ibu, apa aku boleh memilih status hidupku?
untuk saat ini aku tidak ingin hidup, hidup dalam dunia nyata yang amat keras, yang aku berpura-pura kuat padahal tidak, yang aku berpura-pura tersenyum padahal tidak, yang aku berpura-pura mau padahal tidak, yang aku berpura-pura semangat padahal tidak.
ibu, dapatkah aku lembali kedalam masa dimana aku berada di rahimmu?
yang aku belum melihat dunia, yang aku belum merasakan campakkannya, belum merasakan bagaimana ia berputar dan mengejarku, dimana aku selalu bisa bermimpi, merancang dan menerka hidupku nanti, bagaimana inginku, bukan karena ada faktor lain.
ibu apakah aku boleh memilih hidupku?
aku ingin di dunia ini hanya ada 4 manusia, aku, engkau, ayah dan adikku, yang menerimaku apa adanya, yang aku selalu tahu aku selalu dapat kembali bagaimanapun keadaanku, yang aku selalu tahu engkau selalu membuka lebar dekapan tanganmu untukku.
ibu, aku ingin kembali terlelap, hidup dalam mimpiku yang jauh, yang aku inginkan dan membuka setiap kemungkinan yang tidak mungkin, yang hidup sesuai inginku dan menghilangkan rasa aku tidak berguna.
ibu, aku tersesat, tersesat dalam pemikiran yang membuatku selalu menuntut, menuntut diriku untuk menjadi ini dan itu yang bahkan menghilangkan diriku, ibu, apa yang harus aku lakukan?
apa yang ku lakukan ini salah?
bagaimana cara untuk mengulangnya?
bagaimana cara untuk mengubahnya?
beri aku petunjuk, beri aku dekapanmu, kemana ibu?
gue cuma seorang manusia, ga lebih dan ga kurang,,ga kaya dan alhamdulillah ga miskin, ga cantik tapi juga ga jelek, ga pinter tapi juga ga bodoh, meski hidup gue gitu-gitu aja ga istimewa.. Tapi gue yang akan jadiin hidup gue istimewa
Kamis, 28 November 2013
Kamis, 14 November 2013
Random Post 7
saaat gue menulis ini, gue tahu, saat inilah gue sadar ini kenapa gue ga terlalu suka paksaan untuk menghidupkan transfer wawasan, karena bagaimanapun ujungnya, pada akhirnya keputusan ada di diri sendiri.
sesat pikir sih, tapi selama ini ya gue tahu teori dan lalalala..tetap aja ujungnya ada di diri gue sendiri.
saat gue berpikir mungkin gue butuh tempat cerita, saat itu sebenarnya gue ga membutuhkan itu mungkin, karena saat itulah gue mencoba meneorikan segala macam orientasi ego aku pada diriku sendiri yang akhirnya semakin menguatkan keragu-raguan, dan saat pada waktunya menjabarkan, setelah itulah kekesalan induk permasalahan itu akan hilang dan tidak jadi cambuk dendam berkepanjangan. dendam putih itu akhirnya hilang dan menjadi debu.
mungkin lebih baik tidak ada orang yang tahu dan menanyakan sebenarnya apa motivasiku untuk maju pada tahun berikutnya, yang baru aku sadari bagaimana beratnya akan running setahun kedepan. bahkan hingga saat ini, karena banyak yang bertanya ia luntur begitu saja dan membuatku kembali bertanya, apa yang membuatku akan cape-cape menghabiskan segala bentuk waktu yang seharusnya dapatku gubnakan untuk belajar sebagai bekal dengan kegiatan yang seperti ini.
apa sebenarnya?
seberapa layak?
ya Allah, beri aku petunjuk..
aku sudah tidak dapat lagi mempercayai setiap orang yag berbicara manis, yang mendorong-dorong dan akhirnya nanti akan menjebloskanku ke suatu lubang kesendirian. aku saudah tidak percaya lagi orang-orang yang mengangkatku tinggi-tinggi karena aku bahkan tidak pernah melewati ekspetasi apapun.
jadi sebenarnya apa?
aku sudah muak dengan segala teori psikologi yang menenangkan, meneorikan segala macam bentuk yang seharusnya memang sudah ada.
sebenarnya saat seseorang bilang, aku ngerasa ketinggalan yang lain sudah menghasilkan sesuatu sementara aku masih berusaha menstabilkan diri...aku...sepertinya aku lebih parah dibandingkan itu.
aku butuh penawar toksin dalam hati dan pikiran..
sesat pikir sih, tapi selama ini ya gue tahu teori dan lalalala..tetap aja ujungnya ada di diri gue sendiri.
saat gue berpikir mungkin gue butuh tempat cerita, saat itu sebenarnya gue ga membutuhkan itu mungkin, karena saat itulah gue mencoba meneorikan segala macam orientasi ego aku pada diriku sendiri yang akhirnya semakin menguatkan keragu-raguan, dan saat pada waktunya menjabarkan, setelah itulah kekesalan induk permasalahan itu akan hilang dan tidak jadi cambuk dendam berkepanjangan. dendam putih itu akhirnya hilang dan menjadi debu.
mungkin lebih baik tidak ada orang yang tahu dan menanyakan sebenarnya apa motivasiku untuk maju pada tahun berikutnya, yang baru aku sadari bagaimana beratnya akan running setahun kedepan. bahkan hingga saat ini, karena banyak yang bertanya ia luntur begitu saja dan membuatku kembali bertanya, apa yang membuatku akan cape-cape menghabiskan segala bentuk waktu yang seharusnya dapatku gubnakan untuk belajar sebagai bekal dengan kegiatan yang seperti ini.
apa sebenarnya?
seberapa layak?
ya Allah, beri aku petunjuk..
aku sudah tidak dapat lagi mempercayai setiap orang yag berbicara manis, yang mendorong-dorong dan akhirnya nanti akan menjebloskanku ke suatu lubang kesendirian. aku saudah tidak percaya lagi orang-orang yang mengangkatku tinggi-tinggi karena aku bahkan tidak pernah melewati ekspetasi apapun.
jadi sebenarnya apa?
aku sudah muak dengan segala teori psikologi yang menenangkan, meneorikan segala macam bentuk yang seharusnya memang sudah ada.
sebenarnya saat seseorang bilang, aku ngerasa ketinggalan yang lain sudah menghasilkan sesuatu sementara aku masih berusaha menstabilkan diri...aku...sepertinya aku lebih parah dibandingkan itu.
aku butuh penawar toksin dalam hati dan pikiran..
Senin, 19 Agustus 2013
Catatan 17 Agustus 2013
Pagi itu,
kunikmati segala peluhku, kunikmati semua memori yang berputar di kepalaku. Mentari menyambut baik niat kami, ia bersinar seolah tengah tertawa, ikut bahagia dalam peringatan kemerdekaan.
Hari itu upacara bendera, meski hari itu peserta hadir berwarna warni, ini akan terlewati lebih berguna bagiku, dibanding aku hanya diam membiarkan hari itu terlewat tanpa ada sebuah ceremonial, seperti tahun-tahun sebelumnya, yang membuatku iri dengan mereka yang masih berlebelkan seragam memperingati berbagai hari bersejarah dengan acaranya masing-masing. Dan meski tanpa dibunyikannya sirine tanda proklamasi, dan barang tentu suasana berbeda, aku tetap mensyukurinya, setidaknya aku kembali melihat merah putih dikibarkan, puncak cintaku pada tanah air yang berkibar bebas, gagah, seperti darah muda yang membuncah.
Meski tak ada yang tahu, siapa diantara kami yang benar-benar merasakan cinta, cinta pada setiap jengkal tanahnya dan setiap tetes airnya, cinta pada setiap anginnya yang membelai, udara yang menghidupkan, dan bangga ketika sang saka berkibar, seperti rasa bangga ketika merah putih dikibarkan setelah merobek bendera biru dibawahnya.
Dua hari lalu, aku terhenyak akan kenyataan, salahkan aku menjadi seorang yang iri dan berpikiran tertutup, salahkan aku menjadi seorang yang berbagai prasangka, salahkan aku menjadi bagian bangsa ini, padahal bung Karno adalah seorang yang benar-benar memikirkan dan peduli tidak hanya bagi bangsanya tapi juga pada hubungan internasional, lalu kenapa aku iri pada setiap kata-kata di social media yang beramai-ramai meneriaki kedamaian di negara lain? kenapa aku iri pada mereka yang berbondong-bondong membuat hastag dan menjadikannya trending topic? katanya untuk membuat dunia tahu bahwa negara tersebut sedang terjadi kejahatan besar, dan seharusnya tidak begitu, bukankah itu baik dan memang seharusnya aku juga begitu? tapi kenapa aku iri?
Aku melihat kalender, hari itu tanggal 15 Agustus dan hampir menjelang 16, aku menyadari dua hari lagi, puncak dari proklamasi, aku hanya iri, tidak merasakan euforia kemerdekaan, aku hanya iri, selanjutnya yang terjadi lebih aneh, setelah ada yang mengulas tetang kemerdekaan, dan diakhir kalimat terdapat kata-kata mutiara dan pembangkit semangat, malah menghidar dan berpikir, aku tidak suka, membayangkan apa yang ia rasakan saat menulisnya, salah satu lembaga resmi yang memiliki admin menulis setiap hari dan akhirnya menulis di saat ini, rasa cintakah yang ia tuangkan dalam tulisannya? atau sekedar memenuhi kewajibankah ia saat menulisnya?
Cinta memang aneh, karena disaat aku berpikir tentang cinta itu, yang kulakukan tidak lebih dari mengeluh dan menyalahkan, kalau aku iri, kenapa aku tidak berbuat sesuatu?
Apakah cinta itu juga bisa dibuktikan dengan cekcok dengan ayah soal membeli bendera?
kembali aku hanya iri, melihat merah putih berkibar disetiap depan rumah dan jalan-jalan dihiasi bendera plastik merah putih yang disusun zig zag, budaya yang hampir punah di sekitar rumahku, akhir-akhir ini, semangat kemerdekaan itu tenggelam dengan perayaan lain, apa aku salah menginginkan bendera berkibar dirumahku?
kalaupun kita sulit, bukan berarti nilai cinta tanah air itu yang dikorbankan ayah, aku tidak mau adikku nanti tidak merasakan cinta dan bangga pada tanah airnya, tidak menganggap bahwa seperti orang tua yang melahirkan, jodoh , bentuk fisik, kita juga ditakdirkan di tanah air ini, sebuah ikatan yang pasti tetap ada walau kita tidak menginginkannya, cinta yang mutlak ada, aku tidak menginginkan nantinya orang-orang menganggap tanah air ini sekedar tempat lahir dan kita tidak memiliki rasa terima kasih apapun sehingga tiada tanggung jawab lagi meneruskan perjuangannya.
Cinta memang aneh, apakah segala ceremonial di 17 Agustus itu menandakan bentuk cinta? atau yang penting hanya memaknainya dengan berpikir sendiri? lalu apakah kita akan membiarkan 17 Agustus berlalu seperti hari biasanya?
dan bagaimana menunjukkan kita cinta? dalamnya hati tak ada yang tahu, apakah setiap yang melakukan sesuatu berlandaskan cinta? atau apakah mereka yang diam dapat dipastikan tidak memiliki cinta?
Aku tidak menemukan jawabannya, yang aku tahu hari itu aku kembali diajarkan tentang kehidupan, seperti engkau dilahirkan siapa, dengan agama apa (semasa lahir), tanggal, bulan dan tahun berapa, bentuk fisik seperti apa, jodoh kelak, kita dan tanah air adalah garisan takdir, yang setiap hari tanahnya kita pijak dan airnya kita minum, terus mengalir dalam aliran darah dan pundi-pundi napas ini, apa kamu rela melihat takdirmu berantakan dan jadi yang terburuk? kalau aku jelas tidak mau.
kunikmati segala peluhku, kunikmati semua memori yang berputar di kepalaku. Mentari menyambut baik niat kami, ia bersinar seolah tengah tertawa, ikut bahagia dalam peringatan kemerdekaan.
