hai semua...fuuuhhh..fuuuhhh *niup-niup debu*
lamaa nian aku ga buka blog ini, berasa berabad-abad..hehehe
Sebenarnya masih ga tau mau ngapain kalau mampir ke blog..masih bingung, tulisan apa yang ingin aku tuangkan dalam bentuk blog ini, curhatkah? cerpenkah? novel atau hasil diskusikah?
Hari ini, karena gue melankolis..*cuiih, kita ngerandom bareng yuk..
Sekali lagi gue disadarkan dengan satu kenyataan bahwa gue dikelilingi orang-orang yang yang sangat gue sayangi..
temen gue buat post tentang satu bidang yang gue ga bisa ngungkapin dari dulu betapa gue berterima kasih sama Allah swt telah diijinkan berkecimpung didalamnya..karena hanya dengan ucapan terima kasih saja tidak akan pernah bisa membayar segala sesuatu yang aku dapatkan saat itu dan saat ini..
Betapa hebatnya rasa itu sampai aku bertekad ga akan pernah melupakannya *mulai lebay -.-"
yang kabid wakabidnya sangat the best! yang kawan seperjuangannya ga kalah the best! ya..meskipun aku kalau rapat perempuan sendiri karena kakak kelas -kaka kelas? berasa SMA..- cuma ngikut sekali, yang konsol sampe malem gue tetep aja cewe sendiri -.-" yang aksi dimanapun berada *syalalala, yang kata-katanya "Tiada Kata Jera dalam Perjuangan", "Jangan Hanya Diam karena Diam adalah Pengkhianatan", yang selalu mainin quotes yang ujungnya malah ngegombal -.-", yang gue dipojok-pojokin mulu, yang gue mau nulis udah setengah ga jadi-jadi publish, yang sekarang temen-temen gue udah pada jadi "orang" kata kabid gue :'), yang kabidnya kena di ceng-in mulu *aduh bahasa apa tuh? wkwkwk, yang wakabidnya deket banget sama temen gue yang jago buat tulisan *ecieee, temen-temen gue yang berapi-api, yang bukannya mengkaji malah nanya aksi -.-", yang ngikut sospolnet sampai malem, yang nyiapin spanduk hasil coretan sampe malem banget, pagi malah, yang suka nyetel lagu-lagu perjuangan, yang sering mengomentari begini-begitu, yang suka buat kajian di kantek mendadak :p, yang ketemu cewe di detos pengen ngegodain hahahaha..yang di wisuda langsung di tahun pertama di depan gd.MPR DPR..yang macem-macem deh
ga akan pernah tergambar betapa banyaknya apa yang kita lalui di hari-hari kita bersama, karena jika diceritakanpun kitalah yang paling tahu dan merasakan apa yang sebenarnya dirasakan, kitalah yang paling tahu apa yang sebenarnya yang kita lakukan, ga akan pernah terlupa semua jasa-jasa dan segala kenangan, pelajaran yang telah diberi, meskipun secara formal kita telah berpisah, hatiku tetap pada kalian hingga saat ini..dan betapa aku bersyukur atas itu..
terima kasih semua :)
kita tetap pejuang dan selalu berjuang karena setiap kita tak kenal arti kata "Jera dalam Perjuangan"
Hidup Mahasiswa!
Hidup Rakyat Indonesia!
gue cuma seorang manusia, ga lebih dan ga kurang,,ga kaya dan alhamdulillah ga miskin, ga cantik tapi juga ga jelek, ga pinter tapi juga ga bodoh, meski hidup gue gitu-gitu aja ga istimewa.. Tapi gue yang akan jadiin hidup gue istimewa
Minggu, 23 Desember 2012
Selasa, 02 Oktober 2012
Mungkin, setiap jengkal kedewasasanku, terhalang
Menghadapi kenyataan adalah sesuatu yang sangat mendua
Ketakutan akan dunia dewasa dan peralihanku dari masa muda
Ketika aku berpikir, aku tahu aku bukanlah seorang dewasa
Dewasa itu menuntutku untuk berpikir seperti ini, itu
Tapi disana adalah hal yang paling aku tidak inginkan
Aku tetap ingin seperti ini, tetapi aku akan semakin tertinggal siapapun disekitarku
Mama..
Aku harus berjalan kemana?
Menghadapi kenyataan adalah sesuatu yang sangat mendua
Ketakutan akan dunia dewasa dan peralihanku dari masa muda
Ketika aku berpikir, aku tahu aku bukanlah seorang dewasa
Dewasa itu menuntutku untuk berpikir seperti ini, itu
Tapi disana adalah hal yang paling aku tidak inginkan
Aku tetap ingin seperti ini, tetapi aku akan semakin tertinggal siapapun disekitarku
Mama..
Aku harus berjalan kemana?
Rabu, 15 Agustus 2012
Catatan 14 Agustus 2012
14
Agustus 2012
Saat
salat qiyamul lail berjamaah aku memutuskan hanya menjalinnya 4 rakaat, aku
membutuhkan waktu untuk mandi sebelum berangkat pagi –pagi ke Kemendikbud untuk
melanjutkan aksi, ketika aku makan sahur dan jamaah masih salat, imam yang
memimpin salat itu menangis dengan mengulang-ulang kalimat permohonan dijauhkan
dari neraka dan di dekatkan dengan syurga, ia menangis, menangis dan menangis,
aku hanya bisa mendengarkan, ternyata imanku begitu tipis, aku bahkan belum
bisa seperti mereka, apa yang harus aku lakukan agar bisa seperti mereka yang
turut merasakan ketakutan, kesedihan, mohon ampun pada Allah dengan berlinang
air mata dan penuh kekhusyukan?, begitu burukkah diriku?.
Pagi
itu, nampaknya aku terlambat, aksi telah dimulai dengan melilitkan kain hitam
pada lambang makara UI di bundaran psikologi, betuliskan UI butuh perbaikan.
Seperti biasa meski sangat sedikit kakak-kakak itu sangatlah bersemangat,
sangat! Tiada raut wajah penyesalan karena masa aksi yang hadir sedikit, tidak
ada guratan wajah malu karena masa aksi seolah kalah pamor dengan PSAF yang
dilangsungkan dengan euforia baik oleh senior dan juniornya, meskipun mereka
terus diteriaki skenario senior yang ditujukan untuk membangun mental mahasiswa
baru, mungkin itulah tujuannya.
Pukul
08.00 wib, masa aksi siap berangkat, Uki belum datang juga, tidak ada satupun
perempuan di sini selain diriku, setidaknya dengan Uki aku memiliki sandaran
dan teman. Pukul 10.00 wib semakin dkat karena mengejar waktu, beberapa dari
kami yang telah siap mengambil langkah taktis berangkat dengan motor untuk bisa
mencapai Kemendikbud tepat waktu agar dapat melihat langsung serah terima
jabatan dari mantan Rektor kami Gumilar Roesliwa Soemantri ke tangan PJs Djoko
Soesanto, aku dan Uki memilih menggunakan transportasi umum yakni kereta, sedangkan
Wakabidku memilih menunggu terlebih dahulu masa teknik yang belum datang karena
mengurus PSAF terlebih dahulu, aku melakukan perjalanan dengan kereta Commuter
Line sampai stasiun Manggarai diteruskan dengan menaiki mobil 66 sampai
Kemendikbud.
Meski
baru bertemu beberapa kali, aku merasa nyaman dengan Uki, kami banyak bertukar
cerita, dan aku memandangnya sebagai seorang aktivis pergerakan sejati, jika
dibandingkan denganku, aku adalah adik kecil baginya.
Ia
bercerita bahwa pada saat Sumbangan untuk KPK, ia tengah berada di Purwakarta,
temapat tinggalnya, ia menyadari bahwa banyak anggota Akprop yang telah mudik,
akhirnya ia memutuskan untuk kembali ke UI, meskipun ia tidak diperbolehkan,
namun ia terus berusaha membujuk orang tuanya, dengan uang hanya Rp40.000,- ia
menuju Gd.KPK di Rosina Said, dengan pengetahuan seadanya akan kendaraan apa
yang harus ia naiki, ia seolah berkeliling Jakarta untuk menemukannya, aku
membandingkan dengan diriku, apakah aku sanggup seperti itu?.
Aku
dapat melihat jiwa optimis dalam dirinya, bertanggung jawab dan mampu membaca
situasi, sebuah jiwa kepemimpinan yang sangat baik, dan tentunya bersahabat,
yang terpenting ia kini berjilbab, sebuah transformasi hidup yang turut
mempercantik kepribadiannya.
Gd.Dikti,
Kemendikbud
Aku
dan Uki tidak bisa masuk, alasannya ruang sidang telah penuh dan 9 orang dari
BEM telah menempati ruangan tersebut, akhirnya kami menunggu sidang yang
dilaksanakan di lantai 3 itu selesai, setelah kami terdapat beberapa rekan dari
BEM UI dan Fasilkom datang, namun masa Teknik belum juga datang.
Karena
tidak ada tempat duduk aku dan Uki memilih ke toilet dan membaca buku di sana,
kebetulan terdapat sebuah jendela yang menjorok ke luar sehingga menyisakan
tempat duduk, menjelang dhuhur, masa Teknik datang, dan aku sedikit terkejut
karena kakak dari BEM UI dan Fasilkom tidak ada, mereka ke lantai tiga karena
sidang telah selesai, sedangkan kami memilih tetap di bawah karena tak lama
kemudian rekan yang di lantai 3 turun ke tempat kami.
Kami
diceritakan bahwa tuntutan telah di berikan pada Gumilar, tuntutan tersebut ada
di kertas hitam dan tidak lupa dua buah karton yang bertuliskan menolak Gumilar,
hal itu juga ditujukan pada media-media yang datang ke sidang tersebut,
akhirnya pak Gumilar turun dari jabatannya, ada sedikit pernyataan yang
menggelitik, ketika pak Gumilar berkata “Kaji, kaji lagi”, salah seorang BEM UI
berkata “Kami sudah mengkaji pak, kapan kita forum”, lalu beliau hanya bisa
terdiam.
Aku
pulang bersama Uki, setelah salat dan mendengarkan ceramah di masjid
Kemendikbud yang berisi tentang bagaimana seharusnya kita bersyukur atas segala
nikmat yang diberikan Allah swt yang tidak akan bisa terbalas akan aapapun.
Sebenarnya kami ditawarkan untuk ikut bersama masa FT yang saat itu membawa
mobil milik kak Ryan (Ketua IME), akan tetapi tampaknya kakak-kakak sedang
terburu-buru karena harus kembali mengurusi PSAF yang masih berlangsung,
sehingga kami memutuskan kembali menggunakan transportasi umum.
Pada saat itu hal yang paling menggembirakan bagiku adalah tidak adanya sedikitpun rasa penyesalan dalam hati walau aku hanya dapat mendengar cerita mereka yang melihat langsung sidang tersebut, aku tidak sia-sia memutuskan untuk pergi kembali ke UI dan merelakan untuk melihat adik-adiku berjuang di perlombaan Parade dalam rangka HUT Pramuka. Alhamdulillah ketika aku menerima kabar mereka meraih juara pertama, sungguh Allah sangatlah Maha Kuasa, selamat untuk adik-adiku di Pramuka Ambalan Jendral Soedirma-Nyi Ageng Serang SMAN 1 Tambuhn Selatan.
Sebelum
pulang kami menuju Tanah Abang dengan tujuan membeli beberapa kerudung, akan
tetapi hampir semua took telah tutup akhirnya kami memutuskan untuk pulang
menggunakan kereta dari stasiun terdekat.
Di
stasiun, ketika manusia tergesa-gesa sangat mengerikan, berdesak-desakan
menunggu kereta yang ingin dinaiki, seperti simulasi aksi, aku dan Uki
membentuk border sendiri, berusaha agar menghadang serbuan gelombang manusia
yang saling berteriak dan berdesak-desakan, bahkan diantara mereka ada yang
nekat menaiki atap kereta, dan memerlukan sebuah petugas kemanan dengan bamboo panjang
untuk mengusirnya, Indonesia…
Meskipun
begitu, masih ada diantara mereka yang lolos pengejaran petugas tersebut dan
berhasil menaiki atap kereta, mereka tertawa dan melambaikan tangan seolah
mendapatkan kemenangan penuh, yang sebenarnya bukankah maut mengincar kapan
saja, terutama dengan mereka berbuat seperti itu?, Uki bertanya, “bagaimana fit
kajian transportasinya nih?”, seraya tersenyum, “kemarin lebih fokus ke MRT
ki..”,tampaknya setiap peristiwa jadi bahan langkah nyata apa yang harus
dilakukan.
Tiga
hari berlalu, rasa kantuk akibat kurang tidur, dan lelah akibat berjalan
mungkin mewarnai hariku, tetapi banyak yang ku dapatkan dari tiga hari
peristiwa tersebut, bukan hanya dari sisi pergerakan, dari sisi religious, sisi
psikologi, kemanusiaan, belajar berpikir kritis dan belajar percaya pada apa
yang diyakini diri sendiri.
