku bertemu ayah, ibu dan adikku yang ku sayangi, sangat. Tapi perasaan itu tak jarang muncul dan mengeruak, seperti bau seekor bangkai tikus yang kau simpan dalam jerami tertutup, semakin lama semakin nyata, dan meski kau tak mau membenarkannya bahwa itu adalah bangkai simpananmu, tetap saja, itu nyata.
Aku terkekang, aku tak mau melihat ayah, ibu, adikku cemas, akibat diriku yang sebenarnya, selalu merasa terbelakang dan memang demikian, sedangkan selama ini mereka memberikan kepercayaan sepenuhnya padaku, memuji-muji keberuntunganku, sekolahku, kepada setiap mereka yang bertanya.
Aku takut, aku mengecewakan, aku bukan seperti persepsi mereka.
Aku ingin menangis, melihat kenyataan diriku yang tanpa bakat, tanpa kemampuan istimewa, dan berpeluang 'kalah' dalam setiap kompetisi.
Tapi ibuku akan bertanya 'kamu kenapa?'
Aku ingin berteriak saat aku merasa tertekan
Tapi ayahku akan bertanya,'apa ya teriak-teriak, kenapa?'
Aku ingin melempar dan menghancurkan barang disekelilingku, jika frustasi membenamkan kepercayaanku,
Tapi adikku akan bertanya, 'teteh kenapa sih?'

Akhirnya, aku terdiam, memendam rasa hati yang berkecambuk tiada arah
Menahan air mata, menyunggingkan senyum terpaksa di sudut kanan bibirku,
Dan menyesal, 'aku menjadi orang lain'

Minggu, 22 Januari 2012

Kenyataan : Kodrat atau Terpaksa


Aku bergidik, cerita sekumpulan ibu-ibu itu membuatku ciut, dengan semangat dan penuh candaan mereka dengan mudahnya menceritakan pengalaman mereka, padahal aku sedang berada di sana,
“iya..biasanya kalau pendarahan itu tidak “bersih” saat melahirkannya”
“memangnya mau di steril?”
“iya bu..saya di sesar sampai 3 jam di ruangan operasi”
“biasanya kalau ingin bersih itu di kiret, terasa jari-jari itu masuk ‘mengaduk-aduk’ tapi daripada sakit kemudian, lebih baik sakit lalu sudah”
aku mulai bergidik lagi, apa sebenarnya tujuan mereka menceritakan semua itu? Berbagi cerita tentang permasalahan orang dewasa, aku tidak merespon hanya terpaksa mendengarkannya dengan tatapan lurus memperhatikan televisi yang menyala.
Namun apa mau dikata, pikiranku melayang meninggalkan kehidupanku sekarang dengan status pelajar, aku sadar nantinya aku akan seperti mereka, terkunci kodrat seorang perempuan yang harus dilaksanakan cepat atau lambat.
Aku tidak bisa membayangkan bagaimana nantinya kehidupanku selepas menjadi pelajar, jika aku mulai membayangkannya aku  berharap selamanya akan berstatus pelajar, entah S1, S2 S3..S berapapun akan aku jalani.
Jika sudah begini, aku tidak lebih mengerti pikiran anak-anak zaman sekarang yang mulai ingin “menikah” cepat, lulus SMA, disodorkan dengan tiga pilihan : 1.Kuliah, 2. Kerja, 3. Menikah
Mengapa pilihan ketiga dimasukan dalam daftar anak yang baru lulus SMA?
Dan mengapa tidak sedikit yang bahkan memilihnya?
Aku mulai takut dengan segala kenyataan yang terjadi, ada disekelilingku yang menikah saat usia lulus SMA, dan menjalani kehidupan rumah tangga, apa sebenarnya yang memicu untuk itu? Bukankah lebih menyenangkan dengan status pelajar, kita bebas menuntut ilmu, bertemu dengan berbagai macam orang, menyumbangkan satu dua ilmu yang di dapatkan untuk kemajuan negeri ini? Sedangkan ia harus menjalani proses persalinan dengan segala resiko yang harus ditanggung oleh anak sekecil itu?
“mungkin jalannya memang seperti ini”, begitu orang tuanya membela, “daripada nantinya ia yang tidak berdosa lahir ke dunia tanpa seorang ayah”.

Rabu, 18 Januari 2012

Catatan Mahasiswi Semester Akhir : # Sedikit lagi jadi Kelas Buruh

Catatan Mahasiswi Semester Akhir : # Sedikit lagi jadi Kelas Buruh

by Fildzah Izzati on Wednesday, 16 November 2011 at 22:13
Saya adalah mahasiswi semester akhir paling berbahagia saat ini karena bisa menjadi bagian dari Kongres Nasional pertama sebuah konfederasi serikat buruh progresif, Konfederasi Serikat Nasional (KSN), yang dalam program perjuangannya mengupayakan berbagai perlawanan untuk menghapuskan sistem kerja kontrak dan outsourcing, privatisasi, union busting (pemberangusan serikat), dan PHK massal, dari bumi Indonesia!



---*****---
Adalah sebuah kehormatan besar bagi saya, ketika pertama kali diminta oleh kawan-kawan, yang berada di garda terdepan gerakan buruh, untuk menjadi pencatat proses Kongres Nasional I KSN. Ada perasaan haru di hati saya. Di tengah lesunya gerakan buruh Indonesia saat ini, berdiri sebuah konfederasi multisektor yang dapat menyatukan apa yang kita kenal sebagai “buruh kerah putih” dan “buruh kerah biru”. Kata-kata Marx yang terkenal: “Kaum buruh di seluruh dunia, bersatulah!” pun begitu terasa maknanya, ketika pada hari pertama pembukaan kongres, 10 November 2011, seluruh peserta kongres menyanyikan Internasionale sambil mengepalkan tangan kiri mereka. Pada hari itu, kawan-kawan yang berasal dari berbagai federasi serikat buruh : BUMN, manufaktur, hingga perkebunan dan juga berasal dari berbagai pulau di Indonesia : Sulawesi, Jawa, dan Sumatera, saling memperkenalkan diri dengan penuh kehangatan dan solidaritas. Merinding hati saya ketika mendengar bahwa kawan-kawan dari Sumatera Utara telah menempuh 2 (dua) hari perjalanan darat menuju ke Wisma Nusa Bangsa, Parung-Bogor, tempat Kongres dilaksanakan.

Keesokan harinya, dengan penuh semangat, kami semua berlatih berdisiplin dengan bersama-sama bangun di pagi buta dan berangkat menuju tempat deklarasi KSN di Gedung Juang ’45, Jakarta. Kami harus berangkat pagi-pagi sekali karena jalanan dari Parung menuju Jakarta tentunya tak akan terhindar dari kemacetan, meski melalui jalan tol. Perkiraan kami benar dan kami tiba tepat waktu. Menjelang deklarasi, kawan-kawan melakukan gladi resik dan rangkaian acara deklarasi pun dimulai tepat pukul 09.15 pagi. Kawan-kawan dari berbagai organisasi serta serikat sekawan pun menyampaikan orasi politik dalam sambutannya kepada konfederasi baru ini. Beberapa orasi politik dari kawan-kawan pun masih terngiang hingga saat ini, dimana selain memberikan dukungan terhadap KSN, kondisi perjuangan kelas pekerja pun diungkapkan. Seperti yang diungkapkan dalam orasi kawan Rendro dari Perhimpunan Rakyat Pekerja (PRP), bahwa “…yang terjadi kini adalah penghianatan, pembumihangusan hasil-hasil perjuangan kelas pekerja Indonesia, kekayaan alam, dan produksi vital seperti energi..”

Selain itu, perjuangan untuk menjadikan kawan Marsinah, yang dibunuh Orde Militer Soeharto, sebagai pahlawan nasional pun disampaikan kawan Khamid, yang kemudian menjadi Sekjend KSN, dalam orasi politiknya “…konsolidasi gerakan buruh pada tanggal 18 Juni 2011 merekomendasikan agar kita menjadikan kawan Marsinah sebagai Pahlawan Buruh Indonesia…; … maka tradisi untuk mencalonkan kawan-kawan seperjuangan sebagai pahlawan akan kita mulai…”.
Deklarasi pun disampaikan oleh Juru Bicara Nasional KSN : kawan Ahmad Daryoko (FSP BUMN Strategis), kawan Irzan Zulfakar (FSP2KI), dan kawan Mukhtar Guntur (FSPBI).

