Minggu, 23 Desember 2012

Random Post 1

hai semua...fuuuhhh..fuuuhhh *niup-niup debu*
lamaa nian aku ga buka blog ini, berasa berabad-abad..hehehe
Sebenarnya masih ga tau mau ngapain kalau mampir ke blog..masih bingung, tulisan apa yang ingin aku tuangkan dalam bentuk blog ini, curhatkah? cerpenkah? novel atau hasil diskusikah?

Hari ini, karena gue melankolis..*cuiih, kita ngerandom bareng yuk..

Sekali lagi gue disadarkan dengan satu kenyataan bahwa gue dikelilingi orang-orang yang yang sangat gue sayangi..
temen gue buat post tentang satu bidang yang gue ga bisa ngungkapin dari dulu betapa gue berterima kasih sama Allah swt telah diijinkan berkecimpung didalamnya..karena hanya dengan ucapan terima kasih saja tidak akan pernah bisa membayar segala sesuatu yang aku dapatkan saat itu dan saat ini..
Betapa hebatnya rasa itu sampai aku bertekad ga akan pernah melupakannya *mulai lebay -.-"
yang kabid wakabidnya sangat the best! yang kawan seperjuangannya ga kalah the best! ya..meskipun aku kalau rapat perempuan sendiri karena kakak kelas -kaka kelas? berasa SMA..- cuma ngikut sekali, yang konsol sampe malem gue tetep aja cewe sendiri -.-" yang aksi dimanapun berada *syalalala, yang kata-katanya "Tiada Kata Jera dalam Perjuangan", "Jangan Hanya Diam karena Diam adalah Pengkhianatan", yang selalu mainin quotes yang ujungnya malah ngegombal -.-", yang gue dipojok-pojokin mulu, yang gue mau nulis udah setengah ga jadi-jadi publish, yang sekarang temen-temen gue udah pada jadi "orang" kata kabid gue :'), yang kabidnya kena di ceng-in mulu *aduh bahasa apa tuh? wkwkwk, yang wakabidnya deket banget sama temen gue yang jago buat tulisan *ecieee, temen-temen gue yang berapi-api, yang bukannya mengkaji malah nanya aksi -.-", yang ngikut sospolnet sampai malem, yang nyiapin spanduk hasil coretan sampe malem banget, pagi malah, yang suka nyetel lagu-lagu perjuangan, yang sering mengomentari begini-begitu, yang suka buat kajian di kantek mendadak :p, yang ketemu cewe di detos pengen ngegodain hahahaha..yang di wisuda langsung di tahun pertama di depan gd.MPR DPR..yang macem-macem deh

ga akan pernah tergambar betapa banyaknya apa yang kita lalui di hari-hari kita bersama, karena jika diceritakanpun kitalah yang paling tahu dan merasakan apa yang sebenarnya dirasakan, kitalah yang paling tahu apa yang sebenarnya yang kita lakukan, ga akan pernah terlupa semua jasa-jasa dan segala kenangan, pelajaran yang telah diberi, meskipun secara formal kita telah berpisah, hatiku tetap pada kalian hingga saat ini..dan betapa aku bersyukur atas itu..
terima kasih semua :)
kita tetap pejuang dan selalu berjuang karena setiap kita tak kenal arti kata "Jera dalam Perjuangan"
Hidup Mahasiswa!
Hidup Rakyat Indonesia!

Selasa, 02 Oktober 2012

Mungkin, setiap jengkal kedewasasanku, terhalang
Menghadapi kenyataan adalah sesuatu yang sangat mendua
Ketakutan akan dunia dewasa dan peralihanku dari masa muda
Ketika aku berpikir, aku tahu aku bukanlah seorang dewasa
Dewasa itu menuntutku untuk berpikir seperti ini, itu
Tapi disana adalah hal yang paling aku tidak inginkan
Aku tetap ingin seperti ini, tetapi aku akan semakin tertinggal siapapun disekitarku
Mama..
Aku harus berjalan kemana?

Rabu, 15 Agustus 2012

Catatan 14 Agustus 2012


14 Agustus 2012
Saat salat qiyamul lail berjamaah aku memutuskan hanya menjalinnya 4 rakaat, aku membutuhkan waktu untuk mandi sebelum berangkat pagi –pagi ke Kemendikbud untuk melanjutkan aksi, ketika aku makan sahur dan jamaah masih salat, imam yang memimpin salat itu menangis dengan mengulang-ulang kalimat permohonan dijauhkan dari neraka dan di dekatkan dengan syurga, ia menangis, menangis dan menangis, aku hanya bisa mendengarkan, ternyata imanku begitu tipis, aku bahkan belum bisa seperti mereka, apa yang harus aku lakukan agar bisa seperti mereka yang turut merasakan ketakutan, kesedihan, mohon ampun pada Allah dengan berlinang air mata dan penuh kekhusyukan?, begitu burukkah diriku?.
Pagi itu, nampaknya aku terlambat, aksi telah dimulai dengan melilitkan kain hitam pada lambang makara UI di bundaran psikologi, betuliskan UI butuh perbaikan. Seperti biasa meski sangat sedikit kakak-kakak itu sangatlah bersemangat, sangat! Tiada raut wajah penyesalan karena masa aksi yang hadir sedikit, tidak ada guratan wajah malu karena masa aksi seolah kalah pamor dengan PSAF yang dilangsungkan dengan euforia baik oleh senior dan juniornya, meskipun mereka terus diteriaki skenario senior yang ditujukan untuk membangun mental mahasiswa baru, mungkin itulah tujuannya.
Pukul 08.00 wib, masa aksi siap berangkat, Uki belum datang juga, tidak ada satupun perempuan di sini selain diriku, setidaknya dengan Uki aku memiliki sandaran dan teman. Pukul 10.00 wib semakin dkat karena mengejar waktu, beberapa dari kami yang telah siap mengambil langkah taktis berangkat dengan motor untuk bisa mencapai Kemendikbud tepat waktu agar dapat melihat langsung serah terima jabatan dari mantan Rektor kami Gumilar Roesliwa Soemantri ke tangan PJs Djoko Soesanto, aku dan Uki memilih menggunakan transportasi umum yakni kereta, sedangkan Wakabidku memilih menunggu terlebih dahulu masa teknik yang belum datang karena mengurus PSAF terlebih dahulu, aku melakukan perjalanan dengan kereta Commuter Line sampai stasiun Manggarai diteruskan dengan menaiki mobil 66 sampai Kemendikbud.
Meski baru bertemu beberapa kali, aku merasa nyaman dengan Uki, kami banyak bertukar cerita, dan aku memandangnya sebagai seorang aktivis pergerakan sejati, jika dibandingkan denganku, aku adalah adik kecil baginya.
Ia bercerita bahwa pada saat Sumbangan untuk KPK, ia tengah berada di Purwakarta, temapat tinggalnya, ia menyadari bahwa banyak anggota Akprop yang telah mudik, akhirnya ia memutuskan untuk kembali ke UI, meskipun ia tidak diperbolehkan, namun ia terus berusaha membujuk orang tuanya, dengan uang hanya Rp40.000,- ia menuju Gd.KPK di Rosina Said, dengan pengetahuan seadanya akan kendaraan apa yang harus ia naiki, ia seolah berkeliling Jakarta untuk menemukannya, aku membandingkan dengan diriku, apakah aku sanggup seperti itu?.
Aku dapat melihat jiwa optimis dalam dirinya, bertanggung jawab dan mampu membaca situasi, sebuah jiwa kepemimpinan yang sangat baik, dan tentunya bersahabat, yang terpenting ia kini berjilbab, sebuah transformasi hidup yang turut mempercantik kepribadiannya.
Gd.Dikti, Kemendikbud
Aku dan Uki tidak bisa masuk, alasannya ruang sidang telah penuh dan 9 orang dari BEM telah menempati ruangan tersebut, akhirnya kami menunggu sidang yang dilaksanakan di lantai 3 itu selesai, setelah kami terdapat beberapa rekan dari BEM UI dan Fasilkom datang, namun masa Teknik belum juga datang.
Karena tidak ada tempat duduk aku dan Uki memilih ke toilet dan membaca buku di sana, kebetulan terdapat sebuah jendela yang menjorok ke luar sehingga menyisakan tempat duduk, menjelang dhuhur, masa Teknik datang, dan aku sedikit terkejut karena kakak dari BEM UI dan Fasilkom tidak ada, mereka ke lantai tiga karena sidang telah selesai, sedangkan kami memilih tetap di bawah karena tak lama kemudian rekan yang di lantai 3 turun ke tempat kami.
Kami diceritakan bahwa tuntutan telah di berikan pada Gumilar, tuntutan tersebut ada di kertas hitam dan tidak lupa dua buah karton yang bertuliskan menolak Gumilar, hal itu juga ditujukan pada media-media yang datang ke sidang tersebut, akhirnya pak Gumilar turun dari jabatannya, ada sedikit pernyataan yang menggelitik, ketika pak Gumilar berkata “Kaji, kaji lagi”, salah seorang BEM UI berkata “Kami sudah mengkaji pak, kapan kita forum”, lalu beliau hanya bisa terdiam.
Aku pulang bersama Uki, setelah salat dan mendengarkan ceramah di masjid Kemendikbud yang berisi tentang bagaimana seharusnya kita bersyukur atas segala nikmat yang diberikan Allah swt yang tidak akan bisa terbalas akan aapapun. Sebenarnya kami ditawarkan untuk ikut bersama masa FT yang saat itu membawa mobil milik kak Ryan (Ketua IME), akan tetapi tampaknya kakak-kakak sedang terburu-buru karena harus kembali mengurusi PSAF yang masih berlangsung, sehingga kami memutuskan kembali menggunakan transportasi umum.
Pada saat itu hal yang paling menggembirakan bagiku adalah tidak adanya sedikitpun rasa penyesalan dalam hati walau aku hanya dapat mendengar cerita mereka yang melihat langsung sidang tersebut, aku tidak sia-sia  memutuskan untuk pergi kembali ke UI dan merelakan untuk melihat adik-adiku berjuang di perlombaan Parade dalam rangka HUT Pramuka. Alhamdulillah ketika aku menerima kabar mereka meraih juara pertama, sungguh Allah sangatlah Maha Kuasa, selamat untuk adik-adiku di Pramuka Ambalan Jendral Soedirma-Nyi Ageng Serang SMAN 1 Tambuhn Selatan.
Sebelum pulang kami menuju Tanah Abang dengan tujuan membeli beberapa kerudung, akan tetapi hampir semua took telah tutup akhirnya kami memutuskan untuk pulang menggunakan kereta dari stasiun terdekat.
Di stasiun, ketika manusia tergesa-gesa sangat mengerikan, berdesak-desakan menunggu kereta yang ingin dinaiki, seperti simulasi aksi, aku dan Uki membentuk border sendiri, berusaha agar menghadang serbuan gelombang manusia yang saling berteriak dan berdesak-desakan, bahkan diantara mereka ada yang nekat menaiki atap kereta, dan memerlukan sebuah petugas kemanan dengan bamboo panjang untuk mengusirnya, Indonesia…
Meskipun begitu, masih ada diantara mereka yang lolos pengejaran petugas tersebut dan berhasil menaiki atap kereta, mereka tertawa dan melambaikan tangan seolah mendapatkan kemenangan penuh, yang sebenarnya bukankah maut mengincar kapan saja, terutama dengan mereka berbuat seperti itu?, Uki bertanya, “bagaimana fit kajian transportasinya nih?”, seraya tersenyum, “kemarin lebih fokus ke MRT ki..”,tampaknya setiap peristiwa jadi bahan langkah nyata apa yang harus dilakukan.
Tiga hari berlalu, rasa kantuk akibat kurang tidur, dan lelah akibat berjalan mungkin mewarnai hariku, tetapi banyak yang ku dapatkan dari tiga hari peristiwa tersebut, bukan hanya dari sisi pergerakan, dari sisi religious, sisi psikologi, kemanusiaan, belajar berpikir kritis dan belajar percaya pada apa yang diyakini diri sendiri.
Aku bukanlah seorang aktivis sejati, bukan seorang yang dapat dikatakan pergerakan tetapi masih seorang yang “digerakan”, terkadang aku sadar dan sedih Kastrat dan pergerakan dicampur tangani oleh orang seperti aku yang banyak kekurangan, sedangkan mereka yang berpotensi lebih dan sangat lebih menurutku, berpaling dari jalan ini dan mencoba acuh, atau bahkan tidak percaya akan adanya idealisme yang seharusnya dimiliki mahasiswa, mungkin dikehidupan real nanti akan sangat berat dan mengikis idealisme, atau anggapan adanya idealisme menjadi hanya sebuah kondisi ideal yang tidak pernah tercapai, akan tetapi kepemilikan idealisme hari ini tidak akan membuat sebuah kerugian bagi dirimu, bukan hanya lewat jalan aksi tetapi lewat berbagai advokasi, lewat tulisan, atau sekedar pemikiran.
Jika semakin sedikit yang percaya akan adanya sebuah tanggung jawab bagi mahasiswa sebagai kaum intelektual melakukan perubahan kearah yang lebih baik baik secara vertikal maupun horizontal secara seimbang, maka pergerakan akan semakin tenggelam, tetapi bukan mati karena disetiap manusia pada hakekatnya terdapat sebuah keinginan memberontak kala terjadi penindasan dan ketidakadilan, kala ada sekecil apapun yang seharusnya diperbaiki dan diarahkan pada kondisi seideal mungkin.
Dan harus selalu diingat bahwa tidak memerlukan banyak orang untuk membuat sebuah perubahan, mungkin jika kutambahkan perubahan hanya memerlukan mereka dengan jiwa berapi dan pantang mundur serta semangat optimistik dan keyakinan bahwa perubahan itu nyata!.
Hidup Mahasiswa!
Hidup Rakyat Indonesia!