Aku
bukanlah seorang aktivis sejati, bukan seorang yang dapat dikatakan pergerakan
tetapi masih seorang yang “digerakan”, terkadang aku sadar dan sedih Kastrat
dan pergerakan dicampur tangani oleh orang seperti aku yang banyak kekurangan,
sedangkan mereka yang berpotensi lebih dan sangat lebih menurutku, berpaling
dari jalan ini dan mencoba acuh, atau bahkan tidak percaya akan adanya
idealisme yang seharusnya dimiliki mahasiswa, mungkin dikehidupan real nanti
akan sangat berat dan mengikis idealisme, atau anggapan adanya idealisme
menjadi hanya sebuah kondisi ideal yang tidak pernah tercapai, akan tetapi
kepemilikan idealisme hari ini tidak akan membuat sebuah kerugian bagi dirimu,
bukan hanya lewat jalan aksi tetapi lewat berbagai advokasi, lewat tulisan,
atau sekedar pemikiran.
Jika
semakin sedikit yang percaya akan adanya sebuah tanggung jawab bagi mahasiswa
sebagai kaum intelektual melakukan perubahan kearah yang lebih baik baik secara
vertikal maupun horizontal secara seimbang, maka pergerakan akan semakin
tenggelam, tetapi bukan mati karena disetiap manusia pada hakekatnya terdapat
sebuah keinginan memberontak kala terjadi penindasan dan ketidakadilan, kala
ada sekecil apapun yang seharusnya diperbaiki dan diarahkan pada kondisi
seideal mungkin.
Dan
harus selalu diingat bahwa tidak memerlukan banyak orang untuk membuat sebuah
perubahan, mungkin jika kutambahkan perubahan hanya memerlukan mereka dengan
jiwa berapi dan pantang mundur serta semangat optimistik dan keyakinan bahwa
perubahan itu nyata!.
Hidup
Mahasiswa!
Hidup
Rakyat Indonesia!
Catatan 13 Agustus 2012
13
Agustus 2012
Detik-detik
mendekati 13 Agustus 2012..
Hal
yang tak kalah mengesankan dan tidak akan dilupakan adalah aksi yang diakhiri
dengan kembang api yang dinyalakan simbolis kami telah terbebas dari rezim yang
diciptakan Gumilar Roesliwa Soemantri, layaknya tahun baru, usai kami
menyebutkan deklarasi yang menyerupai proklamasi, kemi menghitung mundur
bersama sampai detik satu, kembang api dinyalakan dan dengan indahnya membuat
ledakan-ledakan di langit, sebuah momentum yang sangat indah dan seolah melihat
sebuag sejarah baru, karena memang tanggal 14 Agustus rektor akan turun
jabatan, namun jika ia turun dan diturunkan adalah dua hal berbada yang
kontras, seperti saat bangsa ini meraih kemerdekaan atau diberikan kemerdekaan.
Sebelum
masa aksi FT pulang, karena besok terdapat agenda PSAF yang menunggu khususnya
bagi mereka SC kegiatan tersebut (ketua IM), kami saling merangkul satu sama
lain membentuk sebuah lingkaran kecil,
dan kembali dipimpin ketua BEM FTUI, satu persatu dari kami memberikan
kesan hari ini, hal yang membuat saya tersenyum adalah ungkapan dari
kakak-kakak yang menggunakan sastra sebagai perantaranya, terdengar sangat
istimewa.
Meskipun
salah seorang mengatakan hal yang paling menyenangkan hanyalah saat mendengar
sharing dari para senior BEM UI dan selainnya tidak, tetapi bukankah dalam
sebuah aksi yang terpenting bukankah itu seru atau kesengan atau semacamnya
yang akan kau dapatkan dalam sebuah program kerja tertentu yang dipersiapkan
dari jauh hari, tetapi bagaimana perjuangan sekecil apapun yang telah dilakukan
hari ini, karena setiap langkah akan mencatatkan sejarah tersendiri bagi
pergerakan mahasiswa ke depan.
Ketika
masa FT kembali pada peraduannya, aku bergabung dengan pengurus BEM UI, yang
kesemuanya berasal dari FKM, temanku Uki yang berasal dari Vokasi, tampaknya
tak ikut dan memilih tinggal di depan rektorat, sedangkan aku pergi menuju MUI
untuk beristirahat, namun karena kesulitan tidur aku memilih membaca Al-Qur’an
dan salat qiyamul lail sampai pukul 02.00 wib dan tidur sejenak sampai pukul
2.30 wib, sebelum akhirnya bergabung kembali ke masa di rektorat, sebenarnya
makan sahur ditanggung oleh masing-masing fakultas, akan tetapi aku tinggal
sendiri dari masa aksi fakultasku, sebenarnya ada wakabid Kastrat BEM FTUI
2012, namun ia masih berada di MUI, meskipun sendiri tampaknya aku tak perlu
khawatir karena BEM UI menawarkan makan sahur, kebetulan persediaan yang ada
lebih, sebuah the kotak, nasi, dan air mineral, aku juga terlalu sulit
bergabung karena Uki ada di sana.
Sepanjang
pagi itu, aku bersama Uki menyusuri fakultas kesehatan masyarakat untuk pertama
kalinya, sangat rapi, dan serasa rumah sendiri dengan bangunan dan koridor yang
sangat apik, perpaduan kayu, kaca, tembok bata, bebatuan dan taman yang sangat
indah, warna-warna yang di dominasi pada corak ungu, benar seperti rumahmu
sendiri.
Usai
salat shubuh, kami kembali berkumpul di depan balai sidang, masa aksi
benar-benar sedikit, kau tahu, dengan misi hari ini untuk menyegel rektorat,
aku sedikit pesimis, ketika kami di bagi tugas aku pergi bersama Uki, yang akan
berjaga di lantai 2, berangkat dari FMIPA karena instruksi yang diberikan kami
harus berangkat dari tiga titik berbeda, Perpustakaan Pusat, FMIPA dan FKM, ada
satu kata yang selalu kuingat sampai kini, ketika aku bertanya akan permasalahan
kuantitas yang selama ini terkadang membuatku ragu akan pergerakan, namun
dengan pasti ia menjawab “Kata bung Karno
: Tidak perlu banyak orang untuk melakukan sebuah perubahan”.
Aksi
dilanjutkan, pintu rektorat yang rencananya kami segel ternyata memang
terkunci, masa aksipun ditahan tidak bisa masuk, sedang beberapa dari kami
terus berusaha agar karyawan dapat bergabung dalam gerakan kami, orasi-orasi
terus terdengar dari luar rektorat dan sempat sekali masuk hingga pelataran,
sebelum akhirnya masa aksi menggunakan aksi tutup mulut.
Pukul
10.00 wib
Aku
ingat masalah jaket kuning yang kini ku kenakan bukanlah milikku, jaket ini
milik seniorku angkatan 2008 dan ia akan pulang hari ini ke Bangka tepat pukul
12.00 wib, selain itu ibuku mengajakku untuk ikut mudik hari ini, aku mulai
bingung, ada tuntutan untuk pulang, walau sebenarnya satu sisi diriku tetap
ingin di sini, aku seperti dilanda konflik batin dan konflik itu mengerucut
hingga aku memutuskan mengakhiri aksi ini dan pulang ke Bekasi, anehnya rasa
tidak ikhlas itu terus menerus berputar dalam pikiranku, saat aku pulang aku
tertidur di bus dan tempat dimana seharusnya aku turun aku tidak melakukannya
sampai ke tempat pemberhentian bus yang terakhir, dengan sedikit linglung aku turun
dan kembali ke tempat seharusnya aku turun dengan menggunakan angkutan umum
lain, aku dikejar waktu dhuhur, kekesalan akibat supir yang selalu
memberhentikan angkutan umumnya di setiap persimpangan untuk mendapatkan
penumpang dan kegelisahan akibat pergi di tengah-tengah aksi yang berlangsung,
apakah aku lari dari perang?, apakah aku lari di tengah perang? Bukankah Allah
membenci hal itu?.
Mobil
angkutan yang kunaiki terus menerus berhenti dan berjalan perlahan, rasanya aku
ingin berteriak “ mobil angkutan ini bukanlah angkutan langka di jalan ini pak,
kalau ada penumpang yang ingin menaiki mobil ini pasti ia akan memberikan
tanda, tidak usah membunyika klakson terus menerus untuk mencuri perhatian
mereka, karena seribu kali anda membunyikan klakson dan bersikap sok manis pada
mereka, mereka tak akan mau naik mobil ini karena mereka punya tujuan berbeda,
lagi pula dengan melimpahnya jenis mobil yang sama dengan rute sama, taktik
mencari penumpang dengan menunggu seperti ini dapat mengurangi kepercayaan
pelanggan karena akan men-judge anda akan mencari penumpang dan sangat sering
berhenti, mereka tidak akan percaya”, sudah itu terdapat tulisan di depan mobil
yang menyebutkan bahwa :” Anda perlu waktu saya perlu uang”, bukankah waktu
lebih berharga dibanding uanag, karena kau memerlukan waktu saat mencari uang,
akan tetapi uang tidak bisa menebus waktu untuk menunggu ataupun berhenti,
penting mana?.
Kegelisahan
karena aku lari dari perang berubah menjadi ketakutan, akhirnya setelah satu
jam aku sampai tepatnya pukul 15.00 wib aku memutuskan kembali berangkat ke UI,
aku tidak jadi ikut ibu untuk mudik dan memilih mudik bersama ayah tanggal 17
Agustus nanti, aku tidak pernah melakukan hal nekat seperti itu sebelumnya, mungkin
karena pikiranku terus dipenuhi rasa bersalah dan ketakutan karena aku lari
dari perang di saat yang lain sedang berjuang.
Kak
Fadlan Mesin’10 (Wakabid Kastrat) memberitahu bahwa aksi pagi itu berujung pada
pertemuan dengan wakil rektor pak Anis yang memang tidak bergabung pada gerakan
kami tetapi sepakat bahwa beliau menginginkan kepemimpinan UI yang lebih baik
dan penyegelan rektorat dengan kertas-kertas putih berupa keluhan terhadap
rektor selama kepemimpinannya, aku jadi berpikir ketika aku memutuskan pulang
dan tidak berada di sana aksi justru dapat dilanjutkan ketahap yang sangat
berarti, tampaknya aku menjadi ikon ketidak beruntungan, malangnya.
Keinginanku
mengikuti aksi sore yang dimulai pukul 15.30 wib tampaknya selain tidak visible
juga tidak realistis, macet sangat menghalangi jalanku, seharusnya pukul 17.00
wib aku dapat sampai di UI, sampai maghrib aku baru mencapai kosanku, dan
aksipun telah selesai untuk hari itu, atas saran Wakabidku juga aku memutuskan
untuk bermalam di MUI, setidaknya itu akan lebih berharga dibandingkan aku
berada di kosan tanpa ada sesuatu yang dapat ku kerjakan.
Saat berdiam di MUI, terdapat sebuah kajian
mengenai Rohingnya, sebuah komunitas Islam terpencil di Myanmar yang sebenarnya
telah hidup di Myanmar bahkan sebelum yang lain hidup di sana namun mereka
terusir dan di usir baik oleh masyarakat maupun kebijakan pemerintah Myanmar,
mereka terpecah belah dan hidup di berbagai Negara terdekat termasuk Indonesia,
salah satu mereka datang dari Jepang untuk memberikan penjelasan mengenai
Rohingnya, mereka mendapatkan perlakuan yang tidak beerprikemanusiaan dan
kebijakan yang tidak adil dengan menekan angka populasi agar jumlah mereka
semakin sedikit, tidak diakui oleh Negara dsb, aku membayangkan bagaimana
caranya aku bertahan jika aku yang mengalami?.
Catatan 12 Agustus 2012
12
Agustus 2012
Pekikan
suara-suara semangat orator menggema di penghujung sore depan gedung tinggi
yang berdiri angkuh di samping balairung dan menghadap gedung balai sidang
tempat kami memulai langkah ini. Sekitar 150 masa aksi dengan perbedaan warna dasar
bentuk yang mengelilingi makara tertutup oleh warna makara dan jaket yang kami
kenakan, satu warna, kuning, suara-suara terus bersahut
Hidup
Mahasiswa!
Hidup
Rakyat Indonesia!
Hidup
Universitas Indonesia!
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Apa
yang saya tuliskan mungkin bukanlah pandangan objektif akan aksi tiga hari
berturut-turut tersebut, namun lebih menceritakan apa yang telah saya alami dan
rasakan atas aksi menuntut Gumilar Roesliwa Soemantri untuk turun dari
jabatannya sebagai Rektor UI.
Sore
itu, sekitar pukul 15.00 wib masa aksi Fakultas Teknik berkumpul di depan ruang
Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Teknik Universitas Indonesia, tidak kurang
dari 80 orang hadir berpartisipasi dalam barisan siap aksi, awal saya
melihatnya sedikit terkejut karena masa aksi sangatlah banyak bahkan melebihi
perkiraan sebelumnya, setidaknya jumlah masa aksi yang banyak seakan
mendongkrak semangat saya satu tingkat dari sebelumnya.
Satu
yang saya sadari adalah, mungkin masing-masing kami memiliki niat awal yang
berbeda, beberapa masa aksi memang di dasari keinginan mendukung gerakan untuk
menurunkan kepemimpinan Gumilar sebagai Rektor UI, mungkin pula menjaga
mahasiswa baru yang dikabarkan akan diturunkan sebagai masa aksi dengan
prasyarat tertentu, memenuhi ajakan pemimpin diantara kami karena ia dekat atau
barangkali sekedar menunaikan kewajiban sebagai seorang yang memiliki jabatan
dan kedudukan sehingga merasa harus mengikuti aksi ini, entahlah jujur selain
ingin menuntaskan misi kami agar menjadikan UI yang lebih baik, saya juga
merasa memiliki kewajiban sebagai bagian dari Kastrat Teknik yang seharusnya
ketika saya memutuskan untuk andil dalam kegiatan aksi ataupun pergerakan semua
itu harus lepas dan yang tersisa adalah sebuah idealisme mahasiswa dan
keyakinan bahwa hal itu adalah benar dan patut untuk diperjuangkan, namun
apapun niat setiap orang hari itu hanyalah dirinya dan Tuhan yang tahu bukan?.
