Ke
Kaki Ku Melihat
Matahari
menyengat, cahaya yang masuk melalui jendela berpadu dengan semua kilatan dari
benda berlensa, bukan petir, menghujam berkali-kali. Aku hanya pasrah, bukan
menyerah tapi memilih sekali lagi takdirku sendiri.
“Berdasarkan
pasal…”
Hei,
duduk di kursi ini ternyata menyenangkan juga, apakah itu media favoritku?,
apakah aku menjadi seorang aktris sekarang?
“Terdakwa
dihukum..”
----------------------------------------------------------------------------------------
Pagi
buta kala itu, dingin menusuk ke sumsum tulang, persis setelah suara-suara
berkumandang, aku memutuskan jalan hidupku, meski itu artinya melepas semua
yang ku punya, bahkan setiap helain rambut yang ku pangkas demi apa yang ku
sebut “hidup baru”.
Jalanan
rusak dengan campuran air dan tanah, pohon-pohon tinggi yang ditemani ilalang
menutup sebagian rumah ini, rumah seorang anak sekitar 13 tahun, perempuan
dengan senyum manis yang terbuang dan terpojok dari lingkungannya, kini tidak
lagi seorang diri. Ia yang dengan baik hati menawarkan tempat tinggalnya
padaku, seorang yang bahkan hina dihadapan semut pencuri, yang menutup diri
dari semua macam suara bahkan dari Tuhan.
“Kakak..apakah
engkau sudah bangun?, ini aku membelikanmu sebuah roti, barangkali kakak lapar”
Dengan
segala kehangatannya, aku bungkam, siapa kamu yang tanpa seizinku memberikan
sebuah bantuan, menawarkan tempat berteduh buruk ini, tempat tidur dan kini
sebuah roti, jikalau aku mau aku bisa membeli rumah bertingkat lima dengan
pelayan di tiap sudutnya dan mobil mewah yang berjejer menunggu untuk ku
kendarai.
“Baiklah
aku tinggal di sini ya kak, aku akan meneruskan pekerjaanku, masih banyak yang
harus aku ambil, selamat makan”
Ia
pergi lagi, untuk kesekian kalinya dengan senyum khas yang selalu dipamerkan,
menyeret sebuah gerobak sedang penuh bau busuk,berhenti di setiap depan rumah
yang ia lewati, menyeka keringat sebentar dan mengambil setumpuk barang tidak
layak untuk di masukan ke dalam gerobaknya, setumpuk dengan berbagai macam
plastik yang terbungkus, seperti yang terdapat di dalam gerobaknya, barang
setumpuk itu juga pasti mengeluarkan bau busuk. Setelahnya ia akan berkata
sesuatu, menarik gerobaknya kemudian hilang di belokan gang pertama.
Apa
yang ia harapkan dengan pengahasilan dari kegiatan tidak berguna yang ia bilang
pekerjaan itu, anak kecil tetaplah anak kecil.
Senja,
aku kembali membuka mataku, biasanya petang ia akan kembali membawa sebungkus
roti untukku lagi, dasar anak kecil, sudah kubilang aku punya uang, ia tinggal
memesan apa yang ia mau bahkan rumah sekalipun dapat kuberi, mengapa ia harus
repot memberiku semua perlakuan ini?, aku beranjak dari kasur dengan per yang
jika engkau tiduri maka semua punggungmu akan serasa terhisap kedalam, lembab
dan jauh dari kasur dengan bed cover yang biasa aku tiduri.
Pukul
tujuh malam, kemana anak itu, apakah ia tidak tahu aku tengah kelaparan, mana
roti yang selama ini ia beri padaku? Ini pertama kalinya sejak hari itu, ia
terlambat lima belas menit, apa yang ia lakukan?
Malam
begitu pekat, tinggal ditempat seperti ini memang tidak menyenangkan, bagaimana
aku keluar jika ilalangnya setinggi setengah badanku? Sudah kubilang aku tidak
mau keluar untuk menyusulnya dan tidak akan pernah, bertemu dengan orang-orang
yang selalu mengutuk dirimu meski kau tidak pernah berbicara dengannya
langsung, mengutuk dirimu lewat peryataan-pernyataan media dan hujatan-hujatan
ditengah ketidaktahuan mereka, apa yang bisa kuperbuat selain jalan ini?
Menghidari cemoohan yang kadang kutanggapi dengan senyum palsu dan kebahagiaan semu,
aku hanya kaki tangan tapi aku yang paling dijatuhkan.
Untuk
pertama kalinya, ia yang tidak tahu diri itu membuatku keluar rumah yang bobrok
seperti dirinya, anak kecil yang tidak tahu arti perjuangan, tidak tahu arti
pekerjaan dan mengalah pada nasib.