Catatan 13 Agustus 2012


13 Agustus 2012
Detik-detik mendekati 13 Agustus 2012..
Hal yang tak kalah mengesankan dan tidak akan dilupakan adalah aksi yang diakhiri dengan kembang api yang dinyalakan simbolis kami telah terbebas dari rezim yang diciptakan Gumilar Roesliwa Soemantri, layaknya tahun baru, usai kami menyebutkan deklarasi yang menyerupai proklamasi, kemi menghitung mundur bersama sampai detik satu, kembang api dinyalakan dan dengan indahnya membuat ledakan-ledakan di langit, sebuah momentum yang sangat indah dan seolah melihat sebuag sejarah baru, karena memang tanggal 14 Agustus rektor akan turun jabatan, namun jika ia turun dan diturunkan adalah dua hal berbada yang kontras, seperti saat bangsa ini meraih kemerdekaan atau diberikan kemerdekaan.
Sebelum masa aksi FT pulang, karena besok terdapat agenda PSAF yang menunggu khususnya bagi mereka SC kegiatan tersebut (ketua IM), kami saling merangkul satu sama lain membentuk sebuah lingkaran kecil,  dan kembali dipimpin ketua BEM FTUI, satu persatu dari kami memberikan kesan hari ini, hal yang membuat saya tersenyum adalah ungkapan dari kakak-kakak yang menggunakan sastra sebagai perantaranya, terdengar sangat istimewa.
Meskipun salah seorang mengatakan hal yang paling menyenangkan hanyalah saat mendengar sharing dari para senior BEM UI dan selainnya tidak, tetapi bukankah dalam sebuah aksi yang terpenting bukankah itu seru atau kesengan atau semacamnya yang akan kau dapatkan dalam sebuah program kerja tertentu yang dipersiapkan dari jauh hari, tetapi bagaimana perjuangan sekecil apapun yang telah dilakukan hari ini, karena setiap langkah akan mencatatkan sejarah tersendiri bagi pergerakan mahasiswa ke depan.
Ketika masa FT kembali pada peraduannya, aku bergabung dengan pengurus BEM UI, yang kesemuanya berasal dari FKM, temanku Uki yang berasal dari Vokasi, tampaknya tak ikut dan memilih tinggal di depan rektorat, sedangkan aku pergi menuju MUI untuk beristirahat, namun karena kesulitan tidur aku memilih membaca Al-Qur’an dan salat qiyamul lail sampai pukul 02.00 wib dan tidur sejenak sampai pukul 2.30 wib, sebelum akhirnya bergabung kembali ke masa di rektorat, sebenarnya makan sahur ditanggung oleh masing-masing fakultas, akan tetapi aku tinggal sendiri dari masa aksi fakultasku, sebenarnya ada wakabid Kastrat BEM FTUI 2012, namun ia masih berada di MUI, meskipun sendiri tampaknya aku tak perlu khawatir karena BEM UI menawarkan makan sahur, kebetulan persediaan yang ada lebih, sebuah the kotak, nasi, dan air mineral, aku juga terlalu sulit bergabung karena Uki ada di sana.
Sepanjang pagi itu, aku bersama Uki menyusuri fakultas kesehatan masyarakat untuk pertama kalinya, sangat rapi, dan serasa rumah sendiri dengan bangunan dan koridor yang sangat apik, perpaduan kayu, kaca, tembok bata, bebatuan dan taman yang sangat indah, warna-warna yang di dominasi pada corak ungu, benar seperti rumahmu sendiri.
Usai salat shubuh, kami kembali berkumpul di depan balai sidang, masa aksi benar-benar sedikit, kau tahu, dengan misi hari ini untuk menyegel rektorat, aku sedikit pesimis, ketika kami di bagi tugas aku pergi bersama Uki, yang akan berjaga di lantai 2, berangkat dari FMIPA karena instruksi yang diberikan kami harus berangkat dari tiga titik berbeda, Perpustakaan Pusat, FMIPA dan FKM, ada satu kata yang selalu kuingat sampai kini, ketika aku bertanya akan permasalahan kuantitas yang selama ini terkadang membuatku ragu akan pergerakan, namun dengan pasti ia menjawab  “Kata bung Karno : Tidak perlu banyak orang untuk melakukan sebuah perubahan”.
Aksi dilanjutkan, pintu rektorat yang rencananya kami segel ternyata memang terkunci, masa aksipun ditahan tidak bisa masuk, sedang beberapa dari kami terus berusaha agar karyawan dapat bergabung dalam gerakan kami, orasi-orasi terus terdengar dari luar rektorat dan sempat sekali masuk hingga pelataran, sebelum akhirnya masa aksi menggunakan aksi tutup mulut.
Pukul 10.00 wib
Aku ingat masalah jaket kuning yang kini ku kenakan bukanlah milikku, jaket ini milik seniorku angkatan 2008 dan ia akan pulang hari ini ke Bangka tepat pukul 12.00 wib, selain itu ibuku mengajakku untuk ikut mudik hari ini, aku mulai bingung, ada tuntutan untuk pulang, walau sebenarnya satu sisi diriku tetap ingin di sini, aku seperti dilanda konflik batin dan konflik itu mengerucut hingga aku memutuskan mengakhiri aksi ini dan pulang ke Bekasi, anehnya rasa tidak ikhlas itu terus menerus berputar dalam pikiranku, saat aku pulang aku tertidur di bus dan tempat dimana seharusnya aku turun aku tidak melakukannya sampai ke tempat pemberhentian bus yang terakhir, dengan sedikit linglung aku turun dan kembali ke tempat seharusnya aku turun dengan menggunakan angkutan umum lain, aku dikejar waktu dhuhur, kekesalan akibat supir yang selalu memberhentikan angkutan umumnya di setiap persimpangan untuk mendapatkan penumpang dan kegelisahan akibat pergi di tengah-tengah aksi yang berlangsung, apakah aku lari dari perang?, apakah aku lari di tengah perang? Bukankah Allah membenci hal itu?.
Mobil angkutan yang kunaiki terus menerus berhenti dan berjalan perlahan, rasanya aku ingin berteriak “ mobil angkutan ini bukanlah angkutan langka di jalan ini pak, kalau ada penumpang yang ingin menaiki mobil ini pasti ia akan memberikan tanda, tidak usah membunyika klakson terus menerus untuk mencuri perhatian mereka, karena seribu kali anda membunyikan klakson dan bersikap sok manis pada mereka, mereka tak akan mau naik mobil ini karena mereka punya tujuan berbeda, lagi pula dengan melimpahnya jenis mobil yang sama dengan rute sama, taktik mencari penumpang dengan menunggu seperti ini dapat mengurangi kepercayaan pelanggan karena akan men-judge anda akan mencari penumpang dan sangat sering berhenti, mereka tidak akan percaya”, sudah itu terdapat tulisan di depan mobil yang menyebutkan bahwa :” Anda perlu waktu saya perlu uang”, bukankah waktu lebih berharga dibanding uanag, karena kau memerlukan waktu saat mencari uang, akan tetapi uang tidak bisa menebus waktu untuk menunggu ataupun berhenti, penting mana?.
Kegelisahan karena aku lari dari perang berubah menjadi ketakutan, akhirnya setelah satu jam aku sampai tepatnya pukul 15.00 wib aku memutuskan kembali berangkat ke UI, aku tidak jadi ikut ibu untuk mudik dan memilih mudik bersama ayah tanggal 17 Agustus nanti, aku tidak pernah melakukan hal nekat seperti itu sebelumnya, mungkin karena pikiranku terus dipenuhi rasa bersalah dan ketakutan karena aku lari dari perang di saat yang lain sedang berjuang.
Kak Fadlan Mesin’10 (Wakabid Kastrat) memberitahu bahwa aksi pagi itu berujung pada pertemuan dengan wakil rektor pak Anis yang memang tidak bergabung pada gerakan kami tetapi sepakat bahwa beliau menginginkan kepemimpinan UI yang lebih baik dan penyegelan rektorat dengan kertas-kertas putih berupa keluhan terhadap rektor selama kepemimpinannya, aku jadi berpikir ketika aku memutuskan pulang dan tidak berada di sana aksi justru dapat dilanjutkan ketahap yang sangat berarti, tampaknya aku menjadi ikon ketidak beruntungan, malangnya.
Keinginanku mengikuti aksi sore yang dimulai pukul 15.30 wib tampaknya selain tidak visible juga tidak realistis, macet sangat menghalangi jalanku, seharusnya pukul 17.00 wib aku dapat sampai di UI, sampai maghrib aku baru mencapai kosanku, dan aksipun telah selesai untuk hari itu, atas saran Wakabidku juga aku memutuskan untuk bermalam di MUI, setidaknya itu akan lebih berharga dibandingkan aku berada di kosan tanpa ada sesuatu yang dapat ku kerjakan.
 Saat berdiam di MUI, terdapat sebuah kajian mengenai Rohingnya, sebuah komunitas Islam terpencil di Myanmar yang sebenarnya telah hidup di Myanmar bahkan sebelum yang lain hidup di sana namun mereka terusir dan di usir baik oleh masyarakat maupun kebijakan pemerintah Myanmar, mereka terpecah belah dan hidup di berbagai Negara terdekat termasuk Indonesia, salah satu mereka datang dari Jepang untuk memberikan penjelasan mengenai Rohingnya, mereka mendapatkan perlakuan yang tidak beerprikemanusiaan dan kebijakan yang tidak adil dengan menekan angka populasi agar jumlah mereka semakin sedikit, tidak diakui oleh Negara dsb, aku membayangkan bagaimana caranya aku bertahan jika aku yang mengalami?.

Catatan 12 Agustus 2012


12 Agustus 2012
Pekikan suara-suara semangat orator menggema di penghujung sore depan gedung tinggi yang berdiri angkuh di samping balairung dan menghadap gedung balai sidang tempat kami memulai langkah ini. Sekitar 150 masa aksi dengan perbedaan warna dasar bentuk yang mengelilingi makara tertutup oleh warna makara dan jaket yang kami kenakan, satu warna, kuning, suara-suara terus bersahut
Hidup Mahasiswa!
Hidup Rakyat Indonesia!
Hidup Universitas Indonesia!
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Apa yang saya tuliskan mungkin bukanlah pandangan objektif akan aksi tiga hari berturut-turut tersebut, namun lebih menceritakan apa yang telah saya alami dan rasakan atas aksi menuntut Gumilar Roesliwa Soemantri untuk turun dari jabatannya sebagai Rektor UI.