Masa
aksi teknik mulai bergerak menuju jembatan Teksas, melewati perpustakaan megah
yang pendiriannya sempat menimbulkan pro kontra dan indikasi penyelewengan
namun sekarang telah menjadi salah satu pusat berkumpulnya mahasiswa baik bagi
mereka yang ingin sekedar membaca, belajar, meminjam buku, membeli buku,
menikmati secangkir kopi sampai menikmati makanan luar negeri dan memutuskan
untuk menunaikan salat ashar terlebih dahulu di Masjid Ukhuwah Islamiyah (MUI).
Di
balairung, masa aksi dipisahkan dengan mereka yang mengikuti barisan ini dengan
tujuan menjaga mahasiswa baru (beberapa orang utusan khusus dipersiapkan
sebagai operasional), karena menurut perjanjian mahasiswa baru diperbolehkan
mengikuti aksi apabila mereka selesai OKK pukul 16.30 wib, karena sebenarnya jadwal
OKK yang hanya sampai pukul 16.00 wib, tetapi sampai batas yang ditetapkan
tidak ada tanda-tanda selesainya OKK hari itu. Sebenarnya sejak awal ada
ketidaksetujuan akan turunnya mahasiswa baru, terutama bagi pembinaan yang
dianggap terlalu dini dan seharusnya melewati tahap-tahap tertentu untuk bisa
mengikuti aksi secara langsung, mungkin diantara semua hanya aku yang merasa
setuju dan senang jika mahasiswa baru bisa mengikuti aksi sebenarnya hari ini,
terlebih terdapat kabar orasi ketua BEM Fakultas ditiadakan dan secara halus
OKK itu mempersempit ruang pergerakan yang seharusnya terus dijaga sebagai
penanaman idealisme, mungkin karena aku Kastrat atau karena aku kurang
merasakan pembinaan mengenai pergerakan itu sendiri?.
Balai
Sidang, saat masa aksi datang, sambutan dengan “Ooo..ooo”, akan selalu
berkumandang, seraya mengepalkan tangan yang terkepal ke udara, aku tidak
mengerti maksud dan tujuannya mungkin agar membakar semangat dan ucapan selamat
datang bagi kawan seperjuangan. Ketika itu aku melihat masa aksi yang masih
sedikit, dan kontras sekali dengan jumlah masa aksi fakultas biru tua ini yang
jumlahnya tak kurang dari 80 orang, jika bicara jujur, terkadang aku tergores
malu karena masalah kuantitas ini, mungkin di fakultasku terlalu banyak
penanaman nilai “tidak peduli acaramu bagaimana bentuknya asalkan banyak yang
menghadiri karena itu adalah salah satu indikasi kesolidan”, sedangkan dua kali
aksi yang saya hadiri selalu tidak seindah yang saya dengarkan di televisi,
dimana mahasiswa bersatu padu membentuk kekuatan tangguh menuju sebuah
perubahan kearah yang lebih baik, atau itu hanya ekspetasiku yang terlalu
tinggi?, selain itu permasalahan waktu juga agaknya sulit dipecahkan, saya
selalu berpikir kami yang berada di sini adalah orang-orang yang menginginkan
perubahan dari hal yang dianggap salah menuju kebenaran, namun kami mengawalinya
dengan kesalahan dan seolah menunjukkan ketidak komitmenan diri kami sendiri,
tampaknya hal ini haruslah menjadi sebuah evaluasi dalam sebuah pergerakan, dan
tentunya dimulai dari diri saya sendiri yang juga banyak melakukan kesalahan
tersebut.
Aksi
dimulai, masa aksi di arahkan agar
berkeliling di jalan depan balairung, saat itu bertepatan dengan mahasiswa baru
selesai menuntaskan kewajibannya ber-OKK, mobil yang digunakan mungkin oleh
para orang tua untuk mengantar putra-putrinya yang membanggakan karena bisa
memasuki perguruan tinggi ini seolah
terganggu dengan masa aksi yang berjalan meneriaki agar kepemimpinan Rektor UI
kami pak Gumilar berakhir, walaupun ada beberapa dari mereka yang mengabadikan
momentum ini entah karena terkagum atau hanya sekedar mengabadikannya sebagai
tontonan “gratisan” yang seolah berkata “kapan lagi melihat mahasiswa UI
berdemo secara langsung?”.
Ketika
itu saya sempat terganggu dengan dua kejadian, yakni pertama perkataan seorang
masa aksi bahwa aksi ini terkesan gagal akibat pick up yang memutar sehingga
barisan puteri dan barisan putera tercampur, tidak seperti kondisi sebelumnya
yang tertata dimana barisan putera di depan barisan puteri, kira-kira ia
mengatakan “gagal nih aksi pulang yuk, pulang”, saya hanya berpikir, secepat
itukah mengindikasikan sebuah aksi telah gagal?, yang kedua adalah teriakan salah
seorang yang memegang walkie talkie dengan slayer putih dikepalanya yang berteriak
kepada anak UI lain yang juga memegang benda yang sama “Gue gak ngeganggu lo
ya, lo gak usah ngeganggu gue” dan diikuti anggukan kasar oleh yang lainnya,
sepertinya ada ketegangan diantara mereka, di sisi lain sedang kami berteriak-teriak,
mahasiswa baru yang baru saja keluar OKK dengan seragam putih-putihnya melihat
dari samping entah dengan tatapan yang mengartikan apa kejadian dihadapannya
tersebut, anehnya kejadian-kejadian tersebut semakin mendongkrak semangatku dan
acuh dengan anggapan yang mungkin mencibir aksi kami saat itu.
Di
depan gedung rektorat, masa laki-laki diarahkan membentuk border untuk
melindungi masa perempuan yang berada di tengah, satu persatu orator sebagai
wakil dari semua masa aksi berteriak menyampaikan tuntutan agar rektor turun
dari jabatannya sekarang juga dan ditetapkan paling lambat hari ini, 12
menjelang 13 Agustus 2012, entah ia akan turun ataupun tidak mahasiswa tidak
lagi menganggap bahwa Gumilar Roesliwa Soemantri adalah rektor UI lagi. Aksi
kali itu, mungkin sedikit berlebihan namun anggapan bahwa aksi kali itu adalah
istimewa bagiku karena untuk pertama kalinya aku mencoba menerobos kedepan dan
hanya terfokus pada apa yang dibicarakan oleh orator, orasi yang sangat
menggebu dan tersampaikan apa yang menjadi tuntutan kami, kali ini tidak
terpikirkan lagi apakah saya adalah seorang kastrat atau bukan, yang
terpikirkan hanyalah tuntutan aksi kali ini, selain itu di aksi kali ini 10
orang laki-laki yang dengan suka rela mengajukan dirinya sebagai banker yang
langsung menghadap bapak-bapak satpam yang menjaga pertahanan gedung rektorat.
Aksi
kami terhenti kala adzan maghrib berkumandang “bagaimanapun juga kita tidak
boleh mendzalimi diri kita sendiri”, maka ta’jil berbukapun dibagikan baik dari
pihak BEM UI, maupun pihak Fakultas. Masa aksi terpisah, kembali ke
masing-masing fakultas untuk berbuka, mungkin saat itu aku berpikir, semua masa
aksi benar-benar melupakan warna yang mengelilingi makara yang terjahit di
jaket kuningnya dan hanya berpikir bahwa sesungguhnya warna makara hanyalah satu,
kuning.
Setelah
salat magrib berjamaah, acara di perkumpulan masa aksi fakultas teknik adalah
perkenalan, masing-masing orang menyebutkan nama, jurusan dan angkatan yang
dipandu oleh ketua BEM FTUI 2012 (Agus Taufiq Kapal’09), acara perkenalan ini
tidak akan pernah dilewatkan pada setiap acara yang ada di fakultas teknik,
karena setiap orang tentu akan merasa saling memiliki jika saling mengenal
bukan?, apakah itu artinya jika kita tidak saling mengenal kita tidak saling
memiliki?.
Arahan
selanjutnya dari kak Agus adalah masa aksi dapat melanjutkan atau menyudahi
aksinya sampai di sini, karena besok PSAF telah menunggu, kegiatan pembinaan
mahasiswa baru di lingkup fakultas yang berlangsung dari pagi, dan aksi yang
dijadwalkan menginap ini tentu akan menguras tenaga untuk keesokan harinya,
yang masih bertahan setidaknya hingga acara mala mini selesai adalah ketua BEM,
ketua IM, dan MPM, aku juga memutuskan untuk tinggal, sepertinya Allah juga
menyuruh demikian karena aku lupa membawa kunci kosanku saat itu.
Salat
isya dan tarawih dilakukan di MUI, sebenarnya disediakan sebuah spanduk besar
yang sempat menimbulkan beberapa polemik hangat, di dalamnya terdapat kalimat yang
bermakna “ Terdapat masalah yang lebih besar daripada spanduk ini”, kira-kira
begitulah makna tulisan di spanduk yang memang sangatlah besar tersebut, dan
memang masalah di UI lebih besar, dan lagi-lagi saya berpikir, kanapa kami
masih terpisah?, mungkin pertimbangannya adalah masalah kekhusyukan beribadah.
Usai
salat tarawih, kepastian bahwa aku bukanlah orang yang mampu beradaptasi dengan
baik dan memiliki permasalahan sosialisasi nampaknya benar-benar terbukti, di
sebuah kantin dekat stasiun pondok cina, nampaknya squad FT sedang berkumpul,
tertawa lepas sambil menikmati santap malam yang tersedia, melihatnya aku
memilih pergi dibandingkan bergabung, memperhitungkan kemungkinan aku diterima
dengan hangat atau sebaliknya, sepertinya aku lebih memilih menghindari
keramaian, tampaknya jika untuk survive diperlukan banyak kenalan, apakah aku
bisa survive nantinya?. Permasalahan yang sempat hilang ketika aku sendiri
muncul kembali saat melihat masa aksi FT yang masih ada untuk menghadiri
kembali rangkaian aksi selanjutnya, beruntung ternyata aku diterima dengan
hangat, aku sadar mereka yang bertahan adalah petinggi-petinggi FT bukanlah
orang biasa, mereka sangat pandai baik dalam bersosialisasi, rencana strategis
dan taktis.
Di
aksi kali ini, aku bertemu lagi dengan temanku saat aku menghadiri salah satu acara
BEM Wanna Be, Uki, ternyata ia bergabung dengan Akprop, seorang perempuan yang
sejak pertama aku mengenalnya ia adalah seorang yang berjiwa kepemimpinan, tahu
apa yang ia lakukan dan memiliki komitmen tinggi, ia memberitahukan padaku
bahwa masa aksi FT belum kembali, padahal acara telah dimulai setengah jam yang
lalu, belum lagi penampilan tiap fakultas yang baru ku ketahui, namun dengan
kemampuan kakak-kakak yang bertahan saat itu sangatlah teruji dengan baik,
dalam beberapa menit menghadapi kegalauan akibat penampilan yang belum terstruktur,
beberapa menit pula penampilan itu telah siap.
Api
unggun dikelilingi masa aksi yang lebih banyak oleh fakultas lain dibandingkan
senja tadi, temanku sejak SMA-pun datang -ia juga adalah Kastrat salah satu
fakultas di UI-, senang rasanya bertemu teman lama yang ternyata satu
perjuangan, menurut penuturannya fakultasnya telah tampil pertama,tentu kami –masa
FT-belum datang, kakak-kakak masih terfokus pada penampilan yang akan
dipersembahkan nantinya, untuk itu mereka tidak berpartisipasi dalam penampilan
BEM Psikologi yang menyajikan sebuah permainan yang cukup mencairkan suasana,
tawa lepas di sana dan dapat tahu salah satu bagian rahasia dari teman
sekelompok, termasuk jumlah mantan pacar ketua BEM UI, hahaha.
Seusai
permainan, ketua IM Mesin (Septian Mesin’10) dan IMTI (Tito TI’10) berkolaborasi
menunjukan lagu yang telah diaransemen dan dirubah beberapa liriknya agar
menyindir peristiwa ini, menyindir Bapak Rektor UI, dengan iringan gitar,
seperti ini lagunya :
Malu aku malu
Pada semut merah
Yang berbaris di dinding, menatapku
curiga
Seakan penuh tanya, sedang apa di
sini?
Menanti Rektor baru
Sungguh aneh tapi nyata
Takkan terlupa
Kisah bapak rektor kita
Nggak sayang kita
Tiada kisah paling parah, kisah
bapak rektor kita
Tiada kisah paling parah, kisah
bapak rektor kita
Meski
ada beberapa miss communication, Fakultas Teknik tampil dengan gombal ala kak
Tyo (PI’09) dan kak Gusti (PI’10) yang menjadikan ketua IM Ars (Wulan Ars’10)
sebagai korban gombal yang juga dibuat menyindir keadaan UI seperti jalur masuk
yang begitu banyak, dan dilanjutkan dengan menyanyikan lagu di atas.
Usai
persembahan fakultas, aktivis BEM UI tahun-tahun sebelumnya datang 4 orang
tepatnya, mungkin yang saya tahu hanyalah dua diantara mereka yakni kak Maman
(ketua BEM UI 2011) dan wakilnya yang biasa dipanggil kak Ijonk, mereka
memberikan wejangan-wejangan yang membangkitkan semangat dan meyakinkan bahwa
apa yang kami lakukan tidaklah sia-sia, terlebih diantara mereka salah
seorangnya adalah seorang yang bisa dibilang aktivis sastra, dimana ia sering
adanya menggunakan sastra dalam orasi dan menyuarakan pergerakan mahasiswa,
salah satu dari bahasa yang sangat ku kagumi.
Selasa, 24 Juli 2012
Kini, aku mengerti, pasrah dan menyerah adalah tak sama, sepertinya aku harus memperbaiki bahasa Indonesiaku lagi..
Ketika kau menyerah, kau merelakan sesuatu tanpa ada usaha karena banyak ketakutan-ketakutan yang melandamu dan membayang-bayangimu tentang resiko jika kau mengambil langkah kedepan, dan itu aku rasakan dulu, tapi itu sudah berlalu, namun berbeda dengan berpikir cerdas untuk strategi, karena mengambil langkah atau mengurungkan langkah karena strategi bukan takut akan resiko melainkan mengambil resiko terkecil dan setelah itu berusaha mewujudkannya..tapi,, seperti sama saja?
Yang jelas, menyerah lebih berkonotasi negatif, mungkin dalam kata lain strategi itu ya..mengalihkan resiko yang ada ke resiiko yang lebih kecil kurasa dan tentunya ada usaha setelah menyusun startegi tersebut..
Namun kalau pasrah adalah menyerahkan segala sesuaatunya kembali pada kehendak yang Kuasa, setelah kau berusaha mewujudkannya..ada usaha di sana dengan segenap hati dan semaksimal kemampuan yang dimiliki..
Namun, tentu saja pasrah itu bukan berarti tidak melakukan apa-apa untuk menunjang keberhasilan dari usaha..tetap harus berdoa bukan?
terkadang,,aku merasa seorang naif yang terus berdoa hal yang sama dalam setiap waktu, dan aku bertanya pantaskah aku meminta sedemikian hingga kepada Allah sedangkan aku bukanlah hamba yang baik?
Tapi..kemana aku harus meminta selain pada-Mu ya Allah.semoga Engkau selalu memaafkanku atas segala kekhilafanku dan keegoisanku selalu meminta pada-Mu, sedangkan aku tiada kuasa membalasnya, hanya dengan berusaha membuat diriku lebih baik,,
Semoga doaku dikabulkan oleh-Mu ya Allah..
Aku selalu percaya Engkau selalu menunjukan padaku jalan terbaik
Ketika kau menyerah, kau merelakan sesuatu tanpa ada usaha karena banyak ketakutan-ketakutan yang melandamu dan membayang-bayangimu tentang resiko jika kau mengambil langkah kedepan, dan itu aku rasakan dulu, tapi itu sudah berlalu, namun berbeda dengan berpikir cerdas untuk strategi, karena mengambil langkah atau mengurungkan langkah karena strategi bukan takut akan resiko melainkan mengambil resiko terkecil dan setelah itu berusaha mewujudkannya..tapi,, seperti sama saja?
Yang jelas, menyerah lebih berkonotasi negatif, mungkin dalam kata lain strategi itu ya..mengalihkan resiko yang ada ke resiiko yang lebih kecil kurasa dan tentunya ada usaha setelah menyusun startegi tersebut..
Namun kalau pasrah adalah menyerahkan segala sesuaatunya kembali pada kehendak yang Kuasa, setelah kau berusaha mewujudkannya..ada usaha di sana dengan segenap hati dan semaksimal kemampuan yang dimiliki..
Namun, tentu saja pasrah itu bukan berarti tidak melakukan apa-apa untuk menunjang keberhasilan dari usaha..tetap harus berdoa bukan?
terkadang,,aku merasa seorang naif yang terus berdoa hal yang sama dalam setiap waktu, dan aku bertanya pantaskah aku meminta sedemikian hingga kepada Allah sedangkan aku bukanlah hamba yang baik?
Tapi..kemana aku harus meminta selain pada-Mu ya Allah.semoga Engkau selalu memaafkanku atas segala kekhilafanku dan keegoisanku selalu meminta pada-Mu, sedangkan aku tiada kuasa membalasnya, hanya dengan berusaha membuat diriku lebih baik,,
Semoga doaku dikabulkan oleh-Mu ya Allah..
Aku selalu percaya Engkau selalu menunjukan padaku jalan terbaik
Sabtu, 21 Juli 2012
Aku Punya Mimpi, Mama
Aku punya impian, Mama..
Ini yang pertama, bukan..tapi yang kuat kurasa
Naifku sudah diambang batas..
Impianku, apakah kau sudi mampir?
Kalau Tuhan menginginkan ini 'jodohku'..maka aku senang..
Kalau ini bukan untukku?, Mama..apa ku harus kata?
Jatuh itu sakit..aku tak mau lagi,
Jatuh itu seperti..aku tak mau kembali,
Kalau buku takdirku kini aku pegang, bagaimana jadinya Mama?
Lambat laun semua ku putar balikan..
Aku mau itu nyata,
Bukan ilusi yang mampir dan buat susah hirup udara,
Mama, ketika buku itu bukan aku yang punya, tetapi Tuhan yang punyai aku..
Sudikah Tuhanku mengabulkannya?
Ini lebih kuat dari cinta..mungkin....cinta itu apa?
Tapi ini aku, masa depanku, aku tak ingin lagi jatuh..dua kali, itu cukup, satu kali..
Kalau aku diijinkan, Mama..
Untuk saat ini saja, aku menyusun hidupku..
Akan ku tulis sesuai apa yang aku mau, tapi tidak, Mama,
Tuhan tak mau,
Bukan karena itu mauku, tapi yang terbaik..
Aku,
Hanya bisa menulis nasib, selanjutnya hanya harap..
Jalanku yang ku mau, itu yang terbaik
Sudikah Tuhanku mengabulkannya?
Ini yang pertama, bukan..tapi yang kuat kurasa
Naifku sudah diambang batas..
Impianku, apakah kau sudi mampir?
Kalau Tuhan menginginkan ini 'jodohku'..maka aku senang..
Kalau ini bukan untukku?, Mama..apa ku harus kata?
Jatuh itu sakit..aku tak mau lagi,
Jatuh itu seperti..aku tak mau kembali,
Kalau buku takdirku kini aku pegang, bagaimana jadinya Mama?
Lambat laun semua ku putar balikan..
Aku mau itu nyata,
Bukan ilusi yang mampir dan buat susah hirup udara,
Mama, ketika buku itu bukan aku yang punya, tetapi Tuhan yang punyai aku..
Sudikah Tuhanku mengabulkannya?
Ini lebih kuat dari cinta..mungkin....cinta itu apa?
Tapi ini aku, masa depanku, aku tak ingin lagi jatuh..dua kali, itu cukup, satu kali..
Kalau aku diijinkan, Mama..
Untuk saat ini saja, aku menyusun hidupku..
Akan ku tulis sesuai apa yang aku mau, tapi tidak, Mama,
Tuhan tak mau,
Bukan karena itu mauku, tapi yang terbaik..
Aku,
Hanya bisa menulis nasib, selanjutnya hanya harap..
Jalanku yang ku mau, itu yang terbaik
Sudikah Tuhanku mengabulkannya?
Rabu, 16 Mei 2012
Sekarang aku takut,
mata-mata mereka memandang..aku..
aku takut, mereka mencapku "anak UI", aneh bukan?
semua orang bangga di cap seperti itu tetapi aku takut...
aku belum layak menyandang nama itu, apa yang bisa aku berikan?
akademis?
aku tertinggal jauh..
keterampilan?
aku tidak punya..
Organisasi dan kepanitiaan?
aku dibawah..
aku selalu ingin lari dari pandangan mereka-mereka yang hanya melihat kulit luarku saja..
aku selalu ingin lari karena tak dapat menahan rasa sesak yang selalu datang saat aku dikait-kaitkan dengan hal yang sensitif seperti itu..
apa jalanku di sini ya Rabb?
apa jalanku di sini?
beri aku jawaban, beri aku jawaban..
beri aku kekuatan jika memang jalanku di sini,
beri aku jalan lain jika memang jalanku bukanlah di sini..
aku takut aku akan menambah daftar panjang kegagalan menusia di bumi ini.
aku takut aku akan mengecewakan kedua orang tuaku
kenapa orientasiku selalu pada pandangan orang lain?
dan kenapa aku kuliah hanya untuk orang tuaku?
lalu aku hidup apa bukan untuk diriku?
kenapa begitu banyak opini-opini orang yang membuat aku takut dan ragu.
kenapa aku bisa terjembab menjadi korban omongan mereka?
lidah tak bertulang
berwal dari pelarian dan sekarang aku ingin kembali lari
kemana?
mata-mata mereka memandang..aku..
aku takut, mereka mencapku "anak UI", aneh bukan?
semua orang bangga di cap seperti itu tetapi aku takut...
aku belum layak menyandang nama itu, apa yang bisa aku berikan?
akademis?
aku tertinggal jauh..
keterampilan?
aku tidak punya..
Organisasi dan kepanitiaan?
aku dibawah..
aku selalu ingin lari dari pandangan mereka-mereka yang hanya melihat kulit luarku saja..
aku selalu ingin lari karena tak dapat menahan rasa sesak yang selalu datang saat aku dikait-kaitkan dengan hal yang sensitif seperti itu..
apa jalanku di sini ya Rabb?
apa jalanku di sini?
beri aku jawaban, beri aku jawaban..
beri aku kekuatan jika memang jalanku di sini,
beri aku jalan lain jika memang jalanku bukanlah di sini..
aku takut aku akan menambah daftar panjang kegagalan menusia di bumi ini.
aku takut aku akan mengecewakan kedua orang tuaku
kenapa orientasiku selalu pada pandangan orang lain?
dan kenapa aku kuliah hanya untuk orang tuaku?
lalu aku hidup apa bukan untuk diriku?
kenapa begitu banyak opini-opini orang yang membuat aku takut dan ragu.
kenapa aku bisa terjembab menjadi korban omongan mereka?
lidah tak bertulang
berwal dari pelarian dan sekarang aku ingin kembali lari
kemana?
Minggu, 29 April 2012
You're My...
jadi inget..pernah buat cerita pas lagi seneng-senengnya baca Fanfiction..
aneh sih..tapi..selagi ini blog sendiri, boleh kan? :p
aneh sih..tapi..selagi ini blog sendiri, boleh kan? :p
You’re
my…
Author
: Han Ji Eun (Fitri Suryani)
Main
cast : Fitta Maharadewi (imagine)
Lee Taemin
Support
cast : Kim Kibum (Key)
Christine Elizabeth (imagine)
Length : One Shoot
Genre : Romance, Friendship
Ratings : PG-13
Huhuhu…ini
fanfict pertamaku…mian kalau aneh..baru pertama soalnya..hhee
NO
BASHING and JUST COMMENT OK!
Check
this out!
Huh…kata
siapa orang sepertiku tidak bisa jatuh cinta?
Kadang
aku hanya bisa tersenyum kecil jika teman-temanku itu berkata,’Fitta dong masih
polos’,bagaimana ya?mungkin tak ada masalah tapi yang aku tak suka adalah nada
bicara mereka, seakan-akan aku tak pernah menyukai yang namanya namja, aku
hanya ingin berpedoman pada kehidupan ibuku yang menjunjung tinggi nilai-nilai
kesopanan bangsa timur, ibuku bilang, kalau terhormatnya seorang wanita itu,
jika ia bisa menjaga kehormatannya (kesuciannya) secara utuh, aku hanya ingin
yang menyentuhku nanti hanyalah suamiku, bukan hanya seorang namja yang
berstatus pacar yang kebanyakan hanya sementara, apa aku salah?,mereka itu
hanya berlebihan, jika sampai menudingku yang tidak-tidak..
Lupakan
soal gossip teman-temanku yang terkadang membuatku seakan tak normal seperti
mereka yang hampir setiap hari berkencan dengan pacar-pacar mereka, bahkan tak
segan berciuman di areal kampus,’yaiks’membuatku muak, aku lebih tertarik
menceritakan keadaan kampusku ini, Harvard University, universitas terkenal
dunia yang asri dan modern, ya..ini kampusku, aku berhasil mendapatkan beasiswa
dari perkuliahanku sebelumnya Seoul University, aku pernah sekolah di Korea?
Ya..itu karena orang tuaku tinggal disana,Mungkin kalian berpikir, kenapa
namaku tidak mengandung unsur Korea? Tidak memakai marga seperti Lee, Choi,
atau Kim layaknya orang Korea lain, itu adalah request dari ibuku yang asli
Indonesia, yang prinsipnya selalu kupegang teguh hingga kini,ia meminta nama
Indonesia disematkan padaku, Fitta Maharadewi, karena nama Oppa ku sudah berbau
Korea, Lee Jinki, dia benar-benar Korea, bermata sipit dan putih sedangkan aku?
Mirip sekali dengan ibu yang berkulit sawo matang dan bermata ‘belo’(aduh ga
enak banget bahasanya) ya..bermata lebar,balik ke soal kampus, aku mahasiswa
semester 3 usiaku kini 19 tahun (masih muda kan?), jurusan Desain Komunikasi
Visual, sekarangaku sedang..
“Haruskah
aku memberitahukannmu lagi Chris, itu sangat cocok dan fashionable untukmu..”,
tunggu..itu suara..
Aku
mengangkat wajahku, aku hapal suara itu, suara seorang namja, namja, namja
yang..
“Thank
you key…you’re always the best”,suara perempuan disebelahnya,lalu dia mencubit
hidung namja itu, mereka berdua tersenyum, tersenyum di hadapanku, God..betapa rasanya
hatiku ini,aku hanya bisa terpaku, terpaku menunggu mereka lewat dari
hadapanku,bahkan aku tak bisa melangkahkan kaki lagi, sebelum mereka
benar-benar pergi, cepatlah berlalu ku mohon..
“Ya..Fitta’ah!Gwenchana?”,
Aku terkejut, suara itu membuyarkan lamunanku yang pergi melayang bersama namja
tadi,
“Ah..eh..Taemin’ah..gwenchana..”,kataku
kikuk,
“Kenapa
kau melamun seperti itu lagi?”,kata orang yang tadi mengejutkanku,
“Aniyo…gwenchana”,kataku
berusaha sewajar mungkin, namun hatiku sebernarnya tidak, bagaimana aku bisa
biasa saja? Orang tadi, namja tadi dia adalah Kim Kibum..Mahasiswa semester 5
jurusan yang sama denganku, ia adalah satu-satunya laki-laki yang special di
mataku kini, masih keturunan Korea, biasa dipanggil Key, orang yang ramah,
keren dan modern, siapa yang tak suka padanya? Bahkan aku yang terkenal tak
pernah dekat-dekat dengan seorang namja apalagi berstatus special saja
mengagumi namja yang satu itu, tapi kehadiran seorang yeojachingu disampingnya
kadang membuatku tak nyaman, padahal aku siapanya Key sunbae?, bahkan ia tak
mengenalku,
“Kau
tak apa? Dari tadi melamun terus? Bagaimana jika kita ke Ruang Kesehatan saja,
tak usah ikut mata kuli..”,
“Jangan
Taeminnie, aku baik-baik saja”,
“Kalau
begitu kkaja, nanti kita terlambat!”,katanya lalu berjalan mendahuluiku, dia
kawanku, seorang namja, ya mungkin sedikit aneh karena aku tak pernah dekat
dengan seorang namja selama ini, menghindarkan dari hal-hal yang selama ini tak
kusukai, tapi kedekatanku sama orang di depanku ini bukannya menghapus gossip
kalau aku tak suka cowo, malah memperkuat gossip itu, dia memang namja, sama
seperti yang lain, tapi…kalau kau melihat wajahnya baik sepintas maupun lekat-lekat
mungkin kau akan berpikir 2 kali kalau ingin menyebutya seorang namja tulen,
bagaimana tidak dia memang laki-laki yang terkenal dengan kecantikkannya,
sstt..bahkan dengar-dengar dia pernah ditembak seorang namja di sini, ck, tapi
tentu saja dia menolaknya, selain itu dia juga belum pernah punya yeojachingu
seperti layaknya laki-laki lain disini, (semakin memperparah saja), dia juga
keturunan Korea, makanya kami bisa dekat, oh ya dia sangat periang, bahkan aku
tak pernah tahu ekspresinya jika marah atau sedih, sepertinya dia hanya bisa
tersenyum..namanya adalah Taemin..Lee Taemin,
“Fitta
ya! Kau kenapa? Murung terus dari tadi? Ah..aku tahu, ayo kita beli eskrim saja
bagaimana?”,lagi-lagi suara orang ini mengagetkanku, mengganggu aku saja, tak
pernah merasa patah hati apa?
“Entahlah
Taem,,aku malas..”,kataku lemas, aku masih memikirkan Key sunbae, sedang apa
dia bersama yeojachingunya?
“ayolah..aku
yang traktir deh, kkaja!”,katanya sambil menarik tanganku…eh
tunggu..tunggu..tanganku! tanganku!
“Ya!
Apa yang kau lakukan Lee Taemin! Sudah
ku bilang jangan sekali-kali menyentuhku!”,kataku berteriak,apa-apaan sih orang
ini menambah orang ga mood aja!
“Eh…mianhe
Fitta’ah..mian..habis kau lemas sekali sih..kenapa? ada masalah?”,tanyanya
peduli,ya ampun..dia memang my best friend deh..
“Tidak
apa…mungkin aku hanya, hanya kurang enak badan..”,kataku berbohong..
“Geraeyo?
Aku tak yakin, seorang Fitta bisa sakit juga ya?”,katanya sambil menempelkan
telunjuknya di dekat bibirnya, yang sukses mendapat jitakan dariku, ‘enak saja,
dia pikir aku robot apa tak bisa sakit? Huh..’
“Aduh..Fitta
bagaimana sih aku tak boleh menyentuhmu tapi kau menjitakku..”,katanya dengan
tampang polos..
“Ish..sudahlah
ayo kita makan es krim..”,kataku lalu meninggalkannya,
“Hei..kau
mau menaktrirku?”,aku berbalik
“Bukannya
tadi kau bilang kau yang mau menraktirku! Jangan pura-pura lupa Taeminnie, mau
aku jitak lagi?”,kataku lalu berjalan lagi,
“Ya!
Tunggu!”
Sekarang
aku dan Taemin sedang menikmati es krim pisang kesukaan kami di salah satu foodcourt,
ya es krim kesukaan kami memang sama rasa pisang, aneh memang, ya..tapi rasanya
memang enak, di saat seperti ini aku
bisa melupakan Key sunbae sejenak, ya..mungkin hanya ku paksakan untuk lupa
saja, nyatanya memang ia masih berkeliaran di kepalaku,
“Taemin’ah..boleh
aku bertanya satu hal padamu?”,kataku ragu,
“Ya…tentu,
kau ini kenapa bertanya saja sampai izin dulu, seperti tak pernah kenal saja?
Ada apa yeoja polos…”,katanya sambil melahap es krimnya,
“Ya!
Berhenti memanggilku seperti itu! Dasar namja yeoja!”,kataku sewot, aku tahu
yeoja polos yang dimaksud itu bertanda kutip seperti maksud teman-temanku yang
lain,
“Berhenti
memanggilku namja yeoja, tampan begini kau bilang namja yeoja aku namja tulen
tau!”,katanya memajukan bibirnya tak terima,
“Lagian..kau
duluan yang mulai, begini apa kau pernah merasa sakit hati?”,Tanyaku hati-hati,
“Ha?
Uhhhuuukk..uhuk..”,aku kaget sekali, apa pertanyaanku berlebihan ya sampai ia
tersedak seperti itu?
“Mengapa
tiba-tiba kau bertanya seperti itu?”,katanya,
“Ya..aku
hanya bertanya, bagaimana perasaanmu jika melihat yeoja yang kau sukai berjalan
dengan namja lain, tapi yeoja itu bukanlah yeojachingumu,apakah kau akan sakit
hati?..”,kataku
“Kenapa
aku mesti sakit hati?”,katanya sambil memiringkan kepalanya, ish..malah balik
nanya,
“Ya..karena
kau menyukainya Pabo!”,kataku, dia ini kapan sih aku bertanya sekali lalu dia
langsung nalar,
“Oh…”,lalu
dia kembali menyantap es krimnya, Hei..oh saja? Cukup oh saja?
“Ya!
Kenapa jawabanmu hanya oh saja!”,kataku protes,
“Kau
menunggu jawabanku ya?”, dia berkata seperti itu dengan tampang innocent nya,
ya ampun…kenapa aku bisa berteman dengan orang seperti ini sih?, benar-benar
kali ini aku menyesalinya!
“Sudah
cepat jawab!”,kataku tak sabar, kebanyakan basa-basi ga penting nih orang bisa
tidak sih langsung saja?
“Oh…wajar
sih jika kita merasa sakit hati seperti itu, aku juga merasakannya..”,katanya
menerawang, apa aku tak salah dengar? Taemin bisa sakit hati?
“Ha?
Kau sakit hati karena apa dan siapa?”,kataku excited, rasanya mengetahui ini
lebih menarik,
“Yah..mungkin,
walaupun kita bukan pasangannya, tapi melihat orang yang disukai bersama orang
lain tentu tidak enak, apalagi kalau dia tidak tahu kita memiliki perasaan
padanya, rasanya lebih sakit lagi, tapi…”
“tapi?”,kataku
tak sabar,
“Aku
akan selalu ada untuknya jika ia membutuhkan seseorang disaat ia sedih, dan
selalu mendukungnya disaat ia senang, menunjukan solusi yang baik jika ia dalam
masalah dan selalu berdoa untuk keselamatannya meski ia jauh..”,katanya sambil
menutup matanya dan tersenyum, ‘waw..apa iya yang didepanku ini seorang
Taemin?’gumamku dalam hati,
Ya…terkadang
temanku yang satu itu bisa benar juga ya…meski aku merasa sedikit aneh dan tak
percaya, tapi..kurasa aku menyetujui sarannya itu, aku ingin menjadi orang yang
dibilang Taemin, jika Key sunbae nanti punya masalah atau kesedihan aku akan
datang menghiburnya dan jika ia senang aku akan tersenyum dan selalu
mendukungnya, walaupun ia tak akan pernah tau dan tak mungkin membalas
perasaanku,
Hari-hariku
kembali seperti biasa, dipenuhi mata kuliah, celotehan Taemin yang seolah tak
kunjung habis dan masih gossip teman-teman seputar aku yang tak pernah punya
namjachingu, terlihat dekat dengan laki-laki dan disangka penyuka sesame jenis,
karena aku dekat dengan Taemin (tunggu jadi di mata mereka Taemin itu????)
Ah..sudahlah,
dan tentu saja kesedihanku karena selalu melihat Key sunbae dengan
yeojachingunya, kalau tidak salah namanya Christine,mahasiswa tingkat 5 jurusan
seni, pantas saja Key sunbae menyukainya, dia cantik, tinggi dan fasionable,
sedang aku? Ish..apa yang bisa kubanggakan? Aku tak tinggi dan tak secantik kak
Chris itu, bahkan tinggiku tak mencapai 160 cm..aduh, tak seperti Chris itu
yang model kampus, otomatis fisiknya benar-benar wah..sadarlah Fit..Key sunbae
tak akan pernah menyukaimu!meski aku berpapasan dengannya setiap hari, kurasa
ia tak pernah ingat wajahku,
“Hei..kau
melamun lagi? Ckckck”,lagi-lagi Taemin menegurku,aku hanya mnolehnya sebentar,
terkadang aku berharap Taemin berganti menjadi Key sunbae..tapi itu tak akan
mungkin kan?
“Ah..bagaimana
kalau nanti malam kau ikut aku ke sekolah dance, aku yakin kau akan suka
disana, nanti ku ajari kau beberapa teknik dance yang sudah kupelajari,
bagaimana?”,katanya semangat,
“Ha?
Kau kan tahu aku bukan jurusan tari, mana bisa aku menari”,kataku ketus,
tampaknya ia langsung cemberut,
“Aku
kan hanya mengajakmu saja supaya kau tak sedih lagi..”,katanya, lalu ia berkata
lagi sambil tersenyum, “nanti malam kujemput di depan kos mu jam 7..ok! sampai
jumpa nanti malam!”,katanya lalu pergi begitu saja! ‘hei..perasaan aku tak
bilang iya..ah..sudahlah dia memang susah dibilangin!’
Lebih
baik aku pulang berjalan saja sambil menenangkan pikiranku, lagipula ini baru
jam 4 sore, sekalian saja aku menghemat ongkos pulang,aku berjalan lurus sambil
menunduk, nampaknya aku tetap tidak semangat karena lagi-lagi Key sunbae
menghampiri pikiranku, bahkan aku tak memperhatikan suasana kota yang ramai,
dan tak mempedulikan angin yang cukup dingin karena sekarang sedang musim gugur..sepertinya
musim saja memihakku, gugur seperti daun yang layu,
“Danau…”,gumamku
pelan, aku menghampiri danau yang tak terlalu ramai itu, kurasa ini bisalah
sedikit memberiku napas baru, ya walaupun dingin tapi..tak ada salahnya, karena
ak..eh..tunggu, sepertinya aku mengenal orang itu, dua orang itu tepatnya, dia
..KEY SUNBAE DAN CHRIS?!?God..apalagi ini? Mengapa ada mereka disini? Disaatku
ingin menenangkan pikiranku! Kulihat chris menyentuh ingin menyentuh pipi Key
sunbae dan aku tak berani melihatnya, bahkan aku menutup mataku sebelum Chris
mendaratkan tangannya di pipi sunbae, tak lama kemudian aku membuka mataku dan
kulihat, ia meninggalkannya? Tunggu..chris meninggalkan key sunbae?tapi
kenapa?ada apa ini?, setelah kurasa aman, aku mendekati Key sunbae yang sedang
duduk memendam kepalanya dibalik tangan, kenapa dia?
“Ehm..sillyehamnida”,kataku
hati..hati, dia mengangkat wajahnya,
“Annyeong
hasimnika..”,kataku dengan senyuman, ya rada kaku memang,aku takut dia
mengusirku,dia masih terpaku,
“Ah..Annyeong
hasimnika..”,katanya,”Eh..annyeong? kau orang Korea?”,katanya dengan muka
terkejut, kurasa sudah mulai membaik, aku beranikan duduk disebelahnya,
“Ne…sunbae,
ehm..gwenchana?”,kataku dengan nada khawatir,
“Sunbae?
Kau juniorku? Harvard University?”,katanya, aku mengangguk semangat,
“Iya..Desain
Komunikasi Visual..”,kataku mantap,
“Oh..ya,
wah..mannaseo bangapseumnida”,katanya sudah mulai tersenyum, ah..aku berhasil!
>o<
“Kenapa
aku tak pernah mengenalmu ya? Ck, perkenalkan, Kim Kibum imnida, kau bisa memanggilku
Key..”,katanya menjulurkan tangannya, ah..aku jadi ragu, masa aku manyambutnya?
Akhirnya kuputuskan untuk menyatukan kedua tanganku saja di depan tangannya,
“Fitta
imnida, mianhamnida, Key sunbae, aku tak bisa menyentuhmu”,kataku,
aduh..bahasaku kaku sekali, seperti bukan aku saja,
“Gwenchana,
kenapa kau bisa ketempat ini?”,katanya heran,aku tersenyum, antara percaya atau
tidak bisa berkenalan dengan orang yang selama ini ku kagumi, Key sunbae,
“Oh..kebetulan
rumahku lewat sini, jadi kuputuskan untuk mampir sebentar ke danau ini, untuk
menenangkan pikiranku, eh..aku tak sengaja melihatmu dan yeojachingumu, kulihat
ia meninggalkanmu dan kau berada dalam keadaan seperti itu tadi, kau kenapa
sunbae, baru saja dia menyentuhmu kau malah menunduk seperti itu,
ah..jangan-jangan kau sedang main petak umpet dengannya ya? Wah..aku
mengganggumu dong!”,kataku kaget,’pabo ya! Seharusnya aku berpikir lebih
panjang jika aku ingin menghampirinya!’
“Ha?
Siapa yang main petak umpet? Kau ini aneh sekali, memangnya aku anak kecil main
petak umpet? Hahaha”,dia tertawa puas sekali, sedangkan aku? Tak kusangka Key
sunbae seperti itu, baru berkenalan ia sudah mentertawakanku, menyebalkan!
“Kenapa
kau menertawakanku?, aku hanya takut mengganggumu saja sunbae”,katatku
memanjukan bibirku,
“Ah..Mianhe..huh..”,ia
berhenti tertawa,dan menghela keras napasnya,”aku…sebenarnya sedang ada
masalah..”,katanya ragu, sepertinya ia masih canggung padaku,
“Masalah
apa itu sunbae?”,kataku polos,”bukankah kau baru saja disentuh lembut..ehm..
pipinya oleh yeojachingumu tadi..”,kataku pelan, sepertinya, rasa sakit itu
muncul lagi ketika aku mengucapkan demikian,
“Apa
maksudmu?”,katanya menoleh padaku, ya ampun…dia memandangku, aku terkejut,
“Ah..anu..tadi
aku kan tidak sengaja melihatmu dengan yeoja itu, dia menyentuh
pipimu..ah..tapi..tapi tenang saja aku menutup mataku setelah itu, jadi kau tak
perlu merasa aku mengintipmu”,kataku sedikit gugup,aduh sunbae, jangan
menatapku, ku mohon..
“Ha?
Jadi kau melihatnya ya?”,lalu mukanya berubah merah dan memegang pipi kanan
yang tadi dipegang Chris, seketika sakit menyelimutiku, jadi…benarkah yang
kulihat, ya ampun…rasanya aku ingin pergi sekarang juga dari sini,
“Tenang
saja sunbae aku tak melihatmu berciuman dengan kak Chris kok..”,kataku
sedih,aku menundukkan kepalaku,
“Ha?
Berciuman?”,katanya terkejut, aku menoleh,
“Iya…yeoja
itu setelah menyentuh pipimu kau kan…”,kataku dengan tangan membentuk seperti
layaknya adegan yang tak senonoh itu..
“What?
Hahahahahahaha!”,dia tertawa puas sekali, seakan-akan aku ini badut yang pantas
ditertawakan! Dasar! Jadi sosok yang ku kagumi itu suka menertawakan orang lain
bahkan yang baru dikenalnya? Kenapa semua yang ku kenal ga ada yang beres sih?
“Kenapa
kau menertawaiku lagi? Aku salah?”,kataku cemberut,
“Hahaha..mianhe,
tentu saja, aku belum pernah merasakan first kiss, bagaimana aku bisa melakukan
itu?”,ia kembali tertawa, dasar!
“Lalu
yang benar bagaimana?”,kataku masih kesal dengan tertawaannya itu,ia kembali
menghela napas,
“Aku..bertengkar
dengan yeojachinguku,”,katanya kulihat goretan sedih disana, dan kurasakan
goresan luka satu lagi di hatiku, hiks,
“Geraeyo?
Bagaimana bisa?”,kataku penasaran,
“Aku
tidak tahu, mungkin aku melakukan kesalahan di matanya, tapi aku tak merasa
pernah melakukannya”,katanya menerawang ke atas,
“Ha?
Jadi yang tadi bukannya..?”,
“Bukan
tentu saja, ia menamparku..”,katanya sedih, bahkan sebulir air mata kulihat
dipojok kanan matanya saat ia memejamkannya, ya ampun rasanya seperti apa
hatiku ini, melihat ia menangisi yeoja lain,
“Kau…sangat
mencintainya sunbae?”,kataku ragu,ia hanya membalasnya dengan mengangguk kecil
dan helaan napas, aku menunduk,
“Ah..sudahlah”,katanya,”lagipula,
kini dia bukan milikku lagi, tak usah terlalu dipikirkan”,ia berusaha semangat
yang malah kataku seperti orang yang benar-benar putus asa,
“Hei..sepatumu
bagus juga”,katanya tiba-tiba,
“Oh..geraeyo?”,
“Ne..selera
fashionmu cukup bagus, coba kau padu padankan dengan…”,
Aku
dan Key sunbae terus mengobrol, seperti yang kuduga dia humble dan sangat
fashionosta, dia juga lucu dan terbuka, terbukti kini aku sangat akrab
dengannya, bahkan aku diperbolehkan memanggilnya oppa dan berbicara tak terlalu
formal layaknya teman biasa, ya..dia sangat baik, memang tak pernah salah aku
selalu menyukainya,
“Gumawoyo..sun..ani..maksudku
oppa, sudah mengantarku pulang, mau mampir dulu oppa?”,kataku sambil menunduk
dalam,
“Cheomaneyo..tak
usah, maaf karena menemaniku ngobrol sampai semalam ini, yasudah aku pulang
dulu ya…annyeonghi gaseyo!”,katanya melambaikan tangan,kemudian berbailik pergi
“Ne..annyeong
higaseyo”, balas ku tersenyum, aku berbalik memasuki kos ku dengan hati
yang..aku tak tak tahu bagaimana bisa menggambarkannya, aku bisa mengobrol
banyak dengan Key sunbae, bahkan ia mengizinkanku memanggilnya Oppa, ya
Tuhan…aku benar-benar…, tapi sepertinya..aku seperti melupakan sesuatu, sesuatu
tapi apa ya? Sepertinya hal penting,tapi..apa itu? Ah..sudahlah, mungkin aku
terlalu senang dan tak percaya apa yang kualami hari ini, sepertinya semangat
hidupku kembali lagi,hahaha, berlebihan sekali, ku rasa aku bisa tidur sangat
nyenyak malam ini,
Pagi
ini tek seperti biasanya, aku mulai bisa berpikir positif lagi, terutama yang
bersangkutan dengan Key Oppa, apalagi ia bilang belum pernah first kiss,
berarti kak Chris itu belum menyentuh Key sunbae,aku semangat sekali berangkat
ke kampusku tercinta,aku ingin berbagi kebahagiaan, tapi dengan siapa ya?
Ah..aku tahu, Taemin, tapi dia kemana ya? Biasanya jam segini ia sudah
mengagetkanku dengan celotehannya, tapi..dimana di..
“Hei…itu
dia!”,pekikku,aku langsung menghampirinya yang sedang duduk tenang di DPR,
alias Dibawah Pohon Rindang, hehehe,
“Taeminnie..!!!”,kataku
setengah berteriak, tampaknya ia sedikit terkejut, buktinya ia terlonjak
kebelakang, hahaha ia lucu sekali,
“Ah..Fitta’ah..kau
mengagetkanku..ada apa?”,katanya sedikit lemas dan..tak seperti biasanya, dia
kenapa ya?
“Taemin’ah..gwenchana?
kau kenapa? Kenapa tak bersemangat? Ayolah..biasanya kau yang menyuruhku untuk
ceria, kenapa sekarang berbalik?”,kataku mencoba seceria mungkin,
“Ehm…gwenchana,
nampaknya kau senang sekali, ada yang mau kau ceritakan?”,katanya mulai
tersenyum meski agak kikuk menurutku, tak seperti Taemin biasanya yang sudah
tersenyum lebar dan mengoceh panjang, tapi tak apalah..aku sedang senang siapa
tahu rasa senangku ini bisa menular padanya,,
“Nah..begitu
dong, aku mau cerita..kkaja..”,kataku sambil mengisyaratkan untuk pergi,
sepanjang jalan aku bercerita penuh semangat pertemuanku kemarin dengan Key
sunbae, atau yang sekarang ku sebut Oppa, hhe, aku sangat-sangat excited, tapi
yang kutangkap Taemin hanya sekedar senyum, senyum dan senyum, ada apa ya?
“Ya..Taemin’ah..bisakah
kau sedikit excited sedikit pada ceritaku, sepertinya kau lemas sekali, ah..aku
tahu bagaimana kalau kita minum susu pisang? Aku yang traktir deh..”,kataku
masih semangat, yah..itung-itung balas budi kemarin dia menraktirku es krim
pisang,
“Gerae?”,tanyanya
sepertinya ia tertarik..
“Iya..ay…”
“Fitta’ah!”,aku
terhenti ketika seseorang memanggil namaku, rasanya aku sangat kenal suara ini,
aku berbalik ternyata benar saja, Key sunbae..dia…berlari menghampiriku..
“Fitta’ah..bisa
ikut aku sebentar? Ada yang ingin aku bicarakan denganmu..”,katanya, tanpa ada
basa-basi aku mengangguk saja, dan mengikutinya pergi, ya Tuhan..aku
benar-benar tak bisa menolak pesona orang ini, ck….dia berbicara cukup singkat
dan jelas, intinya dia ingin aku menjadi bagian panitia pameran DKV bulan
depan..wah..tawaran yang bagus tentu saja, aku mengagguk pasti, lalu ia pun
pamit dan berlalu, aku kembali dengan langkah yang semakin riang ke tempat aku
bertemu Key Oppa tadi sepertinya tadi aku bersama Taem…Taemin..kemana dia?
----------------------------------------------------------------------------------------------------------------
“Taeminnie
aku tak bisa maaf ya..hari ini ada planning buat acara DKV kau kan tahu sudah
tinggal 3 minggu lagi..aku harus menyebarkan proposal dana secepatnya”,kataku
saat aku merefused ajakan Taemin ke Taman Hiburan Pekan ini,
“Ayolah
Taemin..kau tahu, aku harus menyeleksi karya-karya yang akan dipamerkan DKV, 2
minggu lagi..”,kataku saat aku harus kembali merefused ajakan Taemin untuk
mengobrol tak penting seperti biasa di kampus,
“Bisakah
kita makan es krim atau susu pisangnya nanti saja saat acara DKV selesai,
kurasa aku harus focus untuk minggu ini..Mianhe..”,kataku yang merefused lagi,
ajakan Taemin untuk makan di foodcourt langganan kami, aku harus focus pada
acara DKV yang tinggal menghitung hari karena aku diberi tanggung jawab oleh
ketua pelaksananya langsung siapa lagi kalau bukan Key Sunbae,bicara soal Key
sunbae, kabalikan dengan Taemin, aku semakin dekat dengannya, kurasakan semakin
lama ia semakin sempurna dimataku, modern, stylish, dan pintar dalam mengambil
tindakan, oppa…aku tak pernah salah menganggumimu,dan tentu saja kedekatanku
dengan Key Oppa setidaknya membuat teman-temanku mengalihkan gosipnya dari aku
yang secara tidak langsung dituduh sebagai yeoja tak suka namja karena tak
pernah dekat dengan namja kecuali namja cantik itu, menjadi yah..boleh
dikatakan normal kembali, apalagi yang dekat denganku adalah Key Oppa yang
aktif dan memiliki pribadi yang baik dan pantas dikagumi,
“Nah..lukisan
ini taruh disini saja..bagaimana Oppa?”,kataku kepada orang disebelahku yang
tak lain adalah Key Sunbae sambil menunjuk sebuah dinding yang masih kosong
untuk menempatkan lukisan beraliran surealisme itu,
“Hm..bagus,
efek cahayanya pas dan membuatnya lebih dramatis, kau pintar Fitta’ah..”,kata
Key Oppa, dia memanggilku pintar, kalau aku bisa terbang mungkin kepalaku kini
sudah sakit semua karena berciuman dengan atap berkali-kali,
“Gumawoyo
oppa..”,kataku tersipu,
“Siapa
seniman lukisan ini?”,katanya nampaknya ia sangat sangat tertarik dengan
lukisan ini, karena sepanjang ia melihat lukisan ia tak pernah bertanya seperti
itu,”Christine Elizabeth”,ia mencoba membaca perlahan tulisan sambung kacau di
bawah lukisan itu, tanda tangan pelukisnya,
“Chris..tine..”,ia
kembali membacanya pelan air mukanya berubah menjadi sangat-sangat sedih,
benar-benar seperti orang yang sangat putus asa, ia langsung pergi bahkan masih
menucapkan kata yang sama berkali-kali, ‘Key Oppa kenapa?’gumamku,
“Christine
Elizabeth..”,aku membaca perlahan pelukis yang karyanya terpampang disana, ya
Tuhan..aku terpekik, aku benar-benar kaget,hatiku kembali sakit, ternyata..Key
Oppa belum bisa melupakannya, ia masih mencintai orang itu..