Seusai deklarasi, kami pun beranjak ke Wisma Mulia Telkomsel untuk bersolidaritas terhadap aksi mogok yang dilakukan kawan-kawan Serikat Pekerja Telkomsel (SEPAKAT), yang tengah memperjuangkan hak-hak mereka. Pihak manajemen pun mencoba melakukan tindakan represif ketika kami melakukan aksi duduk di dalam gedung. Sayangnya, usaha mereka tidak berjalan mulus karena yang mereka hadapi adalah kawan-kawan buruh yang mewarisi semangat Marsinah, yang tidak pernah takut berhadapan langsung dengan aparat penjaga modal. Selain datang bersolidaritas terhadap aksi mogok yang dilakukan kawan-kawan SEPAKAT, aksi petisi untuk mendukung berbagai perjuangan yang tengah dilakukan kawan-kawan buruh di berbagai daerah dan berbagai sektor di Indonesia pun dijalankan dalam Kongres ini. Mulai dari petisi dukungan untuk kawan-kawan buruh PT. Onamba, PT.Istana Magnoliatama, hingga petisi dukungan untuk kawan Yohana dari British International School. Kondisi yang sungguh berbeda dari Kongres lain yang pernah saya ikuti.

Diskusi dan perdebatan yang terjadi di dalam Kongres pun kemudian berjalan dengan sangat dinamis dan dalam situasi ilmiah yang demokratis. Ada yang bergetar dihati saya, ketika saya, “begadang” bersama kawan-kawan dan menyaksikan secara langsung bagaimana proses diskusi dan perdebatan ilmiah yang dilakukan kawan-kawan dalam menyusun konstitusi konfederasi multisektor yang baru didirikan ini. Keesokan harinya, kami pun kembali berKongres seharian dan hal yang paling membuat saya yakin bahwa gerakan buruh akan kembali bangkit, setelah sekian lama terpenjara dalam kungkungan hegemoni Orde Militer Soeharto, adalah ketika kawan-kawan buruh peserta kongres membicarakan sikap politik KSN. Dimana KSN tidak boleh terkooptasi oleh partai-partai politik borjuis, tapi KSN tidak anti pada partai politik yang dibentuk oleh rakyat, oleh buruh, tani, nelayan, dan rakyat miskin lainnya. Sebuah kesadaran politik yang kini semakin langka dimiliki serikat buruh, setelah Serikat Organisasi Buruh Seluruh Indonesia (SOBSI) diberangus Orde Militer Soeharto, setengah abad yang lalu.

Kongres pun kemudian ditutup dengan pemilihan struktur Dewan Pimpinan Pusat KSN serta Majelis Nasional KSN, dimana setelah diputuskan dengan cara musyawarah, terpilihlah Ahmad Daryoko (FSP BUMN Strategis) sebagai Presiden dan Irzan Zulfakar (FSP2KI) sebagai Wakil Presiden I dan Mukhtar Guntur (FSPBI) sebagai Wakil Presiden II, serta Koswara (FSBKU) sebagai Ketua Majelis Nasional dan Wiliam Marthom (FSPBI) sebagai Sekretaris Majelis Nasional. Tugas memajukan kembali gerakan buruh pun telah menanti untuk dikerjakan dan saya yakin, konfederasi progresif ini akan membawa kita pada kebangkitan gerakan buruh Indonesia dalam jalan panjang menuju kemenangan kelas buruh yang sudah lama kita nantikan.


Hidup Buruh! Hidup Rakyat Pekerja Indonesia!


Fildzah Izzati, S.Sos

Pilihan

Aku selalu berpikir..
betapa hebatnya "dia", melakukan hal besar dalam kehidupannya,
membuka jalan revolusi di saat semua apatis,
orang-orang yang individualistis,
bukan untuk dirinya, tapi untuk sekitarnya,
bukan hanya untuk segelitir tapi untuk setiap voluteer.
terkadang aku berandai,
"aku menjadi dirinya"
melakukan hal berarti sebelum aku mati dan dilupakan
sebelum lubang lahatku tergali dan dikuburkan
ada yang kuberikan, meski bukan hal besar
ada yang kutinggalkan, sebagai jejak perjuangan,
kini aku punya kekuatan,
di sini aku punya kekuasaan,
tinggal tersisa pilihan :
"pengabdian atau dilupakan"

Senin, 02 Januari 2012

Betapa Indahnya Penciptaku


Kalian tahu?
Ketika aku bercermin, aku selalu mengeluh..
Betapa tidak menariknya diriku ini, kulitku yang hitam, badan yang gemuk, bibir yang kering, mata yang mengantuk karena terlalu banyak begadang malam akibat tugas, hidung yang mancung tetapi besar, dan rambut yang hitam segan pirang tak mau, apa yang dapat aku harapkan? Nothing!
Setiap kali aku melihat sekelilingku yang dipenuhi gadis-gadis cantik yang berkulit putih, berhidung mancung, berbulu mata lebat, bibir yang berwarna pink sehat, berbadan ramping dan modis, jika dibandingkan dengan aku maka…baiklah sudah cukup aku tidak ingin membahasnya.
Kadang kala aku berpikir tentang banyaknya perempuan (terutama) melakukan operasi plastik untuk mempercantik wajah atau tubuh, bahkan tidak hanya wanita, pria pun melakukannya, keyakinan warga sekitar yang mengaggap kemolekan mempermudah jodoh dan karir tentu tidak dipandang sebelah mata, sehingga mereka rela mengubah diri menjadi “orang lain” seolah-olah boneka yang dapat berubah sesuai keinginan, tapi apakah salah?
Bila dipikirkan secara logika, logis saja mereka yang merasa kurang dalam hal lahiriah ingin memperbaiki penampilannya, jika anggapan masyarakat yang demikian (seperti yang disebutkan diatas), siapapun ingin mencari jodoh yang cantik dan tampan, lantas bagaimana dengan mereka yang terlahir dengan keadaan fisik yang kurang menunjang atau termasuk dalam kategori biasa saja? Apakah mereka tidak berhak mendapatkan orang yang mereka sukai? Apakah mereka tidak berhak merasakan apa yang orang dengan keberuntungan fisik rasakan? Adilkah? Toh mereka dilahirkan dengan fisik demikian bukan keinginan mereka, tentu mereka sangat ingin mendapatkan fisik yang menarik dan wajah yang good looking, dengan pemikiran itu, salahkah mereka?
Atau dengan kemudahan meniti karir dan mencari uang, apakah hanya mereka yang diberikan keberuntungan lahiriah yang boleh bergelimang harta? Apakah seorang yang dilahirkan dengan lahiriah pas-pasan tidak boleh mencari uang dan mensejahterakan dirinya? Haruskah ada perbedaan hanya karena hal yang ia pun tak meminta hal tersebut?
Jika ditelaah, pantaslah mereka berusaha bagaimanapun memperbaiki fisik demi dua hal yang sangat vital dalam kehidupan tersebut, karena mungkin bagi mereka hanya ada dua pilihan, memperbaiki penampilan atau menjadi manusia yang selalu dikalahkan?
Jadi masihkah ada yang mempersalahkan orang yang melakukan operasi plastik?
Namun, jika kita berpikir ulang bukankah Sang Pencipta begitu adil?
Bukankah Sang Pencipta selalu memberikan yang terbaik?
Termasuk hal lahiriah seperti kemolekan?
Setiap mili dari tubuh kita memiliki fungsi, tak ada yang terlewat, mungkin mataku tidak menarik, tapi apakah dengan mempercantik mata akan mempercantik wajah juga? Apakah nantinya jika aku melakukan operasi pada mataku, mataku dapat berfungsi dnegan baik seperti ini?
Mungkin kulitku hitam, namun jika  aku mengurangi pigmen kulitku agar menjadi putih, aku akan sehat seperti ini?
Mungkin badanku gemuk, tapi jika aku melakukan operasi untuk kemolekan tubuh hasilnya akan lebih baik?
Mungkin hidungku besar, tapi apakah dengan mengecilkan hidungku, aku akan bertambah cantik?  Apakah aku dapat bernapas dengan baik seperti hari ini?
Bukankah Allah menciptakan segala sesuatu dengan keseimbangan?
Bukankah itu berarti Allah menciptakan manusia dengan segala keseimbangan pula?
Apakah kalian tahu definisi cantik sesungguhnya?
Cantik atau tampan itu relatif bukan?
Siapa yang bias menjamin, jika kita merubah ciptaan-Nya kita akan bertambah cantik?
Siapa yang menjamin, jika kita melakukan “perubahan” kita bisa memperbanyak rezeki?
Siapa yang menjamin, jika kita melakukan operasi kita bisa cepat mendapat jodoh?
Bukankah jodoh dan rezeki juga Allah yang mengatur?
Meskipun manusia harus berikhtiar, apakah dengan merubah diri kita Allah menyukai cara kita berikhtiar?

Aku kembali memagut diriku di cermin..
Betapa indahnya Penciptaku..