Sore itu, sekitar pukul 15.00 wib masa aksi Fakultas Teknik berkumpul di depan ruang Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Teknik Universitas Indonesia, tidak kurang dari 80 orang hadir berpartisipasi dalam barisan siap aksi, awal saya melihatnya sedikit terkejut karena masa aksi sangatlah banyak bahkan melebihi perkiraan sebelumnya, setidaknya jumlah masa aksi yang banyak seakan mendongkrak semangat saya satu tingkat dari sebelumnya.
Satu yang saya sadari adalah, mungkin masing-masing kami memiliki niat awal yang berbeda, beberapa masa aksi memang di dasari keinginan mendukung gerakan untuk menurunkan kepemimpinan Gumilar sebagai Rektor UI, mungkin pula menjaga mahasiswa baru yang dikabarkan akan diturunkan sebagai masa aksi dengan prasyarat tertentu, memenuhi ajakan pemimpin diantara kami karena ia dekat atau barangkali sekedar menunaikan kewajiban sebagai seorang yang memiliki jabatan dan kedudukan sehingga merasa harus mengikuti aksi ini, entahlah jujur selain ingin menuntaskan misi kami agar menjadikan UI yang lebih baik, saya juga merasa memiliki kewajiban sebagai bagian dari Kastrat Teknik yang seharusnya ketika saya memutuskan untuk andil dalam kegiatan aksi ataupun pergerakan semua itu harus lepas dan yang tersisa adalah sebuah idealisme mahasiswa dan keyakinan bahwa hal itu adalah benar dan patut untuk diperjuangkan, namun apapun niat setiap orang hari itu hanyalah dirinya dan Tuhan yang tahu bukan?.
Masa aksi teknik mulai bergerak menuju jembatan Teksas, melewati perpustakaan megah yang pendiriannya sempat menimbulkan pro kontra dan indikasi penyelewengan namun sekarang telah menjadi salah satu pusat berkumpulnya mahasiswa baik bagi mereka yang ingin sekedar membaca, belajar, meminjam buku, membeli buku, menikmati secangkir kopi sampai menikmati makanan luar negeri dan memutuskan untuk menunaikan salat ashar terlebih dahulu di Masjid Ukhuwah Islamiyah (MUI).
Di balairung, masa aksi dipisahkan dengan mereka yang mengikuti barisan ini dengan tujuan menjaga mahasiswa baru (beberapa orang utusan khusus dipersiapkan sebagai operasional), karena menurut perjanjian mahasiswa baru diperbolehkan mengikuti aksi apabila mereka selesai OKK pukul 16.30 wib, karena sebenarnya jadwal OKK yang hanya sampai pukul 16.00 wib, tetapi sampai batas yang ditetapkan tidak ada tanda-tanda selesainya OKK hari itu. Sebenarnya sejak awal ada ketidaksetujuan akan turunnya mahasiswa baru, terutama bagi pembinaan yang dianggap terlalu dini dan seharusnya melewati tahap-tahap tertentu untuk bisa mengikuti aksi secara langsung, mungkin diantara semua hanya aku yang merasa setuju dan senang jika mahasiswa baru bisa mengikuti aksi sebenarnya hari ini, terlebih terdapat kabar orasi ketua BEM Fakultas ditiadakan dan secara halus OKK itu mempersempit ruang pergerakan yang seharusnya terus dijaga sebagai penanaman idealisme, mungkin karena aku Kastrat atau karena aku kurang merasakan pembinaan mengenai pergerakan itu sendiri?.
Balai Sidang, saat masa aksi datang, sambutan dengan “Ooo..ooo”, akan selalu berkumandang, seraya mengepalkan tangan yang terkepal ke udara, aku tidak mengerti maksud dan tujuannya mungkin agar membakar semangat dan ucapan selamat datang bagi kawan seperjuangan. Ketika itu aku melihat masa aksi yang masih sedikit, dan kontras sekali dengan jumlah masa aksi fakultas biru tua ini yang jumlahnya tak kurang dari 80 orang, jika bicara jujur, terkadang aku tergores malu karena masalah kuantitas ini, mungkin di fakultasku terlalu banyak penanaman nilai “tidak peduli acaramu bagaimana bentuknya asalkan banyak yang menghadiri karena itu adalah salah satu indikasi kesolidan”, sedangkan dua kali aksi yang saya hadiri selalu tidak seindah yang saya dengarkan di televisi, dimana mahasiswa bersatu padu membentuk kekuatan tangguh menuju sebuah perubahan kearah yang lebih baik, atau itu hanya ekspetasiku yang terlalu tinggi?, selain itu permasalahan waktu juga agaknya sulit dipecahkan, saya selalu berpikir kami yang berada di sini adalah orang-orang yang menginginkan perubahan dari hal yang dianggap salah menuju kebenaran, namun kami mengawalinya dengan kesalahan dan seolah menunjukkan ketidak komitmenan diri kami sendiri, tampaknya hal ini haruslah menjadi sebuah evaluasi dalam sebuah pergerakan, dan tentunya dimulai dari diri saya sendiri yang juga banyak melakukan kesalahan tersebut.
Aksi dimulai, masa  aksi di arahkan agar berkeliling di jalan depan balairung, saat itu bertepatan dengan mahasiswa baru selesai menuntaskan kewajibannya ber-OKK, mobil yang digunakan mungkin oleh para orang tua untuk mengantar putra-putrinya yang membanggakan karena bisa memasuki perguruan tinggi  ini seolah terganggu dengan masa aksi yang berjalan meneriaki agar kepemimpinan Rektor UI kami pak Gumilar berakhir, walaupun ada beberapa dari mereka yang mengabadikan momentum ini entah karena terkagum atau hanya sekedar mengabadikannya sebagai tontonan “gratisan” yang seolah berkata “kapan lagi melihat mahasiswa UI berdemo secara langsung?”.
Ketika itu saya sempat terganggu dengan dua kejadian, yakni pertama perkataan seorang masa aksi bahwa aksi ini terkesan gagal akibat pick up yang memutar sehingga barisan puteri dan barisan putera tercampur, tidak seperti kondisi sebelumnya yang tertata dimana barisan putera di depan barisan puteri, kira-kira ia mengatakan “gagal nih aksi pulang yuk, pulang”, saya hanya berpikir, secepat itukah mengindikasikan sebuah aksi telah gagal?, yang kedua adalah teriakan salah seorang yang memegang walkie talkie dengan slayer putih dikepalanya yang berteriak kepada anak UI lain yang juga memegang benda yang sama “Gue gak ngeganggu lo ya, lo gak usah ngeganggu gue” dan diikuti anggukan kasar oleh yang lainnya, sepertinya ada ketegangan diantara mereka, di sisi lain sedang kami berteriak-teriak, mahasiswa baru yang baru saja keluar OKK dengan seragam putih-putihnya melihat dari samping entah dengan tatapan yang mengartikan apa kejadian dihadapannya tersebut, anehnya kejadian-kejadian tersebut semakin mendongkrak semangatku dan acuh dengan anggapan yang mungkin mencibir aksi kami saat itu.
Di depan gedung rektorat, masa laki-laki diarahkan membentuk border untuk melindungi masa perempuan yang berada di tengah, satu persatu orator sebagai wakil dari semua masa aksi berteriak menyampaikan tuntutan agar rektor turun dari jabatannya sekarang juga dan ditetapkan paling lambat hari ini, 12 menjelang 13 Agustus 2012, entah ia akan turun ataupun tidak mahasiswa tidak lagi menganggap bahwa Gumilar Roesliwa Soemantri adalah rektor UI lagi. Aksi kali itu, mungkin sedikit berlebihan namun anggapan bahwa aksi kali itu adalah istimewa bagiku karena untuk pertama kalinya aku mencoba menerobos kedepan dan hanya terfokus pada apa yang dibicarakan oleh orator, orasi yang sangat menggebu dan tersampaikan apa yang menjadi tuntutan kami, kali ini tidak terpikirkan lagi apakah saya adalah seorang kastrat atau bukan, yang terpikirkan hanyalah tuntutan aksi kali ini, selain itu di aksi kali ini 10 orang laki-laki yang dengan suka rela mengajukan dirinya sebagai banker yang langsung menghadap bapak-bapak satpam yang menjaga pertahanan gedung rektorat.
Aksi kami terhenti kala adzan maghrib berkumandang “bagaimanapun juga kita tidak boleh mendzalimi diri kita sendiri”, maka ta’jil berbukapun dibagikan baik dari pihak BEM UI, maupun pihak Fakultas. Masa aksi terpisah, kembali ke masing-masing fakultas untuk berbuka, mungkin saat itu aku berpikir, semua masa aksi benar-benar melupakan warna yang mengelilingi makara yang terjahit di jaket kuningnya dan hanya berpikir bahwa sesungguhnya warna makara hanyalah satu, kuning.
Setelah salat magrib berjamaah, acara di perkumpulan masa aksi fakultas teknik adalah perkenalan, masing-masing orang menyebutkan nama, jurusan dan angkatan yang dipandu oleh ketua BEM FTUI 2012 (Agus Taufiq Kapal’09), acara perkenalan ini tidak akan pernah dilewatkan pada setiap acara yang ada di fakultas teknik, karena setiap orang tentu akan merasa saling memiliki jika saling mengenal bukan?, apakah itu artinya jika kita tidak saling mengenal kita tidak saling memiliki?.
Arahan selanjutnya dari kak Agus adalah masa aksi dapat melanjutkan atau menyudahi aksinya sampai di sini, karena besok PSAF telah menunggu, kegiatan pembinaan mahasiswa baru di lingkup fakultas yang berlangsung dari pagi, dan aksi yang dijadwalkan menginap ini tentu akan menguras tenaga untuk keesokan harinya, yang masih bertahan setidaknya hingga acara mala mini selesai adalah ketua BEM, ketua IM, dan MPM, aku juga memutuskan untuk tinggal, sepertinya Allah juga menyuruh demikian karena aku lupa membawa kunci kosanku saat itu.
Salat isya dan tarawih dilakukan di MUI, sebenarnya disediakan sebuah spanduk besar yang sempat menimbulkan beberapa polemik hangat, di dalamnya terdapat kalimat yang bermakna “ Terdapat masalah yang lebih besar daripada spanduk ini”, kira-kira begitulah makna tulisan di spanduk yang memang sangatlah besar tersebut, dan memang masalah di UI lebih besar, dan lagi-lagi saya berpikir, kanapa kami masih terpisah?, mungkin pertimbangannya adalah masalah kekhusyukan beribadah.
Usai salat tarawih, kepastian bahwa aku bukanlah orang yang mampu beradaptasi dengan baik dan memiliki permasalahan sosialisasi nampaknya benar-benar terbukti, di sebuah kantin dekat stasiun pondok cina, nampaknya squad FT sedang berkumpul, tertawa lepas sambil menikmati santap malam yang tersedia, melihatnya aku memilih pergi dibandingkan bergabung, memperhitungkan kemungkinan aku diterima dengan hangat atau sebaliknya, sepertinya aku lebih memilih menghindari keramaian, tampaknya jika untuk survive diperlukan banyak kenalan, apakah aku bisa survive nantinya?. Permasalahan yang sempat hilang ketika aku sendiri muncul kembali saat melihat masa aksi FT yang masih ada untuk menghadiri kembali rangkaian aksi selanjutnya, beruntung ternyata aku diterima dengan hangat, aku sadar mereka yang bertahan adalah petinggi-petinggi FT bukanlah orang biasa, mereka sangat pandai baik dalam bersosialisasi, rencana strategis dan taktis.
Di aksi kali ini, aku bertemu lagi dengan temanku saat aku menghadiri salah satu acara BEM Wanna Be, Uki, ternyata ia bergabung dengan Akprop, seorang perempuan yang sejak pertama aku mengenalnya ia adalah seorang yang berjiwa kepemimpinan, tahu apa yang ia lakukan dan memiliki komitmen tinggi, ia memberitahukan padaku bahwa masa aksi FT belum kembali, padahal acara telah dimulai setengah jam yang lalu, belum lagi penampilan tiap fakultas yang baru ku ketahui, namun dengan kemampuan kakak-kakak yang bertahan saat itu sangatlah teruji dengan baik, dalam beberapa menit menghadapi kegalauan akibat penampilan yang belum terstruktur, beberapa menit pula penampilan itu telah siap.
Api unggun dikelilingi masa aksi yang lebih banyak oleh fakultas lain dibandingkan senja tadi, temanku sejak SMA-pun datang -ia juga adalah Kastrat salah satu fakultas di UI-, senang rasanya bertemu teman lama yang ternyata satu perjuangan, menurut penuturannya fakultasnya telah tampil pertama,tentu kami –masa FT-belum datang, kakak-kakak masih terfokus pada penampilan yang akan dipersembahkan nantinya, untuk itu mereka tidak berpartisipasi dalam penampilan BEM Psikologi yang menyajikan sebuah permainan yang cukup mencairkan suasana, tawa lepas di sana dan dapat tahu salah satu bagian rahasia dari teman sekelompok, termasuk jumlah mantan pacar ketua BEM UI, hahaha.
Seusai permainan, ketua IM Mesin (Septian Mesin’10) dan IMTI (Tito TI’10) berkolaborasi menunjukan lagu yang telah diaransemen dan dirubah beberapa liriknya agar menyindir peristiwa ini, menyindir Bapak Rektor UI, dengan iringan gitar, seperti ini lagunya :
Malu aku malu
Pada semut merah
Yang berbaris di dinding, menatapku curiga
Seakan penuh tanya, sedang apa di sini?
Menanti Rektor baru
Sungguh aneh tapi nyata
Takkan terlupa
Kisah bapak rektor kita
Nggak sayang kita
Tiada kisah paling parah, kisah bapak rektor kita
Tiada kisah paling parah, kisah bapak rektor kita

Meski ada beberapa miss communication, Fakultas Teknik tampil dengan gombal ala kak Tyo (PI’09) dan kak Gusti (PI’10) yang menjadikan ketua IM Ars (Wulan Ars’10) sebagai korban gombal yang juga dibuat menyindir keadaan UI seperti jalur masuk yang begitu banyak, dan dilanjutkan dengan menyanyikan lagu di atas.
Usai persembahan fakultas, aktivis BEM UI tahun-tahun sebelumnya datang 4 orang tepatnya, mungkin yang saya tahu hanyalah dua diantara mereka yakni kak Maman (ketua BEM UI 2011) dan wakilnya yang biasa dipanggil kak Ijonk, mereka memberikan wejangan-wejangan yang membangkitkan semangat dan meyakinkan bahwa apa yang kami lakukan tidaklah sia-sia, terlebih diantara mereka salah seorangnya adalah seorang yang bisa dibilang aktivis sastra, dimana ia sering adanya menggunakan sastra dalam orasi dan menyuarakan pergerakan mahasiswa, salah satu dari bahasa yang sangat ku kagumi.

Selasa, 24 Juli 2012

Kini, aku mengerti, pasrah dan menyerah adalah tak sama, sepertinya aku harus memperbaiki bahasa Indonesiaku lagi..
Ketika kau menyerah, kau merelakan sesuatu tanpa ada usaha karena banyak ketakutan-ketakutan yang melandamu dan membayang-bayangimu tentang resiko jika kau mengambil langkah kedepan, dan itu aku rasakan dulu, tapi itu sudah berlalu, namun berbeda dengan berpikir cerdas untuk strategi, karena mengambil langkah atau mengurungkan langkah karena strategi bukan takut akan resiko melainkan mengambil resiko terkecil dan setelah itu berusaha mewujudkannya..tapi,, seperti sama saja?
Yang jelas, menyerah lebih berkonotasi negatif, mungkin dalam kata lain strategi itu ya..mengalihkan resiko yang ada ke resiiko yang lebih kecil kurasa dan tentunya ada usaha setelah menyusun startegi tersebut..
Namun kalau pasrah adalah menyerahkan segala sesuaatunya kembali pada kehendak yang Kuasa, setelah kau berusaha mewujudkannya..ada usaha di sana dengan segenap hati dan semaksimal kemampuan yang dimiliki..
Namun, tentu saja pasrah itu bukan berarti tidak melakukan apa-apa untuk menunjang keberhasilan dari usaha..tetap harus berdoa bukan?
terkadang,,aku merasa seorang naif yang terus berdoa hal yang sama dalam setiap waktu, dan aku bertanya pantaskah aku meminta sedemikian hingga kepada Allah sedangkan aku bukanlah hamba yang baik?
Tapi..kemana aku harus meminta selain pada-Mu ya Allah.semoga Engkau selalu memaafkanku atas segala kekhilafanku dan keegoisanku selalu meminta pada-Mu, sedangkan aku tiada kuasa membalasnya, hanya dengan berusaha membuat diriku lebih baik,,
Semoga doaku dikabulkan oleh-Mu ya Allah..
Aku selalu percaya Engkau selalu menunjukan padaku jalan terbaik

Sabtu, 21 Juli 2012

Aku Punya Mimpi, Mama

Aku punya impian, Mama..
Ini yang pertama, bukan..tapi yang kuat kurasa
Naifku sudah diambang batas..
Impianku, apakah kau sudi mampir?
Kalau Tuhan menginginkan ini 'jodohku'..maka aku senang..
Kalau ini bukan untukku?, Mama..apa ku harus kata?
Jatuh itu sakit..aku tak mau lagi,
Jatuh itu seperti..aku tak mau kembali,
Kalau buku takdirku kini aku pegang, bagaimana jadinya Mama?
Lambat laun semua ku putar balikan..
Aku mau itu nyata,
Bukan ilusi yang mampir dan buat susah hirup udara,
Mama, ketika buku itu bukan aku yang punya, tetapi Tuhan yang punyai aku..
Sudikah Tuhanku mengabulkannya?
Ini lebih kuat dari cinta..mungkin....cinta itu apa?
Tapi ini aku, masa depanku, aku tak ingin lagi jatuh..dua kali, itu cukup, satu kali..
Kalau aku diijinkan, Mama..
Untuk saat ini saja, aku menyusun hidupku..
Akan ku tulis sesuai apa yang aku mau, tapi tidak, Mama,
Tuhan tak mau,
Bukan karena itu mauku, tapi yang terbaik..
Aku,
Hanya bisa menulis nasib, selanjutnya hanya harap..
Jalanku yang ku mau, itu yang terbaik
Sudikah Tuhanku mengabulkannya?

Rabu, 16 Mei 2012

Sekarang aku takut,
mata-mata mereka memandang..aku..
aku takut, mereka mencapku "anak UI", aneh bukan?
semua orang bangga di cap seperti itu tetapi aku takut...
aku belum layak menyandang nama itu, apa yang bisa aku berikan?
akademis?
aku tertinggal jauh..
keterampilan?
aku tidak punya..
Organisasi dan kepanitiaan?
aku dibawah..
aku selalu ingin lari dari pandangan mereka-mereka yang hanya melihat kulit luarku saja..
aku selalu ingin lari karena tak dapat menahan rasa sesak yang selalu datang saat aku dikait-kaitkan dengan hal yang sensitif seperti itu..
apa jalanku di sini ya Rabb?
apa jalanku di sini?
beri aku jawaban, beri aku jawaban..
beri aku kekuatan jika memang jalanku di sini,
beri aku jalan lain jika memang jalanku bukanlah di sini..
aku takut aku akan menambah daftar panjang kegagalan menusia di bumi ini.
aku takut aku akan mengecewakan kedua orang tuaku
kenapa orientasiku selalu pada pandangan orang lain?
dan kenapa aku kuliah hanya untuk orang tuaku?
lalu aku hidup apa bukan untuk diriku?
kenapa begitu banyak opini-opini orang yang membuat aku takut dan ragu.
kenapa aku bisa terjembab menjadi korban omongan mereka?
lidah tak bertulang
berwal dari pelarian dan sekarang aku ingin kembali lari
kemana?

Minggu, 29 April 2012

You're My...

jadi inget..pernah buat cerita pas lagi seneng-senengnya baca Fanfiction..
aneh sih..tapi..selagi ini blog sendiri, boleh kan? :p


You’re my…
Author             : Han Ji Eun (Fitri Suryani)
Main cast         : Fitta Maharadewi (imagine)
                          Lee Taemin
Support cast    : Kim Kibum (Key)
                          Christine Elizabeth (imagine)
Length             : One Shoot
Genre              : Romance, Friendship
Ratings            : PG-13
Huhuhu…ini fanfict pertamaku…mian kalau aneh..baru pertama soalnya..hhee
NO BASHING and JUST COMMENT OK!
Check this out!

Huh…kata siapa orang sepertiku tidak bisa jatuh cinta?
Kadang aku hanya bisa tersenyum kecil jika teman-temanku itu berkata,’Fitta dong masih polos’,bagaimana ya?mungkin tak ada masalah tapi yang aku tak suka adalah nada bicara mereka, seakan-akan aku tak pernah menyukai yang namanya namja, aku hanya ingin berpedoman pada kehidupan ibuku yang menjunjung tinggi nilai-nilai kesopanan bangsa timur, ibuku bilang, kalau terhormatnya seorang wanita itu, jika ia bisa menjaga kehormatannya (kesuciannya) secara utuh, aku hanya ingin yang menyentuhku nanti hanyalah suamiku, bukan hanya seorang namja yang berstatus pacar yang kebanyakan hanya sementara, apa aku salah?,mereka itu hanya berlebihan, jika sampai menudingku yang tidak-tidak..
Lupakan soal gossip teman-temanku yang terkadang membuatku seakan tak normal seperti mereka yang hampir setiap hari berkencan dengan pacar-pacar mereka, bahkan tak segan berciuman di areal kampus,’yaiks’membuatku muak, aku lebih tertarik menceritakan keadaan kampusku ini, Harvard University, universitas terkenal dunia yang asri dan modern, ya..ini kampusku, aku berhasil mendapatkan beasiswa dari perkuliahanku sebelumnya Seoul University, aku pernah sekolah di Korea? Ya..itu karena orang tuaku tinggal disana,Mungkin kalian berpikir, kenapa namaku tidak mengandung unsur Korea? Tidak memakai marga seperti Lee, Choi, atau Kim layaknya orang Korea lain, itu adalah request dari ibuku yang asli Indonesia, yang prinsipnya selalu kupegang teguh hingga kini,ia meminta nama Indonesia disematkan padaku, Fitta Maharadewi, karena nama Oppa ku sudah berbau Korea, Lee Jinki, dia benar-benar Korea, bermata sipit dan putih sedangkan aku? Mirip sekali dengan ibu yang berkulit sawo matang dan bermata ‘belo’(aduh ga enak banget bahasanya) ya..bermata lebar,balik ke soal kampus, aku mahasiswa semester 3 usiaku kini 19 tahun (masih muda kan?), jurusan Desain Komunikasi Visual, sekarangaku sedang..
“Haruskah aku memberitahukannmu lagi Chris, itu sangat cocok dan fashionable untukmu..”, tunggu..itu suara..
Aku mengangkat wajahku, aku hapal suara itu, suara seorang namja, namja, namja yang..
“Thank you key…you’re always the best”,suara perempuan disebelahnya,lalu dia mencubit hidung namja itu, mereka berdua tersenyum, tersenyum di hadapanku, God..betapa rasanya hatiku ini,aku hanya bisa terpaku, terpaku menunggu mereka lewat dari hadapanku,bahkan aku tak bisa melangkahkan kaki lagi, sebelum mereka benar-benar pergi, cepatlah berlalu ku mohon..
“Ya..Fitta’ah!Gwenchana?”, Aku terkejut, suara itu membuyarkan lamunanku yang pergi melayang bersama namja tadi,
“Ah..eh..Taemin’ah..gwenchana..”,kataku kikuk,
“Kenapa kau melamun seperti itu lagi?”,kata orang yang tadi mengejutkanku,
“Aniyo…gwenchana”,kataku berusaha sewajar mungkin, namun hatiku sebernarnya tidak, bagaimana aku bisa biasa saja? Orang tadi, namja tadi dia adalah Kim Kibum..Mahasiswa semester 5 jurusan yang sama denganku, ia adalah satu-satunya laki-laki yang special di mataku kini, masih keturunan Korea, biasa dipanggil Key, orang yang ramah, keren dan modern, siapa yang tak suka padanya? Bahkan aku yang terkenal tak pernah dekat-dekat dengan seorang namja apalagi berstatus special saja mengagumi namja yang satu itu, tapi kehadiran seorang yeojachingu disampingnya kadang membuatku tak nyaman, padahal aku siapanya Key sunbae?, bahkan ia tak mengenalku,
“Kau tak apa? Dari tadi melamun terus? Bagaimana jika kita ke Ruang Kesehatan saja, tak usah ikut mata kuli..”,
“Jangan Taeminnie, aku baik-baik saja”,
“Kalau begitu kkaja, nanti kita terlambat!”,katanya lalu berjalan mendahuluiku, dia kawanku, seorang namja, ya mungkin sedikit aneh karena aku tak pernah dekat dengan seorang namja selama ini, menghindarkan dari hal-hal yang selama ini tak kusukai, tapi kedekatanku sama orang di depanku ini bukannya menghapus gossip kalau aku tak suka cowo, malah memperkuat gossip itu, dia memang namja, sama seperti yang lain, tapi…kalau kau melihat wajahnya baik sepintas maupun lekat-lekat mungkin kau akan berpikir 2 kali kalau ingin menyebutya seorang namja tulen, bagaimana tidak dia memang laki-laki yang terkenal dengan kecantikkannya, sstt..bahkan dengar-dengar dia pernah ditembak seorang namja di sini, ck, tapi tentu saja dia menolaknya, selain itu dia juga belum pernah punya yeojachingu seperti layaknya laki-laki lain disini, (semakin memperparah saja), dia juga keturunan Korea, makanya kami bisa dekat, oh ya dia sangat periang, bahkan aku tak pernah tahu ekspresinya jika marah atau sedih, sepertinya dia hanya bisa tersenyum..namanya adalah Taemin..Lee Taemin,
“Fitta ya! Kau kenapa? Murung terus dari tadi? Ah..aku tahu, ayo kita beli eskrim saja bagaimana?”,lagi-lagi suara orang ini mengagetkanku, mengganggu aku saja, tak pernah merasa patah hati apa?
“Entahlah Taem,,aku malas..”,kataku lemas, aku masih memikirkan Key sunbae, sedang apa dia bersama yeojachingunya?
“ayolah..aku yang traktir deh, kkaja!”,katanya sambil menarik tanganku…eh tunggu..tunggu..tanganku! tanganku!
“Ya! Apa yang  kau lakukan Lee Taemin! Sudah ku bilang jangan sekali-kali menyentuhku!”,kataku berteriak,apa-apaan sih orang ini menambah orang ga mood aja!
“Eh…mianhe Fitta’ah..mian..habis kau lemas sekali sih..kenapa? ada masalah?”,tanyanya peduli,ya ampun..dia memang my best friend deh..
“Tidak apa…mungkin aku hanya, hanya kurang enak badan..”,kataku berbohong..
“Geraeyo? Aku tak yakin, seorang Fitta bisa sakit juga ya?”,katanya sambil menempelkan telunjuknya di dekat bibirnya, yang sukses mendapat jitakan dariku, ‘enak saja, dia pikir aku robot apa tak bisa sakit? Huh..’
“Aduh..Fitta bagaimana sih aku tak boleh menyentuhmu tapi kau menjitakku..”,katanya dengan tampang polos..
“Ish..sudahlah ayo kita makan es krim..”,kataku lalu meninggalkannya,
“Hei..kau mau menaktrirku?”,aku berbalik
“Bukannya tadi kau bilang kau yang mau menraktirku! Jangan pura-pura lupa Taeminnie, mau aku jitak lagi?”,kataku lalu berjalan lagi,
“Ya! Tunggu!”
Sekarang aku dan Taemin sedang menikmati es krim pisang kesukaan kami di salah satu foodcourt, ya es krim kesukaan kami memang sama rasa pisang, aneh memang, ya..tapi rasanya memang enak, di saat seperti  ini aku bisa melupakan Key sunbae sejenak, ya..mungkin hanya ku paksakan untuk lupa saja, nyatanya memang ia masih berkeliaran di kepalaku,
“Taemin’ah..boleh aku bertanya satu hal padamu?”,kataku ragu,
“Ya…tentu, kau ini kenapa bertanya saja sampai izin dulu, seperti tak pernah kenal saja? Ada apa yeoja polos…”,katanya sambil melahap es krimnya,
“Ya! Berhenti memanggilku seperti itu! Dasar namja yeoja!”,kataku sewot, aku tahu yeoja polos yang dimaksud itu bertanda kutip seperti maksud teman-temanku yang lain,
“Berhenti memanggilku namja yeoja, tampan begini kau bilang namja yeoja aku namja tulen tau!”,katanya memajukan bibirnya tak terima,
“Lagian..kau duluan yang mulai, begini apa kau pernah merasa sakit hati?”,Tanyaku hati-hati,
“Ha? Uhhhuuukk..uhuk..”,aku kaget sekali, apa pertanyaanku berlebihan ya sampai ia tersedak seperti itu?
“Mengapa tiba-tiba kau bertanya seperti itu?”,katanya,
“Ya..aku hanya bertanya, bagaimana perasaanmu jika melihat yeoja yang kau sukai berjalan dengan namja lain, tapi yeoja itu bukanlah yeojachingumu,apakah kau akan sakit hati?..”,kataku
“Kenapa aku mesti sakit hati?”,katanya sambil memiringkan kepalanya, ish..malah balik nanya,
“Ya..karena kau menyukainya Pabo!”,kataku, dia ini kapan sih aku bertanya sekali lalu dia langsung nalar,
“Oh…”,lalu dia kembali menyantap es krimnya, Hei..oh saja? Cukup oh saja?
“Ya! Kenapa jawabanmu hanya oh saja!”,kataku protes,
“Kau menunggu jawabanku ya?”, dia berkata seperti itu dengan tampang innocent nya, ya ampun…kenapa aku bisa berteman dengan orang seperti ini sih?, benar-benar kali ini aku menyesalinya!
“Sudah cepat jawab!”,kataku tak sabar, kebanyakan basa-basi ga penting nih orang bisa tidak sih langsung saja?
“Oh…wajar sih jika kita merasa sakit hati seperti itu, aku juga merasakannya..”,katanya menerawang, apa aku tak salah dengar? Taemin bisa sakit hati?
“Ha? Kau sakit hati karena apa dan siapa?”,kataku excited, rasanya mengetahui ini lebih menarik,
“Yah..mungkin, walaupun kita bukan pasangannya, tapi melihat orang yang disukai bersama orang lain tentu tidak enak, apalagi kalau dia tidak tahu kita memiliki perasaan padanya, rasanya lebih sakit lagi, tapi…”
“tapi?”,kataku tak sabar,
“Aku akan selalu ada untuknya jika ia membutuhkan seseorang disaat ia sedih, dan selalu mendukungnya disaat ia senang, menunjukan solusi yang baik jika ia dalam masalah dan selalu berdoa untuk keselamatannya meski ia jauh..”,katanya sambil menutup matanya dan tersenyum, ‘waw..apa iya yang didepanku ini seorang Taemin?’gumamku dalam hati,
Ya…terkadang temanku yang satu itu bisa benar juga ya…meski aku merasa sedikit aneh dan tak percaya, tapi..kurasa aku menyetujui sarannya itu, aku ingin menjadi orang yang dibilang Taemin, jika Key sunbae nanti punya masalah atau kesedihan aku akan datang menghiburnya dan jika ia senang aku akan tersenyum dan selalu mendukungnya, walaupun ia tak akan pernah tau dan tak mungkin membalas perasaanku,
Hari-hariku kembali seperti biasa, dipenuhi mata kuliah, celotehan Taemin yang seolah tak kunjung habis dan masih gossip teman-teman seputar aku yang tak pernah punya namjachingu, terlihat dekat dengan laki-laki dan disangka penyuka sesame jenis, karena aku dekat dengan Taemin (tunggu jadi di mata mereka Taemin itu????)
Ah..sudahlah, dan tentu saja kesedihanku karena selalu melihat Key sunbae dengan yeojachingunya, kalau tidak salah namanya Christine,mahasiswa tingkat 5 jurusan seni, pantas saja Key sunbae menyukainya, dia cantik, tinggi dan fasionable, sedang aku? Ish..apa yang bisa kubanggakan? Aku tak tinggi dan tak secantik kak Chris itu, bahkan tinggiku tak mencapai 160 cm..aduh, tak seperti Chris itu yang model kampus, otomatis fisiknya benar-benar wah..sadarlah Fit..Key sunbae tak akan pernah menyukaimu!meski aku berpapasan dengannya setiap hari, kurasa ia tak pernah ingat wajahku,
“Hei..kau melamun lagi? Ckckck”,lagi-lagi Taemin menegurku,aku hanya mnolehnya sebentar, terkadang aku berharap Taemin berganti menjadi Key sunbae..tapi itu tak akan mungkin kan?
“Ah..bagaimana kalau nanti malam kau ikut aku ke sekolah dance, aku yakin kau akan suka disana, nanti ku ajari kau beberapa teknik dance yang sudah kupelajari, bagaimana?”,katanya semangat,
“Ha? Kau kan tahu aku bukan jurusan tari, mana bisa aku menari”,kataku ketus, tampaknya ia langsung cemberut,
“Aku kan hanya mengajakmu saja supaya kau tak sedih lagi..”,katanya, lalu ia berkata lagi sambil tersenyum, “nanti malam kujemput di depan kos mu jam 7..ok! sampai jumpa nanti malam!”,katanya lalu pergi begitu saja! ‘hei..perasaan aku tak bilang iya..ah..sudahlah dia memang susah dibilangin!’
Lebih baik aku pulang berjalan saja sambil menenangkan pikiranku, lagipula ini baru jam 4 sore, sekalian saja aku menghemat ongkos pulang,aku berjalan lurus sambil menunduk, nampaknya aku tetap tidak semangat karena lagi-lagi Key sunbae menghampiri pikiranku, bahkan aku tak memperhatikan suasana kota yang ramai, dan tak mempedulikan angin yang cukup dingin karena sekarang sedang musim gugur..sepertinya musim saja memihakku, gugur seperti daun yang layu,
“Danau…”,gumamku pelan, aku menghampiri danau yang tak terlalu ramai itu, kurasa ini bisalah sedikit memberiku napas baru, ya walaupun dingin tapi..tak ada salahnya, karena ak..eh..tunggu, sepertinya aku mengenal orang itu, dua orang itu tepatnya, dia ..KEY SUNBAE DAN CHRIS?!?God..apalagi ini? Mengapa ada mereka disini? Disaatku ingin menenangkan pikiranku! Kulihat chris menyentuh ingin menyentuh pipi Key sunbae dan aku tak berani melihatnya, bahkan aku menutup mataku sebelum Chris mendaratkan tangannya di pipi sunbae, tak lama kemudian aku membuka mataku dan kulihat, ia meninggalkannya? Tunggu..chris meninggalkan key sunbae?tapi kenapa?ada apa ini?, setelah kurasa aman, aku mendekati Key sunbae yang sedang duduk memendam kepalanya dibalik tangan, kenapa dia?
“Ehm..sillyehamnida”,kataku hati..hati, dia mengangkat wajahnya,
“Annyeong hasimnika..”,kataku dengan senyuman, ya rada kaku memang,aku takut dia mengusirku,dia masih terpaku,
“Ah..Annyeong hasimnika..”,katanya,”Eh..annyeong? kau orang Korea?”,katanya dengan muka terkejut, kurasa sudah mulai membaik, aku beranikan duduk disebelahnya,
“Ne…sunbae, ehm..gwenchana?”,kataku dengan nada khawatir,
“Sunbae? Kau juniorku? Harvard University?”,katanya, aku mengangguk semangat,
“Iya..Desain Komunikasi Visual..”,kataku mantap,
“Oh..ya, wah..mannaseo bangapseumnida”,katanya sudah mulai tersenyum, ah..aku berhasil! >o<
“Kenapa aku tak pernah mengenalmu ya? Ck, perkenalkan, Kim Kibum imnida, kau bisa memanggilku Key..”,katanya menjulurkan tangannya, ah..aku jadi ragu, masa aku manyambutnya? Akhirnya kuputuskan untuk menyatukan kedua tanganku saja di depan tangannya,
“Fitta imnida, mianhamnida, Key sunbae, aku tak bisa menyentuhmu”,kataku, aduh..bahasaku kaku sekali, seperti bukan aku saja,
“Gwenchana, kenapa kau bisa ketempat ini?”,katanya heran,aku tersenyum, antara percaya atau tidak bisa berkenalan dengan orang yang selama ini ku kagumi, Key sunbae,
“Oh..kebetulan rumahku lewat sini, jadi kuputuskan untuk mampir sebentar ke danau ini, untuk menenangkan pikiranku, eh..aku tak sengaja melihatmu dan yeojachingumu, kulihat ia meninggalkanmu dan kau berada dalam keadaan seperti itu tadi, kau kenapa sunbae, baru saja dia menyentuhmu kau malah menunduk seperti itu, ah..jangan-jangan kau sedang main petak umpet dengannya ya? Wah..aku mengganggumu dong!”,kataku kaget,’pabo ya! Seharusnya aku berpikir lebih panjang jika aku ingin menghampirinya!’
“Ha? Siapa yang main petak umpet? Kau ini aneh sekali, memangnya aku anak kecil main petak umpet? Hahaha”,dia tertawa puas sekali, sedangkan aku? Tak kusangka Key sunbae seperti itu, baru berkenalan ia sudah mentertawakanku, menyebalkan!
“Kenapa kau menertawakanku?, aku hanya takut mengganggumu saja sunbae”,katatku memanjukan bibirku,
“Ah..Mianhe..huh..”,ia berhenti tertawa,dan menghela keras napasnya,”aku…sebenarnya sedang ada masalah..”,katanya ragu, sepertinya ia masih canggung padaku,
“Masalah apa itu sunbae?”,kataku polos,”bukankah kau baru saja disentuh lembut..ehm.. pipinya oleh yeojachingumu tadi..”,kataku pelan, sepertinya, rasa sakit itu muncul lagi ketika aku mengucapkan demikian,
“Apa maksudmu?”,katanya menoleh padaku, ya ampun…dia memandangku, aku terkejut,
“Ah..anu..tadi aku kan tidak sengaja melihatmu dengan yeoja itu, dia menyentuh pipimu..ah..tapi..tapi tenang saja aku menutup mataku setelah itu, jadi kau tak perlu merasa aku mengintipmu”,kataku sedikit gugup,aduh sunbae, jangan menatapku, ku mohon..
“Ha? Jadi kau melihatnya ya?”,lalu mukanya berubah merah dan memegang pipi kanan yang tadi dipegang Chris, seketika sakit menyelimutiku, jadi…benarkah yang kulihat, ya ampun…rasanya aku ingin pergi sekarang juga dari sini,
“Tenang saja sunbae aku tak melihatmu berciuman dengan kak Chris kok..”,kataku sedih,aku menundukkan kepalaku,
“Ha? Berciuman?”,katanya terkejut, aku menoleh,
“Iya…yeoja itu setelah menyentuh pipimu kau kan…”,kataku dengan tangan membentuk seperti layaknya adegan yang tak senonoh itu..
“What? Hahahahahahaha!”,dia tertawa puas sekali, seakan-akan aku ini badut yang pantas ditertawakan! Dasar! Jadi sosok yang ku kagumi itu suka menertawakan orang lain bahkan yang baru dikenalnya? Kenapa semua yang ku kenal ga ada yang beres sih?
“Kenapa kau menertawaiku lagi? Aku salah?”,kataku cemberut,
“Hahaha..mianhe, tentu saja, aku belum pernah merasakan first kiss, bagaimana aku bisa melakukan itu?”,ia kembali tertawa, dasar!
“Lalu yang benar bagaimana?”,kataku masih kesal dengan tertawaannya itu,ia kembali menghela napas,
“Aku..bertengkar dengan yeojachinguku,”,katanya kulihat goretan sedih disana, dan kurasakan goresan luka satu lagi di hatiku, hiks,
“Geraeyo? Bagaimana bisa?”,kataku penasaran,
“Aku tidak tahu, mungkin aku melakukan kesalahan di matanya, tapi aku tak merasa pernah melakukannya”,katanya menerawang ke atas,
“Ha? Jadi yang tadi bukannya..?”,
“Bukan tentu saja, ia menamparku..”,katanya sedih, bahkan sebulir air mata kulihat dipojok kanan matanya saat ia memejamkannya, ya ampun rasanya seperti apa hatiku ini, melihat ia menangisi yeoja lain,
“Kau…sangat mencintainya sunbae?”,kataku ragu,ia hanya membalasnya dengan mengangguk kecil dan helaan napas, aku menunduk,
“Ah..sudahlah”,katanya,”lagipula, kini dia bukan milikku lagi, tak usah terlalu dipikirkan”,ia berusaha semangat yang malah kataku seperti orang yang benar-benar putus asa,
“Hei..sepatumu bagus juga”,katanya tiba-tiba,
“Oh..geraeyo?”,
“Ne..selera fashionmu cukup bagus, coba kau padu padankan dengan…”,
Aku dan Key sunbae terus mengobrol, seperti yang kuduga dia humble dan sangat fashionosta, dia juga lucu dan terbuka, terbukti kini aku sangat akrab dengannya, bahkan aku diperbolehkan memanggilnya oppa dan berbicara tak terlalu formal layaknya teman biasa, ya..dia sangat baik, memang tak pernah salah aku selalu menyukainya,
“Gumawoyo..sun..ani..maksudku oppa, sudah mengantarku pulang, mau mampir dulu oppa?”,kataku sambil menunduk dalam,
“Cheomaneyo..tak usah, maaf karena menemaniku ngobrol sampai semalam ini, yasudah aku pulang dulu ya…annyeonghi gaseyo!”,katanya melambaikan tangan,kemudian berbailik pergi
“Ne..annyeong higaseyo”, balas ku tersenyum, aku berbalik memasuki kos ku dengan hati yang..aku tak tak tahu bagaimana bisa menggambarkannya, aku bisa mengobrol banyak dengan Key sunbae, bahkan ia mengizinkanku memanggilnya Oppa, ya Tuhan…aku benar-benar…, tapi sepertinya..aku seperti melupakan sesuatu, sesuatu tapi apa ya? Sepertinya hal penting,tapi..apa itu? Ah..sudahlah, mungkin aku terlalu senang dan tak percaya apa yang kualami hari ini, sepertinya semangat hidupku kembali lagi,hahaha, berlebihan sekali, ku rasa aku bisa tidur sangat nyenyak malam ini,
Pagi ini tek seperti biasanya, aku mulai bisa berpikir positif lagi, terutama yang bersangkutan dengan Key Oppa, apalagi ia bilang belum pernah first kiss, berarti kak Chris itu belum menyentuh Key sunbae,aku semangat sekali berangkat ke kampusku tercinta,aku ingin berbagi kebahagiaan, tapi dengan siapa ya? Ah..aku tahu, Taemin, tapi dia kemana ya? Biasanya jam segini ia sudah mengagetkanku dengan celotehannya, tapi..dimana di..
“Hei…itu dia!”,pekikku,aku langsung menghampirinya yang sedang duduk tenang di DPR, alias Dibawah Pohon Rindang, hehehe,
“Taeminnie..!!!”,kataku setengah berteriak, tampaknya ia sedikit terkejut, buktinya ia terlonjak kebelakang, hahaha ia lucu sekali,
“Ah..Fitta’ah..kau mengagetkanku..ada apa?”,katanya sedikit lemas dan..tak seperti biasanya, dia kenapa ya?
“Taemin’ah..gwenchana? kau kenapa? Kenapa tak bersemangat? Ayolah..biasanya kau yang menyuruhku untuk ceria, kenapa sekarang berbalik?”,kataku mencoba seceria mungkin,
“Ehm…gwenchana, nampaknya kau senang sekali, ada yang mau kau ceritakan?”,katanya mulai tersenyum meski agak kikuk menurutku, tak seperti Taemin biasanya yang sudah tersenyum lebar dan mengoceh panjang, tapi tak apalah..aku sedang senang siapa tahu rasa senangku ini bisa menular padanya,,
“Nah..begitu dong, aku mau cerita..kkaja..”,kataku sambil mengisyaratkan untuk pergi, sepanjang jalan aku bercerita penuh semangat pertemuanku kemarin dengan Key sunbae, atau yang sekarang ku sebut Oppa, hhe, aku sangat-sangat excited, tapi yang kutangkap Taemin hanya sekedar senyum, senyum dan senyum, ada apa ya?
“Ya..Taemin’ah..bisakah kau sedikit excited sedikit pada ceritaku, sepertinya kau lemas sekali, ah..aku tahu bagaimana kalau kita minum susu pisang? Aku yang traktir deh..”,kataku masih semangat, yah..itung-itung balas budi kemarin dia menraktirku es krim pisang,
“Gerae?”,tanyanya sepertinya ia tertarik..
“Iya..ay…”
“Fitta’ah!”,aku terhenti ketika seseorang memanggil namaku, rasanya aku sangat kenal suara ini, aku berbalik ternyata benar saja, Key sunbae..dia…berlari menghampiriku..
“Fitta’ah..bisa ikut aku sebentar? Ada yang ingin aku bicarakan denganmu..”,katanya, tanpa ada basa-basi aku mengangguk saja, dan mengikutinya pergi, ya Tuhan..aku benar-benar tak bisa menolak pesona orang ini, ck….dia berbicara cukup singkat dan jelas, intinya dia ingin aku menjadi bagian panitia pameran DKV bulan depan..wah..tawaran yang bagus tentu saja, aku mengagguk pasti, lalu ia pun pamit dan berlalu, aku kembali dengan langkah yang semakin riang ke tempat aku bertemu Key Oppa tadi sepertinya tadi aku bersama Taem…Taemin..kemana dia?
----------------------------------------------------------------------------------------------------------------
“Taeminnie aku tak bisa maaf ya..hari ini ada planning buat acara DKV kau kan tahu sudah tinggal 3 minggu lagi..aku harus menyebarkan proposal dana secepatnya”,kataku saat aku merefused ajakan Taemin ke Taman Hiburan Pekan ini,
“Ayolah Taemin..kau tahu, aku harus menyeleksi karya-karya yang akan dipamerkan DKV, 2 minggu lagi..”,kataku saat aku harus kembali merefused ajakan Taemin untuk mengobrol tak penting seperti biasa di kampus,
“Bisakah kita makan es krim atau susu pisangnya nanti saja saat acara DKV selesai, kurasa aku harus focus untuk minggu ini..Mianhe..”,kataku yang merefused lagi, ajakan Taemin untuk makan di foodcourt langganan kami, aku harus focus pada acara DKV yang tinggal menghitung hari karena aku diberi tanggung jawab oleh ketua pelaksananya langsung siapa lagi kalau bukan Key Sunbae,bicara soal Key sunbae, kabalikan dengan Taemin, aku semakin dekat dengannya, kurasakan semakin lama ia semakin sempurna dimataku, modern, stylish, dan pintar dalam mengambil tindakan, oppa…aku tak pernah salah menganggumimu,dan tentu saja kedekatanku dengan Key Oppa setidaknya membuat teman-temanku mengalihkan gosipnya dari aku yang secara tidak langsung dituduh sebagai yeoja tak suka namja karena tak pernah dekat dengan namja kecuali namja cantik itu, menjadi yah..boleh dikatakan normal kembali, apalagi yang dekat denganku adalah Key Oppa yang aktif dan memiliki pribadi yang baik dan pantas dikagumi,
“Nah..lukisan ini taruh disini saja..bagaimana Oppa?”,kataku kepada orang disebelahku yang tak lain adalah Key Sunbae sambil menunjuk sebuah dinding yang masih kosong untuk menempatkan lukisan beraliran surealisme itu,
“Hm..bagus, efek cahayanya pas dan membuatnya lebih dramatis, kau pintar Fitta’ah..”,kata Key Oppa, dia memanggilku pintar, kalau aku bisa terbang mungkin kepalaku kini sudah sakit semua karena berciuman dengan atap berkali-kali,
“Gumawoyo oppa..”,kataku tersipu,
“Siapa seniman lukisan ini?”,katanya nampaknya ia sangat sangat tertarik dengan lukisan ini, karena sepanjang ia melihat lukisan ia tak pernah bertanya seperti itu,”Christine Elizabeth”,ia mencoba membaca perlahan tulisan sambung kacau di bawah lukisan itu, tanda tangan pelukisnya,
“Chris..tine..”,ia kembali membacanya pelan air mukanya berubah menjadi sangat-sangat sedih, benar-benar seperti orang yang sangat putus asa, ia langsung pergi bahkan masih menucapkan kata yang sama berkali-kali, ‘Key Oppa kenapa?’gumamku,
“Christine Elizabeth..”,aku membaca perlahan pelukis yang karyanya terpampang disana, ya Tuhan..aku terpekik, aku benar-benar kaget,hatiku kembali sakit, ternyata..Key Oppa belum bisa melupakannya, ia masih mencintai orang itu..
Setelah kejadian itu, tepatnya 3 hari sebelum acara pameran dimulai, Key Oppa seperti bukan dirinya lagi, ia selalu memandangi lukisan karya Chris yang tak lain tak bukan adalah mantan yeojachingunya, ia selalu pulang lebih lama dari yang lain, dan semua dilakukannya hanya untuk memandangi lukisan itu, ayolah sunbae..jangan seperti itu..kau membuat aku sedih, sedih bersamamu..
Aku termenung, lagi-lagi soal Key sunbae yang mulai berbeda, ayolah..aku tak semangat jika ia tak semangat seperti dulu,
“Apa yang harus kulakukan?”,kataku berbicara sendiri,”Disaat ia sedih aku malah tak bisa berbuat apa-apa? Tak bisa apa-apa? Kenapa kau bisa bilang selama ini kau mengaguminya, ha! Yeoja pabo..pabo..pabo..pabo!”,aku mengetuk palaku tiga kali dengan tanganku sendiri,
“Kenapa aku tak bisa melakukan apapun?”,kataku membenamkan kepalaku ke kedua lenganku, tak terasa air mataku perlahan menetes, seperti bukan diriku saja?
‘Aku akan selalu ada untuknya jika ia membutuhkan seseorang disaat ia sedih, dan selalu mendukungnya disaat ia senang, menunjukan solusi yang baik jika ia dalam masalah dan selalu berdoa untuk keselamatannya meski ia jauh..’
Tiba-tiba aku teringat kata-kata Taemin, iya..kata-kata itu, satu-satunya yang kuanggap paling benar yang pernah keluar dari mulut namja itu, aku harus berusaha membuat Key Oppa seperti dulu lagi! Aku tak bisa melihatnya seperti ini terus, aku sudah bertekad! (petir semangat menyambar-nyambar…ombak meraung-raung, sirine ambulan mengiung-ngiung..*ok..yang ini ga nyambung#lupakan!) aku harus bertindak! Aku akan melakukan..melakukan..melakukan apa ya?
Yah..mesti aku tak tahu apakah rencanaku berhasil, tapi aku harus mencobanya, ok..korban selanjutnya adalah Christine Elizabeth!
Pagi ini, kampusku seperti biasa ramai namun damai, karena entah kenapa Taemin sedikit menjauh dariku, atau mungkin aku yang menjauh darinya? Ah..sudahlah aku punya misi penting yang harus segera kuselesaikan,aku berkeliling ke areal kampus mahasiswa semester 5, rasanya tak enak sekali kakak-kakak itu melihat kearahku dengan tatapan aneh, mungkin mereka mencoba bilang’hei..ini bukan daerah anak kecil!’,Masa bodoh..aku harus bertemu Chris..aku harus bicara dengannya,
“Hei..chris..ada yang mencarimu..”,kata yeoja di depanku, karena aku terlanjur pusing mencari keberadaan yeoja Chris itu, makanya aku memanfaatkan kepolosanku untuk mancari targetku (bilang aja minta dicariin =.=”),
“Siapa?”,kata seorang yeoja lain,
“Itu..”,katanya menunjukku yang sedang berdiri tak jauh dari sana,kulihat seorang yeoja cantik, tinggi dan stylish menghampiriku, rasanya minder juga aku benar-benar berbeda 380 derajat darinya (perasaan Cuma ada 360 ya?)
“Ada apa mencariku?”,katanya ketus, ternyata dia tak se humble perkiraanku,”Kau yang di gosipkan dengan Key itu kan?”,aku masih terdiam,
“Dasar bodoh Key itu, manggantiku dengan orang macam dia! Apa dia sudah kehilangan selera positifnya?”, katanya sambil memutar bola mata, sial rupanya dia lebih rese dari Taemin!
“Maaf ya..tapi apa kau Chris? Dengar..aku tak tahu dengan semua yang kau ucapkan barusan, tapi..aku ingin bilang sesuatu, Key Oppa adalah milikku sekarang, dan kau jangan pernah berharap memilikinya lagi!”,kataku setegas mungkin, tampaknya ia terkejut,
“Really? Oh..how’s pity Key..mendapatkan perempuan macam kamu? Dia terlalu dipenuhi kesialan, bahkan ia terlalu bagus untukmu anak kecil!”,katanya sambil menunjukku, ok..ini keterlaluan, ia benar-benar memecahkan rekor kekesalanku pada Taemin,
“That’s not my problem, Key Oppa menyukaiku, and so do I, tak masalahkan? Cukup aku hanya ingin mengatakan itu, bye..”,kataku lalu meninggalkannya, aku tersenyum tampaknya rencanaku akan berhasil..
Key Oppa..bisakah kau pergi kedanau sore ini, adalah masalah sedikit soal DKV, tadi ada pelukis yang mengeluh padaku, ku harap kau bisa datang di tempat seperti biasa, gumawoyo..
“Send.., ok..beres..”, kataku tersenyum, ku harap rencanaku bisa berhasil, dan..mereka bisa, tiba-tiba aku merasakannya sakit yang seperti itu lagi, oh Tuhan…kuatkan aku,
Ini pukul 4 sore, aku sudah ada dibalik pohon di pinggir danau, aku memandang lekat-lekat tempatku berjanji bertemu dengan Key Oppa, kuharap rencanaku ini berhasil,
Dari arah kanan, ku lihat seorang namja dengan celana levis ketat, kaos putih dan jaket levis berwarna merah muda, ya..merah muda warna kesukaan Key Oppa, dipadukan dengan sepatu kets, aku berdecak,’benar-benar laki-laki yang stylish’,ia tampak menengok kanan kiri sepertinya mencari seseorang yang membuat janji dan tidak bertanggung jawab karena belum menampakkan batang hidungnya,tiba-tiba dari arah berlawanan kulihat seorang yeoja yang sepertinya benar-benar diliputi kekesalan, dengan celena pendek, jaket tanpa lengan berwarna biru tua, dan kaos hitam ia melangkah terburu-buru dengan kakinya yang jenjang,
Key Oppa nampaknya asyik dengan handphone yang sedang digenggamnya, sedang yeoja itu terus berjalan setengah berlari sambil meremas handphonenya sendiri dan menengok ke samping kanan, kiri dan belakang seperti sedang memburu sesuatu, jarak mereka semakin dekat, jantungku berdegup, ya Tuhan..semoga ini akan berhasil..
“Aw”, yeoja tadi berteriak, tampaknya karena kecerobohannya ia menebrak namja di depannya yang tadi sedang asyik dengan handphone-nya
“ah..”,namja yang ditabrak hanya bisa mengaduh,”ya..bisakah kau berhati-hati sedikit…ku rasa jalan disini begi…tu…”, kata-katanya menjadi terputus begitu ia melihat siapa yang berada di depannya, “Chris?”
“Key! Apa yang kau lakukan disini?”,kata yeoja yang bernama Chris..namja yang tentu saja Key Oppa itu terdiam sebentar masih terpaku,
“Hei..Key!”,Chris menegur Key Oppa, sambil mengibaskan tangannya di depan wajah Key Oppa,
“Eh…aku..menunggu seseorang, aku menunggu Fitta, ia ingin membicarakan masalah DKV, kau sendiri?”,Key Oppa bertanya,
“Ha? Jadi kau menunggu perempuan itu? Mana dia? Ingin rasanya ku remas dan kugunakan untuk mencuci piring dirumahku!”,jawabnya kesal sambil meremas tangan, aku menahan napas mendengarnya,’tega sekali..’
“Ha? Memang dia kenapa? Kenapa kau ingin menyiksanya?”,Key Oppa bertanya tampaknya ia tak mengerti,
“Tidak usah kaget seperti itu! Kau tahu perempuan itu, perempuan tidak punya etika, angin darimana ia meng-sms ku dengan kalimat seperti ini!”,kulihat Chris menunjukan sms yang kuberikan tepat di depan mata Key Oppa,
“Kau..aku tahu kau masih menyukai Key Oppa bukan? Dari omonganmu kemarin nampaknya kau benar-benar yakin kalau Key Oppa bisa terus menyukai perempuan aneh, yang sok cantik sepertimu! Ku peringatkan! Ia tak akan pernah menyimpan lama wajahmu itu di memorinya yang berharga! Jadi jika kau masih memiliki akal sehat jauhilah Key Oppa, dan carilah laki-laki yang sepadan denganmu, sepadan dengan sikap burukmu itu! Hahaha”,Key Oppa membaca sms dariku pada yeoja itu, ‘aduh rasanya malu sekali aku bisa mengeluarkan kata-kata seperti itu, tapi ini satu-satunya jalan, God forgive me please..’
“Lalu kenapa kau bisa kesini?”,kata Key Oppa bertanya lagi,
“Huh..dia menantangku jika aku tak datang sore ini di danau ia akan mencapku perempuan pengecut yang bahkan takut pada junior sendiri!”,ia benar-benar kesal sampai mencak mencak seperti itu,
Aku melihat Key Oppa berpikir sesuatu, sekali lagi jantungku berdegup ‘apa yang dipikirkannya kini? Aku yang di luar batas kah? Atau ia tahu maksudku?’,batinku, kulihat lagi ekspresi dari Key Oppa, dan kulihat ia …tersenyum,
“Jadi kau disini untuk bertaruh dengan Fitta sshi demi aku?”,kata Key Oppa tersenyum jahil pada yeoja di depannya,
“Iya aku bertaruh dengan perempuan menyebalkan itu..untuk…hei wait..kau bilang apa?”,Chris memotong perkataannya,Key Oppa tersenyum lagi,
“Kau masih menyukaiku kan?”,masih dengan senyum jahilnya, kulihat mata Chris membulat dan wajahnya memerah,aku yang melihatnya merasa seperti ada yang mengganjal, seperti rasa tak senang, sedih entahlah..
“Jangan terlalu pe..de”,kata Chris terbata karena kini tangan Key Oppa sudah berada di pipinya, menyentuhnya dengan lembut, lalu perlahan tapi pasti ia mendekatkan wajahnya pada wajah Chris, ‘what?’ reflek aku langsung berpaling sambil menutup mataku dengan telapak tangan,dan entah mengapa tanpa kusadari sebulir air ku rasakan jatuh dari ujung mata kiriku,aku masih menutup mataku, aku merasakan hal yang benar-benar menganehkan, diantara sedih, senang, dan kegalauan,
“Ehm…”, sepertinya suara dehaman seseorang, ‘ha? Seseorang? berarti ada yang mengetahui kalau aku disini?’,batinku terkejut, aku segera menyingkirkan bulir air yang tadi keluar dari mataku dengan telapak tanganku dan mendongak keatas, melihat siapa yang menegurku disaat seperti ini, begitu aku melihat siapa yang ada di hadapanku, ‘Ha? Kenapa bisa ada disini?’,pekikku dalam hati,
“Sedang apa kau disini?”,katanya lalu menengok kearah belakang ku aku hanya bisa memalingkan muka,
“Ck..Anak kecil, dilarang mengintip orang pacaran!”, katanya lagi,
“Aku tidak mengintip!”,bantahku cepat,
“Lalu?”,katanya sambil memiringkan kepalanya,
“Ehm…itu…”,aku menggaruk kepalaku yang sama sekali tidak gatal,’ya ampun..aku harus jawab apa?’,batinku,ia tersenyum,
“Kau berhasil ya?”,tanyanya,
“mwo?”,kataku tak mengerti,ia hanya kembali tersenyum dengan senyum khasnya,
“Itu…mereka bersatu lagi, itu rencanamu kan yeoja polos?”,rese! Lagi-lagi ia meledekku!
“Sudah ku bilang jangan panggil aku dengan sebutan itu! Dasar namja yeoja!”,iya orang yang di depanku tadi itu namja yeoja, temanku Lee Taemin, “Aku tak mengerti maksudmu, sudah aku mau pulang!”,kataku lalu beranjak meninggalkan Taemin,
“Ya…Fitta’ah, bagaimana kalau kau ikut aku saja! Aku jamin kau akan suka!”,kata Taemin berteriak padaku yang memang sudah beranjak pergi,
“Aku sedang tak ingin makan es krim pisang Taemin’ah..”,jawabku tanpa mengalihkan pandanganku, tiba-tiba ia sudah mensejajarkan langkahnya denganku,
“bukan makan kok..ayolah..ku yakin kau pasti suka!, sekali ini saja!”,katanya memohon dengan puppy eyes-nya,’oh..God..bisakah ia tidak menggunakan pandangan itu?’,aku mendengus pelan,
“Ne..baiklah, tapi awas sampai aku tak suka, aku tak akan mau menerima ajakanmu lagi!”,kataku melunak,
“Baik…kkaja!”
Aku tahu ini akan jadi kejutan tapi bisakah ia tidak menutup mataku seperti ini memakai kain lagi, aduh..rasanya pandanganku bakalan biru setelah dilepas nanti, sudah lama sekali, apakah tempatnya sampai keujung Kota apa? Mataku sudah sakit tertutup terus tau!
“Ya..Taeminnie, belum sampai juga, mataku sakit nih..”,kataku pada Taemin yang memberikan pertolongan melangkah dengan intruksi kecil dan sapu tangan yang menjadi penghubungku dan dia,
“Yap..sudah sampai, kau bisa membuka penutup matamu itu”,kata Taemin, itu yang sedari kutunggu, aish…rasanya sakit se….”Waaaa”, aku terkejut dengan pemandangan di depanku, rupanya aku ada diatas bukit dan yang lebih tepatnya di ujungnya sehingga pemandangan di depanku adalah lembah dan sungai cantik dihiasi langit sore, sudah itu…aku melihat beberapa..
“Hei..kuas dan cat, kanvasnya juga ada..”,kataku melihat bahan-bahan melukis ada di hadapanku dan Taemin kini,
“Ya..karena ku pikir kau tak terlalu menyukai dance, kau pasti menyukai lukis, karena kau sangat excited soal lukisan, bagaimana? Baguskan tempat yang kupilih?”,katanya tersenyum, aku membalas tersenyum dan anggukan,
“Great job..Taeminnie”,kataku,
Sudah sekitar setengah jam berlalu lukisan kami –aku dan Taemin- telah menemukan jalannya, aku lebih tertarik menggambar pemandangan di depanku, sedang Taemin? Ia menggoreskan kuas cat begitu lepas, kurasa, Abstraksi!
“Ya..kau bisa juga menggambar abstraksi Taeminnie?”,tanyaku sambil melihat lukisan Taemin yang berwarna-warni,
“Ah,,,ani, aku kan tidak bisa melukis Fitta’ah..jadi ku warnai saja sekiranya..hhe”,katanya sambil terus menggoreskan cat warna,
“Kata siapa? Setiap lukisan itu memiliki makna, dan kebanyakan mewakili perasaan pelukisnya, terutama yang abstraksi, tiap goresan warna akan memiliki arti, tak mungkin hanya sekiranya..”,kataku menjelaskan,
“Sok tahu..memangnya benar?”,katanya, terntaya dia meragukanku, ck..
“Iyalah..aku sudah melihat dan belajar lukisan sejak lama, dan semua lukisan pasti memiliki makna tersirat di dalamnya, ku jelaskan ya makna lukisanmu di mataku”,kataku
“Baik..coba kau terjemahkan..”,katanya menantangku,
“Warna gelap bergradasi ke warna terang dari kiri ke kanan, berarti kau berharap mengarah ke kehidupan yang lebih baik, warna hijau, melambangkan ketenangan jiwa, kau pasti sedang damai karena merasa telah melepas salah satu beban, warna oranye kau pasti sedang merasa senang, lalu warna merah muda, itu melambangkan cinta, kau..sedang jatuh cinta Taemin’ah?”,kataku sedikit terkejut dengan warna terakhir yang kulihat bersama goresan-goresan kecil warna lain,
“Kau itu sok tahu, aku hanya menggores warna yang ku tahu…”,kata Taemin polos,
“Tidak..sudah ku bilang, lukisan baik disadari ataupun tidak itu mewakili apa yang kau rasakan dan kau pikirkan, kau jatuh cinta pada seorang yeojakan? Bukan seorang….”kataku tak sanggup meneruskan,
“Tentu seorang yeoja kau pikir apa? Aku masih normal tau!”,katanya sedikit kesal,
“Mian…apa yeoja yang membuatmu jatuh cinta itu yeoja yang waktu itu membuatmu patah hati juga?”,kataku kembali excited dengan siapa yang berhasil membuat seorang Taemin yang selalu tersenyum ini merasakan patah hati,
 “Bukannya kau yang suka pada Key..sampai menangis seperti itu melihatnya bersama yeoja lain?”,ish..namja yeoja itu malah membahasnya lagi, aku menggeleng dan menghela napas perlahan,
“aku tidak menangis…lagipula aku tidak suka, hanya mengaguminya, dan sekarang aku juga tidak bisa mengaguminya lagi..”,kataku sendu, Taemin menghentikan aktivitas melukisnya,
“Loh? Tapi kenapa?”,katanya menatapku yang sedang tertunduk,
“Karena…ia sudah tersentuh yeoja lain, kau lihatkan tadi, masa aku mau mengagumi orang yang sudah tersentuh yeoja lain yang bukan istrinya..huh..aku saja tak suka disentuh-sentuh begitu, kalau aku mengagumi orang yang suka seperti itu, bisa-bisa aku terbawa karena rasa kagumku padanya..”,kataku lalu menghela napas,
“Hahaha, kau tahu itu kan urusan pribadinya, tak ada urusan denganmu…”,sebelum Taemin menyelesaikan kalimatnya kupotong terlebih dulu,
“Tapi..siapa yang kau kagumi itu, juga mencerminkan dirimu tahu!”,kataku sedikit kesal, dan memajukan sedikit bibirku,
“Iya..iya…”,katanya tersenyum dan kembali melukis, kali ini ia menggoreskan warna merah jambu dan oranye secara bergantian,
“Hei..siapa yeoja yang kau sukai Taemin’ah.?”,tanyaku, ia tak menjawab malah terus tersenyum sambil terus menggoreskan warna-warna cerah,
“Ya! Namja yeoja! Kau mendengarku tidak ha? Atau jangan-jangan…benar kau tidak suka pada yeoja ya?”,tuduhku frontal, ia langsung berhenti dan dengan tatapan terkejut menetapku,
“What? Enak saja! Aku masih normal tahu! Dan berhenti memanggilku namja yeoja!”,katanya kesal, ia menggoreskan warna merah di lukisannya, aku tahu itu tandanya kemarahan, ‘ya ampun semarah itukah ia padaku?’
“Ya..Taemin’ah..kau marah padaku?”,tanyaku hati-hati,ia menghela napas,
“Ani..”,katanya singkat,
“Makanya beri tahu aku..setidaknya itu akan menunjukan kau menyukai seorang yeoja dan kau masih normal tak seperti tuduhan teman-teman selama ini..”,kataku membujuk dengan alasan yang serasional mungkin,
“Kau benar-benar ingin tahu?”,katanya, kulihat ia tak lagi menggoreskan cat merah, baguslah!
“Iya….tentu…tentu saja!”,kataku semangat,
“Benar?”,katanya menghentikan aktivitasnya melukis,aku mengangguk tetap dengan semangat yang sama,
“Baik….aku hanya menyebutkan ciri-cirinya ya…hm…dia sangat baik, dan yeoja tulen!”,katanya, lalu melanjutkan melukisnya lagi,’ha? Cuma itu?’
“Hei..masa ciri-cirinya hanya segitu?”,kataku tak terima,
“Ia…rela berkorban, bahkan ia rela melepas laki-laki yang ia sukai hanya karena tak mau laki-laki yang ia sukai murung karena menyukai orang lain, ia juga pintar dan cantik, tak hanya cantik diluar, tapi juga cantik dalam hatinya”,katanya tersenyum sambil menggoreskan cat merah muda, biru dan hijau bergantian,
“Waw…ia amat istimewa..”,pekikku kagum, jarang sekali aku mendengar pujian yang begitu tulus dari seorang namja yeoja ini,
“Tapi…terkadang ia menyebalkan, ia bahkan membiarkanku menunggunya selama dua jam di depan rumahnya, dan ia bahkan tak ingat akan janji yang kami buat saat itu..”
“Hei..kejam sekali..”
“Iya..tapi ternyata, setelah ku cari tahu, ia sedang menemani namja yang ia sukai karena namja itu sedang patah hati..”, aku terdiam, kalau begini aku tak tahu harus menanggapi apa,
“Lalu ia juga pernah menolak ajakanku tiga kali berturut-turut, bahkan menolak ajakan untuk pergi ke tempat favorit kami….”,ia cemberut dan menggoreskan warna gelap disana,aku hanya bisa bingung katanya baik tapi kok tega melakukan hal itu ya?
“Dan itu karena ia sibuk di acara kuliahannya, tapi sebenarnya aku tahu karena ia diminta langsung menjadi panitia oleh namja yang ia sukai yang menjabat sebagai ketua pelaksananya, satu lagi ia sangat bodoh..karena dari tadi ia tak menyadari kalau aku sedang membicarakannya!”,katanya sedikit memiringkan kepalanya kearah lukisan yang ia buat,
“Loh…tadi katanya yeoja yang kau sukai itu pintar..kenapa jadi bodoh..kau ini plin-plan ya namja yeoja..ckckck”,kataku berdecak sambil menggeleng,
“Itu dia.. aku tak suka jika ia memanggilku namja yeoja, dia sering sekali menmanggilku seperti itu, sudah kubilang berkali-kali tapi ia tetap saja begitu..”,katanya sedikit kesal,
“Lucu sekali, kenapa ia memanggilmu namja yeoja, sama sepertiku..”,kataku polos,
“Tuh..kan aku bilang dia terkadang pabo untuk hal seperti ini, dari tadi aku bicara padanya mengenai dirinya sendiri dan ia tak juga menyadarinya, benar-benar yeoja polos…”,katanya masih melukis,
“Hei…kau menyebutnya yeoja polos,,lucu sekali lagi-lagi seperti julukanku yang diberikan teman-temanku,eh.. dan kau bilang yang kau suka sedang bicara denganmu dari tadi dan…”,aku membulatkan mataku, rasanya ada yang aneh dengan kata-kata Taemin barusan..sedang bicara dengannya? Itu kan..a…
“Taemin’ah..”,kataku pelan,
“Wae..sudah sadarkah? You’re so slow Fitta’ah..”,katanya santai lalu melukis lagi, sementara aku masih terpaku mencerna kata-kata Taemin barusan,
“Sudah You’d better finishing your picture now..”,kata Taemin, karena aku tak tahu harus melakukan apa, ya..kurasa lebih baik jika aku menyelesaikan lukisanku, hari ini terlalu banyak yang tak dapat kucerna dengan akal sehatku…
Akhirnya…hari pameran dilaksanakan juga, aku melihat, Key Oppa dan Chris sedang bersama-sama mengomentari hasil karya yang menjadi ikon pameran, dan sepertinya mereka lebih akrab, syukurlah…rencanaku berhasil,
“Jangan pernah bersedih lagi Oppa..”, gumamku pelan,”bahagialah dengan Chris…”,
“Mengintip orang pacaran lagi!”,tiba-tiba sebuah suara mengejutkanku,aku berbalik kearah sumber suara itu,
“Ya..Taeminnie, bisakah kau datang tak mengagetkanku? Kenapa kau selalu seperti itu sih..!”,kataku sedikit kesal, dasar!
“Hehehe…maianhe,”,katanya tersenyum,
“Eh..bukannya kau ada show dance malam ini? Kok masih disini?”,kataku katanya ia ada show dance dari sekolahnya, kenapa ia masih di pameran ini?
“Mmm..aku ingin kau ikut denganku, sekalian kau membayar kesalahmu waktu itu! Membuatku tak pergi ke sekolah dance!”,katanya memaksa,
“Mmm..baik..aku akan membayar kesalahanku, sekalian, aku akan mentraktirmu susu pisang, karena waktu itu aku tak jadi mentraktirmu..”,kataku, dia meggeleng,
“Tidak..untuk traktir, biar aku saja, mana ada seorang yeoja mentraktir namja, sudah biar aku saja yang bayar, yang penting kau melihat showku..ok!”,katanya memperlihatkan ibu jari tangannya, aku tersenyum,”Ok..!”
“Kkaja!”,
Ya..aku berpamitan pada Key Oppa, aku ingin melihat show Taemin di dance, ini adalah show besar pertamanya, ternyata ia sangat mahir, sudah begitu…saat ia menari ia sangat berbeda dengan Taemin yang biasanya, ia sangat energik dan dewasa, professional dengan liuk-liuk tegas tubuhnya, tapi..tetap saja wajahnya lembut seperti yeoja..hehehe ya meskipun ia sangat mendalami karakter tariannya seperti menegaskan tatapan matanya, aku jadi tertarik pada dunia dance, dan juga kagum pada namja yang satu itu, ternyata aku salah pernah berharap Taemin berubah menjadi Key Oppa, ia jauh lebih baik dan peduli, meskipun kedekatanku dengannya terkadang ,malah menjadi bahan gossipan empuk yang menguatkan aku tak suka namja, tapi..aku tahu ia benar-benar namja sejati, dari sikap dan perilakunya,ternyata aku tak pernah salah menjadikannya temanku selama ini, ya…sejauh ini kurasa ia yang terbaik…
The End