Setelah
kejadian itu, tepatnya 3 hari sebelum acara pameran dimulai, Key Oppa seperti
bukan dirinya lagi, ia selalu memandangi lukisan karya Chris yang tak lain tak
bukan adalah mantan yeojachingunya, ia selalu pulang lebih lama dari yang lain,
dan semua dilakukannya hanya untuk memandangi lukisan itu, ayolah
sunbae..jangan seperti itu..kau membuat aku sedih, sedih bersamamu..
Aku
termenung, lagi-lagi soal Key sunbae yang mulai berbeda, ayolah..aku tak
semangat jika ia tak semangat seperti dulu,
“Apa
yang harus kulakukan?”,kataku berbicara sendiri,”Disaat ia sedih aku malah tak
bisa berbuat apa-apa? Tak bisa apa-apa? Kenapa kau bisa bilang selama ini kau
mengaguminya, ha! Yeoja pabo..pabo..pabo..pabo!”,aku mengetuk palaku tiga kali
dengan tanganku sendiri,
“Kenapa
aku tak bisa melakukan apapun?”,kataku membenamkan kepalaku ke kedua lenganku,
tak terasa air mataku perlahan menetes, seperti bukan diriku saja?
‘Aku
akan selalu ada untuknya jika ia membutuhkan seseorang disaat ia sedih, dan selalu
mendukungnya disaat ia senang, menunjukan solusi yang baik jika ia dalam
masalah dan selalu berdoa untuk keselamatannya meski ia jauh..’
Tiba-tiba
aku teringat kata-kata Taemin, iya..kata-kata itu, satu-satunya yang kuanggap
paling benar yang pernah keluar dari mulut namja itu, aku harus berusaha
membuat Key Oppa seperti dulu lagi! Aku tak bisa melihatnya seperti ini terus,
aku sudah bertekad! (petir semangat menyambar-nyambar…ombak meraung-raung,
sirine ambulan mengiung-ngiung..*ok..yang ini ga nyambung#lupakan!) aku harus
bertindak! Aku akan melakukan..melakukan..melakukan apa ya?
Yah..mesti
aku tak tahu apakah rencanaku berhasil, tapi aku harus mencobanya, ok..korban
selanjutnya adalah Christine Elizabeth!
Pagi
ini, kampusku seperti biasa ramai namun damai, karena entah kenapa Taemin
sedikit menjauh dariku, atau mungkin aku yang menjauh darinya? Ah..sudahlah aku
punya misi penting yang harus segera kuselesaikan,aku berkeliling ke areal
kampus mahasiswa semester 5, rasanya tak enak sekali kakak-kakak itu melihat
kearahku dengan tatapan aneh, mungkin mereka mencoba bilang’hei..ini bukan
daerah anak kecil!’,Masa bodoh..aku harus bertemu Chris..aku harus bicara
dengannya,
“Hei..chris..ada
yang mencarimu..”,kata yeoja di depanku, karena aku terlanjur pusing mencari
keberadaan yeoja Chris itu, makanya aku memanfaatkan kepolosanku untuk mancari
targetku (bilang aja minta dicariin =.=”),
“Siapa?”,kata
seorang yeoja lain,
“Itu..”,katanya
menunjukku yang sedang berdiri tak jauh dari sana,kulihat seorang yeoja cantik,
tinggi dan stylish menghampiriku, rasanya minder juga aku benar-benar berbeda
380 derajat darinya (perasaan Cuma ada 360 ya?)
“Ada
apa mencariku?”,katanya ketus, ternyata dia tak se humble perkiraanku,”Kau yang
di gosipkan dengan Key itu kan?”,aku masih terdiam,
“Dasar
bodoh Key itu, manggantiku dengan orang macam dia! Apa dia sudah kehilangan
selera positifnya?”, katanya sambil memutar bola mata, sial rupanya dia lebih
rese dari Taemin!
“Maaf
ya..tapi apa kau Chris? Dengar..aku tak tahu dengan semua yang kau ucapkan
barusan, tapi..aku ingin bilang sesuatu, Key Oppa adalah milikku sekarang, dan
kau jangan pernah berharap memilikinya lagi!”,kataku setegas mungkin, tampaknya
ia terkejut,
“Really?
Oh..how’s pity Key..mendapatkan perempuan macam kamu? Dia terlalu dipenuhi
kesialan, bahkan ia terlalu bagus untukmu anak kecil!”,katanya sambil
menunjukku, ok..ini keterlaluan, ia benar-benar memecahkan rekor kekesalanku
pada Taemin,
“That’s
not my problem, Key Oppa menyukaiku, and so do I, tak masalahkan? Cukup aku
hanya ingin mengatakan itu, bye..”,kataku lalu meninggalkannya, aku tersenyum
tampaknya rencanaku akan berhasil..
Key
Oppa..bisakah kau pergi kedanau sore ini, adalah masalah sedikit soal DKV, tadi
ada pelukis yang mengeluh padaku, ku harap kau bisa datang di tempat seperti
biasa, gumawoyo..
“Send..,
ok..beres..”, kataku tersenyum, ku harap rencanaku bisa berhasil, dan..mereka
bisa, tiba-tiba aku merasakannya sakit yang seperti itu lagi, oh Tuhan…kuatkan
aku,
Ini
pukul 4 sore, aku sudah ada dibalik pohon di pinggir danau, aku memandang
lekat-lekat tempatku berjanji bertemu dengan Key Oppa, kuharap rencanaku ini
berhasil,
Dari
arah kanan, ku lihat seorang namja dengan celana levis ketat, kaos putih dan
jaket levis berwarna merah muda, ya..merah muda warna kesukaan Key Oppa,
dipadukan dengan sepatu kets, aku berdecak,’benar-benar laki-laki yang
stylish’,ia tampak menengok kanan kiri sepertinya mencari seseorang yang
membuat janji dan tidak bertanggung jawab karena belum menampakkan batang
hidungnya,tiba-tiba dari arah berlawanan kulihat seorang yeoja yang sepertinya
benar-benar diliputi kekesalan, dengan celena pendek, jaket tanpa lengan
berwarna biru tua, dan kaos hitam ia melangkah terburu-buru dengan kakinya yang
jenjang,
Key
Oppa nampaknya asyik dengan handphone yang sedang digenggamnya, sedang yeoja
itu terus berjalan setengah berlari sambil meremas handphonenya sendiri dan
menengok ke samping kanan, kiri dan belakang seperti sedang memburu sesuatu,
jarak mereka semakin dekat, jantungku berdegup, ya Tuhan..semoga ini akan
berhasil..
“Aw”,
yeoja tadi berteriak, tampaknya karena kecerobohannya ia menebrak namja di
depannya yang tadi sedang asyik dengan handphone-nya
“ah..”,namja
yang ditabrak hanya bisa mengaduh,”ya..bisakah kau berhati-hati sedikit…ku rasa
jalan disini begi…tu…”, kata-katanya menjadi terputus begitu ia melihat siapa
yang berada di depannya, “Chris?”
“Key!
Apa yang kau lakukan disini?”,kata yeoja yang bernama Chris..namja yang tentu
saja Key Oppa itu terdiam sebentar masih terpaku,
“Hei..Key!”,Chris
menegur Key Oppa, sambil mengibaskan tangannya di depan wajah Key Oppa,
“Eh…aku..menunggu
seseorang, aku menunggu Fitta, ia ingin membicarakan masalah DKV, kau
sendiri?”,Key Oppa bertanya,
“Ha?
Jadi kau menunggu perempuan itu? Mana dia? Ingin rasanya ku remas dan kugunakan
untuk mencuci piring dirumahku!”,jawabnya kesal sambil meremas tangan, aku
menahan napas mendengarnya,’tega sekali..’
“Ha?
Memang dia kenapa? Kenapa kau ingin menyiksanya?”,Key Oppa bertanya tampaknya
ia tak mengerti,
“Tidak
usah kaget seperti itu! Kau tahu perempuan itu, perempuan tidak punya etika,
angin darimana ia meng-sms ku dengan kalimat seperti ini!”,kulihat Chris
menunjukan sms yang kuberikan tepat di depan mata Key Oppa,
“Kau..aku
tahu kau masih menyukai Key Oppa bukan? Dari omonganmu kemarin nampaknya kau
benar-benar yakin kalau Key Oppa bisa terus menyukai perempuan aneh, yang sok
cantik sepertimu! Ku peringatkan! Ia tak akan pernah menyimpan lama wajahmu itu
di memorinya yang berharga! Jadi jika kau masih memiliki akal sehat jauhilah
Key Oppa, dan carilah laki-laki yang sepadan denganmu, sepadan dengan sikap
burukmu itu! Hahaha”,Key Oppa membaca sms dariku pada yeoja itu, ‘aduh rasanya
malu sekali aku bisa mengeluarkan kata-kata seperti itu, tapi ini satu-satunya
jalan, God forgive me please..’
“Lalu
kenapa kau bisa kesini?”,kata Key Oppa bertanya lagi,
“Huh..dia
menantangku jika aku tak datang sore ini di danau ia akan mencapku perempuan
pengecut yang bahkan takut pada junior sendiri!”,ia benar-benar kesal sampai
mencak mencak seperti itu,
Aku
melihat Key Oppa berpikir sesuatu, sekali lagi jantungku berdegup ‘apa yang
dipikirkannya kini? Aku yang di luar batas kah? Atau ia tahu
maksudku?’,batinku, kulihat lagi ekspresi dari Key Oppa, dan kulihat ia
…tersenyum,
“Jadi
kau disini untuk bertaruh dengan Fitta sshi demi aku?”,kata Key Oppa tersenyum
jahil pada yeoja di depannya,
“Iya
aku bertaruh dengan perempuan menyebalkan itu..untuk…hei wait..kau bilang
apa?”,Chris memotong perkataannya,Key Oppa tersenyum lagi,
“Kau
masih menyukaiku kan?”,masih dengan senyum jahilnya, kulihat mata Chris
membulat dan wajahnya memerah,aku yang melihatnya merasa seperti ada yang
mengganjal, seperti rasa tak senang, sedih entahlah..
“Jangan
terlalu pe..de”,kata Chris terbata karena kini tangan Key Oppa sudah berada di
pipinya, menyentuhnya dengan lembut, lalu perlahan tapi pasti ia mendekatkan
wajahnya pada wajah Chris, ‘what?’ reflek aku langsung berpaling sambil menutup
mataku dengan telapak tangan,dan entah mengapa tanpa kusadari sebulir air ku
rasakan jatuh dari ujung mata kiriku,aku masih menutup mataku, aku merasakan
hal yang benar-benar menganehkan, diantara sedih, senang, dan kegalauan,
“Ehm…”,
sepertinya suara dehaman seseorang, ‘ha? Seseorang? berarti ada yang mengetahui
kalau aku disini?’,batinku terkejut, aku segera menyingkirkan bulir air yang
tadi keluar dari mataku dengan telapak tanganku dan mendongak keatas, melihat
siapa yang menegurku disaat seperti ini, begitu aku melihat siapa yang ada di
hadapanku, ‘Ha? Kenapa bisa ada disini?’,pekikku dalam hati,
“Sedang
apa kau disini?”,katanya lalu menengok kearah belakang ku aku hanya bisa
memalingkan muka,
“Ck..Anak
kecil, dilarang mengintip orang pacaran!”, katanya lagi,
“Aku
tidak mengintip!”,bantahku cepat,
“Lalu?”,katanya
sambil memiringkan kepalanya,
“Ehm…itu…”,aku
menggaruk kepalaku yang sama sekali tidak gatal,’ya ampun..aku harus jawab
apa?’,batinku,ia tersenyum,
“Kau
berhasil ya?”,tanyanya,
“mwo?”,kataku
tak mengerti,ia hanya kembali tersenyum dengan senyum khasnya,
“Itu…mereka
bersatu lagi, itu rencanamu kan yeoja polos?”,rese! Lagi-lagi ia meledekku!
“Sudah
ku bilang jangan panggil aku dengan sebutan itu! Dasar namja yeoja!”,iya orang
yang di depanku tadi itu namja yeoja, temanku Lee Taemin, “Aku tak mengerti
maksudmu, sudah aku mau pulang!”,kataku lalu beranjak meninggalkan Taemin,
“Ya…Fitta’ah,
bagaimana kalau kau ikut aku saja! Aku jamin kau akan suka!”,kata Taemin
berteriak padaku yang memang sudah beranjak pergi,
“Aku
sedang tak ingin makan es krim pisang Taemin’ah..”,jawabku tanpa mengalihkan
pandanganku, tiba-tiba ia sudah mensejajarkan langkahnya denganku,
“bukan
makan kok..ayolah..ku yakin kau pasti suka!, sekali ini saja!”,katanya memohon
dengan puppy eyes-nya,’oh..God..bisakah ia tidak menggunakan pandangan
itu?’,aku mendengus pelan,
“Ne..baiklah,
tapi awas sampai aku tak suka, aku tak akan mau menerima ajakanmu lagi!”,kataku
melunak,
“Baik…kkaja!”