Hari itu upacara bendera, meski hari itu peserta hadir berwarna warni, ini akan terlewati lebih berguna bagiku, dibanding aku hanya diam membiarkan hari itu terlewat tanpa ada sebuah ceremonial, seperti tahun-tahun sebelumnya, yang membuatku iri dengan mereka yang masih berlebelkan seragam memperingati berbagai hari bersejarah dengan acaranya masing-masing. Dan meski tanpa dibunyikannya sirine tanda proklamasi, dan barang tentu suasana berbeda, aku tetap mensyukurinya, setidaknya aku kembali melihat merah putih dikibarkan, puncak cintaku pada tanah air yang berkibar bebas, gagah, seperti darah muda yang membuncah.
Meski tak ada yang tahu, siapa diantara kami yang benar-benar merasakan cinta, cinta pada setiap jengkal tanahnya dan setiap tetes airnya, cinta pada setiap anginnya yang membelai, udara yang menghidupkan, dan bangga ketika sang saka berkibar, seperti rasa bangga ketika merah putih dikibarkan setelah merobek bendera biru dibawahnya.
Dua hari lalu, aku terhenyak akan kenyataan, salahkan aku menjadi seorang yang iri dan berpikiran tertutup, salahkan aku menjadi seorang yang berbagai prasangka, salahkan aku menjadi bagian bangsa ini, padahal bung Karno adalah seorang yang benar-benar memikirkan dan peduli tidak hanya bagi bangsanya tapi juga pada hubungan internasional, lalu kenapa aku iri pada setiap kata-kata di social media yang beramai-ramai meneriaki kedamaian di negara lain? kenapa aku iri pada mereka yang berbondong-bondong membuat hastag dan menjadikannya trending topic? katanya untuk membuat dunia tahu bahwa negara tersebut sedang terjadi kejahatan besar, dan seharusnya tidak begitu, bukankah itu baik dan memang seharusnya aku juga begitu? tapi kenapa aku iri?
Aku melihat kalender, hari itu tanggal 15 Agustus dan hampir menjelang 16, aku menyadari dua hari lagi, puncak dari proklamasi, aku hanya iri, tidak merasakan euforia kemerdekaan, aku hanya iri, selanjutnya yang terjadi lebih aneh, setelah ada yang mengulas tetang kemerdekaan, dan diakhir kalimat terdapat kata-kata mutiara dan pembangkit semangat, malah menghidar dan berpikir, aku tidak suka, membayangkan apa yang ia rasakan saat menulisnya, salah satu lembaga resmi yang memiliki admin menulis setiap hari dan akhirnya menulis di saat ini, rasa cintakah yang ia tuangkan dalam tulisannya? atau sekedar memenuhi kewajibankah ia saat menulisnya?
Cinta memang aneh, karena disaat aku berpikir tentang cinta itu, yang kulakukan tidak lebih dari mengeluh dan menyalahkan, kalau aku iri, kenapa aku tidak berbuat sesuatu?
Apakah cinta itu juga bisa dibuktikan dengan cekcok dengan ayah soal membeli bendera?
kembali aku hanya iri, melihat merah putih berkibar disetiap depan rumah dan jalan-jalan dihiasi bendera plastik merah putih yang disusun zig zag, budaya yang hampir punah di sekitar rumahku, akhir-akhir ini, semangat kemerdekaan itu tenggelam dengan perayaan lain, apa aku salah menginginkan bendera berkibar dirumahku?
kalaupun kita sulit, bukan berarti nilai cinta tanah air itu yang dikorbankan ayah, aku tidak mau adikku nanti tidak merasakan cinta dan bangga pada tanah airnya, tidak menganggap bahwa seperti orang tua yang melahirkan, jodoh , bentuk fisik, kita juga ditakdirkan di tanah air ini, sebuah ikatan yang pasti tetap ada walau kita tidak menginginkannya, cinta yang mutlak ada, aku tidak menginginkan nantinya orang-orang menganggap tanah air ini sekedar tempat lahir dan kita tidak memiliki rasa terima kasih apapun sehingga tiada tanggung jawab lagi meneruskan perjuangannya.
Cinta memang aneh, apakah segala ceremonial di 17 Agustus itu menandakan bentuk cinta? atau yang penting hanya memaknainya dengan berpikir sendiri? lalu apakah kita akan membiarkan 17 Agustus berlalu seperti hari biasanya?
dan bagaimana menunjukkan kita cinta? dalamnya hati tak ada yang tahu, apakah setiap yang melakukan sesuatu berlandaskan cinta? atau apakah mereka yang diam dapat dipastikan tidak memiliki cinta?
Aku tidak menemukan jawabannya, yang aku tahu hari itu aku kembali diajarkan tentang kehidupan, seperti engkau dilahirkan siapa, dengan agama apa (semasa lahir), tanggal, bulan dan tahun berapa, bentuk fisik seperti apa, jodoh kelak, kita dan tanah air adalah garisan takdir, yang setiap hari tanahnya kita pijak dan airnya kita minum, terus mengalir dalam aliran darah dan pundi-pundi napas ini, apa kamu rela melihat takdirmu berantakan dan jadi yang terburuk? kalau aku jelas tidak mau.
Rabu, 12 Juni 2013
Random Post 6
Sahabatku,
hari ini, mungkin aku menjadi seorang dengan pikiran ternegatif yang pernah aku rasakan, ketika seseorang berada pada titik terjenuhnya berbicara tentang rencana, berbicara tentang segala bentuk skenario yang seolah baru ku tahu belum lama ini.
Mungkin, aku adalah seorang yang sangat merasa senang, ketika melihat seorang menghargai orang lain, sangat merasakan energi positif dari setiap senyuman atau penghargaan sekecil apapun pada setiap individu yang ada.
Tapi, ketika aku kembali teringat segala bentuk skenario yang diadakan demi tujuan tertentu, maka hal buruk yang terjadi adalah aku akan berpikir bahwa, ia berlaku seperti itu kaena memang ia harus berlaku demikian, bukan karena semata apa yang dilakukan orang lain itu berharga baginya...betapa menyedihkan.
Pasalnya, aku menjadi orang yang sampai berpikir muak dengan segala yang berada di belakang apa yang dilakukan tersebut, dan tingkat jenuh ini terkadang sampai pada tahap pencuriga dan berspekulasi tidak peduli, no sense atas semuanya.
Sebuah kenangan manis kalau saja aku tidak pernah mengetahui bahwa, apa yang dilakukan itu semata karea tujuan tertentu, bukan murni karena hal tertentu yang memang patut diberikan sesuatu.
tetapi, aku kembali bepikir, apakah semua manusia akan melakukan hal tersebut? segala skenario yang dibuat seindah madu tetapi memiliki kepentingan yang menghancurkan semua anggapan ketulusan dibelakangnya, atau memang harus dilakukan hal seperti itu?
karena sadar atau tidak, aku selama ini hidup dalam belenggu tersebut.
Bukan ilmu yang salah tetapi mungkin saja perspektif yang menganggap general manusia dengan sifat seperti itu yang menjadi kesalahanku
hari ini, mungkin aku menjadi seorang dengan pikiran ternegatif yang pernah aku rasakan, ketika seseorang berada pada titik terjenuhnya berbicara tentang rencana, berbicara tentang segala bentuk skenario yang seolah baru ku tahu belum lama ini.
Mungkin, aku adalah seorang yang sangat merasa senang, ketika melihat seorang menghargai orang lain, sangat merasakan energi positif dari setiap senyuman atau penghargaan sekecil apapun pada setiap individu yang ada.
Tapi, ketika aku kembali teringat segala bentuk skenario yang diadakan demi tujuan tertentu, maka hal buruk yang terjadi adalah aku akan berpikir bahwa, ia berlaku seperti itu kaena memang ia harus berlaku demikian, bukan karena semata apa yang dilakukan orang lain itu berharga baginya...betapa menyedihkan.
Pasalnya, aku menjadi orang yang sampai berpikir muak dengan segala yang berada di belakang apa yang dilakukan tersebut, dan tingkat jenuh ini terkadang sampai pada tahap pencuriga dan berspekulasi tidak peduli, no sense atas semuanya.
Sebuah kenangan manis kalau saja aku tidak pernah mengetahui bahwa, apa yang dilakukan itu semata karea tujuan tertentu, bukan murni karena hal tertentu yang memang patut diberikan sesuatu.
tetapi, aku kembali bepikir, apakah semua manusia akan melakukan hal tersebut? segala skenario yang dibuat seindah madu tetapi memiliki kepentingan yang menghancurkan semua anggapan ketulusan dibelakangnya, atau memang harus dilakukan hal seperti itu?
karena sadar atau tidak, aku selama ini hidup dalam belenggu tersebut.
Bukan ilmu yang salah tetapi mungkin saja perspektif yang menganggap general manusia dengan sifat seperti itu yang menjadi kesalahanku
Selasa, 28 Mei 2013
Random Post 5
Hari ini, aku membaca status tiga orang berbeda dari salah satu jejaring sosial yang ada, kenapa spesial sekali ya sampai aku tuliskan kedalam blog ini? padahal aktif di jejaring sosial itu hobiku, bisa menuangkan pemikiran dengan media tulisan, dengan statusku yang aktif sebagai pengguna jejaring sosial, pasti membaca status orang lain juga hal biasa bukan? namun, rasanya, mengulas status tiga orang ini menjadi hal yang menarik...
aku tidak akan menuliskan statusnya disini, aku ga izin sama mereka, nanti salah-salah dikira melanggar hak cipta lagi hehehe
Orang pertama, membuat status tentang kritik sosial mengenai kehidupan khususnya di kota yang semakin kehilangan orang-orang yang peduli, jiwa sosial yang rendah, orang kedua membuat status tentang fenomena pelajar sekarang, yang hanya mementingkan tugas individu dan tidak mengindahkan tugas kelompok, orang ketiga mengkritik masalah paradigma sekuler di sekitar kita yang mengekang kebebasan berpendapat berlandaskan keyakinan yang dimiliki.
Tiga hal yang berbeda bukan? dan sangat menarik...namun aku seprti melihat hal yang sama yakni budaya di sekitar kita, bukan budaya yang seperti kekayaan tarian tradisional dan lain-lain tetapi, paradigma pergerakan masyarakat kita kini.
Inti dari ketiga status itu menurutku adalah sosial, pandangan masyarakatnya, kecenderungan individualis dan menjunjung tinggi kebebasan pribadi, ya liberal.
Mengapa jadi liberal?
karena...kepedulian sosial yang rendah, individualis dan tidak memaksimalkan adanya kerja sama, sekuler, bukankah itu ciri-ciri liberal?
ya..walaupun tidak semua orang berpaham liberal demikian..
kepedulian sosial yang rendah, bukankah siapa yang kuat dia yang menguasai?
individualis, apapun yang lo lakukan bukan urusan gue, selama ga ganggu kehidupan gue..
sekuler, jangan bawa-bawa agama deh, ini kan negara hukum!
mmm..kira-kira begitu bukan?
sebenarnya, aku juga merasakan, tidak jarang kerja kelompok cuma "eh...kita bagi-bagi tugas ya..lo yang bagian ini, ini, ini" terus bubar..
menyebarluaskan acara yang ga baik secara agama dan moral..."gimana kita nyegahnya ya? di UUnya ga ada"
ada tromol lewat..."eh bentar-bentar, duit gue tinggal berapa ya? minggu ini kan ada konsol bla-bla-bla"
kenapa sekrang nilai sosial itu sedikit demi sedikit dipandang sebelah mata ya?
katanya, kita ini makhluk sosial yang harus saling membantu
selama kita juga dibantu...
think again?
aku tidak akan menuliskan statusnya disini, aku ga izin sama mereka, nanti salah-salah dikira melanggar hak cipta lagi hehehe
Orang pertama, membuat status tentang kritik sosial mengenai kehidupan khususnya di kota yang semakin kehilangan orang-orang yang peduli, jiwa sosial yang rendah, orang kedua membuat status tentang fenomena pelajar sekarang, yang hanya mementingkan tugas individu dan tidak mengindahkan tugas kelompok, orang ketiga mengkritik masalah paradigma sekuler di sekitar kita yang mengekang kebebasan berpendapat berlandaskan keyakinan yang dimiliki.
Tiga hal yang berbeda bukan? dan sangat menarik...namun aku seprti melihat hal yang sama yakni budaya di sekitar kita, bukan budaya yang seperti kekayaan tarian tradisional dan lain-lain tetapi, paradigma pergerakan masyarakat kita kini.
Inti dari ketiga status itu menurutku adalah sosial, pandangan masyarakatnya, kecenderungan individualis dan menjunjung tinggi kebebasan pribadi, ya liberal.
Mengapa jadi liberal?
karena...kepedulian sosial yang rendah, individualis dan tidak memaksimalkan adanya kerja sama, sekuler, bukankah itu ciri-ciri liberal?
ya..walaupun tidak semua orang berpaham liberal demikian..
kepedulian sosial yang rendah, bukankah siapa yang kuat dia yang menguasai?
individualis, apapun yang lo lakukan bukan urusan gue, selama ga ganggu kehidupan gue..
sekuler, jangan bawa-bawa agama deh, ini kan negara hukum!
mmm..kira-kira begitu bukan?
sebenarnya, aku juga merasakan, tidak jarang kerja kelompok cuma "eh...kita bagi-bagi tugas ya..lo yang bagian ini, ini, ini" terus bubar..
menyebarluaskan acara yang ga baik secara agama dan moral..."gimana kita nyegahnya ya? di UUnya ga ada"
ada tromol lewat..."eh bentar-bentar, duit gue tinggal berapa ya? minggu ini kan ada konsol bla-bla-bla"
kenapa sekrang nilai sosial itu sedikit demi sedikit dipandang sebelah mata ya?
katanya, kita ini makhluk sosial yang harus saling membantu
selama kita juga dibantu...
think again?
Kamis, 23 Mei 2013
Random Post 4
it's never be a part of me..
kalimat pembuka yang tidak sesuai -_-"
tapi...sebenarnya, cuma mau nge-post tulisan aneh yang ga sengaja nemu di suatu tempat,
maklum..i forgot to write the time..terkadang lebih baik supaya menambah daya ingat dan menganalisa, kapan tulisan itu dibuat, dibanding bergantung pada apa yang sudah ada dan tersaji ( whatever..), walaupun ujung-ujungnya gue ga inget :p (skip)
it sounds like...
untuk diriku yang stuck dengan seseorang
mata ini senantiasa berbicara
meski, aku tahu suatu hal mustahil dihadapku
mengapa aku tak bisa membaca gelombangmu?
aku hanya ingin sekedar tahu
dan, biarkan aku lepas
sayang, predikat istimewa ada dalam dirimu, dan tidak padaku
dan, sayang, kupu-kupu dengan satu sayap seolah mustahil untuk terbang
Dan aku hanyalah segelintir partikel dari kupu-kupu
sebuah pengelana rimba
terserahkan hidup pada belaian angin senja
dan pada diriku yang berhenti pada yang istimewa
dalam timangan maya, aku terbelenggu
sebuah kemustahilan niscaya harus ku telan
janji sang kuasa adalah benang misteri terhubung
bisa kau atau...
dan ketika setiap kelabu menyelimuti hanya yang istimewa pelangi hidup ini.
kenapa isinya begitu ya?
kenapa tulisanku seolah selalu merendahkan diriku sendiri?
padahal rendah hati itu tidak sama dengan rendah diri, dan ketika terdapat rasa rendah diri dalam dirimu menurut salah satu referensi, dapat menyebabkan kamu menjadi tidak percaya diri dan tidak maksimal dalam segala hal.
sepertinya sangat tepat, aku merasa, aku tidak menerjunkan diriku pada sesuatu apapun, maksudnya secara keseluruhan, aku suka sastra, tetapi aku belajar di teknik, aku anak teknik, tetapi bacaanku adalah buku sastra, novel, sosial dan politik, aku menyukai dunia musik, tetapi aku tidak bisa memainkan alat musik, aku suka menggambar tetapi aku tidak bisa melukis (menggambar sketsa lebih menyenangkan dibandingkan memadu padankan warna).
padahal hidup itu pilihan, padahal aku bisa memilih hidup, tetapi sepertinya aku dipilih oleh hidup..
dan berbicara soal isinya, aku juga tidak mengerti mengapa bisa seperti itu, yang aku tahu adalah aku menyukai hal yang spontanitas, dan sepertinya itu adalah kata-kata yang terangkai setelah aku memikirkan sesuatu
kalimat pembuka yang tidak sesuai -_-"
tapi...sebenarnya, cuma mau nge-post tulisan aneh yang ga sengaja nemu di suatu tempat,
maklum..i forgot to write the time..terkadang lebih baik supaya menambah daya ingat dan menganalisa, kapan tulisan itu dibuat, dibanding bergantung pada apa yang sudah ada dan tersaji ( whatever..), walaupun ujung-ujungnya gue ga inget :p (skip)
it sounds like...
untuk diriku yang stuck dengan seseorang
mata ini senantiasa berbicara
meski, aku tahu suatu hal mustahil dihadapku
mengapa aku tak bisa membaca gelombangmu?
aku hanya ingin sekedar tahu
dan, biarkan aku lepas
sayang, predikat istimewa ada dalam dirimu, dan tidak padaku
dan, sayang, kupu-kupu dengan satu sayap seolah mustahil untuk terbang
Dan aku hanyalah segelintir partikel dari kupu-kupu
sebuah pengelana rimba
terserahkan hidup pada belaian angin senja
dan pada diriku yang berhenti pada yang istimewa
dalam timangan maya, aku terbelenggu
sebuah kemustahilan niscaya harus ku telan
janji sang kuasa adalah benang misteri terhubung
bisa kau atau...
dan ketika setiap kelabu menyelimuti hanya yang istimewa pelangi hidup ini.
kenapa isinya begitu ya?
kenapa tulisanku seolah selalu merendahkan diriku sendiri?
padahal rendah hati itu tidak sama dengan rendah diri, dan ketika terdapat rasa rendah diri dalam dirimu menurut salah satu referensi, dapat menyebabkan kamu menjadi tidak percaya diri dan tidak maksimal dalam segala hal.
sepertinya sangat tepat, aku merasa, aku tidak menerjunkan diriku pada sesuatu apapun, maksudnya secara keseluruhan, aku suka sastra, tetapi aku belajar di teknik, aku anak teknik, tetapi bacaanku adalah buku sastra, novel, sosial dan politik, aku menyukai dunia musik, tetapi aku tidak bisa memainkan alat musik, aku suka menggambar tetapi aku tidak bisa melukis (menggambar sketsa lebih menyenangkan dibandingkan memadu padankan warna).
padahal hidup itu pilihan, padahal aku bisa memilih hidup, tetapi sepertinya aku dipilih oleh hidup..
dan berbicara soal isinya, aku juga tidak mengerti mengapa bisa seperti itu, yang aku tahu adalah aku menyukai hal yang spontanitas, dan sepertinya itu adalah kata-kata yang terangkai setelah aku memikirkan sesuatu
Selasa, 14 Mei 2013
Pemikiran Pagi-
-Di sebuah pagi, dalam belaian sunyi-
Raga dan jiwaku bersatu kembali
Kala genggaman mentari merasuki
dan aku berpikir,ah...tatkala setiap helaan
penuh amarah, ketidakpercayaan dan kebencian
Aku, dan seluruh rasa itu
Percayakah, apa itu salahku?
Dunia sekitarku penuh topeng dimensi lima
Membuat perangainya semanis kembang gula
dan ketika, tiba dalam satu sisi gelap, mereka berubah
sepahit limpa
Aku berpikir,
kemudian, apa maksud aku ada di tanah air ini?
mengapa aku diciptakan ditengah keluarga ini?
apa yang aku harapkan dari kepuasan pribadi?
Untuk apa segala bentuk NKRI?
Untuk apa segala doktrin kesatuan?
Untuk apa Bhinneka Tunggal Ika?
Aku,
bukankah aku INDONESIA?
meski aku belum sepenuhnya INDONESIA,
Tapi...aku adalah INDONESIA
Untuk apa memikirkan diri sendiri?
jika kita dapat saling membahu?
Untuk apa semua ideologi yang angkat senjata?
jika kita masih berdiri di bawah kibaran sang saka.
Untuk apa segala pemikiran itu?
jika kita adalah satu
Negeri ini, ada karena cita
satu...dalam madani
kesatuan dan persatuan
dan keniscayaan itu adalah nyata
bahwa kita tetap satu, INDONESIA...
-untuk pemikiranku yang liberalis, dan akan kukalahkan dengan pancasila-
dan kebencian itu adalah kepingan
kutaburi bubuk damai
ego itu, bukanlah jiwaku
di saat pribadi adalah segala
aku memiliki impian
setiap kita akan merendahkan hati demi kesatuan persatuan
Raga dan jiwaku bersatu kembali
Kala genggaman mentari merasuki
dan aku berpikir,ah...tatkala setiap helaan
penuh amarah, ketidakpercayaan dan kebencian
Aku, dan seluruh rasa itu
Percayakah, apa itu salahku?
Dunia sekitarku penuh topeng dimensi lima
Membuat perangainya semanis kembang gula
dan ketika, tiba dalam satu sisi gelap, mereka berubah
sepahit limpa
Aku berpikir,
kemudian, apa maksud aku ada di tanah air ini?
mengapa aku diciptakan ditengah keluarga ini?
apa yang aku harapkan dari kepuasan pribadi?
Untuk apa segala bentuk NKRI?
Untuk apa segala doktrin kesatuan?
Untuk apa Bhinneka Tunggal Ika?
Aku,
bukankah aku INDONESIA?
meski aku belum sepenuhnya INDONESIA,
Tapi...aku adalah INDONESIA
Untuk apa memikirkan diri sendiri?
jika kita dapat saling membahu?
Untuk apa semua ideologi yang angkat senjata?
jika kita masih berdiri di bawah kibaran sang saka.
Untuk apa segala pemikiran itu?
jika kita adalah satu
Negeri ini, ada karena cita
satu...dalam madani
kesatuan dan persatuan
dan keniscayaan itu adalah nyata
bahwa kita tetap satu, INDONESIA...
-untuk pemikiranku yang liberalis, dan akan kukalahkan dengan pancasila-
dan kebencian itu adalah kepingan
kutaburi bubuk damai
ego itu, bukanlah jiwaku
di saat pribadi adalah segala
aku memiliki impian
setiap kita akan merendahkan hati demi kesatuan persatuan
Random Post 3
mungkin, pada postan ini, entah aku ingin mencabut pernyataanku kembali, bahwa segala sesuatunya ternyata bisa dibicarakan lewat lisan, terkadang, memang ada yang sebuah pemikiran yang bisa kita ungkapkan, dan membuat mereka mengerti, dan ada pemikiran yang tidak dapat sepenuhnya kita ungkapkan, entah, mungkin dalam sebuah hubungan antara manusia, tidak dapat sepenuhnya mengerti dirimu, sebuah pemikiran itu ada di setiap diri manusia, dan tidak semua pemikiran dapat diterima. Aku berpikir, apakah setiap pemikiran dapat kita pastikan benar salahnya, sedangkan benar salah itu sendiri adalah sebuah hal yang abstrak?
Kali ini mungkin aku sangat random, aku berpikir kembali mengenai sebuah kata "Independensi", sepertinya akhir-akhir ini aku sangat akrab dengan kata ini, benarkah sebuah kata itu benar bermakna?, benarkah ada yang namanya independensi?
Sejujurnya, disadari atau tidak, setiap kita tidak pernah mencapai namanya independen, bukankah kita selalu bergantung satu sama lain? bukankah setiap kita tidak dapat keluar dari yang namayan sebuah "kepentingan"?, aku tidak bisa percaya, jika seseorang menyatakan dirinya murni independen, aku tidak bisa percaya, lalu, untuk apa kita hidup di dunia ini? bukankah kita terikat pada Tuhan? bukankah kita terikat pada orang tua? teman? rekan kerja? tradisi? kepentingan terntentu?
lantas kenapa kata itu selalu ada? berputar-putar? padahal, hal itu adalah pengertian yang absolut?
siapakah yang memberikan batasan pengertian independensi sebenarnya? dan apakah batasan tersebut dapat diterima semua manusia?
apakah independensi itu ada?
Kembali merandokan diri, hari ini, aku mendengar bahwa, dikriminasi itu pernah nyata, "diskriminasi" sebuah kata yang mugkin kita nilai hanya sebuah kata, namun, satu kata itu kulihat sangat menyakitkan, bagaimana seseorang dapat dibedakan hanya karena apa yang tidak pernah dia tentukan sendiri dan itu adalah takdir yang telah digariskan?
apakah kita bisa memlilih menginginkan dilahirkan di keluarga seperti apa?
apakah kita bisa memilih dapat ras yang seperti apa?
aku tidak mengerti, mengapa setiap kita tidak mungkin tidak mengerti suatu hal yang idea yang seharusnya terjadi di lingkungan sosial kita, mengapa masih ada yang melakukan hal tidak ideal seperti itu?
apakah hal itu diciptakan untuk mendinamisasi kehidupan ini?
dan kita membutuhkan orang-orang itu untuk membuat kehidupan ini lebih berwarna?
dan jika sebenarnya semua tahu, mengapa kita tidak bergerak bersama membuat sebuah kehidupan madani?
dan satu hal yang selalu membuatku kembali mempertanyakan, adalah kehidupan yang ideal itu?
dan sampai manakah batasan idela itu yang sebenarnya?
Kali ini mungkin aku sangat random, aku berpikir kembali mengenai sebuah kata "Independensi", sepertinya akhir-akhir ini aku sangat akrab dengan kata ini, benarkah sebuah kata itu benar bermakna?, benarkah ada yang namanya independensi?
Sejujurnya, disadari atau tidak, setiap kita tidak pernah mencapai namanya independen, bukankah kita selalu bergantung satu sama lain? bukankah setiap kita tidak dapat keluar dari yang namayan sebuah "kepentingan"?, aku tidak bisa percaya, jika seseorang menyatakan dirinya murni independen, aku tidak bisa percaya, lalu, untuk apa kita hidup di dunia ini? bukankah kita terikat pada Tuhan? bukankah kita terikat pada orang tua? teman? rekan kerja? tradisi? kepentingan terntentu?
lantas kenapa kata itu selalu ada? berputar-putar? padahal, hal itu adalah pengertian yang absolut?
siapakah yang memberikan batasan pengertian independensi sebenarnya? dan apakah batasan tersebut dapat diterima semua manusia?
apakah independensi itu ada?
Kembali merandokan diri, hari ini, aku mendengar bahwa, dikriminasi itu pernah nyata, "diskriminasi" sebuah kata yang mugkin kita nilai hanya sebuah kata, namun, satu kata itu kulihat sangat menyakitkan, bagaimana seseorang dapat dibedakan hanya karena apa yang tidak pernah dia tentukan sendiri dan itu adalah takdir yang telah digariskan?
apakah kita bisa memlilih menginginkan dilahirkan di keluarga seperti apa?
apakah kita bisa memilih dapat ras yang seperti apa?
aku tidak mengerti, mengapa setiap kita tidak mungkin tidak mengerti suatu hal yang idea yang seharusnya terjadi di lingkungan sosial kita, mengapa masih ada yang melakukan hal tidak ideal seperti itu?
apakah hal itu diciptakan untuk mendinamisasi kehidupan ini?
dan kita membutuhkan orang-orang itu untuk membuat kehidupan ini lebih berwarna?
dan jika sebenarnya semua tahu, mengapa kita tidak bergerak bersama membuat sebuah kehidupan madani?
dan satu hal yang selalu membuatku kembali mempertanyakan, adalah kehidupan yang ideal itu?
dan sampai manakah batasan idela itu yang sebenarnya?
Kamis, 09 Mei 2013
Aku Percaya
terlalu lama, apa aku melupakanmu?
aku percaya, jika ini adalah suara maka kau bukan sekadar telinga, tetapi syaraf dan segala kemampuannya yang akan menyimpan segala suara ini menjadi lembaran memori nada dari sebuah lagu kehidupan
jika ini adalah getaran, maka resonansi dari sekedar gelombang longitudinal transversal yang kan kau tangkap dan tercatat dalam seismograf abadi.
jika ini adalah lukisan, aku percaya galeri agung terjaga tempat menyimpan lukisan tanpa kaca yang akan kau berikan, agar dapat dilihat, dirasa dengan nyata tanpa sebuah penghalangan namun tetap teristimewa.
Klausa seorang yang mematung diri dalam lingkar kepercayaan hakiki, aku bukan dirimu, tetapi benang-benang kehidupan ini terhubung satu, melewati segala batas logika manusia, dan tersembunyi dalam kerahasiaan terbesar di dalam bumi ini.
Jika, berjuta kubik magma dapat menerobos keluar dari tempat ia bertahan selama milyaran tahun
dan lapisan dasar tanah yang dapat muncul tiba-tiba setelah sekian lama tertidur
maka, letupan sebauh rahasia yang terkubur bukan mustahil akan mengeruak dan menampakkan segala keniscayaannya.
Dan, ketika sebuah rahasia kehidupan akan terbongkar, maka aku berharap dalam setiap pembukaannya adalah tabir misteri yang perlahan menampakkan cahayanya
aku percaya, jika ini adalah suara maka kau bukan sekadar telinga, tetapi syaraf dan segala kemampuannya yang akan menyimpan segala suara ini menjadi lembaran memori nada dari sebuah lagu kehidupan
jika ini adalah getaran, maka resonansi dari sekedar gelombang longitudinal transversal yang kan kau tangkap dan tercatat dalam seismograf abadi.
jika ini adalah lukisan, aku percaya galeri agung terjaga tempat menyimpan lukisan tanpa kaca yang akan kau berikan, agar dapat dilihat, dirasa dengan nyata tanpa sebuah penghalangan namun tetap teristimewa.
Klausa seorang yang mematung diri dalam lingkar kepercayaan hakiki, aku bukan dirimu, tetapi benang-benang kehidupan ini terhubung satu, melewati segala batas logika manusia, dan tersembunyi dalam kerahasiaan terbesar di dalam bumi ini.
Jika, berjuta kubik magma dapat menerobos keluar dari tempat ia bertahan selama milyaran tahun
dan lapisan dasar tanah yang dapat muncul tiba-tiba setelah sekian lama tertidur
maka, letupan sebauh rahasia yang terkubur bukan mustahil akan mengeruak dan menampakkan segala keniscayaannya.
Dan, ketika sebuah rahasia kehidupan akan terbongkar, maka aku berharap dalam setiap pembukaannya adalah tabir misteri yang perlahan menampakkan cahayanya
Minggu, 28 April 2013
Random Post 2
Sadar atau tidak, semakin tumbuh dan mulai berpikir, kita menciptakan batas-batas kita sendiri, pernahkah kalian berpikir bahwa mengapa ada hal yang kita anggap baik dan tidak baik, benar dan tidak benar, serta boleh dan tidak boleh?
mungkin hanya pemikiran saya, tetapi, seperti seorang bayi yang memasukkan jarinya kedalam mulutnya dan mengemutnya dengan asyik, apakah kita yang telah berusia lebih akan melakukan hal yang sama secara bebas selayaknya bayi tersebut? sepertinya kita akan berpikir berkali lipat, menghimpun berbagai alasan dan melihat dampaknya bagi diri kita jika melakukan hal tersebut bukan? kita yang mengetahui bahwa, dengan memasukkan tangan kedalam mulut, tidak menutup kemungkinan ada kuman yang tertinggal dan membuat kita terganggu kesehatannya, sedangkan bayi tersebut apakah berpikiran sampai kesana?
atau jika kamu berjalan-jalan ke pusat perbelanjaan, jarang sekali bahkan tidak pernah melihat seorang yang dewasa berlari-lari penuh kesenangan bukan? (kecuali di iklan kalau ada diskon hehehe), ingat kalau kita melakukan hal seperti kejar-kejaran apa yang kadang terucap oleh orang lain yang meilhatnya? "ngapain lagi ini kejar-kejaran kayak anak kecil aja?"
Padahal menurut anak kecil itu menyenangkan, dan mereka tidak membatasi diri mereka dengan anggapan orang lain di sekitarnya, mereka hanya mengejar apa yang mereka mau dan pikirikan.
Maksud penjabaran tadi adalah, seiring waktu kita hidup dan menuntut ilmu, kita mengetahui teori-teori yang berlaku dalam kehidupan ini, baik itu ilmu pasti, kebudayaan yang biasa diterapkan masyarakat, atau sekedar omongan selingan, kita akan mengikuti hal tersebut, yang kita anggap itu baik dan pantas dijalankan, dan secara otomatis membatasi diri kita akan segala hal yang kita anggap buruk dan tidak pantas dijalankan.
Batas-batas itu tentu baik jika kita menerapkan prinsip tadi, yang baik dijalankan dan yang buruk ditinggalkan.
Permasalahannya adalah apakah semua dari kita akan nyaman dengan batas tersebut atau tidak, terlebih batas-batas yang berlaku di masyarakat seperti bagaimana budaya yang terbangun sangatlah heterogen satu dengan lainnya, kita yang melihat perbedaan itu pasti akan berpikir untuk membandingkan perbedaan tersebut, yang mana yang menurut kita benar.
benar sendiri bukanlah hal yang mutlak bagi setiap orang, terlebih sebuah budanya, terkadang aku berpikir benarkah kita memaksanakan seseorang yang berasal dari budaya lain dipaksakan mengikuti budaya yang berlaku pada suatu tempat yang bahkan hanya sebentar ia akan singgahi? atau memaksakan seseorang yang harus mengikuti budaya setempat saat mereka hanya ingin berkunjung dan sebenarnya terdapat dua kepentingan seimbang diantara keduanya?
Entah, terkadang aku sampai merasa tidak terlalu suka dengan mereka yang senantiasa berpikiran "saya adalah yang terbaik dan kalau kalian mau berurusan dengan saya, maka harus mengikuti cara saya terlebih dahulu",kata harus mengikuti caraku terlebih dahulu membuat secara psikis seorang yang lain akan berpikir dua kali jika ingin melibatkanmu, kenapa?
Jawaban saya akan ini adalah karena secara langsung anggapan tersebut telah membuat batas baik bagi yang merasa dia harus seperti saya dan yang merasa sebenarnya ingin melibatkan dirimu, bukan perkara mustahil, dia telah membuat batas dengan kita karena anggapan kita sendiri. Seperti kecenderungan kelas sosial. Dan batas-batas itu terkadang mengkotak-kotakkan kita pada suatu yang mutlak secara abstrak.
Terkadang aku berpikir, mengapa kita tidak saling merendahkan hati dan berjalan bersama menuju apa yang disebut kesejahteraan dan kemapanan, meskipun memang tak semua orang benar berhati berlian sehingga tidak akan ada satu dan lainnya yang tega melanggar kesepakatan bersama guna menghapus sebagian batas-batas tersebut, tidak seluruhnya tetapi hanya sebagaian yang membuat kita dapat menerima dan diterima satu dengan yang lain.
Jika terlalu memaksakan seseorang mengikuti orang lainnya, maka jangan salahkan jika akan terjadi pemberontakkan, karena hakikatnya manusia menginginkan kebebasan bagi dirinya, keinginan untuk berkembang kearah yang mereka mau, meskipun batas-batas itu selalu diperlukan dan selalu penting sebagai koridor berjalannya
Jumat, 19 April 2013
Cerita Untuk Kita #24
Aku, Pramuka dan Kenangan Pertama
Ini
hari pertamaku sekolah SMA, sehari pasca peresmian sekaligus tanda Masa
Orientasi Sekolah yang mendebarkan itu berakhir , aroma yang ku hirup mulai
berbeda dan seluruh prediksi kehidupan anak SMA saat dahulu masih di SMP masih
terus membayangi, namun hanya satu kalimat yang terlintas dalam benakku saat
ini..’ayo kapan dispen?’
“permisi
pak, mau memanggil Fitri Suryani, Tanti Setiani, Bona Revano sama Yohanes
Christian buat dispensasi hari ini”
Yes!,
aku tahu waktu ini akan datang!
Seragam
putih-putih dengan topi dan dasi SMA yang bergaris kuning rapiku kenakan,
nampaknya pak matahari sedang sangat bergembira hari ini karena dengan senang
hati ia memancarkan sinarnya, begitu terik dan tak memperbolehkan bu awan untuk
bertengger disinggasananya. Tetapi kami anak-anak baru dalam balutan seragam
kaku ini seakan menantangnya, berkumpul di tengah lapangan basket yang tidak
serata lapangan voli karena konsepnya yang seperti di asphalt kasar, lapangan
yang satu-satunya merupakan lapangan dengan terali besi kawat dan hanya
memiliki dua pintu akses masuk setinggi
pintu rumahmu dalam ukuran standar, ‘seperti dalam sangkar’.
“pimpinan
saya ambil alih, seluruhnya SIAAAAPPP GERAK!”
Akhirnya
dimulai juga, tiga mata pelajaran hari ini akan kugadaikan dengan latihan
baris-berbaris, karena latihan kami tidak akan berakhir sebelum matahari
tenggelam kecuali break shalat ashar dan istirahat dalam komando terpusat,
sebenarnya mulai pukul 08.00 tadi pagi latihan sudah berjalan dan teman-temanku
yang berada di kelas wawasan internasional juga telah mengorbankan seluruh
jadwal mata pelajarannya hari ini, kami anak regular juga tidak mau kalah!
Lomba
semakin dekat, dengan berbasis sumber daya manusia yang berbeda latar belakang,
latihan intensif seperti ini seharusnya sudah dilakukan satu bulan lalu sejak
baru perekrutan, sayang…kami harus menunggu sampai satu minggu sebelum lomba,
aku harus merelakan jadwal sekolahku satu minggu ini, tapi tidak untuk tugas
dan ulangan, lomba telah di depan mata membawa nama sekolah dan beban
kehormatan sebagai langganan juara.
Aku
ada pada barisan ke 8 banjar ke dua, ya lumayan sebagai anak dengan
ketidakbakatan soal tinggi badan, barisan kami disusun berdasarkan tinggi, yang
tertinggi akan menduduki singgasana sebagai penjuru yakni barisan pertama
banjar pertama,pasukan dipisah antara pleton
putra dan putri, satu pleton ada 30 orang, 10 baris dan 3 banjar, itu
berarti yang menjadi putri mungil akan berada pada barisan paling kanan dan
banjar tiga.
“tiap-tiap
banjar dua kali belok kanan….jalan!”
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
“kangen
banget sama rekrutaaaannn!!!!”
“kangen
dispen”
“kangen
23”
“kangen
22”
Sesaat
mata kami saling bertemu, menahan kalimat selanjutnya, sepertinya ada pemikiran
yang sama atas persepsi dua angka diatas, ‘22’
“masih
inget ga kita utang sama ka ba’am?”, tak ada suara hanya ringisan dan anggukan
yang menjadi respon kami semua
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
“kalian
minta berapa menit?”
Krik..krik..krik…
“butuh
berapa menit? Kelas 2!”
Mataku
hanya lurus kedepan, memandang kaku ke bahu temanku di banjar pertama, tidak
berani tersenyum, tidak berani bergerak apalagi tertawa, melirikpun rasanya
ragu, beruntung yang ditanya kelas dua, beginilah asyiknya menjadi anak kelas
satu, masih punya kemakluman berpangku tangan, ayo kakak-kakak kelas dua…yang penting
kita sholat, kami mengandalkanmu, jadilah bijak, hwaiting!…
“berapa?
15 menit ya?!”
“siap
tiga puluh menit ka!”
“lama
banget!, cukup kali lima belas menit, biasanya juga lima menit…”
“siap
ga cukup ka, tiga puluh menit ka!”
Zzzz..dialog
yang berkepanjangan..pasnya aja deeehhhh…
“belum
dicoba juga, 20 menit!, telat satu menit 1 seri ya”
Sekitar
2 menit belum ada negosiasi lebih lanjut dari kelas dua, kalimat terakhir tadi
menjadi monolog yang menggantung, kelas satu hanya bisa harap-harap cemas
menghitung tawaran tadi dan kemungkinan push up yang akan dilakukan karena
telat.
“gimana?
20 menit tuh, sudah dikasih lebih”, monolog masih menggantung, aku hanya
berharap ‘jangan ka..lumayan nih kalau push up, lapangan GOR kan konblok semua’
“siap
iya ka!”, bagus..
“ambil
alih kelas dua!”
“Pimpinan
saya ambil alih..siap gerak, hadap kiri gerak, dari banjar paling kanan, maju
jalan!”
Apapun
yang terjadi ibadah tetap prioritas utama, meskipun terjebak dilema, putra dan
putinya tetap shalat berjamaah, beruntung para stakeholder 23 telah mewakili
dua agama dan yang mewakili agama islam adalah anak Rohis SMA,rasanya seperti
penerang dalam kehidupan yang seperti ‘ini’.
“ka…gimana
waktunya?”, yang ditanya hanya tertawa miris,
“hahaha..siap-siap
push up ya!”
Baiklah,
aku sangat maklum..
Kami
berlari sampai di samping Gelanggang Olahraga dan merapihkan barisan di sana
sebelum menjumpai kakak-kakak kelas tiga, sebuah siasat agar tidak terlalu lama
mengulur waktu, karena kalau kami berlari tak beraturan di depan mereka, bisa
lebih gawat, baiklah sudah berapa menit kami telat? Aku harus mempersiapkan
diri sebelum mendapatkan hadiahnya.
“berhenti
gerak, hadap kiri..gerak, istirahat di tempat gerak..siap sudah ka!”
“sudah?”
“siap
iya ka!”
Kakak
didepan kami yang berperwakan tegap, kulit cukup hitam dan berhidung mancung
bermata tajam itu mendekati barisan kami yang digabung pleton putra-putri
tetapi masih ada pembatas sehingga tidak bercampur antara barisnya jadi jika
dihitung lebih dari 70 orang ada di barisan ini, karena kelas satu lebih dari
60 orang dan kelas dua lebih dari 10 orang, satu lawan banyak, tetapi tampaknya
tetap satu yang akan menguasai yang banyak.
Dia
berjalan seraya melihat jam tangan yang melingkar di tangan kirinya, dengan
serta merta bersuara :
“telat
18 menit”
Gleekkk
“konsekuensinya
tadi satu menit 1 serikan?”
“siap
iya ka!”
“ya..pimpinan
saya ambil alih..hadap serong kiri gerak, silahkan turun! Satu!”
“satu!”
“dua!”
“dua!”
Kami
seperti belajar berhitung kembali, dan dengan patuhnya mengikuti komando kakak
tersebut, salah juga membuat kesepakatan, tapi konsekuensi memang sudah
tersepakati jadi harus dijalankan, anehnya saat itu, meskipun sudah mencapai
angka seratus, kami masih berbicara “siap tidak ka!” saat ditanya ‘’capek ga?’’
dan bagiku selama dikanan-kiriku masih ada teman-teman kami memikul konsekuensi
ini bersama-sama.
“seratus
tiga puluh!”
“seratus
tiga puluh!”
“capek
ga?”
“siap
tidak ka!”
“bener?
Masih sanggup ga? Sanggup-sanggup nanti pingsan lagi!”, kembali monolog
“mau
diterusin atau nanti aja?”, masih monolog
“bilang
aja kalau ga kuat!”
Pernyataan
yang membuat dilema, kalau kita bilang ga kuat sepertinya akan dianggap
‘mengeluh’ kalau bilang kuat, kasihan putranya, dengan posisi push up yang
seperti itu pasti sangat sangat kelelahan.
“siap
ga kuat ka!”
“naik!”
“siap
makasih ka!”, wah…hadiahnya selesai? Tidak sampai akhir? sepertinya kakak itu terserang
wabah malaikat putih, jarang-jarang kalimat itu tidak menjadi senjata untuk
menambah hukuman lagi, biasanya karena dianggap mengeluh hadiah lebih berat
menanti di pelupuk mata.
“masih
utang 5 seri ya sama saya!”, -_-“
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Sambil
memakan nasi padang yang berharga Rp 5000,00 yang dibeli di dekat rumah Nita,
laptop masih menyala memutar kenangan perjalanan kami lewat gambar yang menjadi
saksi bisu.
“terus
kita mau bayar utang kapan ya?”
“rasa-rasanya
sekarang waktunya tepat banget kalau sampai ditagih soal utang…”
“ya
lihat nanti aja, eh..kita waktu itu juara apa aja sih?”
“waktu
apa?”
“itu..Cibarusah,
parade deville…”
“oh…LKBB
putra, parade, deville..”
“iya..yang
sampai nangis bareng-bareng itu kan?”,
“eh..iya
bener-bener-bener”
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Hari
itu, lebih sibuk dari hari manapun semenjak kami latihan, hari paling tegang
sepanjang satu bulan ini, kami pernah merasakan tegangnya waktu pertama kali
dipimpin kakak kelas tiga, pernah merasakan tegangnya saat ditegur kakak kelas
dua akibat pleton yang tidak lengkap, atau aku yang bahkan mati rasa saat ingat
ada ulangan sosiologi dan ijin di tengah-tengah latihan menjadi seorang asing
dikelas. Tapi, hari ini adalah hari terakhir kami dapat tertawa dan bercanda di
sela keseriusan berlatih, karena besok hari lomba telah tiba.
H-Jam,
begitu kami menyebutnya.
Kelihatan
semua wajah menjadi sibuk sana-sini terutama kelas tiga dan dua, kelas tiga
sibuk atur strategi terbaik menjelang lomba, barisan kami untuk kesekian
kalinya direshuffle ,mencocokkan tinggi satu sama lain, memilih pasukan inti
untuk LKBB dan menghimpun pasukan dengan format berbeda untuk parade devile, pasukan
LKBB ini memang tidak direvisi banyak karena materi PBB –peraturan
baris-berbaris- yang lebih kompleks sehingga telah lebih dipersiapkan,
sedangkan parade dan devile hanya menjalankan 12 PBB dasar. Kakak kelas dua
terbagi dua fokus, sebagian latihan sebagian lainnya menyiapkan atribut untuk
keperluan besok, mendata atribut kami, apa yang kurang, menyiapkan baju
kebangsaan saat akan lomba yakni baju ‘katrina’, mendata keperluan teknis lain,
tenda, alat ransportasi, mengingatkan untuk membawa bahan makanan, kompor, dan
alat pribadi lain pada semua yang akan menjadi peserta lomba tahun ini dari
SMAku.