“aku
hanya meneruskan pekerjaan ayah, bagaimana aku ingin bersekolah jika untuk
makan saja aku harus mengambil sampah setiap hari, orang-orang itu tidak hanya
membuangnya di tempat biasa aku mengambil sampah mereka, tapi juga jalanan dan
selokan yang tergenang air, kalau tidak bersih aku tidak tahu berapa potongan
uang yang harus aku terima, ayahku bilang tempat itu adalah tempat terbersih di
negara ini, dan itulah kebanggaan dari pekerjaan ayahku, membuat mereka
tersenyum dengan penghargaan itu, kakak kelihatannya sangat pintar, apa kakak
ingin mengajariku, aku ingin menjadi seorang yang mewakili rakyat dengan
pekerjaan sepertiku dan ayahku dulu”
Bodoh!
Apa gunanya ia bercerita seperti itu padaku, aku orang terpelajar dengan gelar
dan pekerjaan yang sangat layak seandainya ia tahu, berusaha mengajariku dengan
kebahagiaan menjadi seorang tukang sampah tidak akan mampu membuatku bertekuk
lutut padamu. Aku di gang pertama kini, tempat ia menghilang seperti biasanya,
dimana anak itu?
Tepat
di sebuah bangunan tidak jauh dari belokan pertama, kelihatannya ada sebuah
keributan kecil, semua warga berkumpul berbisik-bisik tersamar, dengan mantel
yang menutupi seluruh badan dan kepalaku serta masker yang kugunakan dtengah
malam hari dengan angin dingin seperti ini tentu tidak membuat mereka curiga
yang mengira aku penduduk yang terkena flu berat.
Seorang
warga dengan jenggot lebat berwarna putih duduk ditempat paling depan,
bersedekap dengan mata menutup dan seolah berpikir tentang sesuatu,
disampingnya seorang anak dengan mata menyalahkan ditemani laki-laki dewasa
berbadan tegap yang memiliki garis muka keras dan terlihat berwibawa menatap
laki-laki tua itu dengan pandangan meyakinkan.
“Tetua,
jelas anak ini bersalah, tak mungkin anakku berkata tidak benar, sebaliknya apa
yang dapat kita percayai dari seorang anak pemungut sampah yang setiap hari
berkeliaran, tentu ia serba kekurangan sehingga berani mencuri”
Aku
terkejut sebentar, seorang pemungut sampah, apa artinya?, tapi aku tak bersuara
begitu pula orang yang dipanggil tetua itu, sedangkan warga lain terus berbisik.
“benar
seorang anak dari keluarga terhormat tidak mungkin berbohong”
Anak
yang ditemani laki-laki gagah itu bersuara,
“iya
jelas-jelas ia memegang buktinya bukan, uang sepuluh ribuku”
Suasana
kembali riuh, warga kembali berbisik,
“tapi
itu hanyalah sepuluh ribu, akankah ia di laporkan ke kantor polisi?”
Suara
kembali bergema, bapak berbadan tegap itu,
“Bukankah
setiap kejahatan sekecil apapun harus ada hukumannya?”
Riuh
penduduk yang berbisik berdebat satu sama lain kembali terdengar, aku
mengalihkan pandanganku, semenjak tadi aku mendengar sayup-sayup sesegukan
seseorang dari balik punggung kakek tua itu, sepertinya suara tangisan tertahan
dari anak perempuan.
“tapi
aku tidak mencurinya, sungguh”
Aku
mendesak kebarisan samping, berusaha melihat siapa anak yang berkata tadi,
tidak asing, layaknya suara yang setiap pagi menyuruhku bangun dan memakan
sebuah roti, kemudian pergi dengan mengucapkan ‘selamat makan’. Aku melihatnya,
baju dengan setelan kaos lusuh, celana panjang dengan tambalan di sekitar lutut
dan digulung karena terlalu panjang untuk menutupi tubuhnya, topi berwarna
hijau yang kumal karena terlalu sering dipakai, bersimpuh tertunduk dihadapan
kakek tadi, menahan tangisnya dengan sesegukan yang terus menyusup diantara
riuh bisikan penduduk yang hanya bisa beropini ria.
“Aku
tidak mencurinya kek, sungguh”, ia berkata lagi. Ternyata benar, itu dia
seorang anak yang lupa memberi rotinya padaku malam ini, yang membuatku
kelaparan dengan menuggunya dirumah selama lima belas menit, membuatku keluar
dari rumah dengan pakaian seperti orang Eskimo yang berjalan ditengah es kutub
utara, sekarang ia malah seenaknya menangis meminta belas kasihan seorang kakek
tua, anak kecil dan laki-laki tegap itu.
“Dengar
nak, tadi sudah ada empat orang saksi yang melihatmu mengambil uang itu,
sedangkan kamu tidak memilki bukti penguat bahwa kamu tidak bersalah”, tetua
itu berkata sok bijak, dengan nada perlahan namun membuat anak bertopi yang
membuatku keluar rumah itu semakin tersedak, sedangkan laki-laki tegap dan
anaknya tersenyum tipis.
“Namun
untuk bapak yang terhormat, yang mencuri uang anak bapak hanyalah seorang anak
kecil yang tak punya, bisakah kita mengambil jalan kekeluargaan untuk
menyelesaikannya?”, lanjut tetua itu,”ia seorang yatim piatu”.
Senyum
tipis tadi perlahan memudar dari bibir laki-laki itu, ia menatap dengan intens
kepada laki-laki tua dan anak kecil itu bergantian, “tapi ia harus tetap
dihukum”.
Pagi,
mentari bersinar seperti biasa tidak peduli apa yang terjadi dengan kondisi
anak manusia, baik sedih, bahagia ia akan tetap seperti itu mengalirkan
cahayanya kesetiap sudut ruangan, menembus pertahanan dinding bilik dan atap bening
di salah satu genting rumah ini.
Di
meja, sebuah roti dan sepucuk surat,
Selamat pagi kakak, engkau sudah
bangun? Ini rotinya, barangkali kakak lapar,maaf aku tidak membangunkan kakak,
sepertinya kakak sangat kelelahan, maaf sekali kakak aku tidak bisa menemani
kakak lagi dirumah itu, pagi-pagi sekali tetua menjemputku untuk meninggalkan
rumah, maaf padahal kakak adalah tamuku yang sangat aku sayangi, terima kasih
atas pembelaanmu dan percaya padaku semalam, aku tahu kakak adalah orang pintar
yang memiliki kata-kata emas sehingga aku tidak jadi di usir dari desa ini,
jangan menyalahkan diri kakak kalau aku harus dipecat dari pekerjaanku sebagai
tukang sampah di komplek ini, aku tahu hari ini pasti akan datang, hari dimana
aku meninggalkan rumah peninggalan orang tuaku, dan mengikuti nasihat tetua
untuk tinggal di rumah panti asuhan dan belajar di sana, aku kira dengan aku
ada di panti, aku bisa melanjutkan sekolah dan mewujudkan cita-citaku sebagai
wakil kaumku nanti..:)
Bagaimana kak? Apakah bicaraku
sudah seperti kakak? ^^
Oh iya, kakak bilang kakak punya
uang kan? Jangan lupa beli rumah ya kak, dan buat diri kakak tidak kesepian
lagi..
Salam Lia
----------------------------------------------------------------------------------------
Dingin,
lembab, gelap, ini bahkan lebih buruk dari rumah anak itu, enam tahun sejak peristiwa
tersebut, di sinilah aku kebebasanku yang terenggut pagar-pagar besi dan ruang
kecil tempat aku menjalankan seluruh aktifitasku, kata siapa seorang ‘pencuri
uang rakyat’ mendapatkan fasilitas enak, jika kau berlaku jujur saat kau harus
menjalankan masa tahanan, siapa bilang hidup di bui enak bagi kau yang hanya
berbekal kejujuran untuk menebus kesalahan yang tidak terampuni tersebut. Tapi
sepahit apapun, hidup adalah pilihan dikejar kesalahan tidak akan membuat
kebahagiaan meski kau lari keujung tata surya dan bersembunyi dari suara-suara
kebenaran, dan inilah yang aku pilih bukan menyerah pada nasib tapi berusaha
lebih baik.
“Tahanan
no.39, keluar ada yang menjengukmu waktunya 10 menit”
Pintu
dibuka, aku hanya mengikuti, siapa yang mau dekat denganku? Seorang terdakwa
yang bahkan dijauhi kerabat dekatnya, adakah dia putus urat malunya membesuk
seorang terpidana di ruang penjara?
“Selamat
pagi kakak, aku membawa roti, barangkali kakak lapar”.
4 komentar:
2012 yaaa?
Udh lama bgt ...
Tp kalo r thn yg lalu aja udh luar biasa gini, gjn skrg yaa?
Mungkin Lia dan Lirsya bisa ki pertemankan???
Tp aku masih penasaran, siapa sih sebenarnya "Aku" itu???
ahahaha, nah, itu kesulitan aku, aku pengen banget buat cerita yang orang harus mikir dulu, entah alurnya, entah ending ceritanya atau apalah, eh malah kesusahan buat ngegambarin tokoh utamanya.
sebenernya aku nyeritain dari sudut pandang orang pertama, makanya selalu pakai "aku". ke gambar ga kalau dia cewe, dari kalimat di awal, rambut yang harus dipotong buat memulai hidup baru? terus dia melarikan diri dan ditemuin sama Lia, tokoh aku ini harus sampai ga mau keluar rumah gara-gara takut dikenali.
dia sebenernya koruptor, yang lari karena ga mau masuk penjara, karena dia ngerasa cuma kaki tangan, kenapa cuma dia yang kena hukuman. Sebenernya aku juga mau ngegambarin dugaan kalau korupsi di Indonesia ini sudah berjamaah, jadi sulit terdeteksi, yang bisa kedeteksi selama ini baru "kaki tangannya saja".
Tapi akhirnya dia nyerahin diri, jadi di penjara dan Lia ngejenguk di lapas.
wkwkwk
aku puyeng ngegambarinnya seperti apa soalnya.
ayo bikin Lia sama Lirsya berteman ^_^
Ooooo gitu ...
Knp mereka ga ketemu di dalam penjara aja?
Heheeee
Kan lebih greget ,,,
Yuk lah Lia .... aku tunggu kamu di lt. 3 sekarang ya 😀😀😀
Posting Komentar