Aku
tahu ini akan jadi kejutan tapi bisakah ia tidak menutup mataku seperti ini
memakai kain lagi, aduh..rasanya pandanganku bakalan biru setelah dilepas
nanti, sudah lama sekali, apakah tempatnya sampai keujung Kota apa? Mataku
sudah sakit tertutup terus tau!
“Ya..Taeminnie,
belum sampai juga, mataku sakit nih..”,kataku pada Taemin yang memberikan pertolongan
melangkah dengan intruksi kecil dan sapu tangan yang menjadi penghubungku dan
dia,
“Yap..sudah
sampai, kau bisa membuka penutup matamu itu”,kata Taemin, itu yang sedari
kutunggu, aish…rasanya sakit se….”Waaaa”, aku terkejut dengan pemandangan di depanku,
rupanya aku ada diatas bukit dan yang lebih tepatnya di ujungnya sehingga
pemandangan di depanku adalah lembah dan sungai cantik dihiasi langit sore,
sudah itu…aku melihat beberapa..
“Hei..kuas
dan cat, kanvasnya juga ada..”,kataku melihat bahan-bahan melukis ada di
hadapanku dan Taemin kini,
“Ya..karena
ku pikir kau tak terlalu menyukai dance, kau pasti menyukai lukis, karena kau
sangat excited soal lukisan, bagaimana? Baguskan tempat yang kupilih?”,katanya
tersenyum, aku membalas tersenyum dan anggukan,
“Great
job..Taeminnie”,kataku,
Sudah
sekitar setengah jam berlalu lukisan kami –aku dan Taemin- telah menemukan
jalannya, aku lebih tertarik menggambar pemandangan di depanku, sedang Taemin?
Ia menggoreskan kuas cat begitu lepas, kurasa, Abstraksi!
“Ya..kau
bisa juga menggambar abstraksi Taeminnie?”,tanyaku sambil melihat lukisan
Taemin yang berwarna-warni,
“Ah,,,ani,
aku kan tidak bisa melukis Fitta’ah..jadi ku warnai saja
sekiranya..hhe”,katanya sambil terus menggoreskan cat warna,
“Kata
siapa? Setiap lukisan itu memiliki makna, dan kebanyakan mewakili perasaan
pelukisnya, terutama yang abstraksi, tiap goresan warna akan memiliki arti, tak
mungkin hanya sekiranya..”,kataku menjelaskan,
“Sok
tahu..memangnya benar?”,katanya, terntaya dia meragukanku, ck..
“Iyalah..aku
sudah melihat dan belajar lukisan sejak lama, dan semua lukisan pasti memiliki
makna tersirat di dalamnya, ku jelaskan ya makna lukisanmu di mataku”,kataku
“Baik..coba
kau terjemahkan..”,katanya menantangku,
“Warna
gelap bergradasi ke warna terang dari kiri ke kanan, berarti kau berharap
mengarah ke kehidupan yang lebih baik, warna hijau, melambangkan ketenangan
jiwa, kau pasti sedang damai karena merasa telah melepas salah satu beban,
warna oranye kau pasti sedang merasa senang, lalu warna merah muda, itu
melambangkan cinta, kau..sedang jatuh cinta Taemin’ah?”,kataku sedikit terkejut
dengan warna terakhir yang kulihat bersama goresan-goresan kecil warna lain,
“Kau
itu sok tahu, aku hanya menggores warna yang ku tahu…”,kata Taemin polos,
“Tidak..sudah
ku bilang, lukisan baik disadari ataupun tidak itu mewakili apa yang kau
rasakan dan kau pikirkan, kau jatuh cinta pada seorang yeojakan? Bukan
seorang….”kataku tak sanggup meneruskan,
“Tentu
seorang yeoja kau pikir apa? Aku masih normal tau!”,katanya sedikit kesal,
“Mian…apa
yeoja yang membuatmu jatuh cinta itu yeoja yang waktu itu membuatmu patah hati
juga?”,kataku kembali excited dengan siapa yang berhasil membuat seorang Taemin
yang selalu tersenyum ini merasakan patah hati,
“Bukannya kau yang suka pada Key..sampai menangis
seperti itu melihatnya bersama yeoja lain?”,ish..namja yeoja itu malah
membahasnya lagi, aku menggeleng dan menghela napas perlahan,
“aku
tidak menangis…lagipula aku tidak suka, hanya mengaguminya, dan sekarang aku
juga tidak bisa mengaguminya lagi..”,kataku sendu, Taemin menghentikan
aktivitas melukisnya,
“Loh?
Tapi kenapa?”,katanya menatapku yang sedang tertunduk,
“Karena…ia
sudah tersentuh yeoja lain, kau lihatkan tadi, masa aku mau mengagumi orang
yang sudah tersentuh yeoja lain yang bukan istrinya..huh..aku saja tak suka
disentuh-sentuh begitu, kalau aku mengagumi orang yang suka seperti itu,
bisa-bisa aku terbawa karena rasa kagumku padanya..”,kataku lalu menghela
napas,
“Hahaha,
kau tahu itu kan urusan pribadinya, tak ada urusan denganmu…”,sebelum Taemin
menyelesaikan kalimatnya kupotong terlebih dulu,
“Tapi..siapa
yang kau kagumi itu, juga mencerminkan dirimu tahu!”,kataku sedikit kesal, dan
memajukan sedikit bibirku,
“Iya..iya…”,katanya
tersenyum dan kembali melukis, kali ini ia menggoreskan warna merah jambu dan
oranye secara bergantian,
“Hei..siapa
yeoja yang kau sukai Taemin’ah.?”,tanyaku, ia tak menjawab malah terus
tersenyum sambil terus menggoreskan warna-warna cerah,
“Ya!
Namja yeoja! Kau mendengarku tidak ha? Atau jangan-jangan…benar kau tidak suka
pada yeoja ya?”,tuduhku frontal, ia langsung berhenti dan dengan tatapan
terkejut menetapku,
“What?
Enak saja! Aku masih normal tahu! Dan berhenti memanggilku namja
yeoja!”,katanya kesal, ia menggoreskan warna merah di lukisannya, aku tahu itu
tandanya kemarahan, ‘ya ampun semarah itukah ia padaku?’
“Ya..Taemin’ah..kau
marah padaku?”,tanyaku hati-hati,ia menghela napas,
“Ani..”,katanya
singkat,
“Makanya
beri tahu aku..setidaknya itu akan menunjukan kau menyukai seorang yeoja dan kau
masih normal tak seperti tuduhan teman-teman selama ini..”,kataku membujuk
dengan alasan yang serasional mungkin,
“Kau
benar-benar ingin tahu?”,katanya, kulihat ia tak lagi menggoreskan cat merah,
baguslah!
“Iya….tentu…tentu
saja!”,kataku semangat,
“Benar?”,katanya
menghentikan aktivitasnya melukis,aku mengangguk tetap dengan semangat yang
sama,
“Baik….aku
hanya menyebutkan ciri-cirinya ya…hm…dia sangat baik, dan yeoja
tulen!”,katanya, lalu melanjutkan melukisnya lagi,’ha? Cuma itu?’
“Hei..masa
ciri-cirinya hanya segitu?”,kataku tak terima,
“Ia…rela
berkorban, bahkan ia rela melepas laki-laki yang ia sukai hanya karena tak mau
laki-laki yang ia sukai murung karena menyukai orang lain, ia juga pintar dan
cantik, tak hanya cantik diluar, tapi juga cantik dalam hatinya”,katanya
tersenyum sambil menggoreskan cat merah muda, biru dan hijau bergantian,
“Waw…ia
amat istimewa..”,pekikku kagum, jarang sekali aku mendengar pujian yang begitu
tulus dari seorang namja yeoja ini,
“Tapi…terkadang
ia menyebalkan, ia bahkan membiarkanku menunggunya selama dua jam di depan
rumahnya, dan ia bahkan tak ingat akan janji yang kami buat saat itu..”
“Hei..kejam
sekali..”
“Iya..tapi
ternyata, setelah ku cari tahu, ia sedang menemani namja yang ia sukai karena
namja itu sedang patah hati..”, aku terdiam, kalau begini aku tak tahu harus
menanggapi apa,
“Lalu
ia juga pernah menolak ajakanku tiga kali berturut-turut, bahkan menolak ajakan
untuk pergi ke tempat favorit kami….”,ia cemberut dan menggoreskan warna gelap
disana,aku hanya bisa bingung katanya baik tapi kok tega melakukan hal itu ya?
“Dan
itu karena ia sibuk di acara kuliahannya, tapi sebenarnya aku tahu karena ia
diminta langsung menjadi panitia oleh namja yang ia sukai yang menjabat sebagai
ketua pelaksananya, satu lagi ia sangat bodoh..karena dari tadi ia tak
menyadari kalau aku sedang membicarakannya!”,katanya sedikit memiringkan
kepalanya kearah lukisan yang ia buat,
“Loh…tadi
katanya yeoja yang kau sukai itu pintar..kenapa jadi bodoh..kau ini plin-plan
ya namja yeoja..ckckck”,kataku berdecak sambil menggeleng,
“Itu
dia.. aku tak suka jika ia memanggilku namja yeoja, dia sering sekali
menmanggilku seperti itu, sudah kubilang berkali-kali tapi ia tetap saja
begitu..”,katanya sedikit kesal,
“Lucu
sekali, kenapa ia memanggilmu namja yeoja, sama sepertiku..”,kataku polos,
“Tuh..kan
aku bilang dia terkadang pabo untuk hal seperti ini, dari tadi aku bicara
padanya mengenai dirinya sendiri dan ia tak juga menyadarinya, benar-benar
yeoja polos…”,katanya masih melukis,
“Hei…kau
menyebutnya yeoja polos,,lucu sekali lagi-lagi seperti julukanku yang diberikan
teman-temanku,eh.. dan kau bilang yang kau suka sedang bicara denganmu dari
tadi dan…”,aku membulatkan mataku, rasanya ada yang aneh dengan kata-kata
Taemin barusan..sedang bicara dengannya? Itu kan..a…
“Taemin’ah..”,kataku
pelan,
“Wae..sudah
sadarkah? You’re so slow Fitta’ah..”,katanya santai lalu melukis lagi, sementara
aku masih terpaku mencerna kata-kata Taemin barusan,
“Sudah
You’d better finishing your picture now..”,kata Taemin, karena aku tak tahu
harus melakukan apa, ya..kurasa lebih baik jika aku menyelesaikan lukisanku,
hari ini terlalu banyak yang tak dapat kucerna dengan akal sehatku…
Akhirnya…hari
pameran dilaksanakan juga, aku melihat, Key Oppa dan Chris sedang bersama-sama
mengomentari hasil karya yang menjadi ikon pameran, dan sepertinya mereka lebih
akrab, syukurlah…rencanaku berhasil,
“Jangan
pernah bersedih lagi Oppa..”, gumamku pelan,”bahagialah dengan Chris…”,
“Mengintip
orang pacaran lagi!”,tiba-tiba sebuah suara mengejutkanku,aku berbalik kearah
sumber suara itu,
“Ya..Taeminnie,
bisakah kau datang tak mengagetkanku? Kenapa kau selalu seperti itu
sih..!”,kataku sedikit kesal, dasar!
“Hehehe…maianhe,”,katanya
tersenyum,
“Eh..bukannya
kau ada show dance malam ini? Kok masih disini?”,kataku katanya ia ada show
dance dari sekolahnya, kenapa ia masih di pameran ini?
“Mmm..aku
ingin kau ikut denganku, sekalian kau membayar kesalahmu waktu itu! Membuatku
tak pergi ke sekolah dance!”,katanya memaksa,
“Mmm..baik..aku
akan membayar kesalahanku, sekalian, aku akan mentraktirmu susu pisang, karena
waktu itu aku tak jadi mentraktirmu..”,kataku, dia meggeleng,
“Tidak..untuk
traktir, biar aku saja, mana ada seorang yeoja mentraktir namja, sudah biar aku
saja yang bayar, yang penting kau melihat showku..ok!”,katanya memperlihatkan
ibu jari tangannya, aku tersenyum,”Ok..!”
“Kkaja!”,
Ya..aku
berpamitan pada Key Oppa, aku ingin melihat show Taemin di dance, ini adalah
show besar pertamanya, ternyata ia sangat mahir, sudah begitu…saat ia menari ia
sangat berbeda dengan Taemin yang biasanya, ia sangat energik dan dewasa,
professional dengan liuk-liuk tegas tubuhnya, tapi..tetap saja wajahnya lembut
seperti yeoja..hehehe ya meskipun ia sangat mendalami karakter tariannya seperti
menegaskan tatapan matanya, aku jadi tertarik pada dunia dance, dan juga kagum
pada namja yang satu itu, ternyata aku salah pernah berharap Taemin berubah
menjadi Key Oppa, ia jauh lebih baik dan peduli, meskipun kedekatanku dengannya
terkadang ,malah menjadi bahan gossipan empuk yang menguatkan aku tak suka
namja, tapi..aku tahu ia benar-benar namja sejati, dari sikap dan
perilakunya,ternyata aku tak pernah salah menjadikannya temanku selama ini,
ya…sejauh ini kurasa ia yang terbaik…
The
End
Langganan:
Komentar (Atom)