Aku
terpilih di pasukan inti LKBB – Lomba Ketangkasan Baris-berbaris-, namun aku
harus tetap bersiap pula jika harus masuk pada pasukan parade atau devile,
mengantisipasi rekanku jika ada yang pingsan, ini tidak mustahil mengingat
mengikuti upacara berdiri tanpa gerakan selain yang dikomandokan akan sangat
menyebalkan dan membosankan, terik matahari menjadi lawan yang terkadang
membuat mata sedikit menyipit dan membuat dahi berkerut sehingga lama-kelamaan
akan menyebabkan pening, didukung dengan badan yang suhunya meningkat, sangat
mungkin untuk membuat seseorang pingsan.
Maghrib,
adalah yang memberhentikan kegiatan ini, berhenti bagi kami kelas satu,
entahlah bagi kelas dua dan tiga, nampaknya masih ada yang harus dipersiapkan,
yang jelas bagi kami anak kelas satu, pulang, istirahat setengah 6 pagi sudah
ada di belakang GOR, nampaknya malam ini akan menjadi malam yang singkat
saudara-saudara…
Baiklah
aku berdebar, rasanya aku ingin meledak, besok adalah hari perlombaan di bumi
asing bernama Bumi Perkemahan Cibarusah, Cibarusah, tempat asing yang selalu
menjadi kata dalam lagu kami saat lari pemanasan latihan,sebenarnya itu lagu
Halo-halo Bandung yang dibelokkan sedikit, tapi selalu membuat kami semangat
menantang lomba itu, lagu yang juga diolah mengikuti situasi :
Halo cibarusah ibukota bojongmangu..halo
cibarusah, kota kenang2an. Sudah lama bonlap tidak berjumpa dengan kau, dahulu
bonlap juara satu devile sekarang juara lagi
Nampaknya
matahari segera ingin muncul hari ini, setengah 6 pagi, belakang GOR ternyata
sudah penuh hiruk pikuk, mempersiapkan segala sesuatunya, di hari-H ini kami
akan melakukan gladi resik terlebih dahulu, setelah reshuffle kemarin aku
berada pada baris tiga dari belakang dan menjadi banjar ketiga, ada yang istimewa setiap akan melakukan gladi,
yakni setiap atribut yang akan dipakai untuk lomba dikenakan secara lengkap,
pasukan putri akan tampil dengan rok berbentuk payung, sepatu pantopel,
setangan leher, talikur, rimba, sarung tangan, dan kerudung coklat yang rapi
dimasukkan ke dalam baju pramuka istimewa, yakni Katrina, baju kebesaran kami,
dipakai hanya saat lomba dan merupakan inventaris turun temurun, bajunya
berbahan halus dan jika dipakai akan pas dibadan (tetapi tetap lebih jika
putri), putra juga mereka akan tampil dengan semua atribut yang sama dengan
pasukan putri, yang berbeda adalah mereka memakai baret pada kepalanya, percaya
atau tidak, saat telah bersiap dengan seluruh peralatan, semangat kami menjadi
terpompa berkali-kali lipat, ketika itu, pandangan, telinga, pikiran semua
terkonsentrasi pada tiga hal yakni, komando yang diberikan dan situasi baris
dan banjar agar selurus mungkin, yang ketiga adalah selalu berdoa semoga
melakukan yang terbaik.
Pasukan
kami berangkat sekitar pukul 7.30 pagi, menurut kakak-kakak yang telah
melakukan perjalananan ini sebelumnya, letak Cibarusah ini memang jauh, diujung
Bekasi, begitu mereka menyebutnya, bagi kami yang baru melakukan perjalanan
tentu menduga-duga seperti apa tempat bumi perkemahan Cibarusah itu, namun
daripada pusing berpikir megenai tempat yang akan menjadi tempat hisup kami sementara
itu, lebih baik kami membantu putranya menaikkan barang ke dalam truk yang akan
membawa kami, satu lagi yang menarik perhatianku adalah, disini putra di
treatment lebih selain sebagai dirinya juga pelindung bagi putri hampir dalam
semua hal, seperti pada saat kami naik kendaraan ini, putra yang akan menaikkan
barang-barang, kami mebantu dari bawah menyerahkan tas-tas dan lain-lain,
kemudian tempat nyaman untuk bertahan di truk semua didahulukan untuk putri,
tanpa disadari, saat latihan juga seperti itu, mungkin itu bagian dari adat
atau memang itulah tugas seorang putra sebenarnya?.
Dengan
truk tertutup dan bersaing tempat nyaman dengan setumpuk barang-barang, seperti
tenda, patok, toya (tongkat), tas, alat memasak dan kawan-kawannya (terbayang
betapa padatnya di dalam satu truk), kami memulai perjalanan kami dengan
berdoa, mengisinya dengan bercengkrama, dan bernyanyi, menanti berapa lama kami
akan sampai pada tempat tujuan, aku berada di depan bak truk, sangat di depan
di dekat bagian yang terbuka, duduk diatas tas-tas dan berpegangan erat ke besi
yang ada di hadapanku, rasanya lama sekali, jika kau merasakan ada di sana,
kamu akan merasa berada dalam mesin penghangat dengan suhu 40 derajat (baik ini
berlebihan) tetapi memang seperti kekurangan oksigen akibat terlalu banyak yang
saling berebut oksigen dalam truk tertutup seperti ini, hampir seratus orang,
dapat dibayangkan, dapat dibayangkan.
Sekitar
pukul 13.00 wib, kami sampai, baiklah ini sangat lama, dan saat aku turun,
tempat yang disajikan adalah bukit, dengan pepohonan yang ranggas, rerumputan,
matahari terik, dan jurang di kanan dan kiri sebelum mencapai bukit
selanjutnya, baik..nampaknya aku tidak heran kakak-kakak menyebutnya ujung
Bekasi, karena upacara pembukaan segera dimulai, setelah memindahkan
barang-barang ke tempat lokasi tenda putri (karena belum sempat memindahkannya
ke tempat tenda putra yang letaknya lebih jauh) semua pasukan -yang tidak tahu
di range bagaimana karena yang paling banyak turun kelas 1 -_-“- bersiap
mengikuti upacara dan yang lainnya mendirikan tenda, melakukan beberapa
persiapan seperti memasak dsn lainnya, upacara ini belum penilaian tetapi
mewajibkan peserta mengikuti, jadi suasanannya tidak terlalu tegang, bahkan
dalam pasukan sebenarnya kami bisa sedikit melakukan pelemasan, namun namanya
kelas satu, kami berlaga seperti ini sedang penilaian, menurut kami ini juga
bagian dari latihan adapatasi menaklukan sinar terik matahari.
Usai
upacara, shalat, membereskaan tenda, atau sekedar berkeliling memang menjadi
kegiatan kami, lomba baru akan dimulai esok hari, namun sore ini aka nada
upacara pengukuhan pasukan pengibar bendera dari gabungan pramuka se Bekasi,
dan nampaknya aku akan ikut lagi upacara malam ini, maka dari itu refreshing
perlu juga dilakukan, berkeliling menjadi hal yang menarik.
Ternyata
bumi perkemahan ini sangat luas, lapangan tempat aku upacara tadi berada pada
bagian depannya, dibuat dengan mendatarkan bukit tersebut, dan sangat rendah
dengan tanah diatasnya yang digunakan sebagai tempat mendirikan bangunan bagi
tamu kehormatan yang hadir, sekaligus tempat inspektur upacara dan nantinya
akan digunakan sebagai pengukuhan pasukan pengibar bendera tersebut. Dibelakang lapangan adalah lokasi tenda
putri, mulai tidak rata dan agak kesamping terdapat jurang, tepatnya di sebelah
kiri jika menghadap ke lapangan utama, sangat menguntungkan karena tenda putri
kami sedikit ketengah, sehingga cukup aman, di belakang lokasi tenda putri, di
bukit yang menurun itu lokasi tenda putra, luas sekali jika kamu memandang dari
atas bukit lokasi tenda putri, sampai ke ujung batas bumi perkemahan, karena
terdapat batas-batas tertentu pada lokasi perkemahan ini, batas yang tidak
boleh dilalui oleh siapapun kecuali ada yang mendesak dan didampingi petugas
karena setahun kemudian aku akan menyaksikan peristiwa irrasional dimana aku
melihat seorang peserta kemah melewati batas bersama petugas, batas yang diberi
termasuk batas kanan, belakang dan samping kiri.
Malam
hari, udara berubah menjadi dingin, setidaknya cukup dingin hingga membuat
temanku keram dan memerlukan perawatan karena kakinya seakan mati rasa, tapi
bagiku menjadi malam yang panas, karena aku harus kembali memakai peralatan
untuk bersiap upacara, kabarnya upacara ini dinilai, tentu suasana yang
terbangun lebih tegang dari biasanya, upacara pengukuhan ini, aku juga tidak
tahu berbentuk seperti apa, yang aku prediksi akan lebih singkat dan mudah
karena tidak berhadapan langsung dengan terik matahari.
Seperti
biasa, selalu ada pembimbing dan beberapa orang yang dipersiapkan sebagai
pengganti jika salah satu dari pasukan roboh /pingsan, yang unik adalah kami
tidak boleh menolong rekan kami yang jatuh pingsan tersebut, bukan karena kami
tidak sayang dan menjaga rekan, namun itu akan menambah daftar gerakan yang
dilakukan pasukan kami, nilai satu orang pingsan memiliki bobot yang cukup
besar, dengan pengurangan-pengurangan lain akan menjadika kami gugur dalam
perebutan pemenang, selain itu jika kami diperbolehkan menangani langsung,
pasti akan terdapat kepanikan pada pasukan kami sehingga dapat merubah fokus
dan akhirnya tidak terkendali.
Malam
itu, upacara dilakukan dengan minim pencahayaan, aku tidak dapat melihat
prosesi pengukuhan tersebut, akhirnya fokusanku hanya satu bagaimana caranya
aku bertahan, dan membaca doaa-doa, surat-surat pendek yang ku hafal dan
dzikir, manurut pembimbing kami, jangan biarkan pikiranmu kosong, jangan
sekali-kali, sebenarnya sebelum menuju kelapangan aku sempat mendengar suara
seorang perempuan berteriak-teriak, seperti ia merasakan sakit yang sangat,
tetapi aku mencoba menghiraukannya, jangan berpikiran apapun kecuali untuk
upacara malam ini.
Hal
yang mengejutkan prediksiku akan upacara ini salah besar, tidak singkat sama
sekali, tidak juga mudah, terhitung dua puluh empat kali lagu syukur diputar
berulang-ulang sebagai tanda pengukuhan, ternyata itu inti upacara ini, kaki
kaki kami seluruhnya telah pegal-pegal, ingin bergerak kami ragu karena takut
akan masuk ke penilaian, karena terlalu lama rekanku pingsan satu orang,
“eh...itu
temennya pingsan, kok ga dibantuin sih?”, aku mendengar suara pasukan sebelah
kiri, mereka ternyata sebagian besar sedang duduk-duduk santai seraya
bercengkrama riang, kenapa bisa?, kami tidak ada yang menggubris masih dalam
posisi semula dan pandangan lurus kedepan,
“eh..parah
banget nih bonlap, itu temen kalian pingsan malah diam saja?”, baiklah aku
mulai kesal, kenapa dia harus sekedar berbicara bukan dia saja yang menolong?
“eh..parah
nih”, kami tetap tidak menggubris satu-satunya tanggapan adalah bisikan
menyuruh kami untuk membiarkannya, karena kemudian pembimbing kami yang
menolong rekan kami itu untuk dibawa ke belakang, dan posisi kami masih sama
berdiri angkuh menyingsing cahaya dikejauhan.
Setelah
makan malama dengan formasi sepiring berlima, kami bersiap untuk tidur, karena
besok adalah hari lomba pertama, parade dan devile, parade itu upacara (lagi),
devile adalah penghormatan kepada bupati bekasi yang dimulai dengan berkeliling
jauh tujuannya hanya untuk menghidari terjadinya antrian, padahal devile hanya
dinilai saat sesi penghormatannya saja, kurang dari satu menit, namun
perjalanannya bisa mencapai satu jam.
Aku,
yang hanya terpilih untuk lomba LKBB berdiri dibelakang sekana pemain bola
dalam kursi cadangan, panas sangat terik, kemungkinan ada yang pingsan lagi
hari ini sangat besar, terlebih bukan hanya kami yang tegap, pasukan lain juga,
atmosfir lomba benar-benar terasa, pasti semuanya tegang, dan membuat mudah
lemas, dan ya…benar saja, seorang pingsan, aku harus bersiap menggantikan,
dengan hanya bersiap dengan menggunakan sarung tangan aku telah berada di
barisan yang kosong, jadi pada dasarnya adalah aku tetap mengikuti tiga
perlombaan sekaligus.
Saat
upacara yang harus diperhatikan adalah empat, berdirilah tegap dengan muka
angkuh, tatap yang berwarna hijau di kejauhan, jangan kerutkan dahi, dan jika
ingin bergerak cukup gerakkan ibu jari kaki perlahan, dan waktu dua jam upacara
bukanlah waktu yang sebentar, tiga terakhir dari empat prinsip tadi agaknya
sedikit membantu melemaskan otot-otot yang sedari tadi menopang tubuh berdiri.
Usai prosesi upacara berakhir, kami bersiap devile, setelah minum kami
mengambil langkah start, cukup santai karena berjalan dengan aba-aba maju
jalan, bukan langkah tegap maju, tetapi prinsip pertama untuk selalu menaikkan
dagu harus tetap dipegang, menurut kakak kami ‘bagaimana musuh ingin gentar
kalau melihat ‘musuhnya’ yang tidak meyakinkan’.
“Fitri…Fitri…”
Aku
menutup telingan tetap fokus pada rekan di depanku, sepertinya ada yang
memanggil dari arah samping kiri, bisa gawat kalau aku menengok pasti aku akan
menyapa dengan tersenyum dan heboh sendiri, permasalahannya adalah aku membawa
nama Bonlap, maaf ya kawan siapapun itu, aku akan menyapamu diluar lomba ini.
Podium
semakin dekat, ternyata traffic jam tetap terjadi, sempat berhenti di beberapa
titik kemacetan, tetapi menjadi satu keuntungan, lumayan bukankah kita bisa melemaskan
otot-otot sementara sebelum kembali dititah ‘Majuuuu Jalan!’, dan ketika hampir
memasuki podium suara-suara menjadi sangat riuh, penuh deretan mereka yang
berpakaian batik rapi, dan menghadap ke arah kami, bertepuk tangan dan menanti
penghormatan dari kami, dengan segala kericuhan, aku mencoba konsentrasi,
“Langkah
tegap majuuuuu…Jalan!”, langkah kami menjadi seirama, suara pantopel ini dapat
kudengar memantul dari aspal yang kami pijak, bersela diantara riuh suara-suara
lain,
“Hormat
Kanaaaaaaaaaaan..gerak!”, hormat kanan yang kami lakukan seraya langkah tegap,
baris depan akan menengokkan kepalanya 90 derajat dan dibelakangnya akan
menengok 45 derajat menuju titik pusat yakni penjuru di paling depan dan paling
kanan, sehingga banjar kanan tidak perlu menengok, cukup hormat dengan
pandangan lurus ke depan, seiring berlalunya riuh dan batas podium, lomba
devilepun berakhir.
Biasanya
dalam acara Pramuka, pada malam hari akan ada acara yang sangat dinanti yakni
api unggun, peserta akan duduk melingkari sebuah api yang menyala dari kayu,
ban bekas dan lain-lain, api yang menghangatkan dinyalakan oleh sebuah pasukan
berobor yang terdiri dari 10 orang,saling menyalakan obor dimulai dari orang
pertama yang melaporkan pasukan kepada inspektur unggun dan diberi api, seraya
mengucap dasa dharma pramuka pertama
“Dasa
Dharma, Pramuka itu, satu, Takwa kepada Tuhan Yang Maha Esa”, dan akan
mengestafetkan pada orang kedua,
“Dua,
Cinta alam dan kasih sayang sesama manusia”, menyerahkan kembali api pada orang
ketiga,
“Tiga,
Patriot yang sopan dan kesatria”, berhadapan searah jarum jam dan memberikan
apinya pada orang keempat,
“Empat,
Patuh dan suka bermusyawarah”, walau angin kencang, tetap menjaga agar api
tidak padam,
“Lima,
Rela menolong dan tabah”, api terus menyala dari satu obor ke obor lain,
“Enam,
Rajin terampil dan gembira”
“Tujuh,
Hemat, cermat dan bersahaja”
“Delapan,
Disiplin berani dan setia”
“Sembilan,
Bertanggungjawab dan dapat dipercaya”
“Sepuluh,
Suci dalam pikiran, perkataan dan perbuatan”
Obor
yang melingkari bakal api unggun, telah menyala kemudian mereka akan berteriak
,
“Rawe-rawe
rantas, malam-malam putuh, bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh”,
dan
ketika obor dilemparkan ke bakal api unggun, perlahan, api akan memakan kayu
dan apa saja yang dilewatinya, seiring dengan perginya pasukan api unggung,
maka acara unggun akan dimulai dengan persembahan panampilan dari tiap
perwakilan peserta, segala atmosfir lomba dan persaingan hilang di sini, hilang
bersama partikel bara yang terbawa angin, atau mungkin tepatnya hanya tertunda,
pada tawa kami diantara senda gurau malam ini.
Aku telah bersiap, lomba terakhir ini akan
mejadi penutup perjalanan kami selama tiga hari di sini, lebih dari itu
perjalanan latihan sebulan penuh itu, suasana lebih tegang dari dua hari
sebelumnya, bahkan kakak-kakak kelas tiga tidak kalah tegang, danton yang
nantinya akan memberika komando –Kak Mutia- mengulang-ulang kembali urutan yang
akan menjadi pedoman bergerak kami nanti di lapangan, aku dan kawan-kawan lain
saling menepuk pipi agar bangun dari mimpi, hanya untuk menambah konsentrasi,
pasukan putra yang akan tampil setelah kami membantu kami bersiap, memberi
minum, menyemangati, mendokumentasikan dan lain-lain.
Lomba
dimulai dengan ketidaknyamanan, juri lomba telah emosi terlebih dahulu saat
kami ingin tampil, menyuruh kami pindah tempat lomba, dan entah kenapa kami
kena getah kemarahannya, menyuruh kami cepat naik ke atas bukit dengan rok
payung yang membuat kami sulit menjangkau titik terjauh, pantopel yang kami
kenakan juga membuat sulit berpijak semudah menggunakan sepatu bertali, juri
tersebut masih semerta merta mengeluh dan mengomel, aku tidak mengerti ada apa
sebenarnya, yang aku tahu aku hanya kesal karena ia tidak merasakan menggunakan
rok seperti ini saat menaiki arena lomba berbukit seperti ini, coba saja!
Yang
aku khawatirkan adalah, hal tersebut mempengaruhi mental kami, mental yang
telah dibangun runtuh begitu saja akibat cercaan tadi, padahal kami tidak
menyalahai apapun, namun daripada mengurusi peristiwa tadi lebih baik mencoba
fokus pada aba-aba, karena suara musik dangdut terdengar sangat nyaring
ditelinga, padahal ini sedang ada lomba yang menantang pendengaran dan
konsentrasi kami, tetapi kenapa ada pengganggu seperti itu?
Lomba
tetap berjalan, bagaimanapun keadaaannya, kami harus bertempur, dengan segala
hal yang mulai tidak mengenakkan semenjak peristiwa juri emosi tadi, setelah
komando Bubar jalan, lomba berakhir, aku menyambutnya dengan senyuman, namun
kalian tahu apa yang aku saksikan?
Putri
kelas tiga menangis!, aduh..ada apa ya?, mereka meriungkan satu orang yang
menangis dan menepuk-nepukan bahunya berbicara seolah memberi ketenangan, dan
aku masih tidak tahu apa yang terjadi, dan tiba-tiba ada angkatanku yang
menangis juga,
“
kayaknya tadi ancur banget, gara-gara aku salah”, katanya seraya sesegukkan,
air matanya terus mengalir, apa karena itu? Apa benar separah itu?
“udah,
gapapa kok namanya juga belajar, lagian ga kamu doang kok yang salah aku juga
salah, udah ga usah dipikirin, ga akan kembali diputar juga waktunya”, baiklah
aku mulai mengerti sekarang
“takut,
kalau kita ga juara gimana?”
Nampaknya
aku memang harus benar-benar mengasah sensitifitasku, yang aku pikirkan adalah
lombanya telah berakhir, tak ada yang harus di sesali karena tak akan mungkin
kembali, namun aku masih kurang memikirkan satu lagi, ‘akankah tradisi juara
minimal membawa satu piala Pramuka Nonlap akan terputus begitu saja ketika aku
baru menginjakkan kakiku di Pramuka yang telah dibangun mereka sejak lama?’
Setelah
putra tampil, upacara penutupan dimulai, meskipun tidak dinilai, upacara kali
ini banyak dihadiri bahkan oleh mereka yang bukan peserta upacara, alasannya
hanya satu mendengar pengumuman pemenang, usai upacara formal, kami
dipersilahkan duduk, dan meminum air yang telah disediakan, waktu itu hari
sudah sangat sore, udara begitu sejuk dan bersahabat namun udara ini tidak akan
bertahan lama karena pengumuman lomba akan segera dimulai.
Satu
persatu juara disebutkan, hatiku terus-terusan menclos akibat belumada satupun
cabang lomba yang kaim menangkan, aku terdiam, berharap-harap cemas, setelah
pengumuman parade devile kami lolos dari juara, lomba tersisa hanya LKBB, aku
teringat peristiwa tadi, dan rasanya akan mustahil bagi pasukan putri, tetapi
tampaknya putra berpeluang.
“Lomba
LKBB Putri juara tiga jatuh pada SMA…..”, bukan kami, telingaku masih setia
mendengarkan
“juara
dua, SMA…..”, baiklah ini mulai tidak mengenakkan, botol ditanganku bahkan tak
aku oper ke teman yang lain, yang sebenarnya juga pasti ingin minum,
“Juara
pertama jatuh pada SMA…..”, baik aku hanya tersenyum kecut, sudah aku duga,
seraya memberikan botol minum ke tangan lain, aku hanya membuang napasku.
“Lomba
LKBB Putra, “
“eh..eh..LKBB
Putra-LKBB Putra!”
“juara
tiga, SMA….”,
“juara
dua SMA….”, aku hanya berdoa ya Allah seraya menutup mata semoga juara satu!
Satu! Satu!
“Juara
pertama, SMA…..”, aku membuka mata, dan terkejut, bukan? Bukan pasukan putra
kami? Mana mungkin? Jelas-jelas kami melihat lombanya dari awal dan pasukan
putra kami lebih baik dari pasukan putra bahkan yang diumumkan menjadi
pemenang! Tidak tidak mungkin!, aku bisa mentolerir pasukan putri tapi tidak
untuk putra!.
Dengan
segala ketidakpercayaan itu kami dikumpulkan oleh kakak-kakak alumni, aku tidak
dapat mendengarnya dengan jelas, tetapi pasti menyemangati kami, sesungguhnya
aku hanya tidak percaya bukan sedih karena aku menyadari setiap kompetisi pasti
berujung seperti ini, ada yang kalah dan menang, namun yang kalah bukan berarti
sepenuhnya kalah bukan?, namun disela-sela berkumpul itu, salah seorang dari
pasukan putra sesegukkan, aku terkejut, ‘ternyata aku memang tidak sensitif’,
setelah sesegukkan pertama, mulai merambat ke yang lain, nah loh? Ini kenapa
jadi menangis semua? Aku hanya mencoba mengerti mengapa mereka menangis,
padahal aku menganggap ini wajar, ternyata aku baru kembali menyadari, bahwa
untuk mencapai kesini, aku telah menghabiskan waktuku di tempat latihan,
berpanas-panas, push up entah sudah berapa kali, latihan PBB dari hal yang
paling dasar yakni berdiri, dispen kelas seharian, minum satu botol mineral
untuk 30 orang, makan satu piring berlima, membeli peralatan lomba, dan waktu
sebulan itu bukan waktu yang singkat menghabiskannya hanya dengan latihan PBB
setiap hari, namun itu telah mengeratkan kami satu sama lain, pasti terlalu
banyak yang dikorbankan untuk bisa mencapai kesini termasuk kurang istirahat
dan lain-lain, aku sekarang mengerti kenapa mereka menangis, belum lagi tradisi
itu akan terputus pada kami, pada diriku dan teman-teman kelas satu yang baru
datang dan sudah mengalami kegagalan mendapat kenangan manis dengan pulang
tanpa apapun. Kini aku bergabung dengan mereka.
Acara
itu sangat menyiksa, ucapan motivasi kakak alumni malah menambah tangis kami,
sampai dibacakannya doa kami masih sesegukkan, dalam hening doa itu kami semua
dikejutkan dengan panggilan bagi sekolah
kami, akhirnya salah seorang putra memenuhi panggilan tersebut, sementara kami
tetap sibuk menghapus sisa-sisa air mata dan menghibur satu sama lain untuk
berhenti menangis, tiba-tiba, posisi kami sekarang menjadi sujud langsung
menghadap tanah lapangan dihadapanku ini, tangis kami kembali pecah namun
dengan senyum bahagia pada masing-masing diantara kami, sungguh sebuah rahmat
Allah yang tak akan pernah ku lupakan, pengumuman itu mengubah suasana hati dan
pikiran kami saat itu.
“Pasukan
LKBB Putra Juara Satu!”
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
“ya
Allah inget banget, kangen kalau inget itu, kangen banget, piala pertama kita”
“pasukan
putra”
“sama
ajalah..hehehe”
“perjuangan
banget ya, tapi seperti kehilangan rasa lelah setelah denger kita juara”
“bener
banget, eh..yang itu pasukan LKBB aja kan yang juara katanya parade devile
juga?”
“itu
kan yang lomba 17 Agustus, Cibarusahkan sampai tanggal 14”
“oh
iya yang di Pemda ya?, eh..isal mana nih, udah mau jam 12”
“iya…mana
isal? Ibuy beneran ga ikut?”
“ga
mau mih, gimana dong, masa Bantara nanti putranya Cuma satu?”, aku berpikir
aduh kasihan juga ketua angkatan yang satu itu,
“kayaknya
maksa juga ga ada gunanya sekarang, udah jam segini, yang penting kita berjuang
buat pelantikan satu lagi, Bantara!”
Bukan Hati Dinegosiasi
Dalam kedamaian diam pengelana
Janjinya hanya satu, fatamorgana
Tak seketika jatuh, pasrah
hanya tengadah dalam takdir
Hatinya mungkin sakit, sayang
Penawarnya hanya satu
Satu, yang secara abstraksi hilang..
Debu, dalam temaram
Dirinya mungkin bisa kuat
Membuka tabir kenangan biru
Yang mati termakan kutu buku
Penuh aksara kuno
Tapi, bukankah hati tidak bisa dinegosiasi?
Janjinya hanya satu, fatamorgana
Tak seketika jatuh, pasrah
hanya tengadah dalam takdir
Hatinya mungkin sakit, sayang
Penawarnya hanya satu
Satu, yang secara abstraksi hilang..
Debu, dalam temaram
Dirinya mungkin bisa kuat
Membuka tabir kenangan biru
Yang mati termakan kutu buku
Penuh aksara kuno
Tapi, bukankah hati tidak bisa dinegosiasi?
Rabu, 27 Maret 2013
Pulang, Haribaan Tanah Air
Resensi
Pulang, Haribaan Tanah Air
Judul Buku :
Pulang
Pengarang :
Leila S. Chudori
Penerbit :
PT Gramedia
Tahun Terbit :
1. Cetakan Pertama : Desember 2012
2. Cetakan Kedua : Januari 2013
3. Cetakan Ketiga : Februari 2013
Jumlah Halaman : 461 halaman
Tebal Buku : 13,5 x 20 cm
“Mungkin karena saya
eks-tapol maka saya bisa menghayati isi novel Pulang. Mata saya berkaca-kaca
membaca acara makan malam di rumah Priasmoro, dimana tokoh Lintang membeberkan
soal Restoran Tanah Air dan peran ayahnya. Novel ini memang fiktif, tapi saya
hanyut, dan dalam benak saya seperti bukan fiksi.”
-Djoko Sri Moeljono,
bekas tahanan Pulau Buru-
Begitu dinamis,
visualisasi kata-kata yang sangat nyata dan menilik sejarah dari kaca mata
berbeda, mungkin itu adalah kata yang dapat menggambarkan jika membaca buku
ini, sebuah buku karya Leila S. Chudori seorang wartawan dari salah satu
majalah berita yang sebelumnya telah aktif dan berlalu lalang di dunia sastra
termasuk karyanya yang telah dipublikasikan sejak ia berusia 12 tahun.
Pulang, merupakan novel
yang menceritakan sebuah drama keluarga, persahabatan, cinta dan pengkhianatan
berlatar belakang tiga peristiwa sejarah penting, Indonesia 30 September 1965,
Perancis Mei 1968 dan Indonesia Mei 1998 yang dikemas dalam sudut pandang
personal yang sentimental.
Cerita dimulai ketika
seorang Dimas Suryo yang bekerja di bagian redaksi kantor berita karena alasan
tertentu di desak untuk berangkat menghadiri konferensi pemimpin media
tahunan di Santiago bersama Nugroho dan Konferensi Asia-Afrika di Peking bersama
Rijsyaf oleh Hananto Prawiro, senior redaksi Kantor Berita Nusantara bersama
Dimas, yang tidak diduga dan terfikirkan sama sekali merupakan terakhir kali ia
menginjakkan Tanah Airnya, Indonesia.
Isu bahwa adanya organisasi
sayap kiri yang melakukan pengkhianatan kepada Negara rupanya merubah banyak
hidup seorang Dimas Suryo yang meskipun ia seorang ‘pengelana’ tanpa memilih
satu dari perang ideologi antara golongan sosialis, Islam atau liberalis yang berkecambuk, ia tetap dianggap
seorang eksil politik karena dekat dengan Hananto dan Nugroho. Bertahan di
Peking tanpa identitas pengenal sebagai seorang warga Negara dan akhirnya
terdampar di sebuah daratan Eropa bernama Perancis, bukanlah hal yang penuh
suka cita karena dapat menetap di negeri yang terkenal dengan Fashion tersebut,
rindu akan tanah air, cemas akan keluarga yang ditinggalkan ditengah tanah air
yang bergejolak, kemampuan bertahan hidup yang minim sebagai sarjana
sastra, -yang tentu saja tidak bisa menerbitkan surat kabar karena jika
tercantum namanya akan segera diburu oleh pemerintah Indonesia karena dianggap
pengkhianat Negara- dan tidak dianggap keberadaannya oleh Kedutaan Besar akibat
cap ‘eks-tapol’ di Negara asing, membuat
hidupnya selalu dibayangi rasa khawatir dan kesiapsiagaan. Rindu akan
Indonesia, hanya bisa dihirup lewat aroma cengkih dan kunyit yang ditopleskan.
Kenangan yang berputar
bersama kisah cinta rumit antara Dimas Suryo, Hananto Prawiro dan Surti
Anandari menyeret turut seorang dengan mata biru Vevienne Deveraux yang jatuh
hati pada pandangan pertama kepada Dimas, menguak satu persatu tabir sejarah
kelam yang dialami Indonesia dari seorang Dimas Suryo, gejolak politik sayap
kiri tersebut berujung pada kenyataan mengerikan dimana perburuan terhadap
ormas PKI dan seluruh yang dianggap berhubungan dengan siapapun mereka yang
tergabung atau teridentifikasi bagian dari komunis secara membabi buta, sungai
Bengawan Solo yang jernih menjadi warna merah darah, saksi bisu perburuan masa
orde baru.
Waktu dan sejarah
berpindah pada seorang perempuan berdarah Indonesia-Perancis, Lintang Utara,
mahasiswa Universitas Sorbonne yang dituntut tugas akhir Sinematografi. Putri
dari Dimas-Vevienne ini perlahan membuka bagian yang selama ini ia tutupi,
bagian yang selama ini hilang dari tubuh dan darahnya yag mengalir deras,
sesuatu yang disebut I.N.D.O.N.E.S.I.A.
Ditengah peristiwa Mei
1998, dengan siasat, strategi, daftar nama orang yang dianggap mampu membantu
dan tuntutan tugas akhirnya dari Mister Duppon, Lintang memberanikan diri ke
Jakarta, ibu kota Indonesia yang kala itu sedang bergejolak Reformasi, karena
terlalu ‘gerah’ dengan rezim orde baru selama 32 tahun berkuasa. Alam, Bimo,
Mita, Gilang, selanjutnya adalah bagian dari cerita dan semangat pemuda menjatuhkan
kekuasaan Orde Baru, Kantor Berita Satu Nusa, menjadi saksi mereka dalam
menyusun strategi, penyimpanan dokumen penting dan pertemuan Lintang dengan
Alam, yang kembali menyeret kisah cinta rumit bersama Narayana, kekasih Lintang
di Perancis.
Buku ini dikemas dengan
bahasa yang baik dan visualisasi disetiap awal bagian (chapter) nya, bahasa
yang digunakan membawa kita pada sederetan peristiwa seolah sedang menyaksikan
sebuah film dengan alur maju yang diselingi perputaran masa lalu tokohnya, melibatkan
cerita penokohan pewayangan, potongan-potongan puisi Indonesia dan Perancis , analogi
peristiwa berdasarkan surat yang saling dikirimkan oleh tokoh, sangat menarik,
penuh makna dan tergambar sekali berdasarkan literatur yang lengkap, namun
tampaknya buku ini hanya dapat dikonsumsi
dari tingkat remaja hingga dewasa, selain karena terdapat penjelasan mengenai
kekerasan yang dialami para tahanan eksil politik, rupanya Leila juga
menyisipkan adegan dewasa sebagai penghubung dan penggambaran sebuah kedekatan
hubungan antara tokoh laki-laki dan perempuan, terutama pada tokoh utama. Membaca
buku ini, akan seperti ‘disentil’ sejauh mana kita mencintai tanah air kita,
seberapa mengenalkah kita akan sejarah, pewayangan, kuliner dan pernak-pernik
lain menjadi sebuah mozaik yang tersusun hingga membentuk kata Indonesia,penggambaran
pergolakan politik yang terjadi akan membuat kita berpikir dimana kita
meletakkan diri dan ideologi sebagai bagian dari Indonesia dan dunia, sebuah
buku yang akan sangat disayangkan jika dillewatkan..
So..selamat membaca J
Langganan:
Komentar (Atom)