Minggu, 22 Januari 2012

Kenyataan : Kodrat atau Terpaksa


Aku bergidik, cerita sekumpulan ibu-ibu itu membuatku ciut, dengan semangat dan penuh candaan mereka dengan mudahnya menceritakan pengalaman mereka, padahal aku sedang berada di sana,
“iya..biasanya kalau pendarahan itu tidak “bersih” saat melahirkannya”
“memangnya mau di steril?”
“iya bu..saya di sesar sampai 3 jam di ruangan operasi”
“biasanya kalau ingin bersih itu di kiret, terasa jari-jari itu masuk ‘mengaduk-aduk’ tapi daripada sakit kemudian, lebih baik sakit lalu sudah”
aku mulai bergidik lagi, apa sebenarnya tujuan mereka menceritakan semua itu? Berbagi cerita tentang permasalahan orang dewasa, aku tidak merespon hanya terpaksa mendengarkannya dengan tatapan lurus memperhatikan televisi yang menyala.
Namun apa mau dikata, pikiranku melayang meninggalkan kehidupanku sekarang dengan status pelajar, aku sadar nantinya aku akan seperti mereka, terkunci kodrat seorang perempuan yang harus dilaksanakan cepat atau lambat.
Aku tidak bisa membayangkan bagaimana nantinya kehidupanku selepas menjadi pelajar, jika aku mulai membayangkannya aku  berharap selamanya akan berstatus pelajar, entah S1, S2 S3..S berapapun akan aku jalani.
Jika sudah begini, aku tidak lebih mengerti pikiran anak-anak zaman sekarang yang mulai ingin “menikah” cepat, lulus SMA, disodorkan dengan tiga pilihan : 1.Kuliah, 2. Kerja, 3. Menikah
Mengapa pilihan ketiga dimasukan dalam daftar anak yang baru lulus SMA?
Dan mengapa tidak sedikit yang bahkan memilihnya?
Aku mulai takut dengan segala kenyataan yang terjadi, ada disekelilingku yang menikah saat usia lulus SMA, dan menjalani kehidupan rumah tangga, apa sebenarnya yang memicu untuk itu? Bukankah lebih menyenangkan dengan status pelajar, kita bebas menuntut ilmu, bertemu dengan berbagai macam orang, menyumbangkan satu dua ilmu yang di dapatkan untuk kemajuan negeri ini? Sedangkan ia harus menjalani proses persalinan dengan segala resiko yang harus ditanggung oleh anak sekecil itu?
“mungkin jalannya memang seperti ini”, begitu orang tuanya membela, “daripada nantinya ia yang tidak berdosa lahir ke dunia tanpa seorang ayah”.

Tidak ada komentar: