Selasa, 24 Januari 2012

Aku...1

Aku mulai ragu dengan diriku sendiri, berkaca dengan segala perasaan yang jujur dan tidak.
Aku bahagia saat aku bertemu ayah, ibu dan adikku yang ku sayangi, sangat. Tapi perasaan itu tak jarang muncul dan mengeruak, seperti bau seekor bangkai tikus yang kau simpan dalam jerami tertutup, semakin lama semakin nyata, dan meski kau tak mau membenarkannya bahwa itu adalah bangkai simpananmu, tetap saja, itu nyata.
Aku terkekang, aku tak mau melihat ayah, ibu, adikku cemas, akibat diriku yang sebenarnya, selalu merasa terbelakang dan memang demikian, sedangkan selama ini mereka memberikan kepercayaan sepenuhnya padaku, memuji-muji keberuntunganku, sekolahku, kepada setiap mereka yang bertanya.
Aku takut, aku mengecewakan, aku bukan seperti persepsi mereka.
Aku ingin menangis, melihat kenyataan diriku yang tanpa bakat, tanpa kemampuan istimewa, dan berpeluang 'kalah' dalam setiap kompetisi.
Tapi ibuku akan bertanya 'kamu kenapa?'
Aku ingin berteriak saat aku merasa tertekan
Tapi ayahku akan bertanya,'apa ya teriak-teriak, kenapa?'
Aku ingin melempar dan menghancurkan barang disekelilingku, jika frustasi membenamkan kepercayaanku,
Tapi adikku akan bertanya, 'teteh kenapa sih?'

Akhirnya, aku terdiam, memendam rasa hati yang berkecambuk tiada arah
Menahan air mata, menyunggingkan senyum terpaksa di sudut kanan bibirku,
Dan menyesal, 'aku menjadi orang lain'

Tidak ada komentar: