Rabu, 08 Februari 2012

Cerpen : Ke Kaki Ku Melihat


Ke Kaki Ku Melihat
Matahari menyengat, cahaya yang masuk melalui jendela berpadu dengan semua kilatan dari benda berlensa, bukan petir, menghujam berkali-kali. Aku hanya pasrah, bukan menyerah tapi memilih sekali lagi takdirku sendiri.
“Berdasarkan pasal…”
Hei, duduk di kursi ini ternyata menyenangkan juga, apakah itu media favoritku?, apakah aku menjadi seorang aktris sekarang?
“Terdakwa dihukum..”
----------------------------------------------------------------------------------------
Pagi buta kala itu, dingin menusuk ke sumsum tulang, persis setelah suara-suara berkumandang, aku memutuskan jalan hidupku, meski itu artinya melepas semua yang ku punya, bahkan setiap helain rambut yang ku pangkas demi apa yang ku sebut “hidup baru”.
Jalanan rusak dengan campuran air dan tanah, pohon-pohon tinggi yang ditemani ilalang menutup sebagian rumah ini, rumah seorang anak sekitar 13 tahun, perempuan dengan senyum manis yang terbuang dan terpojok dari lingkungannya, kini tidak lagi seorang diri. Ia yang dengan baik hati menawarkan tempat tinggalnya padaku, seorang yang bahkan hina dihadapan semut pencuri, yang menutup diri dari semua macam suara bahkan dari Tuhan.
“Kakak..apakah engkau sudah bangun?, ini aku membelikanmu sebuah roti, barangkali kakak lapar”
Dengan segala kehangatannya, aku bungkam, siapa kamu yang tanpa seizinku memberikan sebuah bantuan, menawarkan tempat berteduh buruk ini, tempat tidur dan kini sebuah roti, jikalau aku mau aku bisa membeli rumah bertingkat lima dengan pelayan di tiap sudutnya dan mobil mewah yang berjejer menunggu untuk ku kendarai.
“Baiklah aku tinggal di sini ya kak, aku akan meneruskan pekerjaanku, masih banyak yang harus aku ambil, selamat makan”
Ia pergi lagi, untuk kesekian kalinya dengan senyum khas yang selalu dipamerkan, menyeret sebuah gerobak sedang penuh bau busuk,berhenti di setiap depan rumah yang ia lewati, menyeka keringat sebentar dan mengambil setumpuk barang tidak layak untuk di masukan ke dalam gerobaknya, setumpuk dengan berbagai macam plastik yang terbungkus, seperti yang terdapat di dalam gerobaknya, barang setumpuk itu juga pasti mengeluarkan bau busuk. Setelahnya ia akan berkata sesuatu, menarik gerobaknya kemudian hilang di belokan gang pertama.
Apa yang ia harapkan dengan pengahasilan dari kegiatan tidak berguna yang ia bilang pekerjaan itu, anak kecil tetaplah anak kecil.
Senja, aku kembali membuka mataku, biasanya petang ia akan kembali membawa sebungkus roti untukku lagi, dasar anak kecil, sudah kubilang aku punya uang, ia tinggal memesan apa yang ia mau bahkan rumah sekalipun dapat kuberi, mengapa ia harus repot memberiku semua perlakuan ini?, aku beranjak dari kasur dengan per yang jika engkau tiduri maka semua punggungmu akan serasa terhisap kedalam, lembab dan jauh dari kasur dengan bed cover yang biasa aku tiduri.
Pukul tujuh malam, kemana anak itu, apakah ia tidak tahu aku tengah kelaparan, mana roti yang selama ini ia beri padaku? Ini pertama kalinya sejak hari itu, ia terlambat lima belas menit, apa yang ia lakukan?
Malam begitu pekat, tinggal ditempat seperti ini memang tidak menyenangkan, bagaimana aku keluar jika ilalangnya setinggi setengah badanku? Sudah kubilang aku tidak mau keluar untuk menyusulnya dan tidak akan pernah, bertemu dengan orang-orang yang selalu mengutuk dirimu meski kau tidak pernah berbicara dengannya langsung, mengutuk dirimu lewat peryataan-pernyataan media dan hujatan-hujatan ditengah ketidaktahuan mereka, apa yang bisa kuperbuat selain jalan ini? Menghidari cemoohan yang kadang kutanggapi dengan senyum palsu dan kebahagiaan semu, aku hanya kaki tangan tapi aku yang paling dijatuhkan.
Untuk pertama kalinya, ia yang tidak tahu diri itu membuatku keluar rumah yang bobrok seperti dirinya, anak kecil yang tidak tahu arti perjuangan, tidak tahu arti pekerjaan dan mengalah pada nasib.
“aku hanya meneruskan pekerjaan ayah, bagaimana aku ingin bersekolah jika untuk makan saja aku harus mengambil sampah setiap hari, orang-orang itu tidak hanya membuangnya di tempat biasa aku mengambil sampah mereka, tapi juga jalanan dan selokan yang tergenang air, kalau tidak bersih aku tidak tahu berapa potongan uang yang harus aku terima, ayahku bilang tempat itu adalah tempat terbersih di negara ini, dan itulah kebanggaan dari pekerjaan ayahku, membuat mereka tersenyum dengan penghargaan itu, kakak kelihatannya sangat pintar, apa kakak ingin mengajariku, aku ingin menjadi seorang yang mewakili rakyat dengan pekerjaan sepertiku dan ayahku dulu”
Bodoh! Apa gunanya ia bercerita seperti itu padaku, aku orang terpelajar dengan gelar dan pekerjaan yang sangat layak seandainya ia tahu, berusaha mengajariku dengan kebahagiaan menjadi seorang tukang sampah tidak akan mampu membuatku bertekuk lutut padamu. Aku di gang pertama kini, tempat ia menghilang seperti biasanya, dimana anak itu?
Tepat di sebuah bangunan tidak jauh dari belokan pertama, kelihatannya ada sebuah keributan kecil, semua warga berkumpul berbisik-bisik tersamar, dengan mantel yang menutupi seluruh badan dan kepalaku serta masker yang kugunakan dtengah malam hari dengan angin dingin seperti ini tentu tidak membuat mereka curiga yang mengira aku penduduk yang terkena flu berat.
Seorang warga dengan jenggot lebat berwarna putih duduk ditempat paling depan, bersedekap dengan mata menutup dan seolah berpikir tentang sesuatu, disampingnya seorang anak dengan mata menyalahkan ditemani laki-laki dewasa berbadan tegap yang memiliki garis muka keras dan terlihat berwibawa menatap laki-laki tua itu dengan pandangan meyakinkan.
“Tetua, jelas anak ini bersalah, tak mungkin anakku berkata tidak benar, sebaliknya apa yang dapat kita percayai dari seorang anak pemungut sampah yang setiap hari berkeliaran, tentu ia serba kekurangan sehingga berani mencuri”
Aku terkejut sebentar, seorang pemungut sampah, apa artinya?, tapi aku tak bersuara begitu pula orang yang dipanggil tetua itu, sedangkan warga lain terus berbisik.
“benar seorang anak dari keluarga terhormat tidak mungkin berbohong”
Anak yang ditemani laki-laki gagah itu bersuara,
“iya jelas-jelas ia memegang buktinya bukan, uang sepuluh ribuku”
Suasana kembali riuh, warga kembali berbisik,
“tapi itu hanyalah sepuluh ribu, akankah ia di laporkan ke kantor polisi?”
Suara kembali bergema, bapak berbadan tegap itu,
“Bukankah setiap kejahatan sekecil apapun harus ada hukumannya?”
Riuh penduduk yang berbisik berdebat satu sama lain kembali terdengar, aku mengalihkan pandanganku, semenjak tadi aku mendengar sayup-sayup sesegukan seseorang dari balik punggung kakek tua itu, sepertinya suara tangisan tertahan dari anak perempuan.
“tapi aku tidak mencurinya, sungguh”
Aku mendesak kebarisan samping, berusaha melihat siapa anak yang berkata tadi, tidak asing, layaknya suara yang setiap pagi menyuruhku bangun dan memakan sebuah roti, kemudian pergi dengan mengucapkan ‘selamat makan’. Aku melihatnya, baju dengan setelan kaos lusuh, celana panjang dengan tambalan di sekitar lutut dan digulung karena terlalu panjang untuk menutupi tubuhnya, topi berwarna hijau yang kumal karena terlalu sering dipakai, bersimpuh tertunduk dihadapan kakek tadi, menahan tangisnya dengan sesegukan yang terus menyusup diantara riuh bisikan penduduk yang hanya bisa beropini ria.
“Aku tidak mencurinya kek, sungguh”, ia berkata lagi. Ternyata benar, itu dia seorang anak yang lupa memberi rotinya padaku malam ini, yang membuatku kelaparan dengan menuggunya dirumah selama lima belas menit, membuatku keluar dari rumah dengan pakaian seperti orang Eskimo yang berjalan ditengah es kutub utara, sekarang ia malah seenaknya menangis meminta belas kasihan seorang kakek tua, anak kecil dan laki-laki tegap itu.
“Dengar nak, tadi sudah ada empat orang saksi yang melihatmu mengambil uang itu, sedangkan kamu tidak memilki bukti penguat bahwa kamu tidak bersalah”, tetua itu berkata sok bijak, dengan nada perlahan namun membuat anak bertopi yang membuatku keluar rumah itu semakin tersedak, sedangkan laki-laki tegap dan anaknya tersenyum tipis.
“Namun untuk bapak yang terhormat, yang mencuri uang anak bapak hanyalah seorang anak kecil yang tak punya, bisakah kita mengambil jalan kekeluargaan untuk menyelesaikannya?”, lanjut tetua itu,”ia seorang yatim piatu”.
Senyum tipis tadi perlahan memudar dari bibir laki-laki itu, ia menatap dengan intens kepada laki-laki tua dan anak kecil itu bergantian, “tapi ia harus tetap dihukum”.
Pagi, mentari bersinar seperti biasa tidak peduli apa yang terjadi dengan kondisi anak manusia, baik sedih, bahagia ia akan tetap seperti itu mengalirkan cahayanya kesetiap sudut ruangan, menembus pertahanan dinding bilik dan atap bening di salah satu genting rumah ini.
Di meja, sebuah roti dan sepucuk surat,
Selamat pagi kakak, engkau sudah bangun? Ini rotinya, barangkali kakak lapar,maaf aku tidak membangunkan kakak, sepertinya kakak sangat kelelahan, maaf sekali kakak aku tidak bisa menemani kakak lagi dirumah itu, pagi-pagi sekali tetua menjemputku untuk meninggalkan rumah, maaf padahal kakak adalah tamuku yang sangat aku sayangi, terima kasih atas pembelaanmu dan percaya padaku semalam, aku tahu kakak adalah orang pintar yang memiliki kata-kata emas sehingga aku tidak jadi di usir dari desa ini, jangan menyalahkan diri kakak kalau aku harus dipecat dari pekerjaanku sebagai tukang sampah di komplek ini, aku tahu hari ini pasti akan datang, hari dimana aku meninggalkan rumah peninggalan orang tuaku, dan mengikuti nasihat tetua untuk tinggal di rumah panti asuhan dan belajar di sana, aku kira dengan aku ada di panti, aku bisa melanjutkan sekolah dan mewujudkan cita-citaku sebagai wakil kaumku nanti..:)
Bagaimana kak? Apakah bicaraku sudah seperti kakak? ^^
Oh iya, kakak bilang kakak punya uang kan? Jangan lupa beli rumah ya kak, dan buat diri kakak tidak kesepian lagi..
Salam Lia
----------------------------------------------------------------------------------------
Dingin, lembab, gelap, ini bahkan lebih buruk dari rumah anak itu, enam tahun sejak peristiwa tersebut, di sinilah aku kebebasanku yang terenggut pagar-pagar besi dan ruang kecil tempat aku menjalankan seluruh aktifitasku, kata siapa seorang ‘pencuri uang rakyat’ mendapatkan fasilitas enak, jika kau berlaku jujur saat kau harus menjalankan masa tahanan, siapa bilang hidup di bui enak bagi kau yang hanya berbekal kejujuran untuk menebus kesalahan yang tidak terampuni tersebut. Tapi sepahit apapun, hidup adalah pilihan dikejar kesalahan tidak akan membuat kebahagiaan meski kau lari keujung tata surya dan bersembunyi dari suara-suara kebenaran, dan inilah yang aku pilih bukan menyerah pada nasib tapi berusaha lebih baik.
“Tahanan no.39, keluar ada yang menjengukmu waktunya 10 menit”
Pintu dibuka, aku hanya mengikuti, siapa yang mau dekat denganku? Seorang terdakwa yang bahkan dijauhi kerabat dekatnya, adakah dia putus urat malunya membesuk seorang terpidana di ruang penjara?
“Selamat pagi kakak, aku membawa roti, barangkali kakak lapar”.

4 komentar:

Heny ernawati mengatakan...

2012 yaaa?
Udh lama bgt ...
Tp kalo r thn yg lalu aja udh luar biasa gini, gjn skrg yaa?

Mungkin Lia dan Lirsya bisa ki pertemankan???
Tp aku masih penasaran, siapa sih sebenarnya "Aku" itu???

Fiya mengatakan...

ahahaha, nah, itu kesulitan aku, aku pengen banget buat cerita yang orang harus mikir dulu, entah alurnya, entah ending ceritanya atau apalah, eh malah kesusahan buat ngegambarin tokoh utamanya.
sebenernya aku nyeritain dari sudut pandang orang pertama, makanya selalu pakai "aku". ke gambar ga kalau dia cewe, dari kalimat di awal, rambut yang harus dipotong buat memulai hidup baru? terus dia melarikan diri dan ditemuin sama Lia, tokoh aku ini harus sampai ga mau keluar rumah gara-gara takut dikenali.
dia sebenernya koruptor, yang lari karena ga mau masuk penjara, karena dia ngerasa cuma kaki tangan, kenapa cuma dia yang kena hukuman. Sebenernya aku juga mau ngegambarin dugaan kalau korupsi di Indonesia ini sudah berjamaah, jadi sulit terdeteksi, yang bisa kedeteksi selama ini baru "kaki tangannya saja".
Tapi akhirnya dia nyerahin diri, jadi di penjara dan Lia ngejenguk di lapas.

wkwkwk
aku puyeng ngegambarinnya seperti apa soalnya.

Fiya mengatakan...

ayo bikin Lia sama Lirsya berteman ^_^

Unknown mengatakan...

Ooooo gitu ...

Knp mereka ga ketemu di dalam penjara aja?

Heheeee

Kan lebih greget ,,,



Yuk lah Lia .... aku tunggu kamu di lt. 3 sekarang ya 😀😀😀