Aku bergidik, cerita
sekumpulan ibu-ibu itu membuatku ciut, dengan semangat dan penuh candaan mereka
dengan mudahnya menceritakan pengalaman mereka, padahal aku sedang berada di
sana,
“iya..biasanya kalau
pendarahan itu tidak “bersih” saat melahirkannya”
“memangnya mau di
steril?”
“iya bu..saya di sesar
sampai 3 jam di ruangan operasi”
“biasanya kalau ingin
bersih itu di kiret, terasa jari-jari itu masuk ‘mengaduk-aduk’ tapi daripada
sakit kemudian, lebih baik sakit lalu sudah”
aku mulai bergidik
lagi, apa sebenarnya tujuan mereka menceritakan semua itu? Berbagi cerita
tentang permasalahan orang dewasa, aku tidak merespon hanya terpaksa mendengarkannya
dengan tatapan lurus memperhatikan televisi yang menyala.
Namun apa mau dikata,
pikiranku melayang meninggalkan kehidupanku sekarang dengan status pelajar, aku
sadar nantinya aku akan seperti mereka, terkunci kodrat seorang perempuan yang
harus dilaksanakan cepat atau lambat.
Aku tidak bisa
membayangkan bagaimana nantinya kehidupanku selepas menjadi pelajar, jika aku
mulai membayangkannya aku berharap
selamanya akan berstatus pelajar, entah S1, S2 S3..S berapapun akan aku jalani.
Jika sudah begini, aku
tidak lebih mengerti pikiran anak-anak zaman sekarang yang mulai ingin “menikah”
cepat, lulus SMA, disodorkan dengan tiga pilihan : 1.Kuliah, 2. Kerja, 3. Menikah
Mengapa pilihan ketiga
dimasukan dalam daftar anak yang baru lulus SMA?
Dan mengapa tidak
sedikit yang bahkan memilihnya?
Aku mulai takut dengan
segala kenyataan yang terjadi, ada disekelilingku yang menikah saat usia lulus
SMA, dan menjalani kehidupan rumah tangga, apa sebenarnya yang memicu untuk
itu? Bukankah lebih menyenangkan dengan status pelajar, kita bebas menuntut
ilmu, bertemu dengan berbagai macam orang, menyumbangkan satu dua ilmu yang di
dapatkan untuk kemajuan negeri ini? Sedangkan ia harus menjalani proses
persalinan dengan segala resiko yang harus ditanggung oleh anak sekecil itu?
“mungkin jalannya
memang seperti ini”, begitu orang tuanya membela, “daripada nantinya ia yang
tidak berdosa lahir ke dunia tanpa seorang ayah”.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar