“Teteh pokoknya bangun
gedung tinggi, misalnya masjid yang ngalahin taj mahal, kalau enggak..gedung
garuda yang besar yang bisa masuk Guinness book record”
Begitu jawabannya,
seorang anak kelas V SD, berumur 10 tahun mengungkapkan pikiran jujur dengan
gaya bahasa dan mata yang bersinar penuh harap.
Aku terdiam,
mendengarkan kata-kata yang sangat lancar dari seorang adik yang berwajah
sangat anak-anak, adikku, yang dahulu aku tidak mengharapkannya karena berpikir
ia akan merebut semua kasih sayang orang tuaku, merebut kebanggan mereka dari
diriku, merebut perhatian mereka dari aku.
“Pokoknya teteh bangun
yang ada Indonesianya, yang tinggi, besar dan megah nantinya masuk ke media,
masuk ke berita ‘seorang mahasiswi Universitas Indonesia merencanakan
pembangunan gedung megah berbentuk garuda’ terus di bawahnya ada tulisan ‘Bhinneka
Tunggal Ika’.
Aku hanya memandangnya,
menunggu ia mengungkapkan semua yang ia pikirkan tentang diriku, tentang
seorang kakak yang merasa dirinya tidak istimewa, seorang kakak yang merasa
dirinya tak bisa melakukan apapun, seorang kakak yang bahkan bimbang dengan
keberadaannya di spesialisasi jurusan yang telah ia pilih sendiri.
‘Bisa teh…kan kaya ayu
ting-ting tuh yang tadinya orang biasa, nyanyi dangdut aja, terus naik, naik,
naik, jadi artis deh..nanti teteh diundang ke acara ini, acara itu, abis itu
terkenal”
Aku tetap terdiam dan
memandang matanya yang sama sekali tidak memancarkan kebohongan, betapa besarnya
harapan yang ia miliki dan ia gantungkan pada seorang kakak yang bahkan tak
tahu mengapa ia memilih jurusan kuliahnya kini dan apa impiannya.
“Kalau Ade, nanti maungambil
apa?”. Aku sekedar bertanya, ia
tersenyum.
“Aku mau… robot, nanti
aku buat robot yang kaya di game zombie, terus aku kontrol”
Aku iri,
Saat itu aku sangat
iri, aku 17 tahun kalah dengan seorang anak berusia 10 tahun, yang mampu
bercita-cita, berharap besar, jujur akan impiannya dan memikirkan impian untuk
oang lain,
‘Apa ini seorang adik
yang dulu aku tak harapkan kehadirannya?’